Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 43


__ADS_3

     ****


 


 


Malvin sedikit meringis canggung saat masuk ke dalam ruang inap Ailee. Ada perasaan bersalah dalam dirinya karena pria itu bahkan baru sempat mengunjungi gadis itu. Ia menyesal karena tidak menyempatkan diri sejak kemarin. Apalagi saat mengetahui kondisi Ailee yang cukup serius ini. Ia menyesal karena terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri.


“Sorry, baru sempet nengok," sesal Malvin dengan wajah tidak enaknya.


Ailee mengangguk tidak masalah. Ia paham karena kondisi pria itu tidak jauh berbeda dengannya. Kalau luka Malvin yang menghambat kegiatan pria itu terjadi pada lengannya, sedangkan miliknya terjadi pada kakinya.


“It’s okay, kak, kan kita juga sama-sama luka. Wajar sih, gimana kepala lo? Katanya sampai harus dioperasi ya?”


Malvin mengangguk. “Udah mending kok, Cuma tinggal kadang pusing dikit-dikit. Sama ini sih, kalau disuruh mikir dikit banyak alasan, pusing terus.”


“Mikir apa sih? Santai aja lah, bro, gue aja yang masih koas aja selow kok.”


Malvin mendengus saat meresponnya. “Lo masih ko-as tapi masih muda, beda urusannya sama gue. Udah berumur nih gue tapi spesialis gue nggak kelar-kelar.” Ia kemudian menarik salah satu kursi untuknya duduk lalu celingukan ke sekeliling ruangan. Sendirian aja lo, nyokap lo?”


“Keluar, gue suruh beli makanan, bosen banget gue sama maka makanan sini.”


Malvin mendengus. “Sombong banget lo,” cibirnya kemudian.


Ailee hanya tersenyum saat mendengar cibiran pria itu. Tidak seperti biasa yang suka membalas, kali ini perempuan itu hanya memilih tersenyum.

__ADS_1


“Lee,” panggil Malvin tiba-tiba, setelah suasana sempat hening selama beberapa saat, “gue mau minta maaf soal kecelakaan yang kita alami ya? Gue menyesal.”


“Enggak papa, kak, gue juga minta maaf, kalau aja  gue nggak ngajak lo ngomongin itu pas lo lagi nyetir. Mungkin kecelakaan itu bisa kita hindari.”


Suasana kembali hening. Malvin terlihat kebingungan saat hendak membalas gadis itu. Pikirannya berkecamuk. Ragu-ragu ia melirik gadis itu.


“Soal itu?”


“Lo penasaran tentang kak Yasmin atau rencana bokap kita?”


“Sejujurnya gue penasaran dua-duanya.”


Ailee mengangguk paham. Mungkin kalau ia berada di posisi pria itu, ia pun akan sama penasarannya.


“Kak Yasmin udah ada di Indo begitu tahu kita kecelakaan.”


Yasmin di Indonesia?


Dia pulang ke Indonesia karena tahu dirinya mengalami kecelakaan atau karena sang adik?


Ragu-ragu ia kembali menatap Ailee. “Dia pulang karena lo?”


Di luar dugaannya, Ailee langsung tertawa.


“Menurut lo aja lah, Kak. Meski kita bersaudara tapi mana rela ia jauh-jauh pulang ke Indo Cuma demi mengetahui kondisi gue. Ada layanan video call, kakak gue cukup melakukan itu kalau Cuma untuk mengetahui kondisi gue.”

__ADS_1


Jadi perempuan itu rela  demi dirinya? Dalam hati ia mendengus tidak habis pikir. Ia merasa lucu karena perempuan itu jelas-jelas meninggalkan negara ini karena dirinya, lalu saat tahu dirinya ia mengalami kecelakaan, perempuan itu kembali karena diri. Sebenarnya apa yang dimau perempuan itu?


“Sebenernya mau kakak lo apa sih, Lee?” Malvin mendengus tidak percaya, “gue nggak ngerti deh serius.”


Ailee mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. “Sama kayak lo, gue pun sendiri nggak ngerti. Enggak adil ya, dia ninggalin lo, tapi juga nyari lo, kayak orang yang nggak tahu malu.”


Pandangan Malvin kosong. “Sekarang dia di mana?”


“Rumah mungkin kalau nggak munngkin di kliniknya.”


Malvin beralih menatap perempuan itu. “Boleh gue minta nomor dia biar gue bisa hubungi dia sewaktu-waktu.”


“Nanti gue mintain dulu ke nyokap gue, soalnya kalau sekarang gue nggak punya.”


Malvin mengangguk tidak masalah, kemudian berdiri.


“Kalau gitu gue cabut dulu, ya. Lo istirahat yang bener biar cepet sembuh.”


Ailee mengangguk. “Lo juga, kak, nanti biar gue suruh dia jenguk lo.”


Malvin manggut-manggut seadanya lalu memilih untuk meninggalkan ruang inap Ailee. Tujuannya saat ini bukan ke  ruang inapnya, melainkan ke IGD untuk menemui Ayana.


 


Tbc,

__ADS_1


 


 


__ADS_2