
📞"Oh ya? Soal apa?" tanya Albert penasaran.
📞"Carolina pak, Carolina barusan telpon saya dan dia bilang kalau dia mau resign dari perusahaan, pak." jawab Keenan.
📞"Apa??" Albert terkejut bukan main mendengarnya, bahkan ia sampai menegakkan tubuhnya dengan mulut terbuka.
Nadira ikut terkejut melihat suaminya seperti itu, ia penasaran apa penyebab Albert sampai kaget begitu.
"Mas, ada apa sih?" tanya Nadira bingung.
Albert menyingkirkan ponselnya sejenak, lalu berbicara pada Nadira.
"Sayang, nanti saya ceritain ya. Sekarang saya mau bicara sama Keenan dulu, oke?" ucap Albert.
"Iya mas," ucap Nadira menurut.
Albert pun kembali berbicara pada Keenan di telpon, sedangkan Nadira masih terlihat penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.
📞"Halo Keenan! Kamu serius bicara begitu? Jangan permainkan saya ya Keenan!" ujar Albert masih tak percaya.
📞"Saya serius pak, Carolina sendiri yang telpon saya barusan dan ajukan pengunduran diri itu. Saya juga tidak tahu apa penyebabnya, tapi yang pasti dia terdengar sedang cemas pak!" jawab Keenan.
📞"Haish, coba kamu pastikan lagi sekarang! Kamu datang ke kantor dan temui Carolina, saya ingin tahu apa alasan dia mengajukan pengunduran diri!" perintah Albert.
📞"Baik tuan! Saya akan segera menuju kesana sekarang!" ucap Keenan.
Tuuutttt...
Albert memutus telponnya, ia terlihat sangat kesal dan emosi sampai mencengkram ponselnya cukup kuat.
Nadira coba menenangkan suaminya, ia meraih satu tangan pria itu dan menggenggamnya.
"Mas, kamu tenang ya!" ucap Nadira lembut.
Albert pun menoleh ke arah Nadira, entah mengapa ia bisa merasa lebih tenang saat melihat wajah wanita itu.
"Makasih ya sayang! Kamu emang selalu bisa tenangin saya, wajah kamu yang cantik ini bikin saya susah buat emosi." ucap Albert seraya mengusap wajah istrinya.
"Syukur deh mas! Tapi, ada masalah apa lagi di kantor kamu mas? Kenapa kamu sampai sekesal ini?" tanya Nadira penasaran.
"Eee ini loh sayang, barusan Keenan kabarin saya kalau katanya Carolina sekretaris baru saya itu mengajukan pengunduran diri. Jelas aja saya kesal dong, dia kan baru kerja beberapa hari disana, masa udah mau resign aja? Gak profesional banget jadi orang!" jelas Albert.
"Yang sabar mas! Kamu udah tanya belum ke dia apa alasannya mau resign?" ucap Nadira.
"Itu dia sayang, saya tadi minta Keenan buat selidiki semuanya dan cari tahu kenapa Carolina mau resign dari kantor. Tapi, saya sih ngerasa ada yang gak beres disini." ujar Albert.
"Kenapa gitu mas?" tanya Nadira heran.
"Iya sayang, soalnya sewaktu saya interview Carolina, gadis itu kelihatan semangat sekali loh kerja di perusahaan saya. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba dia bisa berubah pikiran secepat ini dan mau resign dari kantor!" jawab Albert.
"Umm... apa mungkin ya mas, ada yang udah pengaruhi Carolina buat enggak kerja di kantor kamu lagi?" ujar Nadira.
"Bisa jadi sih, itu juga yang daritadi aku pikirin." kata Albert sembari berpikir keras.
"Yaudah, kamu sekarang ke kantor aja susul pak Ken! Biar aku pulangnya sendiri aja, daripada kamu makin pusing kan." usul Nadira.
"Gak bisa gitu dong sayang, sepenting apapun urusan saya, tetap kamu yang lebih penting buat saya! Kan kamu itu prioritas utama dalam kehidupan saya, Nadira!" ucap Albert menangkup wajah istrinya.
Nadira tersipu dan seketika wajahnya dibuat merona oleh kata-kata Albert barusan.
