
______________________________________
"Gila, cobaan orang mau nikah itu berat banget ya, Vin," keluh Ayana saat memasuki apartemen Malvin.
Perempuan itu langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di sana, setelah meletakkan meletakkan kantong plastik bawaannya.
"Pusing banget gue rasanya," sambung Ayana sambil memijit pelipisnya.
Malvin langsung merespon keluhan Ayana dengan dengusan, sebelum akhirnya duduk di sebelah gadis itu dan membongkar kantong plastik bawaan gadis itu. Pantas saja gadis itu mau datang kemari saat ia menelfon, ternyata ada maunya. Butuh teman curhat dia.
"Lo tahu kan, Vin, nyiapin pernikahan itu ribetnya kayak apa?"
Malvin mengangkat kedua bahunya secara bersamaan dan membuka bungkus nasi padangnya. "Ya mana gue tahu, kan gue belum pernah nikah," balasnya santai.
Ayana langsung menatapnya sinis.
Malvin yang takut nasi padangnya diminta lagi seketika langsung mengangguk cepat. "Iya, emang katanya ribet banget nyiapin acara pernikahan itu, Na. Ya ampun sampai lupa gue pernah diceritain, saking sibuknya ngurusin bini orang." Pria itu berupaya semaksimal mungkin memasang wajah seriusnya, "kenapa? Kenapa sama Mas Saga lo? Dia abis ngapain sampai bikin lo begini, ntar gue kasih pelajaran itu orang biar kapok. Yuk, cerita sama gue! Gue siap dengerin semua keluhan lo. "
"Ya, itu gue kesel banget sama Mas Saga, Vin."
"Kesel kenapa?" Malvin masih berusaha untuk terlihat seresponsif mungkin, karena tidak ingin membuat mood Ayana semakin hancur.
"Masa tiap gue mintain pendapat jawabnya terserah mulu. Kan yang mau nikah bukan cuma gue, Vin, tapi berdua. Mas Saga tuh jadi kesannya kayak nggak serius mau nikahin gue. Tiap gue tanya ini-itu, jawabnya pasti kayak nggak tulus gitu. Pasti cuma jawab, iya bagus lah, terserah kamu, aku ikut kamu, yang penting kamu suka. Gimana gue nggak kesel coba?"
"Ya, mungkin karena dia percaya sama pilihan lo, Na, makanya dia serahin semuanya ke lo."
"Ya mana bisa gitu." Nada suara Ayana tiba-tiba ngegas, "gue jadinya pusing, Vin, karena harus menentukan apa-apa sendiri. Dan lo tahu nggak apa yang paling ngeselin?"
"Enggak," balas Malvin cuek. Kali ini pria itu lebih memilih untuk kembali menikmati nasi padangnya.
"Kemarin gue kan ikut hunting kain sama desainer gaun pengantin gue. Terus gue jatuh cinta sama dua motif kain, gue bener-bener bingung, Vin, dan di situ gue berharap Mas Saga kasih pendapat biar gue bisa milih salah satunya. Dan lo tahu apa jawabannya?"
"Lo disuruh ambil dua-duanya?" tebak Malvin sebelum menegak air mineralnya dan menoleh ke arah Ayana. Dan dengan wajah cemberutnya gadis itu mengangguk membenarkan.
"Ngeselin banget kan?"
Malvin terkekeh lalu mengangguk dan membenarkan. "Iya, emang orang kaya suka gitu, Na, ngeselin."
"Kayak lo!" Ayana langsung menunjuk wajah Malvin secara terang-terangan.
"Beda lah, gue masih miskin, yang kaya orang tua gue. Jadi gue belum ngeselin," sahutnya tidak terima.
"Salah, justru yang paling ngeselin tuh kalau yang kaya orangtuanya."
Kali ini Malvin mengangguk di sela kunyahannya. "Kalau itu gue setuju, soalnya lo gitu."
Dengan wajah kesalnya Ayana langsung memukul Malvin. "Rese lo!"
Pria itu terkekeh. "Udah sih, nggak usah cemberut terus. Kan mau kawin," godanya kemudian. Sebelah lengannya menyenggol lengan kiri Ayana, kedua alisnya naik turun dilengkapi cengiran khas milik Malvin, "bentar lagi kan lo di-unboxing, Na. Udah halal mau ngapain aja. Tapi nyolong tetep haram, ya."
