
______________________________________
Saga merasa serba salah saat mengetahui tamu yang mencarinya adalah Ayana. Orang yang paling tidak ingin dilihat sekaligus orang yang paling dirindukannya. Entah lah, Saga sendiri kadang bingung dengan perasaannya, terkadang ia tidak ingin melihat gadis itu tapi di sisi lain, saat wajah itu tak terlihat dari pandangannya membuatnya merindu. Aneh bukan? Saga rasa cinta memang seaneh itu.
Ingin rasanya memeluk gadis itu karena saking rindunya, tapi ada juga perasaan ingin menarik tangan gadis itu dan menyuruhnya keluar dari rumahnya.
"Mas," panggil Ayana langsung berdiri dan menyapa Saga. Sedangkan yang disapa justru malah melengos.
Saga tidak tahu harus merespon gadis itu bagaimana.
"Ada apa?" tanya Saga singkat.
"Aku mau ngomong."
Saga tidak membalas. Pria itu menghela napas panjang dan segera duduk di hadapan gadis itu.
Ayana pun kembali duduk tak lama setelahnya. "Aku sama Aska udah putus."
Entahlah, Saga tidak tahu harus senang atau tidak. Tapi satu yang pasti, perasaannya sedikit lega.
"Lalu?" tanyanya pura-pura tidak peduli. Mau bagaimana pun, Saga masih kecewa dengan semua sikap gadis itu terhadapnya, tidak semudah itu membiarkan Ayana benar-benar masuk ke dalam kisah cintanya kembali.
"Aku ngaku salah, Mas. Enggak seharusnya aku jadian sama dia, padahal aku jatuh cintanya sama kamu. Aku bodoh karena sampai nggak tahu sama perasaan aku sendiri, tapi sekarang aku sadar, Mas, aku cinta sama kamu, aku sayang sama Mas Saga. Aku nggak mau ke--"
"Kamu terlihat lelah, lebih baik kamu pulang dan istirahat," potong Saga tiba-tiba. Ia memalingkan wajahnya, sengaja menghindari kontak mata langsung dengan perempuan yang berada di hadapannya ini.
Ayana yang diusir secara terang-terangan jelas merasa kecewa. Ia merasa kesempatannya untuk bisa bersama Saga mendadak sirna. Otaknya tidak bisa berpikir jernih, ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Dunianya seolah runtuh. Apakah ini yang disebut dengan karma? Batinnya bertanya-tanya.
"Apa tidak ada kesempatan untuk aku, Mas?" tanya Ayana setelah sedikit menjernihkan otaknya.
Saga masih dalam mode diamnya.
Hal ini tentu saja membuat Ayana naik pitam. "Mas," panggilnya tidak sabaran.
"Saya tidak tahu." Saga menggeleng dengan ekspresi wajah sulit Ayana tebak. Jadi ia tidak bisa menebak apakah dirinya masih memiliki kesempatan itu atau tidak.
"Aku tahu selama ini aku bodoh, Mas, aku tahu aku salah. Tapi bisa nggak kasih aku satu kesempatan untuk menembus semua kesalahan aku?" pinta Ayana dengan nada suara penuh permohonan. Keputusasaan tengah menguasai diri perempuan itu.
"Saya butuh waktu." Saga menghela napas, "ini juga nggak mudah buat aku, Yan."
Ayana mengangguk paham. Ia mengerti dan tidak seharusnya ia memaksakan kehendaknya sendiri. Mau bagaimanapun ia yang salah.
"Iya, Mas, maafin aku. Enggak seharusnya aku maksain kehendak aku. Maafin semua yang udah aku lakuin kemarin, maaf kalau aku terlalu egois. Aku hanya nggak mau semuanya terlambat dan menjadi sia-sia. Sekali lagi maafin aku, Mas. Aku menyesal."
__ADS_1
Saga masih enggan untuk menatap Ayana. "Sekarang kamu pulang, kamu terlihat kurang sehat," usirnya mencoba terdengar tetap sopan.
"Iya, Mas, kalau gitu aku pulang dulu. Terima kasih untuk waktunya."
Saga mengangguk sekali dan mempersilakan Ayana untuk segera pulang. Pria itu bahkan mengantar gadis itu sampai pintu gerbang, meski sikapnya masih terkesan dingin Saga tidak tega karena tahu kondisi Ayana sedang kurang sehat.
"Makasih, Mas, udah diantar."
Saga mengangguk sekali lagi. "Cepat sembuh," balasnya kemudian.
Ayana terlihat terkejut sesaat, namun, tak lama setelahnya ia tersenyum tipis seraya mengangguk. "Makasih, Mas."
______________________________________
Saga menghela napas panjang seraya meletakkan sendok dan garpunya dengan sedikit kasar. Bagaimana tidak, ia merasa risih karena sedari tadi Hito menatapnya dan juga Viola secara bergantian selama lebih dari 10 menit, dan bukannya langsung memesan makanan untuk makan siangnya.
"Kalian balikan?" tanya Hito dengan raut wajah keponya.
