
Ayana tersenyum tipis saat melihat sang suami keluar dari kamar mandi. Melihat Saga dengan rambut basahnya dan handuk melilit di pinggang, benar-benar pemandangan yang menyenangkan. Ia bahkan sudah tidak tertarik lagi memainkan ponselnya.
"Belum tidur?" tanya Saga sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Ia kemudian berjalan ke arah lemari untuk mencari kaos dan celana pendeknya.
"Kan nungguin kamu, Mas." Tangan Ayana kemudian mengelus perutnya, "anak kamu nggak mau tidur kalau belum dikelonin Papa-nya."
Saga menoleh sekilas sambil memakai kaosnya. "Anaknya apa Mamanya?"
Enggak, pria itu serius bertanya. Tidak ada unsur menggoda Ayana. Lihatlah ekspresi pria itu, terlalu datar untuk kategori menggoda.
"Dua-duanya sih kayaknya. Soalnya aku juga jadi nggak bisa tidur kalau kamu nggak di rumah."
Saga menyampirkan handuk basahnya ke tempatnya, baru setelah itu bergabung dengan Ayana. "Terus kemarin?"
Kemarin yang dimaksud Saga adalah dua hari yang lalu, saat itu ia mendadak dapat emergency call, yang mengharuskan dirinya kembali ke rumah sakit jam setengah sepuluh malam. Dan Saga memilih pulang tepat adzan subuh karena memang harus memastikan kondisi pasiennya benar-benar stabil sebelum ia tinggal.
"Ya, terpaksa begadang."
"Kenapa nggak bilang?"
"Ya, masa aku telfon kamu suruh cepet pulang cuma karena aku nggak bisa tidur, Mas? Padahal posisinya kamu lagi ngurusin pasien?" Ayana menggeleng tegas, "ya, aku nggak seegois itu, Mas. Aku paham ini konsekuensi aku nikah sama tenaga kesehatan yang super sibuk."
"Maaf," sesal Saga serius.
Ayana malah tertawa. "Iihhh, Mas, seriusan nggak papa, yang ada aku malah ngerasa bersalah kalau kamu sampai minta maaf gitu."
Saga kemudian mengangguk seraya memeluk tubuh sang istri. "Ya udah, ayo, tidur! Besok shift pagi kan?"
Ayana mengangguk. "Iya, tapi bentar deh, Mas. Aku mau minta izin."
"Mau ngapain?" tanya Saga heran.
"Besok Malvin mau ke sini. Boleh, ya?"
"Kenapa pake izin?" Saga malah balik bertanya.
"Ya, soalnya nggak enak, mau gimana pun kan Malvin cowok, Mas. Meski nggak ada yang perlu dikhawatirkan tapi, tetep aja perlu izin juga dari kamu. Ntar apa kata orang, masa terima tamu cowok nggak izin dulu sama suami. Ceritanya menghindari fitnah, Mas. Boleh, ya?"
Saga mengangguk untuk mengiyakan.
"Kayaknya dia lagi mau curhat soal ceweknya deh, Mas."
"Dia punya?"
Ayana langsung terbahak. "Punya lah. Pertanyaan kamu kok gitu sih, Mas? Iya sih, sebelum-sebelumnya dia emang milih sibuk sama residennya doang, tapi setelah kita nikah kedua orang tuanya makin gencar banget nyuruh dia buat cepet-cepet nikah, terus sampai dijodohin segala kan. Akhirnya dia mulai capek tuh lama-lama."
"Terus mau gitu dijodohin?"
"Awalnya sih mau-mau aja, cuma kayaknya nggak berjalan lancar gitu deh. Terus katanya mendadak deket sama tetangganya." Ayana terkikik geli, "kayak kita nggak sih, Mas?"
Saga menaikkan sebelah alisnya heran. "Kayaknya enggak deh."
"Ya, emang beda sih, cuma mirip-mirip dikit. Samanya karena kita berawal dari tetanggaan. Eh, kamu inget nggak sih, Mas, kalau kita ternyata kenalnya udah lama banget."
Saga mengangguk. "Kebalik."
