
"Ti, kopi," ucap Saga saat masuk ke dapur yang terhubung dengan ruang makan.
Semalam Saga tidak bisa tidur. Susah payah ia mencoba memejamkan kedua mata, tapi sulit baginya untuk masuk ke alam mimpi. Kalimat Ayana semalam terus berputar di otaknya dan seolah tidak mau berhenti. Sampai sekarang ia masih bingung cara melupakan kalimat itu, dan yang membuatnya semakin bingung ia tidak tahu harus menghadapi Tama nantinya. Kalau boleh jujur, ia cukup menyesal karena bersedia dikenalkan dengan gadis itu. Tapi lagi-lagi, nasi telah jadi bubur. Semua sudah terjadi dan ia tidak bisa terus-terusan menyesalinya. Ia tidak menyangka patah hati di usia puber kedua akan begini. Ia pikir rasanya tidak akan sesakit ini.
"Tumben, Pak?" tanya Darti heran. Tidak biasanya majikannya itu akan minta kopi di pagi hari kecuali malamnya tidak bisa tidur. Apa majikannya ini semalam tidak bisa tidur sehingga minta kopi pagi-pagi begini? Tapi karena apa?
Saga menghela napas sambil menampilkan wajah datarnya. Yang itu artinya Darti tidak perlu bertanya panjang lebar dan harus segera melaksanakan perintahnya. Dengan gugup Darti langsung bergegas membuatkan kopi untuk sang majikan.
"Ti, saya kurang ganteng ya?" tanya Saga tiba-tiba.
Darti langsung tertawa mendengar pertanyaan Saga. Ia berdehem panik lalu menutup bibirnya rapat-rapat saat mendapati wajah datar sang majikan menatapnya kembali.
"Kenapa Bapak tiba-tiba nanya begitu?"
Saga berdecak. "Kalau ditanya dijawab, bukan balik tanya, Ti."
"Maaf, Pak," sesal Darti penuh penyesalan, ia kemudian meletakkan secangkir kopi buatannya di hadapan Saga, "silahkan, Pak!"
"Terima kasih."
"Saya lanjut beres-beres ya, Pak."
"Jawab dulu pertanyaan saya tadi."
"Yang mana Pak?"
Saga langsung menampilkan wajah andalannya.
"Oh, iya, sekarang saya inget, Pak. Soal--"
"Enggak jadi," potong Saga cepat, "sana kamu lanjut kerja!"
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi."
Darti langsung berlari keluar dan mencari keberadaan Agus, yang ternyata sedang mengelap mobil. Tanpa ragu, perempuan berdaster batik itu langsung berlari menghampiri rekan kerjanya itu.
"Gus," panggil Darti sambil memukul pundak Agus menggunakan serbet.
Pria itu langsung menoleh dengan wajah galaknya. "Kenapa sih? Pagi-pagi udah ngagetin aja."
"Si Bapak kenapa to?"
"Apanya yang kenapa?" Agus yang tidak paham hanya mampu balik bertanya, "kalau ngomong yang jelas dong, Ti! Aku nggak paham. Emang si Bapak kenapa?"
"Si Bapak nggak kayak biasanya, Gus."
"Nggak biasa yang gimana?"
"Kayak lagi itu batmon gitu, Gus, serem deh."
Agus menaikkan alisnya tidak paham. Itu nam tokoh kartun? Adiknya batman kah? Batinnya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Batmon siapa sih? Adiknya Batman?"
"Ya elah, masa nggak tahu batmon, itu loh yang suasana hatinya nggak bagus. Batmon. Masa gitu aja nggak ngerti, norak!"
Agus melongo beberapa saat karena shock. "Eh, Darti, kalau suasana hatinya nggak bagus namanya badmood bukan batmon," balasnya gemas, "batmon, batmon, lu kata kembaran batman?"
"Kok badmood? Orang kemarin namanya batmon kok, kenapa bisa jadi badmood? Emang udah ganti?"
"Ganti, ganti, dari dulu emang bad mood, Darti. Tahu lah, bodo amat." Sambil berdecak dan geleng-geleng kepala, Agus memilih meninggalkan Darti dengan wajah bingungnya.
Tak lama setelahnya Saga keluar dari rumah. Ekspresinya terlihat heran saat menemukan Darti di luar rumah malah melamun tidak jelas dan bukannya bekerja.
"Ti, ngapain kamu di sini? Bukannya lanjut kerja?"
"Eh, si Bapak, ini saya lagi ngobrol sama--" ucapan Darti mendadak terhenti saat tidak menemukan Agus di hadapannya, "lah, Agus ke mana, Pak?"
"Mana saya tahu, saya baru keluar dan lihat kamu sendirian. Buruan kamu cari dia, saya mau berangkat sekarang."
Darti langsung mengangguk paham. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Agus. Majikannya benar-benar sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus, dan ia tidak boleh membiarkan bosnya itu menunggu lama.
"Gus, Agus!"
Agus yang tadinya sedang asik ngopi langsung berdecak. "Kenapa lagi sih, Ti? Aku mau ngopi dulu nih, mending kamu lanjut kerja sana, nanti diomelin Bapak baru tahu."
"Yang ada kamu yang dimarahin Bapak kalau masih ngopi di sini."
"Emang kenapa?"
"Itu Bapak udah nunggu di depan, Gus."
"Duarius malah. Kalau kamu ndak percaya, cek sendiri sana!"
Tak ingin mubazir, Agus segera menghabiskan kopinya dengan cepat lalu bergegas keluar rumah. "Mati lah aku, kalau sampai Bapak marah."
