Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 27


__ADS_3

***


Damar datang tak lama setelahnya, pria paruh baya itu nampak sudah segar karena sebelum ke ruang makan ia mandi lebih dahulu. Olivia yang menyadari keberadaannya cepat-cepat langsung berdiri dan mencium punggung tangan Damar.


Sesaat Damar merasa terkejut karena menurutnya, sikap yang ditunjukkan Olivia sangat lah sopan. Diam-diam Linda langsung mengacungkan jempolnya, memuji sang putra karena tidak salah memilih pacar.


"Sudah lama?"


"Belum kok, Om, baru aja."


Damar mengerutkan dahi heran. "Maksud saya hubungan kalian, bukan makan malamnya," koreksinya kemudian.


"Tapi emang beneran masih baru, Pa," sahut Malvin mewakili, "emang beneran baru jadian aku sama Olive."


"Baru jadian tapi langsung kamu ajak ke sini?" tanya Damar dengan ekspresi tidak percayanya, "berani banget kamu. Nggak takut ditinggal lagi nanti kalau sengegas ini?" sindirnya setengah bercanda.


Tapi berhubung Malvin masih berada mode sensitif kalau membahas perihal ini, tentu saja pria itu merasa kesal.


"Pa, please, jangan merusak momen! Aku males berdebat, kalau mau ngajakin debat mending lain kali. Tapi untuk sekarang aku nggak mood."


"Oke. Papa minta maaf," ucap Damar santai. Tidak ada raut wajah bersalah dari pria paruh baya itu dan tentu saja itu membuat Malvin bertambah kesal.

__ADS_1


Pria itu berdecak kesal lalu berdiri sembari mendorong kursi yang tadi sempat ia duduki dengan kasar. Sehingga bunyi gesekan antara kaki kursi dan lantai terdengar begitu lantang.


"Liv, pulang sekarang, yuk!"


"Vin, astaga, ya ampun, Papa-mu kan tadi cuma bercanda. Masa iya kamu langsung ngambek begitu, ini makanannya belum habis loh. Kasian Olive dong, ayo, duduk lagi!"


"Olivia! Pulang sekarang atau aku tinggal," ancam pria itu terlihat begitu kesal.


Tanpa banyak berpikir Malvin langsung pergi meninggalkan ruang makan, berhubung Olivia datang bersama pria itu, tentu saja ia langsung berdiri berpamitan dengan kedua orang tua Malvin lalu menyusul pria itu dengan langkah terburu-buru.


"Mas, Mas Malvin! Tunggu!"


Malvin baru menghentikan langkah kakinya saat mendengar Olivia memanggilnya. Ia langsung menoleh dan menunggu perempuan itu, wajah Malvin terlihat masih nampak kesal dan hal ini membuat Olivia tidak berani bertanya soal barusan.


Kali ini giliran Malvin yang menyusul perempuan itu. "Mau makan apa emang?"


"Terserah," perempuan itu nampak tidak peduli, "apa aja yang penting bikin kenyang. Seikhlas kamu aja, Mas, yang penting halal dan bikin perut kenyang."


Malvin tersenyum sambil mengangguk paham. "Sorry, ya, buat yang barusan."


Olivia mendengus. "Bodo amat, Mas."

__ADS_1


"Lo ngambek?"


Perempuan itu diam sesaat sebelum akhirnya terdengar helaan napas panjang.


"Kayaknya aku nggak punya deh hak buat ngambek-ngambekan," balasnya kemudian.


"Siapa bilang lo nggak punya? Lo punya kali, Liv, kan sekarang lo cewek gue, jadi lo punya hak kalau semisal mau ngambek."


Olivia manggut-manggut seadanya lalu mengajak pria itu untuk segera pergi. Malvin pun setuju, karena kalau boleh jujur ia sendiri malas juga kalau harus berlama-lama di rumah kedua orang tuanya.


Sementara di dalam, Linda nampak kesal terhadap sang suami. Sedangkan Damar hanya memasang wajah datarnya.


"Kamu itu kenapa hobi banget ngajakin anak sendiri berantem sih?" keluh Linda. Sebagai istri dan ibu, ia kerap sekali dibuat emosi dengan suami dan putranya ini. Ada saja, pasti salah satu di antara mereka ada yang memulai berdebatan lebih dahulu.


"Aku hanya nanya, emang dasar anakmu saja yang belum move on. Kalau memang belum move on harusnya nggak mulai dulu sama orang baru, kasian. Perempuan tadi terlihat begitu polos dan tulus, tapi anakmu?" Damar berdecak sambil geleng-geleng kepala, "kamu lihat saja sikapnya begitu. Keliatan kalau belum move on tapi maksain diri. Aku nggak suka, Nda. Dia itu pria, harusnya be gentleman, bukannya melibatkan perempuan lain untuk urusan serius."


Linda menatap datar sang suami, helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya. "Kamu minta anakmu tidak melibatkan perempuan lain untuk urusan hal begini, tapi kamu ingin menjodohkan putramu dengan perempuan pilihanmu?" ia berdecak sambil geleng-geleng kepala, "kamu sedang bercanda?" dengusnya tidak habis pikir.


"Anakmu hanya berusaha mencoba menemukan kebahagiaanya dengan cara dia sendiri, kamu jangan terlalu sok bijak dengan menghakimi keputusannya. Karena sikap kamu sendiri belum tentu yang paling benar."


Linda langsung berdiri dengan wajah kesalnya meninggalkan sang suami begitu saja.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2