
Keenan tiba di taman tempat ia berjanjian dengan Chelsea, kekasihnya itu.
Tampak disana Chelsea pun sudah menunggunya sambil duduk dan berkaca.
Begitu menyadari Keenan ada disana, Chelsea langsung beranjak dari kursi dan menatap ke arah lelaki itu sambil tersenyum genit.
Bahkan Chelsea juga memeluknya, karena ia sangat senang dapat bertemu dengan sang kekasih pagi ini.
Namun, ekspresi Keenan hanya biasa saja seperti tidak senang dengan perlakuan Chelsea.
"Hai sayang! Duh, kamu ganteng banget sih beb. Aku makin cinta deh sama kamu!" ucap Chelsea sembari membenamkan wajahnya pada dada sang kekasih.
"Duduk!" ucap Keenan singkat dan dingin.
Sontak Chelsea merasa heran dengan sikap Keenan yang seperti itu padanya, tak biasanya memang Keenan begitu.
Keenan juga melepaskan tangan Chelsea dari tubuhnya, dan sedikit menjauh tanpa mau menatap wajah gadisnya itu.
Mereka berdua duduk berdampingan, namun dengan jarak yang lumayan jauh karena Keenan masih tak mau berdekatan dengan Chelsea.
"Keenan, kamu kenapa sih sayang? Kok gak mau lihat muka aku kayak gitu?" tanya Chelsea heran.
Keenan menghela nafas singkat, kemudian menoleh ke arah Chelsea dengan tatapan tajamnya.
Chelsea tersenyum senang.
"Nah gitu dong! Kamu kalau lihat muka aku, kan aku jadi seneng beb." kata Chelsea genit.
"Yaudah, aku gak mau basa-basi lagi. Aku pengen tanya satu hal sama kamu," ucap Keenan.
"Soal apa? Kok kayaknya serius banget?" tanya Chelsea penasaran.
"Emang serius, ini menyangkut kamu dan paman kamu." jawab Keenan tegas.
"Hah? Maksudnya?" tanya Chelsea bingung.
"Semalam kamu telponin nomor om kamu itu kan? Beberapa kali kamu coba hubungi dia, tapi gak diangkat. Habis itu kamu kirim pesan ke dia yang isinya itu ketakutan kamu kalau kamu akan ketahuan sama tuan Albert bahwa kamu terlibat dalam rencana penculikan Nadira." jelas Keenan.
Chelsea pun terdiam panik, ia reflek membuang muka dan terheran-heran mengapa Keenan dapat mengetahui semua itu.
"Kok kamu malah buang muka sih sayang? Bukannya tadi kamu pengen banget tatap wajah aku dan kita saling tatap-tatapan disini?" ujar Keenan sambil tersenyum smirk.
"Keenan tahu itu semua darimana ya?" batin Chelsea merasa cemas.
Keenan pun mendekat, menarik lengan Chelsea agar mau menatap ke arahnya.
"Sayang, kamu jelasin ke aku sekarang apa maksud kamu kirim pesan begitu ke om Darius?! Benar kamu terlibat dalam rencana penculikan Bu Nadira? Kalau memang iya, kenapa kamu tega melakukan itu sayang?" tegas Keenan.
"Keenan, kamu dengerin aku dulu ya!" ujar Chelsea.
"Iya, aku emang pengen dengerin kamu kok. Makanya sekarang juga kamu jelasin ke aku, apa maksud kamu kirim pesan begitu!" ucap Keenan.
"I-i-iya Keenan, jadi aku tuh emang benar terlibat dalam rencana penculikan mbak Nadira itu. Tapi, rencananya kan gagal dan mbak Dira juga gak jadi diculik. Apa lagi sih yang kamu permasalahkan?" ucap Chelsea.
"Emang rencananya gagal, aku juga udah tau itu. Tapi, disini yang aku khawatirkan itu adalah kamu mengulangi lagi rencana yang gagal itu. Udah deh, mending kamu ngaku aja ke aku sama siapa kamu ngerencanain ini semua?!" ujar Keenan.
"Kalau aku bilang ke kamu, kamu mau janji gak sama aku kalau kamu gak akan bilang semua ini ke kak Albert? Jujur Ken, aku takut banget kak Albert sampai tahu semua ini!" ucap Chelsea.
