Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Curhat ke Tama


__ADS_3

Tama sedikit tersentak kaget, saat masuk ke dalam ruangannya tapi langsung disambut sang adik, yang kini duduk di kursi kebanggaannya. Ia baru selesai meeting dengan team, sekretarisnya tadi juga tidak bilang kalau ia ada tamu yang sedang menunggunya.


"Lo ngapain ke sini, Na? Ngagetin aja! Masuk tanpa izin ya, lo?"


"Sembarangan! Gue tadi diizinin masuk sama sekertaris lo kok."


Tama kemudian mengusir sang adik agar segera bangkit dari tempat duduknya. Ia kemudian mengajak Ayana duduk di sofa yang ada di ruangan pria itu.


"Lo jadi pengangguran ya setelah resmi jadi Nyonya Saga?" ledek Tama sambil menyilangkan sebelah kakinya. Gayanya sekarang terlihat seperti CEO-CEO yang gemar dibaca kaum hawa. Banyak gaya.


"Enak aja, gue shift sore. Berangkat jam 2 siang pulang jam 9 malem."


Mendengar jawaban sang adik, Tama langsung terbahak. "Wkwk, laki lo pas berangkat lo-nya pasti masih molor kan? Terus giliran laki lo pulang, lo-nya yang gantian berangkat. Gitu kan rumah tangga kalian?" ledeknya kemudian.


"Iya. Bahkan beneran kayak rolling-an shift sama temen, Bang. Dia pulang gue pergi, gue pergi dia pulang. Tapi kalau gue pulang malem masih mending sih, seenggaknya gue-nya masih ditungguin." Ayana langsung melirik Tama sinis, "lo sih, Bang, nyuruh gue nikah sama dokter. Pasti enakan nikah sama yang beda profesi deh."


"Sembarangan banget mulut lo, Na! Nikah belum ada sebulan udah ngomong gitu, gue aduin Saga kena talak mampus lo. Ntar nangis."


Ayana langsung meringis. "Jangan dong, Bang, kan gue cuma bercanda. Lo mah tukang ngadu."


"Ya, abis mulut lo kayak nggak pernah diajarin aqidah akhlak. Lagian resiko nikah sesama dokter bukannya emang gitu, ya? Jangan sok culture shock deh!"


Ayana merengut. "Ya, namanya penganten baru, wajar dong kalau masih culture shock." ia kemudian tersenyum kecut, "hm, sesama dokter sesuai dosisnya apaan kalau begini ceritanya," gerutunya kemudian.


"Bersyukur lo masih ada yang mau sama lo, nggak usah kebanyakan ngeluh. Di luar sana masih banyak kaum jomblowan-jomblowati yang masih bingung mikirin jodohnya. Lah, lo udah dikasih yang modelannya kek Saga, masih aja ngeluh. Dasar nggak tahu diuntung lo."


Ayana berdecak sambil menopang dagunya. "Bang, kalau lo ngambek lo pengen Kak Fira ngehibur lo pake apa?"


Tama menyipitkan kedua matanya heran. "Ngapain lo tetiba nanya gituan?"


"Jawab aja, elah! Apa?"


Tama kemudian mengusap dagunya. "Kalau gue ngambek, gue pengen Fira nyambut gue di kamar, terus dia pakai baju dinas haramnya, terus godain gue secara agresif. Udah sih, itu aja cukup."

__ADS_1


Mendengar jawaban sang Kakak, Ayana langsung mendengus. "Otak lo nggak bisa banget ya, Bang, kalau nggak menuju arah sana?"


"Ya, namanya cowok. Bagi kami kebutuhan biologis itu sangat penting."


"Ya, menurut lo bagi perempuan nggak penting? Sama aja, Abang, cuma nggak harus lu gamblangin gitu juga kali. Heran banget gue sama kalian para cowok-cowok," dengus Ayana tidak habis pikir.


Tama hanya terkekeh sebagai respon. Tak lama setelahnya barulah ia menyadari sesuatu. "Eh, tunggu dulu, Saga lagi ngambek sama lo, ya?" tanyanya hati-hati.


Wajah Ayana langsung berubah sedih. "Iya."


"Gara-gara?" tanya Tama kepo.


Ayana menghela napas. "Menurut lo kalau gue lepas keinginan gue buat ikut PPDS demi hamil, gimana?"


"Ya, bagus. Artinya lo emang serius pengen jadi ibu."


"Berarti kalau gue tunda kehamilan cuma demi ikut PPDS, itu artinya gue nggak serius pengen jadi ibu?"


