Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Usaha Terus


__ADS_3

"Ngapain masih di situ, ini udah mau maghrib, Na. Masuk rumah sana!"


Kartika merasa heran dengan sikap Ayana hari ini. Putri bungsunya itu dari tadi sore sudah stand by di depan rumah tanpa melakukan kegiatan selain duduk dan memainkan ponselnya sesekali. Padahal biasanya juga kalau di rumah kerjaannya di depan televisi sambil memangku toples cemilan. Lantas kenapa hari ini lain?


"Bentar dulu dong, Ma."


"Nungguin apaan sih?" tanya Kartika tidak habis pikir. Kedua matanya celingukan mencari sesosok yang mungkin sedang ditunggu oleh sang putri.


"Nungguin jodoh."


Kartika langsung mengerutkan dahinya seraya menatap Ayana tidak yakin. Nungguin jodoh di depan rumah? Jelang maghrib pula? Memangnya bakal lewat? Batinnya keheranan.


"Kamu pikir jodohmu bakal lewat gitu depan rumah?"


Dengan wajah sok polosnya, Ayana mengangguk yakin. Tak berselang lama mobil Saga terlihat, dengan semangat yang kembali naik, Ayana langsung berdiri sambil menunjuk ke arah rumah Saga.


"Itu jodoh Yana."


"Dih, ngaku-ngaku! Saga juga udah ogah kali jadi jodoh kamu, kamu jangan ngarep yang ketinggian, Na! Mama kalau jadi Saga juga udah ogah kali buat sekedar liat muka kamu, apalagi jadi jodoh kamu."


Ayana tidak peduli. Dengan senyum riangnya, ia langsung membawa Tupperware berisi pai buah buatannya ke rumah Saga. Seharian ini ia sibuk membuatnya, karena kebetulan hari ini ia shift pagi jadi punya waktu luang lebih pada sore hari.


"Sore, Mas Saga," sapa Ayana dengan sedikit canggung.


Bagaimana tidak canggung, ia sudah memasang senyum secerah mungkin tapi respon Saga hanya menaikkan sebelah alisnya. Sejujurnya Ayana gemas saat melihatnya, tapi apa mau dikata. Nasibnya sedang berada di level ini, jadi ia harus lebih bersabar dalam menghadapi pria itu.


"Ada apa?" tanya Saga.


"Aku bikin pie nih, Mas. Mas Saga mau bantu ngicipin? Nanti kasih tahu aku kurangnya di mana gitu."


Saga menatap Ayana datar selama beberapa saat, helaan napas terdengar setelahnya. "Kamu lupa?" tanyanya kemudian.


Ayana menerjapkan kedua matanya bingung.  Lupa? Batinnya bertanya-tanya, memang apa yang ia lupakan?


"Saya kurang suka makan manis."


Mampus!


Wajah Ayana seketika langsung pias. "Tapi ini nggak terlalu manis kok, Mas, serius. Ini pie buah, Mas Saga bisa cobain langsung buat buktiinnya." Cepat-cepat ia membuka Tupperware-nya dan mengambil satu buah pie buatannya lalu menyodorkannya pada Saga.


Sebenarnya Ayana ingin langsung menyuapi Saga secara langsung, tapi berhubung ia masih sadar pada posisinya sekarang, jadi ia memutuskan untuk lebih tahu diri.


Dengan perasaan sedikit enggan, Saga akhirnya menerima pie itu. Ragu-ragu ia mulai menggigitnya dalam ukuran kecil, karena takut kalau rasanya mungkin akan sulit ditoleransi mulutnya.


"Gimana, Mas?" tanya Ayana was-was.


Saga mengangguk. "Bisa dimakan."


Tunggu sebentar, Ayana masih loading. Bisa dimakan? Itu artinya apa ya? Rasanya nggak enak tapi masih bisa dimakan begitukah maksudnya?


"Enggak enak ya, Mas?"

__ADS_1


"Kenapa?" Bukannya menjawab Saga malah balik bertanya, dan ini membuat Ayana semakin bingung.


Kenapa sih Saga suka sekali memberi jawaban ambigu, yang membuatnya over thinking.


Ayana menggeleng dengan ekspresi sedihnya lalu kembali menutup Tupperware-nya. "Ya udah, kalau gitu aku pamit pulang, Mas. Udah mau maghrib," balasnya sedikit jengkel.


"Enggak jadi dikasih?" tanya Saga heran, saat melihat Ayana hendak pergi begitu saja tanpa memberikan Tupperware itu lebih dulu, "cuma disuruh nyobain satu?" sambungnya kemudian.


Ayana kembali berbalik. "Mas Saga mau semuanya?"


Ekspresi Saga terlihat sedikit salah tingkah. "Ya, kalau dikasih," balasnya ragu-ragu.


"Ya udah ini. Ambil semua. Aku langsung pulang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Batin Saga bertanya-tanya seraya menatap punggung Ayana yang kian menjauh. Lah, kenapa gadis itu terlihat seperti sedang menahan kesal?


Saga mengangkat kedua bahunya, mencoba untuk tidak terlalu peduli dan memilih langsung masuk ke dalam rumah.


______________________________________


Tok Tok Tok


Saga langsung menoleh ke arah pintu kamarnya. Diletakkan laptopnya yang tadi ia gunakan untuk membuat soal kuis yang akan ia adakan besok di kelasnya. Ia kemudian berdiri, berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya. Di sana ada ART-nya, Darti.