"Aku bakal rahasiakan ini, asal kamu kasih tahu ke aku semuanya!" ucap Keenan.
Chelsea terdiam sejenak, memikirkan apakah ia harus menceritakan semuanya kepada Keenan atau tidak.
"Ayo Chelsea, cerita sama aku!" ucap Keenan.
"Iya Ken, tapi bener ya kamu gak akan cerita ke kak Albert?!" ucap Chelsea masih cemas.
"Bener kok, udah cerita aja!" ucap Keenan.
"Jadi, aku itu sebenarnya ikut kerjasama sama Vanesa dan papanya. Aku diminta mereka buat pancing mbak Dira keluar dari rumah, supaya mereka bisa culik mbak Dira." jelas Chelsea.
"Apa? Vanesa dan papanya??" Keenan terkejut setelah mendengar penjelasan Chelsea.
Gadis itu mengangguk pelan, kemudian menundukkan kepalanya khawatir kalau Keenan akan memarahinya.
•
•
Albert tampak bingung mencari dimana adiknya, karena Chelsea sama sekali tidak berpamitan padanya hendak pergi kemana.
Pria itu sebenarnya masih curiga dengan Chelsea dan ingin bicara empat mata padanya.
Akan tetapi, Chelsea justru tiba-tiba pergi dan Albert tak tahu kemana adiknya itu pergi.
"Mas," Nadira menghampiri Albert di teras rumah karena terheran-heran melihat suaminya itu berdiri sembari melihat ke kanan dan kiri.
"Eh sayang, kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Albert yang langsung merengkuh pinggang Nadira cukup posesif.
__ADS_1
"Enggak kok, aku cuma penasaran aja kamu lagi ngapain berdiri disini?" ucap Nadira.
"Ohh, iya nih saya lagi cari Chelsea. Dia itu kemana ya kira-kira? Pergi kok gak bilang sama saya, jadinya kan saya bingung nih nyariin dia." ujar Albert sambil garuk-garuk kening.
"Eee aku juga gak tahu sih, mas. Mungkin aja Chelsea lagi pergi sama Keenan, mereka kan pacaran." ucap Nadira.
"Iya kali ya? Yaudah deh, saya mau coba telpon Keenan dulu. Kamu boleh tolong ambilin hp saya gak di dalam?" ucap Albert.
"Boleh dong mas, sebentar ya!" ucap Nadira.
"Makasih ya sayang!" ucap Albert tersenyum.
Nadira berbalik, lalu masuk ke dalam untuk mengambilkan ponsel milik Albert.
Namun, baru beberapa detik wanita itu sudah kembali dan membuat Albert kebingungan.
"Mas," Nadira memanggil suaminya kembali.
"Iya sayang, mana hp nya?" tanya Albert heran.
"Eee belum aku ambil mas, aku kan gak tahu kamu taruh hp dimana. Makanya aku balik lagi, karena aku mau tanya ke kamu." jawab Nadira nyengir.
"Ya ampun, saya kira kamu tahu. Yaudah, hp saya ada di sofa ruang tamu. Tapi, biar saya sendiri aja deh yang ambil. Yuk kamu sekalian ikut!" ucap Albert.
Nadira tersenyum merasa bersalah, namun Albert langsung merangkulnya dan mengajaknya pergi.
Saat di dalam, Albert mengambil ponselnya yang terletak di atas sofa agar ia dapat menghubungi Keenan.
"Sebentar ya, saya telpon Keenan dulu." kata Albert.
"Hu'um," Nadira mengangguk saja.
Albert pun menghubungi Keenan dengan perasaan cemasnya, sedangkan Nadira tetap berdiri di samping Albert dan memandangi suaminya itu dengan tatapan kebingungan.
📞"Ah halo Ken! Syukurlah kamu angkat telpon saya, kamu lagi sama Chelsea gak?" ucap Albert.
📞"Eee iya tuan, saya lagi sama Chelsea nih. Emangnya kenapa ya tuan?" ucap Keenan.
📞"Enggak ada sih, cuma saya tadi cari-cari Chelsea tapi dia gak ada di rumah. Saya panik, kirain dia pergi kemana gitu. Syukurlah kalau dia ada sama kamu!" ucap Albert.
