
***
Orang bilang kalau kamu jatuh cinta maka kamu harus siap jatuh lebih dahulu. Sejujurnya bukan Malvin tidak siap untuk jatuh, bahkan ia merasa sangat siap untuk hal itu, asal orang yang membuatnya jatuh bersedia membuatnya bangun kembali. Ia tidak masalah jika harus dijatuhkan berkali-kali lebih dahulu. Tapi ternyata dia tidak seberuntung itu, orang yang membuatnya jatuh justru membuat hatinya patah. Dan sekarang ia tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan hatinya yang patah ini.
Ada yang bilang waktu akan menyembuhkan luka, tapi menurutnya tidak, kalau luka itu tidak diobati dan hanya dibiarkan begitu saja, bukankah luka itu akan semakin bertambah parah? Buktinya sampai sekarang ia masih belum mampu menyembuhkan luka di hatinya. Padahal Mala, putri kecil Saga dan Yana bahkan sudah sangat jago merangkak dan sudah hampir belajar berdiri. Katanya. Soalnya Malvin sendiri sibuk dengan masa residennya dan melihat Mala belajar berdiri. Ia cuma melihat gadis kecil itu merangkak kesana-kemari untuk mengambil mainannya.
"Eh, anak lo udah beneran bisa berdiri ya? Kasih lihat dong!"
"Belum, baru mau belajar, Vin, kalau lagi sibuk main gitu mana mau dia disuruh-suruh gitu. Nanti aja deh kapan-kapan gue kasih videonya. Lo kan lagi sibuk banget soalnya, jadi nggak mungkin gue minta lo main ke sini."
Malvin manggut-manggut paham. Pandangannya fokus menatap Mala yang sedang sibuk dengan alat masak mainannya.
Sudut bibirnya menampilkan senyuman kala melihat kegemasan putri kecil sang sahabat, ada perasaan iri dalam dirinya. Kira-kira nanti apakah dirinya bisa memiliki putri kecil seperti sang sahabat?
Bugh!
"Apaan sih?" protes Malvin kesal karen Yana tiba-tiba melempar bantal sofa ke arah wajahnya.
"Biasa aja ngeliat anak gue, ntar naksir mampus lo! Karena gue nggak akan rela membiarkan anak gadis gue sama lo. Ngerti!"
Malvin mendengus dengan ekspresi tidak percayanya. "Astaga, ya ampun, Na, lo pikir gue pedofil apa. Enak aja lo, gue masih waras, anjir, jangan macem-macem lo!"
Yana reflek tertawa. "Ya, gue kirain lo mendadak gila karena ditinggal dokter Yasmin tanpa kejelasan."
Malvin mendengus. "Gue jelas diputusin, Na, kurang jelas apa sih?"
"Terus sekarang gimana itu lo--"
"Lancar lah, siap-siap aja, bentar lagi gue buka praktek sendiri. Lo bisa langsung periksa kehamilan ke dua lo sama gue," potong Malvin sambil tersenyum jumawa, mengingat perjuangannya hampir membuahkan hasil. Status spesialis benar-benar siap ia sandang.
"Apaan sih? Siapa juga yang mau nanya residen lo?"
Malvin mengerutkan dahi bingung. "Lah? Terus lo mau nanya soal apa?"
"Gebetan baru lah, gimana kabar si tetangga lo yang suka lo ceritain itu? Siapa namanya? Olivia?"
"Ngaco, dia udah cowok ya kali gue deketin dia. Lagian gue sama dia tuh cuma sekedar temen cerita aja, nggak lebih, kayak gue sama lo begini. Nggak usah aneh-aneh deh lo." Malvin geleng-geleng kepala.
"Lo percaya, Vin, sama pertemanan antara cewek dan cowok itu murni?" Yana mengusap dagunya seraya berkomentar, "kalau gue sih enggak."
Tentu saja respon Malvin langsung tertawa. Bagaimana bisa perempuan itu berkata demikian, sementara keduanya bersahabat dekat dan jenis kelamin mereka cewek dan juga cowok.
__ADS_1
"Kenapa lo ketawa?" tanya Yana heran, bahkan putri kecilnya yang tadinya sedang asik bermain tiba-tiba mengalihkan perhatiannya kepada sang Om.
"Ya lo, aneh, anjir, kita juga temenan dan jenis kelamin kita cewek-cowok. Gimana sih lo?"
"Lah, iya juga sih." Yana garuk-garuk kepala saat baru menyadarinya, "eh, tapi kan kita udah kayak sodara banget, Vin, bahkan nyokap gue aja nganggep lo anaknya. Berarti emang kita beda, kita sodaraan bukannya temenan."
"Serah lu dah," komentar Malvin pasrah.