Saga sebenarnya bukan tipe yang pemarah. Hanya saja mendengar cerita dari Darti tadi, ia bisa saja kena semprot karena membuat mood majikannya bertambah buruk.
______________________________________
Seorang pria dengan jas putihnya masuk ke dalam ruangan Saga sambil berdecak, saat menemukan pria itu tengah berbaring di sofa sambil menutupi kedua matanya menggunakan lengan. Saga tidak tidur, hanya memejamkan kedua matanya yang sebenarnya memberat tapi diajak kompromi. Dan, Hito, pria itu tahu kalau Saga tidak sedang tidur.
"Makan siang yuk, Ga, gue traktir. Bebas lo bisa pilih sendiri."
"Enggak laper. Keluar lo!" usir Saga sambil melempar handuk miliknya yang tadi sempat ia sampirkan pada badan sofa. Sehabis keluar dari operasi, ia memilih mandi biar merasa jauh lebih segar. Meski kenyataannya ternyata sama saja.
"Anjir, lo kenapa deh? Nggak laper tapi mau makan orang. Taruh handuk sembarangan. Bentak-bentak anak koas di depan pasien. Ga, come on! Ini bukan gaya lo banget. Lo sebenernya kenapa sih? Kalau ada apa-apa tuh, cerita, jangan dipendem sendiri tapi ujung-ujungnya kita yang kena semprot."
Hito langsung menarik kursi dan membawanya mendekat ke sofa tempat di mana Saga berbaring. Ia kemudian duduk di sana sambil menyilangkan sebelah kakinya, tangannya terulur dan menepuk kaki Saga.
"Ga, cerita!"
"To, plis, gue lagi nggak mood. Mending lo keluar deh!"
__ADS_1
"Ya, gue sebenernya milih keluar nongkrong sama temen-temen gue sih ketimbang duduk di sini sama lo. Tapi masalahnya lo lagi nggak oke, gue nggak bisa keluar gitu aja sebelum lo cerita." Hito kemudian menepuk kaki Saga sekali lagi dan menyuruh pria itu bangun dari posisi berbaringnya, "buruan cerita! Gue bentar lagi mau diajak diskusi sama dokter Adnan nih, kalau telat bisa kena ceramah dua jam gue ntar."
"Ga!" panggil Hito tak ingin menyerah.
Perlahan tapi pasti, Saga menurunkan lengannya yang tadi menutupi kedua matanya. Helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya. Pandangannya lurus, menatap ke arah langit-langit. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi malam.
"Gue nggak tau, To. Gue bingung."
"Kalau lo aja bingung, gimana gue coba, Ga? Tambah bingung lah."
Mendengar respon pria itu, Saga langsung menoleh ke arah Hito dengan tatapan tajamnya. Hal ini tentu saja membuat nyali pria itu seketika langsung menciut seketika.
"Iya, iya, sorry, bercanda elah."
"Gue serius."
Hito mangguk-mangguk paham. "Iya, gue juga tahu. Lo itu orang paling serius yang paling kenal sejak gue duduk di bangku kuliah."
"Itu karena temen lo nggak banyak," sahut Saga dengan ekspresi datarnya.
"******, nggak usah ngatain bisa?"
Saga hanya meresponnya dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Enggak, ini lo sebenernya kenapa sih?"
"Gue merasa aneh sama diri gue sendiri."
"Aneh yang gimana?"
"Gue bukan anak kemarin sore yang bisa galau seharian cuma karena ditolak kan? To, gue udah 34 tahun, pengalaman gue untuk urusan percintaan seenggaknya udah lumayan lah. Masa iya, gue sampai sebegininya cuma karena ditolak cewek? Aneh nggak sih? Gue sampe bingung sama diri gue sendiri. Gue nggak nyangka aja kalau ditolak cewek bakal bikin gue sekacau ini."
"Dan gue lebih nggak nyangka perkara urusan ditolak bikin lo ngomong panjang lebar begini. Anjrit, jadi lo seharian ini sensi, rewel nggak jelas cuma karena cewek? Seorang dokter Saga, yang sangat dikagumi mahasiswa lo itu seharian mode senggol bacok cuma karena ditolak?"
Hito dengan sifat empatinya yang sedang entah ditelan bumi atau lainnya, mendadak tertawa terbahak-bahak. Momen langka ini terlalu lucu dibandingkan lawakan Kang Sule atau Andre Taulani.
Tersinggung, Saga langsung mendorong kursi yang diduduki Hito menggunakan kakinya.
"Keluar lo!" usirnya galak.
"Galak banget sih lo. Oke, oke, gue akui respon gue barusan salah, gue minta maaf. Maaf, bro, reflek, abis lo kan biasanya cuek parah soal ginian. Kenapa perkara ditolak cewek sampe bikin lo segininya sih? Kayak apa sih bentukannya? Jadi penasaran gue."
"Lo nggak perlu tahu."
Hito mengangguk setuju. "Iya sih, lo kan ditolak, jadi gue nggak perlu-- oke lupain. Jadi ini gue harus ngapain biar lo nggak galau?" ralatnya kemudian, saat merasakan pelototan tajam dari Saga.
"Gue nggak galau."
"Ya, apapun itu namanya. Mau nongkrong bareng gue nggak ntar malem, ajep-ajep. Minum, nyari cewek."
"Sesat lo!" Saga geleng-geleng kepala tidak setuju, "lagian lo itu dokter, masa begituan sih?"
__ADS_1
"Why? Apa salahnya? Dokter juga manusia kali butuh hiburan."
Saga menggeleng tegas. "Nyesel gue curhat lo," gerutunya menahan kesal.