📞"Iya tuan, memang saya tadi yang ajak Chelsea buat ketemuan di luar. Saya minta maaf ya tuan karena saya gak izin dulu sama tuan!" ucap Keenan.
📞"Gapapa, kalian lagi dimana sekarang?" tanya Albert.
📞"Eee ini kita di taman merah tuan, gak jauh lah dari rumah tuan. Emang ada apa ya tuan?" jawab Keenan cukup heran.
📞"Boleh boleh aja kok tuan, kebetulan saya sama Chelsea juga cuman ngobrol biasa. Kalau tuan mau nyusul kesini ya silahkan aja!" ucap Keenan.
📞"Oke! Saya kesana sekarang, kamu jangan kemana-mana loh!" ucap Albert.
📞"Siap tuan!" ucap Keenan menurut.
Tuuutttt...
Albert memutus telponnya, kemudian hendak pergi begitu saja sesudah memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Eh eh, mas tunggu!" Nadira dengan cepat menarik lengan Albert dan mencegah pria itu untuk pergi dari sana.
"Oh iya lupa, saya gak sadar kalau kamu masih ada disini sayang. Maaf ya istriku yang cantik, jangan cemberut gitu dong!" ucap Albert sembari mencolek pipi Nadira.
"Iya, gapapa. Emang kamu tuh mau ngapain sih susulin adik kamu pacaran?" tanya Nadira heran.
"Ada hal yang pengen saya tanyakan sama Chelsea, dan ini tuh penting banget. Makanya saya harus susulin dia sekarang!" jawab Albert tegas.
"Soal apa sih emang?" tanya Nadira penasaran.
"Kamu gausah tau ya cantik, ini kan urusan saya. Kamu itu tugasnya cukup istirahat aja sama jaga dedek bayi di perut kamu, jangan terlalu banyak mikir yang gak penting!" ucap Albert.
"Tapi mas, justru kalau kamu gak mau kasih tahu, aku jadi kepikiran tau." kata Nadira.
"Yaudah, ikut aja yuk sama saya susulin Chelsea!" usul Albert.
"Boleh mas?" tanya Nadira.
Albert mengangguk memberi jawaban, Nadira pun tampak gembira dan bersedia untuk ikut dengan suaminya itu menyusul Chelsea.
•
•
Sementara itu, terlihat Chelsea nampak cemas setelah kekasihnya selesai mengangkat telpon dari Albert sang kakak.
"Ken, barusan kak Albert ngomong apa ke kamu?" tanya Chelsea agak cemas.
"Oh ini, kakak kamu tuh katanya mau susulin kita kesini. Dia bilang ada yang mau dibicarakan sama kamu, jadi kita tunggu sebentar ya sampai kakak kamu datang!" jawab Keenan.
"Apa? Kak Albert mau nyusul kesini? Ngapain coba? Emangnya gak bisa dibicarain di rumah aja?" ujar Chelsea terkejut.
__ADS_1
"Aku juga kurang tahu, mungkin aja ada masalah penting yang pengen kakak kamu bicarain sama kamu. Atau bisa jadi juga ini menyangkut Nadira, karena kamu kan udah mau coba celakai Nadira semalam." kata Keenan.
"Ish, tapi kan gak jadi. Rencananya juga gagal, kamu gausah bikin aku tambah panik deh! Lagian kak Albert tahu darimana coba kalau aku terlibat dalam rencana penculikan itu?" ujar Chelsea.
"Ya mana aku tahu? Nanti kamu tanya langsung aja ke kakak kamu itu!" ujar Keenan.
"Yaudah, tapi nanti kamu belain aku ya kalau kak Albert marahin aku atau mau hukum aku!" pinta Chelsea pada kekasihnya.
"Kita lihat aja nanti," ucap Keenan singkat.
Chelsea masih belum tenang dengan jawaban Keenan barusan, ia terus panik dan bingung harus bagaimana saat ini.
"Gausah ketakutan gitu! Kamu cerita aja yang sejujurnya sama tuan Albert, aku yakin dengan begitu pasti tuan Albert gak akan marahin kamu!" ucap Keenan memberi usul.