"Jadi gimana? Udah sejauh apa hubungan kalian?" tanya Yana kepo.
Malvin hanya merespon dengan gelengan kepala. "Nothing spesial, biasa aja soalnya, Na."
"Terus Ailee?"
Malvin kembali terbahak. "Astaga, ya ampun, itu lagi bocah ngapain lo sebut-sebut?" ia menggeleng cepat, "enggak. Gue sama sekali lagi nggak deket dengan siapapun yang mengarah ke arah sana. Pokok fokus gue sekarang adalah menyandang status spesialis sesegera mungkin biar ntar kalau lo hamil adik Mala, gue bisa jadi dokter utama lo nanti. Cita-cita gue soalnya itu."
Yana tersenyum getir sambil menepuk pundak Malvin. "Kayaknya lo harus mengubur cita-cita lo itu, bro."
Malvin tiba-tiba teringat Ailee saat mendengar Yana memanggilnya 'bro'. Cepat-cepat ia menggeleng. Nggak boleh aneh-aneh, nggak boleh aneh-aneh! Rapalnya dalam hati.
"Kenapa emang? Lo nggak mau semasa kehamilan dan melahirkan gue yang ngurusin? Heh, lupa lo semasa hamil Mala paling nyusahin siapa?"
"Selow, bro, selow!"
"Apaan sih? Kok ngegas?" sahut Yana tidak terima.
"Abis lo ngeselin banget, Na. Nggak suka gue sama panggilan itu."
"Apaan sih? Aneh banget. Padahal harusnya yang kesel gue karena lo bahas-bahas soal adik Mala."
Malvin mengerutkan dahinya heran. "Emang kenapa? Ada masalah?"
Dengan wajah masamnya, Yana mengangguk. "Laki gue nggak setuju gue hamil lagi."
"Kenapa begitu?"
"Ya, lo tahu sendiri kan laki gue bucin ke gue."
Malvin mengerutkan dahi tidak paham. "Hubungannya?"
"Doi nggak mau gue kesakitan karena harus melahirkan, doi juga nggak rela liat gue morning sick, dan lain sebagainya. Katanya cukup sekali dia liat gue menderita karena anaknya." Yana berdecak sambil geleng-geleng kepala, "sumpah sih, gue sendiri juga nggak ngerti sama jalan pikir laki gue. Tapi tahu lah, pusing banget gue bahas ini. Nih, ya, Vin, asal lo tahu, doi bahkan minta gue langsung steril pas gue selesai kontrol abis ngelahirkan kemarin. Parah banget kan?"
__ADS_1
"Serius lo?"
"Dua rius, anjir, beneran, Vin. Dia seserius itu minta gue biar nggak hamil lagi. Nggak ngerti lah gue. Serius, pusing gue ngadepinnya."
"Wow," respon Malvin sambil terkekeh geli. Jujur, ia cukup takjub sih dengan sikap Saga yang satu ini. Itu orang emang beneran susah ketebak. Sangat penuh plot twist kadang.
"Sumpah sih, tapi gue beneran nggak nyangka banget, Na. Masa sampai sebegitunya? Menurut gue kalau sampai langsung nyuruh lo steril sih emang agak parah, ya. Kok sampai begitu sih?"
Yana mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mana gue tahu, nggak paham banget lah gue. Suka kadang-kadang emang dia tuh."
Malvin mendengus. "Halah, gitu-gitu juga lo bucin sejak dini. Lupa lo?"
"Hehe."
"Kalau nggak gini deh, Na. Gue ada ide."
Yana terlihat tertarik dengan ide yang hendak ingin Malvin sebutkan.
"Apa?"
"Tapi sebenernya kalau lo masih pengen kan punya anak lagi?"
Tanpa banyak berpikir, Yana langsung mengangguk cepat. Karena kalau boleh jujur, ia memang menginginkan anak lebih dari satu. Minimal dua lah.
"Nah, pas, tuh, kan gue nggak ada partner tuh, gimana kalau gue yang nyumbang ****** ke lo, nah, jadinya--"
Bugh!
Tanpa membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya, Yana langsung melempari pria itu dengan bantal sofa.
"Rugi banget gue dengerin lo ngomong."
"Tapi gue serius."
"Orang gila! Pulang sana lo!" usir Yana dengan wajah judesnya.
"Lah, yang penting kan lo ada anak lagi, Bang Saga nggak harus ngeliat lo menderita karena lo mengandung anaknya."
Yana berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Emang stres lo, Vin, gila. Ditinggal dokter Yasmin beneran bikin lo gila ya. Konsul lo sana! Biar nggak makin sakit jiwa."
Respon Malvin hanya terbahak saat mendengar gerutuan Yana yang tampak begitu kesal.
__ADS_1
Tbc,