
Saga dan Ayana kini mulai akrab, bahkan gadis itu tak canggung untuk berkunjung ke rumah pria itu sewaktu-waktu. Seperti yang dilakukannya sekarang.
Saga membawa dua mug berisi kopi hangat buatannya dan langsung membawanya ke ruang tengah. Di sana sudah ada Ayana yang tampak sibuk dengan layar televisi yang ada di hadapannya. Pria itu langsung geleng-geleng kepala saat gadis itu mengabaikan keberadaannya. Ayana terlihat nyaman menguasai rumahnya.
"Serius banget," komentar Saga setelah meletakkan dua mug itu di atas meja. Baru setelahnya ia duduk di samping gadis itu dan ikut memperhatikan layar televisi.
Kedua mata Saga menyipit saat merasa ada yang janggal dengan tontonan Ayana. Lantas ia menoleh. Kok adegannya terlihat tidak asing, bahkan bukan hanya itu, orang, baju, dan tempatnya pun terlihat familiar. Seperti ia pernah menonton sebelumnya? Tidak, tidak, bukan iya yang menonton, tapi Ayana. Dan ia hanya menemani gadis itu.
Peka diperhatikan Ayana langsung buka suara. "Kenapa Mas?" tanyanya dengan pandangan mata masih terfokus pada layar.
Saga menggeleng. "Heran."
Mendengar jawaban Saga, Ayana akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh. "Heran kenapa?"
Saga kemudian menunjuk ke arah layar. "Yang bikin kamu uring-uringan waktu itu?"
"Iya." Sambil memamerkan senyum terbaiknya, Ayana mengangguk.
"Tapi ditonton lagi?"
Ayana menyengir sok malu-malu. "Hehe. Abis aku masih gagal move on, Mas. Jadi ya udah aku tonton lagi lah."
Saga tidak berkomentar lebih jauh. Pria itu memilih langsung berdiri, membuat Ayana yang tadinya sudah kembali fokus menonton kembali menoleh ke arah Saga.
"Mau ke mana, Mas?"
Saga menunjuk ke lantai atas. "Kamar."
__ADS_1
"Aku ditinggal sendiri?" tanya Ayana dengan ekspresi tidak percaya. Detik berikutnya gadis itu mendengus.
"Ambil laptop," jawab Saga singkat.
Ayana langsung mendengus keras. "Kerja terosss!" sindirnya kemudian, "kayak begitu kok mau nikah. Ntar sekalian aja, Mas, kamu nikahin aja laptopmu itu! Enggak usah cari perempuan!"
Saga menghela napas panjang lalu kembali duduk di sisi Ayana. Hal ini tentu saja langsung mengundang kerutan di dahi gadis itu.
"Kok duduk lagi?"
Saga menggeleng tegas. "Kamu ngambek." Lalu pura-pura ikut fokus menonton.
Meski pada kenyataannya saat ini Ayana sudah tidak terlalu fokus menonton, karena terlalu sibuk menatap Saga. Terkadang ia heran, dengan sikap pria itu yang terkesan cuek dan tidak peduli dengan sekitar, tapi kenyataannya justru Saga itu tipe yang sadar keadaan, alias sangat peka.
Namun, tentu saja Ayana harus pura-pura stay cool. "Dih, kepedean banget kamu, Mas. Siapa juga yang ngambek? Emang situ siapa?"
Ayana mendengus tidak percaya dengan jawaban pria itu. Memang salahnya kalau meladeni Saga. Lebih baik ia duduk diam sambil melanjutkan kegiatan menontonnya.
"Yan," panggil Saga tiba-tiba.
Ayana berdecak kesal karena merasa diganggu. "Kenapa lagi sih, Mas?"
"Kamu kenapa mendadak suka nonton sinetron?" tanya Saga kepo.
"Series, Mas," koreksi Ayana dengan wajah cemberut, "series. Sinetron sama series itu beda," sambungnya kemudian.
Ia tidak suka kalau series kesukaannya disebut sinetron. Karena jelas keduanya memiliki kwalitas yang berbeda. Bukan bermaksud menyinggung pihak tertentu, hanya saja Ayana tidak terima kalau kedua hal yang sebenarnya berbeda tapi disama-samakan.
__ADS_1
"Ya, itu maksudnya." Saga mengangguk, "jadi kenapa?"
Ayana mengangkat kedua bahunya. "Ya, lagi seneng aja."
"Gegara orangnya?"
"Kalau itu jelas." Ayana kemudian terkikik geli sendiri. Tangannya terulur dan meraih mug kopinya yang hampir dingin, "diminum ya, Mas."
Saga mengangguk dan mempersilahkan Ayana untuk minum. Ia kemudian menoleh ke arah Ayana. Ekspresi pria itu berubah serius. "Besok saya coba nggak usah cukuran?"
Ayana nyaris tersedak minumnya sendiri. Ya, untungnya itu tidak sampai terjadi, kalau sampai hal itu terjadi, ia tidak bisa membayangkan wajah Saga sekarang. Pasti... tetap ganteng sih, hanya saja pasti belepotan karena terkena semburannya.
"Biar apa itu?" tanya Ayana merasa sedikit ngeri.
Tangan Saga kemudian terulur dan menunjuk ke arah layar. "Biar kayak itu."
Sontak Ayana langsung terbahak-bahak. "Jangan aneh-aneh deh, Mas! Kamu ganteng dengan wajahmu yang begini. Udah ah, aku mau ke kamar mandi dulu, mendadak kebelet pipis. Itu kopi kamu diminum juga dong, udah mulai dingin loh." Sebelum meninggalkan ruang tengah, ia menepuk pundak Saga, "plis, Mas, jangan aneh-aneh, ya. Awas kalau besok sampai beneran nggak cukuran. Aku nggak akan pernah mau ketemu sama kamu lagi."
"Iya," balas Saga sambil mengangguk setuju.
"Aku serius loh, Mas," ulang Ayana tidak main-main.
"Iya."
"Bagus."
Ayana mengacungkan kedua jempolnya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan ruang tengah, menuju kamar mandi.
__ADS_1