Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keenan pembunuh?


__ADS_3

"Yaudah, ayo cepat jelasin!" ujar Nadira.


"Iya sayang, jadi begini..." ucapan Albert harus terpotong lantaran Chelsea muncul dan langsung mencak-mencak menuju kesana.


"Kak Albert! Ngapain lagi cewek pelakor ini dibawa kesini sih kak? Kakak mau bikin mbak Dira celaka lagi ya?!" geram Chelsea. "Lu juga Vanesa, kenapa sih lu gak bisa ngerti-ngerti? Kak Albert ini udah punya istri, jadi lu jangan deketin dia terus dong! Dasar pelakor!" sambungnya.


"Jaga ucapan kamu Chelsea! Kakak gak mau ada keributan disini!" bentak Albert.


"Kalau kakak gak pengen ada keributan disini, kenapa kakak bawa dia balik kesini? Otak kakak dimana sih? Kasihan tahu mbak Dira, dia pasti sakit lihatnya!" ucap Chelsea.


Albert melotot tajam disertai dua tangan yang sudah terkepal dan bergetar hebat.


Pria itu bergerak mendekati Chelsea sambil terus menatap ke arahnya tanpa berkedip.


"Dengar ya Chelsea, kakak ini gak ada niatan untuk menyakiti hati Nadira. Justru kakak bawa Vanesa kesini, supaya semua masalah diantara kita selesai dan gak ada lagi masalah lainnya. Tolong kamu jangan asal bicara ya!" ucap Albert tegas.


"Albert, yang dibilang adik kamu itu benar loh. Kalau kamu gak mau ada masalah, seharusnya kamu jangan bawa wanita ini kesini! Kamu kan tau kalau dia selalu bikin keributan disini," ujar Abigail.


"Iya mah, aku tau. Tapi, aku mau mendamaikan mereka berdua disini mah." kata Albert.


"Apa? Mendamaikan? Kakak yang bener aja dong! Emangnya bisa cewek iblis ini berdamai sama mbak Nadira?!" ujar Chelsea.


"Jaga ucapan kamu Chelsea! Jangan sembarangan mengumpat orang seperti itu!" tegur Albert dengan keras.


"Kenapa kak? Kakak sekarang lebih belain dia dibanding istri kakak sendiri? Emang hebat ya tuh cewek, dia udah berhasil cuci otak kakak!" ucap Chelsea terheran-heran.


"Udah lah Chelsea, kakak gak mau ribut sama kamu!" pinta Albert.


"Iya Chelsea, udah ya jangan diperpanjang! Biar mas Albert jelasin semuanya kenapa dia bawa Vanesa kesini!" ucap Nadira.


"Ya, kamu benar sayang. Saya akan jelaskan bahwa kedatangan Vanesa kesini itu untuk meminta maaf padamu sayang, dia sudah berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya selama ini kepada kita." ucap Albert.


"Kakak yakin orang itu benar-benar mau minta maaf sama mbak Dira? Jangan-jangan ini cuma rencana busuk dia buat hasut mbak Dira dan mau celakai mbak Dira!" ujar Chelsea.


"Chelsea, kamu gak boleh gitu ya! Kita harus selalu berpikir positif!" ucap Nadira.


"Tapi mbak, kalau ke orang ini mah aku gak bisa mikir positif! Mbak kan tau sendiri dia jahatnya kayak apa, masa yang begini tiba-tiba mau minta maaf?!" ucap Chelsea.


"Ini beneran kok, aku emang udah menyesali semua perbuatan aku selama ini ke kalian. Aku mau minta maaf sama kalian semua disini, aku sadar aku sudah banyak berbuat jahat sama kalian. Maka dari itu, tolong maafkan aku ya! Aku janji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi nantinya!" ucap Vanesa.


"Heh! Lu gausah drama lagi deh, buat apa sih lu pake sok-sok mau minta maaf kayak gitu? Apa rencana lu sebenarnya?" ujar Chelsea.


"Kamu kok bicara begitu sih? Aku beneran loh mau minta maaf sama kalian semua, aku gak ada niat buruk atau rencana apapun. Kedatangan aku kesini emang benar-benar murni untuk minta maaf," ucap Vanesa pelan.


"Baguslah kalau kamu beneran mau minta maaf, aku udah maafin kamu kok Vanesa. Tapi, aku mohon mulai saat ini kamu jangan pernah ganggu mas Albert lagi!" ucap Nadira.


"Kamu gak perlu khawatir Nadira! Aku janji sama kamu, aku gak akan deketin Albert lagi! Aku cuma mau Albert bertanggung jawab sama anak yang aku kandung ini, setelah itu aku gak akan ganggu kalian lagi!" ucap Vanesa.


Mereka semua terdiam, terutama Albert yang masih bingung harus mengatakan apa.


"Mas, mending kamu sekarang bawa dia pergi lagi dari sini! Semuanya kan udah selesai, aku juga udah maafin dia kok. Jadi, menurut aku gak ada yang perlu dibahas lagi." kata Nadira.


"Iya sayang, saya bakal anterin Vanesa kembali ke apartemennya kok. Tapi, kamu beneran kan udah maafin dia?" ucap Albert.


"Udah mas," jawab Nadira singkat.


"Syukurlah, semoga setelah ini gak ada kejadian seperti dulu lagi ya! Saya ini maunya hubungan kita baik-baik aja tanpa ada keributan, dan satu-satunya cara adalah mempertemukan kalian berdua seperti ini disini." kata Albert sambil tersenyum.