"Cie cie... ada yang merah nih ye mukanya!" ejek Albert.
"Apa sih mas!" ucap Nadira malu-malu.
"Hahaha... kamu ingat itu ya sayang, saya tetap akan prioritaskan kamu dibanding segalanya!" tegas Albert.
"Iya mas, makasih ya!" ucap Nadira tersenyum.
Cupp!
"I love you," ucap Albert seraya mengecup kening Nadira.
"Love you too, mas." balas Nadira.
•
•
Vanesa masih berkeliaran di sekitar kantor milik Albert, wanita itu tampak puas karena telah berhasil memengaruhi Carolina untuk berhenti menjadi sekretaris disana.
"Hahaha... sekarang aku cuma tinggal menunggu kabar aja sampai cewek itu resign dari kantor, lalu pak Albert gak punya pilihan lain selain menerima aku kembali untuk bekerja di perusahaannya." kata Vanesa tersenyum licik.
Vanesa pun menyetop taksi yang lewat, masuk ke dalamnya dan pergi dari sana.
Keenan yang kebetulan baru tiba disana, tak sengaja melihat Vanesa masuk ke dalam taksi.
Pria itu kebingungan melihat Vanesa masih bisa berkeliaran di sekitar perusahaan.
__ADS_1
"Itu kan Vanesa. Mau apa lagi dia kesini? Ini kerjanya para security tuh gimana sih? Kok bisa Vanesa masuk lagi kesini?" geram Keenan.
"Kalau tuan Albert sampai tahu, beliau pasti bakal marah besar ini!" sambungnya.
Keenan kembali melajukan mobilnya memasuki area perkantoran itu, ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk dan turun keluar.
Dua orang security yang berjaga disana langsung menghampiri Keenan begitu melihat mobil pria itu tiba disana.
"Selamat datang, pak Keenan!" ucap mereka.
"Ya, kebetulan kalian ada disini. Ada yang mau saya bicarakan sama kalian," ucap Keenan.
"Eee apa itu, pak?" tanya security itu penasaran.
"Barusan saya lihat Vanesa baru keluar dari kantor ini, dia pergi naik taksi di depan sana. Kenapa dia bisa datang lagi kesini, ha? Ngapain aja kalian bisa sampai kecolongan begitu!" ujar Keenan.
"Apa? Mbak Vanesa datang lagi kesini? Yang benar pak?" ujar security itu kaget.
"Kan kan... kalian ini gimana sih? Kalian itu ditugaskan disini untuk jaga keamanan, masa bisa-bisanya kalian gak tahu kalau ada Vanesa datang kesini! Apa kalian mau saya laporin ke tuan Albert, ha?" ujar Keenan emosi.
"Maaf pak, tolong jangan laporkan masalah ini ke tuan Albert! Kami benar-benar gak tahu kalau mbak Vanesa datang lagi, karena tadi kami tidak berjaga disini sewaktu mbak Vanesa muncul." kata security itu coba menjelaskan pada Keenan.
"Lalu, dimana kalian berdua saat Vanesa datang kesini?" tanya Keenan heran.
"Eee kami tadi membantu seorang nenek dan cucunya yang tersesat, pak. Makanya kami gak tahu kalau mbak Vanesa datang lagi kesini," jawab security itu.
"Haish, ngapain kalian malah ngurusin nenek-nenek? Tugas kalian itu berjaga disini, bukan bantu nenek tua begitu!" bentak Keenan.
"Maaf pak! Abisnya kami kasihan lihat nenek itu kesusahan buat jalan, apalagi cucunya juga masih kecil pak." kata security itu.
"Yasudah, kalau begitu kalian mulai sekarang harus tetap berjaga disini apapun yang terjadi! Semisal ada gangguan atau yang lainnya, jangan tinggalkan tempat ini! Kalau kalian mau pergi, salah satu aja jangan dua-dua sekaligus!" ujar Keenan.
"Baik pak, kami mengerti!" ucap security itu.
Keenan menggelengkan kepalanya, kini ia berpikir apa yang sudah dilakukan Vanesa di dalam sana.
"Kira-kira ngapain ya Vanesa kesini? Apa dia habis temui Carol di dalam? Dan karena itu, Carol jadi mutusin buat resign." batin Keenan berpikir keras.