Saga tidak bertanya dan hanya menaikkan alisnya. Peka dengan kode yang ditunjukkan sang majikan, Darti langsung membalas.


"Ini, Pak, ada titipan dari Mbak Yana," ucap Darti seraya paper bag pada Saga, ragu-ragu pria itu menerimanya.


Darti menggeleng. "Enggak, Pak, Mbak Yana keliatan rapi gitu, kayak mau berangkat kerja deh. Jaga malam mungkin, ya? Eh, tapi kurang tahu juga sih atau bisa jadi mau pergi main sama temen atau pacarnya."


Mendengar Darti menyebut kata 'pacar', ekspresi Saga langsung berubah kurang bersahabat. Darti yang menyadari itu buru-buru melanjutkan kalimatnya.


"Eh, enggak deh, Pak, kayaknya mau dinas malam soalnya rapi banget nggak keliatan mau pergi main gitu." Darti mendadak merasa salah tingkah.


Saga hanya mengangguk sekali lalu menyerahkan paper bag itu kembali pada Darti. "Lain kali panggil saya." Namun, sang ART tidak langsung menerimanya.


"Hah? Gimana, Pak? Mbak Yana tadi buru-buru makanya dititipin ke saya, kalau nunggu saya panggil Bapak dulu, Mbak Yana bisa telat, Pak. Soalnya takut macet juga katanya."


"Bukan. Maksud saya nggak usah kamu bawa ke atas," ralat Saga. Ia kembali menyerahkan paper bag itu kepada Darti yang kali ini langsung diterima sang ART, "tolong taruh di meja makan, saya mau ambil laptop."


"Baik, Pak, kalau gitu saya permisi."


Setelah Darti menghilang dari hadapannya, Saga kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil laptop dan ponselnya. Setelah itu ia memutuskan untuk langsung turun ke bawah menuju dapur.


Sudah seminggu lebih Ayana memang selalu mengiriminya makanan dan Saga mulai terbiasa dengan itu. Padahal kalau dipikir-pikir, ya, tidak perlu juga karena ia memiliki ART di rumahnya. Tapi berhubung makanan yang Ayana kirimkan termasuk sesuai dengan seleranya, ya, ia senang-senang saja. Harus Saga akui kalau Ayana cukup handal dalam hal ini, satu fakta yang baru ia ketahui selama ia belajar mengenal gadis itu. Dulu ia pikir Ayana tipe yang akan payah dalam urusan dapur, dan sebenarnya ia tidak masalah jika begitu. Tapi ternyata ia salah. Ayana justru bisa ia bilang cukup handal.


To: Mas Saga


Malem-malem lembur enaknya ditemani cemilan biar nggak gabut, Mas. Aku bikinin salad buah, moga suka ya (◍•ᴗ•◍)❤

__ADS_1


Senyum Saga perlahan terbit saat melihat emotikon yang Ayana gambar. Tangannya kemudian meraih sendok dan mulai mencicipi salad buatan gadis itu. Saga langsung memutuskan untuk mengirim chat kepada Ayana setelahnya.


You:


sent a pict


You:


sudah diterima


You:


terima kasih


Ayana:


sama-sama, Mas


Ayana:


semoga Mas Saga suka ya. Oh ya, Mas, buat besok kira-kira Mas Saga mau dibikinin apa lagi?


Ayana:


aku sedikit bingung deh


Ayana:


Mas Saga ada rekomen?


Bingung harus membalas apa, Saga memutuskan untuk langsung menutup room chat. Tidak lama setelahnya ponselnya berbunyi dan jelas saja Ayana yang menelfon.


"Kok nggak dibales, Mas? Mana langsung nggak online lagi," gerutu Ayana dari seberang. Nada suaranya terdengar seperti sedang jengkel.


"Bingung mau balas apa."


"Kan simpel, Mas, tinggal dijawab apa saran kamu."


"Enggak tahu."


Di seberang, Ayana berusaha mati-matian mengumpulkan kesabarannya yang nyaris ambyar. "Ya, kan tinggal dijawab dong Mas, kalau kamu nggak bisa kasih ide. Kalau nggak dibales aku jadi ngerasa terabaikan tahu."


"Maaf."


"Ya udah, dimaafin. Lain kali jangan gitu lagi. Ya udah, kalau gitu aku mau siap-siap. Ini soalnya udah saatnya pergantian shift, kamu jangan tidur malem-malem. Malam ini biar aku yang begadang, bye! Assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam."


Tanpa Saga sadari senyum pria itu kembali terbit. Darti yang kebetulan sedang berada di dapur untuk mengambil air minum tampak terkejut saat melihatnya. Karena bertahun-tahun ikut sang majikan, rasanya belum pernah ia menemukan sang majikan senyum-senyum selepas menelfon seperti sekarang ini. Jelas saja ini termasuk momen langka.


"Bapak kenapa?" tanya Darti spontan. Ia tidak menyangka kalau pertanyaannya akan menimbulkan ketersinggungan dari sang majikan.

__ADS_1


"Maksudnya?"


Darti langsung menggeleng cepat. "Eh, enggak, Pak, nggak papa. Saya cuma mau ambil air minum. Silahkan dilanjut, saya juga mau lanjut nonton Mbak Andin. Permisi, Pak." Sambil meringis canggung Darti kemudian pamit meninggalkan dapur setelah selesai mengambil air minum.


__ADS_2