"Gue lagi galau dipilihkan antara PPDS atau anak."


"Lah, Saga tiba-tiba berubah pikiran? Bukannya dari awal Saga udah setuju kalau lo bakal ambil spesialis, yang apaan tadi namanya gue nggak ngerti , pokoknya itu lah. Saga tiba-tiba nggak kasih lo izin ya? Atau--"


"Mama," potong Ayana cepat.


"Hah? Mama kenapa?"


"Mama juga ngambek sama gue karena gue bilang gue bakal ambil PPDS dulu baru hamil. Padahal nih, ya, Bang, gue nggak minta kalau program spesialis gue harus kelar dulu baru gue mau hamil. Enggak gitu. Tapi Mama tetap nggak setuju, katanya kalau nunda kehamilan, takutnya nanti malah susah dapet anak. Mama nggak mau." Ayana menghela napas panjang, "ya udah oke, aku pikir bisa lah, meski nanti aku lagi program spesialis sambil hamil. Terus aku curhat masalah ini ke Malvin."


"Terus respon dia?"


"Dia bilang jadi anak yang kedua orangtuanya berprofesi sebagai dokter spesialis dua-duanya berat."


"Terus?"

__ADS_1


"Terus gue ragu-ragu buat ambil spesialis. Kalau dipikir-pikir Malvin ada benernya juga, Bang. Pasti berat dan nggak enak. Terus gue nanya sama Mas Saga, kalau seandainya gue batal ambil PPDS, eh, dia malah ngambek. Katanya kalau anak menghalangi mimpi gue, mending nggak usah punya anak sekalian."


"Saga bilang gitu?"


Ayana langsung mengangguk dan membenarkan.


"Sekarang tanya diri kamu sendiri, Na, kamu pengennya gimana? Kamu beneran pengen jadi spesialis apa enggak. Menurut gue, sebenernya lo itu nggak terlalu niat banget deh. Soalnya emang dari awal tekad lo setengah-setengah, antara niat dan nggak niat. Kata gue kalau lo emang beneran niat pengen jadi spesialis, lo nggak akan peduli sama apapun, lo bakalan berusaha buat ngeraihnya apapun yang terjadi. Hamil pun, nggak akan bikin lo ngerasa itu sebuah masalah atau rintangan." Tama kemudian menyadari sesuatu, "eh, emang lo udah hamil?" tanyanya shock.


Ayana langsung berdecak. "Ya, belum lah, Bang. Gue sama Mas Saga nikah belum ada sebulan. Masa iya, udah hamil aja."


Tama mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Siapa tahu DP duluan kan?"


"Enggak lah, sembarangan aja!" amuk Ayana tidak terima.


"Terus kalau belum hamil kenapa lo sampe seribet ini? Selow aja kali, kalau mau ambil spesialis, ya ambil, nggak usah nunda! Kalau langsung dikasih, ya alhamdulillah, kalau enggak, ya udah usaha terus. Nggak usah ribet deh, astaga, Tuhan! Penganten baru ribet tuh ya kalian, ya. Buset dah, heran banget gue." Tama langsung menegakkan tubuhnya, "gini aja, kalau lo masih ragu-ragu ambil spesialis, ya jangan ambil. Toh, biayanya kan nggak murah juga. Lo ambil programnya kalau lo udah ngerasa yakin aja. Beres kan?


"Cara ngebujuk Mas Saga-nya gimana?"


"Bikinin apa gitu kek, masakin apa gitu, yang penting dia seneng. Tapi abis itu tetep, harus lo rayu-rayu manja. Kasih servis terbaik lo juga. Paham?"


"Kalau masih nggak mempan juga?"


"Gue yang bakal turun tangan."


Ayana tersenyum cerah. Ia berdiri dan langsung mencium sang abang. "Terima kasih Abang tersayang. Lo emang yang terbaik. Thanks ya, gue jadi agak lega dikit. Kalau gitu gue pulang dulu deh, mau ke super market belanja bahan."


Tama mengangguk angkuh seraya membenarkan jasnya. "Gue gitu loh. Sini gue bisikin tips tambahan."


Ayana awalnya tidak terlalu yakin dengan tips tambahan sang kakak. Namun, ia tetap mencoba untuk positif thinking. Maka dari itu, ia langsung mendekatkan telinganya pada bibir Tama.


Pria itu langsung berbisik. "Jangan lupa beli baju dinas haram! Dan jangan lupa cuma satu!"


"ABANG!!"

__ADS_1


__ADS_2