
"Yan," panggil Saga dengan nada berbisik, "ayo, buruan ambil, jangan kelamaan milih! Itu pengantin sama keluarga pengantinnya dari tadi ngeliatan kita terus. Kayaknya mereka sadar deh kalau kita bukan tamu undangannya mereka."
Setelah masuk ke dalam acara tempat hajat, mereka langsung bersalaman dengan pengantin. Pasangan suami-istri itu awalnya nampak bingung, meski begitu keduanya tetap bersalaman dengan Ayana dan Saga dengan ramah. Meski Saga yakin kalau pasangan suami-itu pasti menaruh kecurigaan terhadap dirinya dan sang istri. Karena tidak nyaman makanya Saga meminta Ayana agar tidak terlalu kelamaan memilih menu yang ingin dimakan.
Namun, Ayana masih tetap abai. Perempuan itu masih nampak bingung memilih hidangan apa yang hendak diambil. Padahal Saga sudah ketar-ketir sejak tadi.
"Yan!" panggil Saga tidak sabaran. Tangannya sibuk menarik ujung kebaya Ayana. Persis seperti anak kecil yang sedang merengek kepada sang ibu.
"Apa sih, Mas? Rewel banget perasan dari tadi pagi. Sabar dong! Ini lagi milih."
"Nanti keburu ketahuan, Yan. Nanti kalau kita diusir gimana?"
"Ya, kalau diusir tinggal pulang. Jangan kayak orang susah deh! Lagian kamu tenang aja, kita nggak bakal diusir."
Saga menatap sang istri sedikit kaget. "Kamu kenal sama mereka?"
Ayana menggeleng cepat. "Enggak."
"Terus kenapa yakin banget?"
"Karena optimis itu penting, Mas. Udah, ah, kamu santai aja, nanti kalau ketahuan aku tinggal bilang kalau lagi hamil dan ngidam."
"Terus kalau mereka nggak percaya?"
Pasalnya perut Ayana masih belum terlalu terlihat membuncit padahal usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat.
"Nanti tinggal aku tunjukin hasil foto usg, buku nikah, sama buku KIA kita. Beres."
Tanpa sadar Saga melongo. "Kamu bawa itu semua?"
Dengan wajah jumawanya, Ayana mengangguk cepat. "Ada semua di mobil."
Saga tidak berkomentar apapun setelahnya, ia hanya mampu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ternyata Ayana benar-benar penuh dengan persiapan. Tak ingin terlalu ambil pusing, ia membiarkan sang istri melakukan apapun yang perempuan itu suka. Saga sudah cukup lelah menghadapi perempuan itu sejak tadi pagi.
"Jangan ambil itu!" cegah Saga saat melihat Ayana hendak mengambil kambing gulai.
"Kenapa?"
Saga berdecak. "Enggak bagus. Selama kehamilan tekanan darah kamu tinggi terus, ganti!"
"Tapi aku ngidam yang ini, Mas."
"Yan," panggil Saga dengan nada memperingatkan. Ekspresinya terlihat serius.
"Dikit aja, Mas," bujuk Ayana sambil merengek.
Saga menggeleng tegas. "Aku bilangnya nggak usah aneh-aneh kan? Kalau masih ngeyel aku tinggal," ancamnya kemudian.
Ayana merengut kesal. "Ya udah pulang aja kita, nggak usah jadi makan."
"Ayo!" ajak Saga menantang. Memang maunya pria itu ya langsung pulang.
__ADS_1
Ayana terlihat makin bad mood. Sampai akhirnya ada ibu-ibu yang hendak mengambil makanan menegur mereka.
"Loh, ada apa? Kok pacarnya nggak jadi ambil makan, Mas?"
"Dia bukan pacar saya," sahut Saga sambil menunjuk Ayana.
"Oh, temennya maksud saya," ralat ibu tadi.
Saga menaikkan alisnya tidak suka. "Dia istri saya. Sedang hamil."
"Oalah, istrinya toh, ya ampun. Maaf-maaf, anak muda jaman sekarang memang banyak yang ngebet. Anak saya saja yang sudah tua tapi nggak nikah-nikah, jadi, saya masih suka kaget kalau ada anak muda yang pada sudah menikah," sesal ibu tadi sambil tertawa. Tapi Saga tidak bisa melihat cukup jelas kalau ibu ini benar-benar merasa menyesal, "terus kenapa nggak jadi ambil?"
"Suami saya nggak kasih izin saya makan ini, padahal saya lagi ngidam, Bu."
"Loh, Mas, saran saya sebagai yang lebih berpengalaman mending kasih saja. Enggak papa, sedikit saja, daripada ntar anaknya ileran. Kasian. Ibu hamil suka aneh-aneh, emang, asal nggak tiba-tiba minta daging babi aja, insha Allah nggak papa." si ibu kemudian menyerahkan piring Ayana yang tadi sempat diletakkan di atas meja, "ini, Neng, ambil aja. Insha Allah, nggak papa. Bismillah aja dulu!"