"Masa sih? Kalau kak Albert malah tambah marah gimana?" tanya Chelsea.
"Feeling aku sih begitu, karena kejujuran itu lebih dihargai daripada kebohongan. Karena yang aku tahu, kakak kamu itu emang lagi pengen selidiki tentang Vanesa dan papanya. Jadi, kalau kamu jujur pasti kamu aman!" jawab Keenan.
"Yaudah deh, semoga aja ucapan kamu bener! Aku bakal jujur dan bilang semuanya sama kak Albert, tentang Vanesa atau pak Harrison." kata Chelsea.
"Ya, itu bagus! Oh ya, aku mau tanya deh sama kamu. Sebenarnya niat kamu itu apa sih? Kenapa kamu sampai mau bekerjasama sama mereka?" tanya Keenan pada Chelsea.
"Dari awal aku emang benci dan gak suka sama mbak Dira, terus om Darius juga terus-terusan hasut aku buat jauhin Nadira dari kak Albert. Jadi, ya begitu deh akhirnya." jelas Chelsea.
"Ohh berarti ini semua ulah paman kamu itu juga?" tanya Keenan.
Chelsea menjawab dengan anggukan kecil.
"Sialan emang tuh orang! Berani-beraninya dia pengaruhi pacar aku, emang dasar paman gak bener!" umpat Keenan.
"Keenan, sekarang giliran aku yang pengen tanya sama kamu." pinta Chelsea.
"Oh yaudah, mau tanya apa?" Keenan tampak penasaran dengan pertanyaan yang ingin dilontarkan Chelsea.
"Darimana kamu bisa tahu kalau aku telponin om Darius? Terus soal pesan aku itu, kok kamu juga bisa baca?" tanya Chelsea penasaran.
Keenan tersenyum tipis, lalu mendekap tubuh Chelsea dari samping sembari mengusap rambutnya.
"Rahasia," jawab Keenan.
"Ih kamu mah!" ujar Chelsea seraya mencubit lengan Keenan karena kesal.
"Hahaha..." Keenan justru tertawa dibuatnya.
•
•
Singkat cerita, Albert dan Nadira telah tiba di taman merah alias lokasi tempat Keenan serta Chelsea berada saat ini.
Mereka pun turun dari mobil, namun entah mengapa Nadira justru terpukau dengan pemandangan indah di taman tersebut.
"Wah indah banget! Kamu kok gak pernah ajak aku kesini sih, mas?" ucap Nadira.
"Hey hey, jangan lepas tangan saya dong! Kamu itu harus ada di dekat saya terus!" tegas Albert kembali meraih tangan Nadira yang terlepas.
"Iya mas, maaf!" ucap Nadira pelan.
"Gapapa, sekarang kita cari dimana Keenan dan Chelsea!" ucap Albert.
Nadira mengangguk cepat, kemudian mereka pun melangkah bersamaan mencari keberadaan Chelsea serta Keenan di taman tersebut.
Sampai akhirnya Nadira menemukan sepasang kekasih itu tengah bercanda ria di bangku taman yang panjang.
"Mas, itu dia mereka!" ucap Nadira sembari menunjuk ke arah sepasang kekasih itu.
"Ah iya, kamu benar. Yaudah, yuk kita kesana sekarang!" ucap Albert.
Nadira mengangguk saja, lalu mengikuti langkah kaki Albert menuju ke arah Keenan dan Chelsea berada.
"Ehem ehem.." Albert berdehem pelan.
Keenan dan Chelsea pun terkejut mendengarnya, mereka reflek menoleh ke asal suara dan menemukan sosok Albert serta Nadira berdiri di samping mereka.
"Cie cie, romantis banget sih kalian! Sampe ketawa-ketawa begitu," goda Nadira.
"Eh tuan sama bu Nadira sudah datang, maafkan saya karena saya tidak melihat tadi!" ucap Keenan beranjak dari kursinya dan sedikit membungkuk.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Keenan! Saya justru senang kalau kalian berdua semakin dekat, saya harap kalian bisa terus seperti ini!" ujar Albert.
"Aamiin tuan!" ucap Keenan agak gugup.
Sementara Chelsea justru memalingkan wajahnya ke arah lain, ia berharap-harap cemas saat Albert terus menatap ke arahnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1