Dengan wajah semakin menahan kesal, Ayana kembali memukul kepala Malvin menggunakan bantal sofa. "Unboxing-unboxing, lo kata gue barang endorse," gerutunya dengan wajah sengit.
"Belah duren deh kalau gitu," koreksi Malvin.
"Vin," panggil Ayana menggunakan nada peringatan.
__ADS_1
Malvin seketika langsung terbahak dan merangkul pundak gadis itu. "Oke, oke, sekarang mode serius. Lo mau nggak denger quote dari gue?"
Mendadak Ayana memasang wajah tertariknya. "Apa?"
"Kalau lo ngerasa nggak cukup mampu menghadapi tingkah menyebalkan pasangan lo, lebih baik mundur sebelum terlambat. Karena nantinya lo harus menghabiskan sisa umur lo bareng dia. Bayangin aja kalau lo nggak bisa ngadepinnya apa yang bakal terjadi ke depannya?"
Ayana langsung menampilkan wajah datarnya. "Itu lo sebut quote?"
Malvin berpikir sebentar lalu menggeleng. "Mungkin bukan. Mungkin lebih ke ini kali, ya, hasutan."
Ayana mengerutkan dahinya tidak paham.
Malvin langsung mengangguk cepat. "Iya, biar lo mikir-mikir lagi buat nikah sama Mas Saga lo itu. Coba lihat diri gue baik-baik, kalau dibandingkan Mas Saga lo itu, lo lebih bisa menghadapi gue atau dia?"
Tanpa ragu Ayana langsung berdiri. "Ya, jelas calon suami gue lah. Gila aja, lo. Dah lah cabut aja gue, daripada lo modusin mulu."
Malvin hanya terkekeh saat melihat punggung itu kian menjauh. Fokusnya kali ini kembali pada nasi padangnya yang tadi sempat ia anggurkan.
Tepat pada suapan kedua, tiba-tiba ada yang membunyikan bell. Keningnya mengerut spontan, kepalanya kemudian menoleh ke sekitar, mencari barang yang mungkin ditinggalkan Ayana secara tidak sengaja. Namun, ia tidak menemukannya. Malvin kemudian memutuskan untuk langsung berdiri dan membuka pintu, karena bell dibunyikan makin terdengar tidak sabaran.
"Ngapain ba... lik... lagi?"
Malvin seolah merasakan deja vu. Kedua bola matanya spontan melotot karena terkejut. Bagaimana bisa pria ini berada di hadapannya, saat calon istri pria ini baru saja pergi meninggalkan apartemen miliknya?
Tunggu sebentar, pria ini tidak sedang salah paham dengan kedatangan Ayana barusan kan?
"Boleh masuk?"
Lamunan Malvin langsung buyar. "Saya bisa jelaskan, dok," balasnya tidak nyambung.
Melihat wajah Saga yang terlihat kebingungan, Malvin langsung mengangguk cepat. "Iya, dok, saya sama Yana tuh nggak ada hubungan apa-apa selain temenan. Tadi--"
"Saya tahu," potong Saga cepat, "boleh masuk?" ulangnya kemudian.
Malvin masih kebingungan. Sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, ia kemudian mempersilahkan Saga masuk ke dalam apartemennya.
"Maaf, dok, berantakan. Soalnya saya jarang pulang. Silahkan duduk, dok!" Sambil meringis canggung dan membereskan beberapa barang yang tidak pada tempatnya, Malvin mempersilahkan Saga duduk.
"Terima kasih," balas Saga lalu duduk di salah satu sofa.
"Mau minum apa, dok?" Malvin kemudian menuju kulkas dan membukanya. Ekspresinya nampak terkejut saat ia hanya menemukan botol air mineral di dalam sana. Kepalanya kemudian menoleh ke arah Saga, "maaf, dok, adanya air mineral. Enggak papa kan? Saya belum belanja bulanan. Maklum anak bujang belum ada yang ngurusin, dok."
"Saya tidak minta minum."
"Hah?"
"Maksudnya, saya ke sini tidak untuk minum, jadi tidak perlu repot."
"Oh." Malvin mengangguk paham lalu membawa air mineral itu menuju ruang tengah, "enggak ngerepotin, dok, cuma air mineral doang ini."
Saga mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.
"Jadi, ada keperluan apa ya dokter Saga kemari?"
"Panggil Saga saja."
__ADS_1
Malvin langsung menolak tegas. "Enggak sopan lah, dok, masa manggil nama."