"Hah? Apanya yang kebalik?"
"Harusnya aku yang nanya begitu. Kamu inget dulu nggak?"
Ayana menggeleng. "Ya, mana aku inget sih, Mas, kan dulu aku masih kecil banget."
"Sayang banget."
"Kenapa? Kamu sayang banget dulu sama aku?"
__ADS_1
Di luar dugaan, Saga langsung menggeleng cepat. "Dulu kamu sering ganggu aku. Inget nggak?"
Lagi-lagi Ayana menggeleng sebagai tanda jawaban. "Coba cerita dikit dong, Mas! Kita dulu gimana sih?"
"Kamu suka ngikut kemanapun aku sama Tama pergi, kalau nggak diajak, ntar kamu nangis. Kalau udah nangis ntar Mama kamu nggak kasih izin main. Kalau udah begini aku yang kena omel Abang kamu."
"Terus-terus ada kejadian seru nggak? Yang nggak terlupakan gitu? Atau semisal insiden apa gitu."
"Ada. Banyak sebenernya, tapi aku cerita yang ini aja. Waktu itu aku sama Tama mau main bola sama anak-anak komplek sebelah, kita udah usahain pergi diam-diam, pas kamu tidur. Tapi tetep aja ketahuan, akhirnya kita terpaksa ajak kamu."
"Terus? Aku ikut main bolanya gitu?"
Saga menggeleng cepat. "Awalnya sih kamu ngotot pengen ikut, tapi aku sama Tama nggak kasih izin, meski agak susah, tapi akhirnya kamu nurut."
"Terus? Gitu aja?"
"Masih ada lanjutannya."
"Aku ngapain?"
"Nonton sih sebenernya, cuma kayaknya emang lagi apes, kamu kena bola sampai jatuh, dahi kamu di sini sampe bocor," ucap Saga sambil menunjukkan dahinya sendiri, "tapi hebatnya kamu nggak nangis, tapi yang nangis siapa coba?"
"Kamu?" Ayana menggeleng tegas, "Bang Tama?"
Saga mengangguk cepat. "Padahal darah kamu yang keluar banyak banget karena emang luka kamu cukup lebar."
Ayana mendadak takjub dengan dirinya sendiri. "Serius aku nggak nangis, Mas? Sama sekali nggak nangis?"
"Nangis sih."
"Pas dijahit lukanya?"
Saga menggeleng. "Kan ada anestesi."
"Oh, begitu anestesinya abis?"
"Terus aku nangisnya karena apa dong?"
"Aku pulang."
"Hah? Maksudnya?"
"Pas aku mau pulang kamu langsung nangis kenceng."
"Aku begitu?" tanya Ayana seolah tidak percaya, "itu seriusan aku?"
"Ya, kamu, masa Fira. Dulu belum kenal lah."
"Berarti aku aslinya bucin sama kamu sejak dini ya, Mas?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Enggak tahu, soalnya pas gede songong. Sok-sok nolak."
"Astaga, ya ampun, Mas, masih aja dibahas. Dendam ya kamu?"
Dengan wajah santainya Saga menggeleng. "Cuma inget. Nyimpen dendam nggak baik, bikin penyakit."
"Ya udah, ayo tidur aja lah!" ajak Ayana sudah enggan membahas yang sudah berlalu. Soalnya semakin dibahas ia sendiri yang makin malu.
"Kan kamu duluan yang ngajak ngobrol."
"Iya, iya, salah aku. Udah ayo, tidur!"
Saga terkekeh lalu mematikan lampu dan mulai tidur.
***
__ADS_1
"Anjir, berapa lama kita nggak temu deh, Na? Sekarang lo kok semok banget?"
Malvin spontan tertawa saat masuk ke dalam rumah Ayana dan bertemu dengan perempuan itu.
"Perasaan terakhir ketemu masih langsing deh. Bunting lo?" sambungnya kemudian dengan nada meledek.
"Masa sih gue gemukan? Padahal gue kalau ketemu Tantenya Mas Saga dibilangnya kurusan terus."