"Lo nggak mau makan?" Saga balik bertanya dengan wajah judesnya. Ia paling malas kalau pria itu sedang dalam mode keponya seperti sekarang, membuat nafsu makannya hampir hilang.
"Rasa laper gue mendadak ilang begitu liat kalian makan berdua. Serius jawab, kalian balikan? Dari sekian banyak cowok lo milih balikan sama manusia bentukan yang beginian, Vi?" tanya Hito pada Viona, jarinya menunjuk ke arah Saga secara terang-terangan. Masih dengan wajah tidak bersahabatnya Saga langsung menyingkirkan jari itu agar menjauh dari wajahnya.
"Keliatannya?" balas Viona ambigu.
"Ya, enggak keliatan, kalau keliatan gue nggak perlu repot-repot nyamperin kalian dan nanya soal ini. Udah, yuk, nggak usah pake kode-kodean. Jawab aja iya atau enggak!"
"Enggak lah, To," jawab Viona pada akhirnya.
Hito terlihat tidak begitu puas dengan jawaban perempuan itu. "Kenapa enggak?"
"Ya, kalau endingnya gue bakal balikan sama ini robot yang dikasih nyawa, ya gue nggak bakal nikah sama mantan suami gue lah."
"Ya, siapa tahu lo kemarin khilaf? Kan nggak ada yang tahu juga." Hito mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Dengan kedua mata yang menatap Saga dan Viona secara bergantian.
Viona mendengus."Ya kali khilaf sampai mbrojolin anak, To?"
"Ya, siapa tahu anak lo bukti dari kekhilafan lo?"
Viona tidak langsung menjawab. Perempuan itu malah menoleh ke arah Saga sambil senyum-senyum tidak jelas. Hal ini membuat Hito kembali menaruh kecurigaan.
"Kan, kan, kan, mencurigakan," celetuk Hito, "serius balikan?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Ga, temen lo kepoan banget sih. Kok kamu bisa temenan sama dia?" tanya Viona pada Saga.
__ADS_1
"Khilaf," jawab Saga singkat lengkap dengan ekspresi andalannya. Hito yang mendengar itu langsung mengumpat samar sedangkan Viona langsung menertawakan Hito. Ia merasa lucu dengan persahabatan keduanya, terbesit perasaan iri di dalam hati perempuan beranak satu itu.
"Lo beneran kepo banget ya sama hubungan kita yang sekarang ini, To?" tanya Viona di sela tertawanya.
Hito yang ditanya langsung mendengus. "Gue kalau nggak kepo nggak bakal duduk di sini kali, Vi," balasnya dengan nada kesal. Kekepoannya sudah berada di level akut dan ia tidak senang dengan sikap keduanya, yang terkesan tidak mau memberitahu kebenarannya.
"Duh, gue sebenernya pengen banget kasih tahu lo. Cuma sayang banget, ini gue harus jemput anak gue sekarang," ucap Viona sambil melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Lah, itu makanan lo belum abis." Hito menunjuk ke arah piring Viona yang belum habis.
"Udah kenyang gue." Viona kemudian membereskan barang-barangnya, "kalau gitu gue duluan ya, To."
Meski awalnya seperti tidak rela--karena kekepoannya belum terjawab--, Hito akhirnya mengangguk pasrah. Pria itu reflek mengangkat wajahnya, saat melihat Saga ikut berdiri, padahal makan siang pria itu juga sama belum habis. "Lah, kenapa lo ikut berdiri?" protesnya kemudian, "mau ikut jemput anak juga? Tapi kan lo belum punya anak.
Saga tidak langsung membalas dan malah menepuk pundak pria itu. "Nanti gue balik," balasnya sedikit kurang nyambung. Setelahnya ia langsung mengekor di belakang Viona untuk mengantar perempuan itu.
Selesai mengantar Viona sampai parkiran, Saga kembali ke kantin untuk melanjutkan makan siangnya yang tertunda.
"Lo serius balikan sama Viona? Udah move on sama yang bikin lo patah hati kemarin? Terus CLBK sama mantan? Sama janda lagi yang udah punya buntut," cerocos Hito saat Saga kembali ke tempat duduknya. Pria itu tampak acuh tak acuh dan lebih memilih untuk melanjutkan makan siangnya.
"Heh, robot yang dikasih nyawa! Lo itu dengerin gue nggak sih, Ga? Gue udah nyerocos panjang lebar tapi elo-nya malah sibuk makan? Gue getok juga kepala lo lama-lama, Ga."
"Satu-satu."
"Apanya? Lo mau nyanyi?"
Saga berdecak. "Pertanyaannya."
Hito langsung menegakkan tubuhnya sambil memasang wajah serius. "Lo sama Viona balikan?"
Saga langsung menjawab dengan gelengan kepala.
"Kembali menjalin hubungan?"
Saga kembali menggeleng.
"Memulai hubungan yang baru dan lebih baik?"
Kali ini Saga tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat berpikir serius lalu mengangguk ragu tak lama setelahnya. "Sejenis itu."
"Bakal berujung ke pelaminan?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Kalau itu gue nggak tahu."
__ADS_1