Keenan pun memutuskan masuk ke dalam kantor dan menemui Carolina disana, ia meninggalkan kedua security itu begitu saja tanpa sepatah katapun.
•
•
Saat hendak mengetuk pintu ruangan Carolina, tiba-tiba saja pintu itu sudah terbuka lebih dulu dari dalam dan membuat Keenan mengurungkan niatnya.
"Carol, boleh saya bicara sebentar sama kamu?" ucap Keenan.
"Maaf pak, saya sudah harus pergi dari sekarang! Saya juga sudah menyiapkan surat pengunduran diri saya yang akan segera saya kirimkan ke pihak HRD, mohon maaf ya pak tapi saya memang harus mundur dari sini!" ucap Carolina.
"Tunggu dulu Carol! Saya ingin bicara dengan kamu sebentar saja, saya mohon Carol!" ujar Keenan memaksa.
"Tapi pak, apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?" tanya Carolina.
"Kita masuk ke dalam dan bicara disana! Tidak enak rasanya kalau ada yang mendengar pembicaraan kita disini, saya pun yakin kamu merasa demikian." ucap Keenan.
"Baiklah pak, tapi tidak lama." kata Carolina.
"Oke!" ucap Keenan setuju.
Akhirnya Keenan dan Carolina masuk ke ruangan itu, Keenan juga membawakan tas milik Carolina untuk mencegah gadis itu pergi dari sana.
Mereka berdua duduk di kursi dan saling berhadapan, Keenan tampak serius menatap Carolina hingga membuat gadis itu gugup.
"Pak, tolong jangan tatap saya seperti itu!" pinta Carolina.
"Kenapa? Saya biasanya selalu begini untuk mendeteksi kejujuran seseorang, karena saya bisa tahu itu." ujar Keenan.
"Yasudah, lalu apa yang ingin bapak bicarakan sama saya sekarang?" tanya Carolina.
"Saya hanya ingin kamu jujur sama saya! Apa alasan kamu tiba-tiba mengajukan pengunduran diri dari perusahaan?" ucap Keenan.
"Eee sa-saya..." Carolina tampak gugup dan terus menundukkan kepalanya.
"Kamu tidak usah takut, jujur saja! Saya justru lebih suka kejujuran yang menyakitkan, dibanding sebuah kebohongan. Lagipun, tidak ada yang perlu kamu cemaskan saat ini!" ucap Keenan.
"Iya pak, saya sebenarnya takut kejadian yang dialami bu Vanesa terjadi pada saya. Saya gak mau hamil diluar nikah, pak." jelas Carolina.
"Hah? Maksud kamu?" ujar Keenan kaget.
Carolina masih gugup dan bingung harus menjelaskan bagaimana, ia takut jika Keenan tak bisa menerima alasannya itu. Terlebih Vanesa juga sudah meminta untuk merahasiakan semua yang dia katakan tadi.
"Carol, kenapa kamu diam? Ayo jelaskan ke saya, apa maksud ucapan kamu barusan!" ujar Keenan.
"Itu dia pak, saya rasa ucapan saya sudah jelas. Saya ini tidak mau kejadian yang menimpa bu Vanesa juga terjadi pada saya. Sudah ya pak, saya permisi dulu!" ucap Carolina.
Gadis itu bangkit dari duduknya, ia hendak pergi membawa tasnya keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Namun, Keenan mencekal lengannya menahan Carolina untuk tetap disana bersamanya.
"Tunggu Carol! Saya mohon kamu jangan seperti ini! Saya tahu ketakutan kamu pasti diakibatkan oleh sesuatu kan, cerita saja sama saya! Apa tadi Vanesa menemui kamu disini?" ucap Keenan.
Carolina pun tampak bingung.
"Aduh! Aku harus gimana sekarang? Bu Vanesa kan minta aku buat rahasiakan semuanya, tapi pak Keenan juga terus-terusan paksa aku." batinnya.
"Carol, ayo jawab pertanyaan saya! Apa benar Vanesa datang kesini dan temui kamu? Dia sudah menghasut kamu, iya?" tegas Keenan.
"Pak, maaf saya tidak bisa jawab itu! Saya harus pergi sekarang!" ucap Carolina.