"Ya, kan itu yang bilang Tantenya Bang Saga, jarang ketemu, ketemunya juga paling bisa diitung jari, beda sama gue."
"Beda apaan? Kita juga jarang ketemu ya, semenjak lo ada cewek. Bisa diitung jari juga kita ketemunya."
"Ya, tetep aja beda."
Malvin kemudian memperhatikan ekspresi wajah Ayana. Kedua netranya lalu mensensor perubahan tubuh perempuan itu yang terlihat tidak biasa menurut kacamatanya.
"Anjir, beneran hamil ya, lo?" tanya Malvin dengan ekspresi shock-nya, "kok bisa?"
Ayana langsung memukul pundak Malvin. "Hei! Pertanyaan lo! Gue udah sah jadi istri orang, punya suami, wajar lah kalau hamil."
Berbeda dengan Malvin yang kini justru memasang wajah polosnya seraya tertawa. "Hehe, lupa gue, Na, kalau sekarang lo udah jadi istri orang. Padahal kalau dipikir-pikir udah hampir setengah tahun kan lo jadi istri orang?"
"Udah lebih, Vin."
"Eh, malah udah?"
Ayana hanya mengangguk untuk mengiyakan dan mengajak pria itu menuju ruang tamu.
"Jadi gimana PDKT lo sama tetangga lo? Lancar?" tanya Ayana begitu mereka sudah sampai di ruang tamu dan duduk di sana.
Bukannya menjawab, pria itu malah berdecak seraya menyilangkan kakinya. "Buset, Na, to the point banget. Lo nggak mau nawarin gue minum atau kue-kue kering atau apa gitu? Masa langsung ke inti, ini gue curiga ntar abis itu langsung diusir nih gue."
"Nggak usah banyak gaya lo, sejak kapan lo kalau main minta ditawarin segala?" Tanpa menunggu jawaban Malvin, Ayana langsung menggeleng cepat, "enggak ada. Ambil sendiri sana kalau haus. Nggak usah manja!"
"Ya, sejak lo dinikahi Bang Saga lah, Na. Ya, kalau dulu sih gue nggak masalah begitu, tapi kalau sekarang mana berani gue. Ntar diaduin pembantu lo, nggak dibolehin main ke sini kan lo yang repot. Buruan ambilin!"
"Ngerepotin lo," gerutu Ayana dengan wajah cemberutnya. Namun, meski demikian ia tetap beranjak dari duduknya dan bergegas ke dapur untuk mengambilkan Malvin minuman dan beberapa cemilan.
Setelah mendapatkan yang dicari, ia langsung bergegas kembali ke ruang tamu untuk menyajikannya.
"Jadi udah berapa minggu?" tanya Malvin begitu Ayana mendudukkan pantatnya di sofa.
"Sepuluh," ucap Ayana sambil mengelus perutnya yang belum terlihat membuncit.
"Udah hampir tiga bulan dong? Dan kenapa lo nggak bilang?"
"Ya lo, nggak nanya. Sibuk pacaran mulu."
Malvin mendengus. "Pacaran apaan? Ngurusin bini orang baru iya."
Ayana menopang dagu. "Enggak bagus ya progressnya? Susah banget didapetin? Apa saking sibuknya ngurusin bini orang sampe nggak sempet modusin?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah diam saja. Pandangan pria itu terlihat seperti orang yang sedang melamun. Hal ini mengundang rasa penasaran dari Ayana.
"Vin," panggil Ayana khawatir.
"Gue bingung."
"Bingung?" beo Ayana tidak paham, "bingung yang kayak gimana? Coba cerita, siapa tahu gue bisa kasih masukan."
"Ternyata dia nggak jujur."
"Enggak jujur?" beo Ayana semakin tidak paham, "maksudnya enggak jujur yang gimana? Dia udah ada pasangan?"
Malvin menatap Ayana sedih. "Lebih dari sekedar itu. Padahal gue yang gue ceritain semuanya ke dia itu sebuah fakta dan jujur. Tapi gue malah dibohongi begini."
__ADS_1
"Seriusan, gue beneran bingung, maksudnya gimana?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah menghela napas berat.