Emosi Saga meradang. Ingin mendebat tapi tidak enak karena sekarang mereka sedang berada di tempat umum. Akhirnya ia pasrah.
"Ambil dikit!" ucap Saga memperingatkan sebelum Ayana mengambil kambing gulainya.
"Iya, iya, Mas, aku tahu. Begini-begini aku juga dokter, tenang aja, aku tahu batasan. Karena sesuatu yang berlebih itu tidak baik. Dikit aja kok, yang penting anak kamu ngicip."
Saga tidak berkomentar apapun setelahnya. Pria itu hanya mengangkat kedua telapak tangannya sebagai tanda menyerah dan sudah tidak sanggup lagi menghadapi istrinya yang ngeyelan.
"Kamu serius nggak mau, Mas?" tawar Ayana. Ia sedang berusaha mencoba mencairkan suasana.
Saga masih dalam mode diamnya. Bahkan untuk sekedar menjawab pun pria itu terlihat enggan. Karena yang ia mau hanya lah segera mengakhiri acara kondangan random ini. Karena sungguh, Saga tidak tahan.
Setelah menikah Saga merasa lebih paham dengan konsep bahagia itu sederhana. Tidak perlu sesuatu yang mahal atau lainnya. Tapi bisa melihat sang istri makan dengan lahap, tidur dengan pulas di sisinya, Saga sudah merasa bahagia.
***
Saga sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Ayana yang nampak tidak biasa. Sang istri sejak tadi kedapatan menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali, dengan kedua mata yang menyipit.
"Kenapa?"
"Hah?" Ayana melongo bingung, "apanya yang kenapa, Mas?"
Saga mengangkat dagunya untuk menunjuk sang istri. Kedua tangannya menyilang di depan dada, diiringi dengan helaan napas pendek.
"Mulai pusing?" tebak Saga.
Ayana langsung terbahak sambil geleng-geleng kepala. "Hahaha, pusing kenapa, Mas? Enggak. Aku nggak papa. Cuma heran aja aku sama Malvin, Mas. Masa katanya dia belum baikan sama tetangganya itu. Duh, aku kasian deh, Mas, liatnya. Kayaknya patah hatinya Malvin kali ini serius banget deh. Enggak tega aku liatnya, dia sekarang keliatan kurus gitu juga. Kamu nggak bisa bantuin dia? Kan dia suka bantuin kita kalau kitanya berantem, bantuin, yuk, Mas!"
"Kamu berharap aku ngapain?"
"Ya, coba bujuk temen kamu itu."
"Mereka sudah cukup dewasa. Kita tidak perlu ikut campur," sahut Saga sambil mencari sesuatu. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu, Ayana tidak peduli karena pikirannya kini melayang.
"Tapi kasian, Mas."
__ADS_1
Saga tidak merespon. Ayana berdecak kesal saat melihatnya.
"Kamu lagi cari apaan sih, Mas?" tanyanya heran.
"Alat tensi."
"Buat?"
"Ukur tensi kamu lah."
"Astaga, ya ampun! Itu di laci nomor dua, makanya kalau nggak tahu itu nanya."
Setelah menemukan barang yang dicari, Saga kemudian menyusul sang istri. "Baringan!" perintahnya kemudian.
Meski sambil berdecak, Ayana tidak bisa untuk menolak. Akhirnya ia pasrah dan menurut.
"Tapi seriusan, Mas, kita harus bantuin Malvin."
"Keluhan?"
"Pusing banget, rasanya kayak..."
Ayana reflek menutup bibirnya rapat-rapat karena sudah keceplosan. Detik berikutnya ia meringis saat mendapati tatapan mata tajam dari sang suami. Kedua jarinya yang membentuk huruf V terangkat pelan-pelan.
"Janji ini terakhir kalinya aku nggak dengerin kamu, Mas. Serius!"
Saga masih tetap dalam mode diamnya. Tapi melihat ekspresi pria itu, Ayana rasanya sudah ketakutan setengah mati. Dalam hati perempuan itu menggerutu, kenapa nggak diomeli saja sih?
"Iya, iya, aku ngaku salah. Aku minta maaf. Janji abis ini nggak begini lagi. Maafin aku ya? Mas, jangan diem aja dong!"
Saga menghela napas panjang. Ia kemudian melepas alat tensi pada lengan sang istri. Lalu duduk di tepi ranjang.
"Yan, serius aku mau nanya."
"Mas Saga mau nanya apa?"
"Menurut kamu, aku begini kenapa?"
"Karena sayang aku sama anak kita."
"Kamu tahu kan?"
Ayana mengangguk paham. "Iya, aku tahu, Mas."
"Masih mau diulang?"
Tentu saja Ayana langsung menggeleng cepat.
"Good," puji Saga, "aku ambilin dulu obatnya. Abis ini langsung tidur dan istirahat."
"Iya, Mas," balas Ayana patuh. Kalau suaminya sudah mode begini, ia bisa apa selain mengangguk patuh?
__ADS_1