"Kenapa? Benar kan yang saya bilang barusan? Kamu dipengaruhi Vanesa!" ujar Keenan.
Carolina hanya terdiam memalingkan wajahnya, Keenan semakin yakin bahwa Carolina memang sudah dihasut oleh Vanesa.
•
•
Albert sampai di rumahnya, mengantar Nadira pulang sesuai janjinya.
"Sayang, kamu mau saya antar sampai ke kamar atau disini aja?" tanya Albert pada istrinya.
"Disini aja mas, aku bisa jalan sendiri kok ke dalamnya. Kamu juga kan masih ada urusan di kantor, mending kamu langsung berangkat kesana!" jawab Nadira sambil tersenyum.
"Oke deh! Tapi, kamu hati-hati ya jalannya! Jangan lari nanti kesandung!" ucap Albert mengingatkan Nadira.
"Tenang aja mas, aku ngerti kok!" ucap Nadira.
Nadira pun mencium tangan suaminya, sedangkan Albert menahan tengkuk Nadira dan mengecup kening istrinya.
"Yaudah ya mas, aku turun dulu. Bye bye!" ucap Nadira sembari melambaikan tangan.
"Bye sayang!" ucap Albert tersenyum.
Setelahnya, Nadira turun dari mobil dan melangkah ke depan teras rumah.
Albert membuka kaca mobilnya, tersenyum ke arah Nadira sembari melambai.
"Bye sayang!" ucap Albert lagi.
"Iya mas, hati-hati ya!" ucap Nadira.
Albert pun meminta supirnya untuk segera melaju, Nadira masih tetap disana memandangi mobil Albert sampai tak terlihat lagi.
Disaat Nadira hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Chelsea dengan sengaja menyenggol tubuhnya sehingga Nadira hampir terjatuh.
"Awhh aduh sakit!" rintih Nadira memegangi perutnya yang terkena senggolan itu.
Para bodyguard yang berjaga disana pun reflek mendekati Nadira, mereka mencemaskan kondisi Nadira yang kesakitan itu.
"Waduh Bu, ibu gapapa?" tanya Liam panik.
"Aku gapapa kok," jawab Nadira tersenyum tipis.
"Yah elah lebay banget sih lu! Masa baru digituin aja udah kesakitan, dasar lemah!" cibir Chelsea.
"Iya Chelsea, aku emang lemah kok. Kamu puas kan sekarang?" ucap Nadira.
"Maaf non! Sebaiknya non Chelsea lebih berhati-hati lagi kalau berjalan, Bu Nadira ini kan sedang hamil dan akan sangat beresiko kalau Bu Nadira sampai terjatuh tadi." kata Liam.
"Ish, apaan sih! Kenapa pak Liam jadi marahin saya kayak gitu? Orang saya gak sengaja kok!" protes Chelsea.
"Iya non, saya tahu. Makanya tadi saya bilang sama non supaya lebih berhati-hati lagi," ucap Liam.
"Udah udah pak, jangan diperpanjang! Saya gak kenapa-napa kok, cuma sakit sedikit aja tadi." ucap Nadira menengahi.
"Baik Bu! Apa ibu mau saya antar ke dalam?" ujar Liam menawarkan diri.
"Tidak usah pak, saya bisa sendiri kok." kata Nadira menolak tawaran Liam.
Nadira menatap wajah Chelsea lalu berkata, "Chelsea, aku ke dalam dulu ya? Kamu hati-hati kalau mau bepergian!"
"Gausah sok perduli sama gue!" ujar Chelsea ketus.
Nadira hanya menggelengkan kepalanya, ia tak mau memperpanjang masalah itu.
Wanita itu pun berlalu pergi, meninggalkan Chelsea yang masih merasa jengkel disana.
Chelsea terus mengepalkan tangannya, ia geram karena Nadira pergi begitu saja dari sana.
"Haish, makin sombong aja tuh cewek! Udah sok paling berkuasa kali dia disini!" ucap Chelsea.
Liam serta para pengawal yang mendengar itu hanya terdiam dan saling melirik satu sama lain, mereka tidak berani berbicara apalagi menegur Chelsea saat ini.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...