"Terserah."
Dalam hati Malvin langsung menggerutu. "Tadi dipanggil dokter protes, sekarang terserah. Pantesan Yana hobinya uring-uringan."
"Dokter Saga saja ya, dok, nanti kalau kita sudah akrab saja panggil Bang deh, biar sama kayak Bang Tama. Oke?"
Tanpa memprotes, Saga langsung mengangguk setuju.
"Boleh saya langsung ke inti?"
Malvin jelas langsung mengangguk setuju. "Silahkan, dok!"
"Akhir-akhir ini saya kewalahan menghadapi Ayana. Saya sudah mencoba berkonsultasi dengan Tama, tapi hasilnya saya malah tambah pusing menghadapinya. Karena kalian dekat, maka saya putuskan untuk menemui kamu. Apa kamu bisa membantu saya?"
Satu kata dari Malvin untuk merespon kalimat Saga. Wow. Pria itu seolah tidak tahu harus merespon apa selain itu.
"Sebenarnya ngehandle Yana tuh gampang-gampang susah sih, dok. Yana itu sebenarnya agak 'murahan' orangnya, dok, dia mungkin gampang ngambek, cuma kalau udah disogok makanan juga ilang ngambeknya."
"Tapi saya rasa akhir-akhir ini nggak sesederhana itu."
"Ya, beda lah, dok, kan akhir-akhir ini kalian lagi mempersiapkan pesta pernikahan."
"Lalu apa yang harus saya lakukan biar keadaan membaik?"
"Yana itu kadang orangnya gampang bimbang, dok, untuk membuat keputusan kadang sulit bagi dia. Dokter Saga inget kan kisah cinta segitiga anda, Aska, dan Yana? Nah, itu tuh salah satu bentuk kebimbangan seorang Ayana loh, dok. Kalau Yana minta pendapat itu artinya dia sedang bimbang, dok, dan kalau dia sedang bimbang itu artinya dia butuh diyakinkan. Jangan cuma dikasih jawaban terserah, yang ada ntar dia ngamuk. Sampai di sini paham dokter Saga?"
"Berarti letak permasalahannya selama ini itu ada di saya?"
Malvin berpikir sebentar lalu mengangguk ragu-ragu. "Bisa jadi iya, bisa juga enggak. Tergantung sudut pandang yang ngelihat aja sih, dok. Menurut dokter Saga sendiri gimana?"
"Saya yang salah."
"Enggak papa, dok, namanya hubungan. Baik dokter Saga maupun Yana masih bisa sama-sama saling belajar. "
Saga mengangguk setuju sekaligus paham. "Sepertinya kalian sangat dekat ya?"
Kali ini giliran Malvin yang mengangguk. "Banget, dok, kita itu udah kayak saudara kembar beda emak bapak. Beberapa mantan Yana maupun mantan saya suka cemburu dengan kedekatan kita, padahal kitanya ngerasanya biasa aja. Dokter Saga jangan cemburu sama saya ya?"
"Ya, tergantung."
"Mati dong?"
Kali ini Saga memilih untuk tidak membalas. Pria itu hanya geleng-geleng kepala dan langsung beranjak berdiri. Hal ini membuat Malvin terkejut.
"Lah, dok, mau ke mana?"
"Pulang. Saya perlu berbaikan dengan Ayana. Terima kasih untuk masukannya, dan maaf sudah mengganggu. Kalau gitu saya permisi."
"Iya, sama-sama, dok." Meski masih memasang wajah bingung, pada akhirnya Malvin membiarkan Saga pergi meninggalkan apartemennya. Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir saat memastikan pria itu masuk ke dalam lift, "anjir lah, nggak yang laki yang bini, masa dua-duanya curhatnya ke gue? Lama-lama bisa buka praktek konsultan cinta ini ntar gue," gumannya kemudian.
"Dih, jomblo kok sok-sokan mau jadi konsultan cinta," cibir seseorang perempuan sebahu yang baru saja lewat depan unitnya.
Malvin yang mendengar itu jelas langsung tersinggung. "Halah, daripada lo udah jomblo pengangguran lagi," balasnya tidak terima, "jomblo kok teriak jomblo. Sadar diri tolong!" Tak ingin mendengar balasan sang tetangga, ia langsung memutuskan untuk masuk ke dalam apartemennya begitu saja.
__ADS_1