"Kak, mending kakak di rumah aja deh! Biar Vanesa aku yang antar balik," usul Chelsea.


"Kenapa sih Chelsea?" tanya Albert.


"Loh kok kenapa? Udah jelas lah kak, biar gak ada salah paham lagi nantinya. Aku bisa kok anterin Vanesa sampai ke apartemen," jawab Chelsea.


"Itu usul yang bagus, memang sebaiknya kamu di rumah aja ya Albert! Mama yakin Chelsea bisa urus semuanya kok!" sahut Abigail.


"Yaudah, kamu boleh anterin Vanesa. Tapi ingat, bawa mobilnya gak boleh ngebut-ngebut dan harus hati-hati! Vanesa ini lagi hamil, jangan sampai terjadi sesuatu sama kehamilannya!" ucap Albert.


"Tenang aja kak!" ucap Chelsea tersenyum lebar.


"Albert, aku gak mau diantar sama dia. Kamu aja ya yang anterin aku!" pinta Vanesa.


"Heh! Lu gausah nawar deh, masih mending gue mau anterin lu. Udah, ayo sekarang lu ikut gue pergi dari sini!" ucap Chelsea langsung menarik tangan Vanesa.


"Hey Chelsea, jangan kasar begitu sama Vanesa! Ingat kata-kata kakak, Vanesa itu lagi hamil dan kamu gak boleh begitu!" ucap Albert.

__ADS_1


"Iya kak iya, sorry!" ucap Chelsea merengut.


Chelsea melepas tangan Vanesa lalu berkata, "Ayo Vanesa, kita pergi sekarang sebelum larut!"


"Bert, emang kamu tega biarin aku pulang sama adik kamu yang bandel ini? Gimana kalau dia macam-macam sama aku nanti?" tanya Vanesa.


"Vanesa, kamu gausah takut ya! Chelsea itu anak baik kok, dia gak mungkin apa-apain kamu. Kamu bisa pegang omongan saya!" jawab Albert.


"Iya udah Vanesa, lu tenang aja!" ujar Chelsea.


Vanesa tampak ragu untuk ikut dengan Chelsea, tetapi ia tak memiliki pilihan lain karena Albert juga tidak mau membelanya.


"Yaudah, kamu pulang gih sana bareng Chelsea! Ingat janji kamu tadi ya!" ucap Albert.


"I-i-iya Albert..." ucap Vanesa menurut.


"Mah, mbak, aku antar Vanesa dulu ya?" ucap Chelsea pamitan sembari mencium tangan mereka.


"Iya sayang, hati-hati ya!" ucap Abigail.


"Hati-hati Chelsea! Jangan sampai kamu dijebak sama wanita ini!" ucap Nadira.


"Tenang aja mbak, semua aman kok!" ujar Chelsea.


Setelahnya, Chelsea pergi bersama Vanesa keluar dari rumah itu. Tampak ketegangan di wajah Vanesa saat hendak melangkah ke depan.


Sementara Albert kembali merangkul Nadira, menenangkan istrinya itu seraya mengusap-usap dadanya.


"Sayang, ke kamar yuk!" ucap Albert lembut.


"Iya, sebaiknya kalian berdua lanjut bicara di kamar aja biar lebih tenang!" ucap Abigail.


"Betul tuh, yuk sayang kita ke kamar!" ucap Albert sambil tersenyum.


Nadira mengangguk pelan, Albert langsung membawa istrinya itu masuk ke kamar dengan senang hati.




Vanesa terus merasa cemas, ia mengetuk-ngetuk jarinya dan tidak berani menatap wajah Chelsea yang kini ada di sebelahnya.


"Heh! Lu kenapa gugup kayak gitu? Takut ya sama gue?" ujar Chelsea tersenyum smirk.


"What? Sorry ya, aku gak pernah takut sama siapapun itu termasuk kamu! Aku cuma gak mau aja bikin masalah lagi sama keluarga Albert, kan aku udah janji." kata Vanesa.


"Oalah, ya bagus deh kalo emang lu mau tepati janji lu! Semoga seterusnya lu bisa terus pegang kata-kata lu ini ya!" ucap Chelsea.


"Iyalah, aku kan gak mau terus-terusan hidup jadi orang jahat. Apalagi setelah tau Cakra meninggal karena dibunuh Keenan, asisten kakak kamu itu. Aku kan jadi ngeri, gimana kalau Albert suruh Keenan buat bunuh aku juga?" ucap Vanesa.


Ciiitttt...


Chelsea menginjak rem secara mendadak hingga membuat Vanesa nyaris terpentok.


"Ish, kamu kenapa ngerem mendadak sih?!" protes Vanesa merasa syok.


"So-sorry sorry! Tadi lu bilang apa? Cakra meninggal karena dibunuh Keenan? Lu jangan asal bicara deh! Mana mungkin Keenan berani bunuh orang?" ucap Chelsea.


"Apa sih yang gak mungkin di dunia ini? Keenan itu asisten kakak kamu, dia bakal lakuin apapun yang diperintahkan bosnya. Termasuk ya membunuh si Cakra, kamu kan tau sendiri kalau Cakra itu berambisi banget buat rebut Nadira dari Albert. Jadi, Albert suruh Keenan buat bunuh Cakra supaya dia bisa miliki Nadira seutuhnya." ujar Vanesa.


Chelsea terdiam sejenak memikirkan itu, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Vanesa dan menganggap itu hanya omong kosong.


"Lu jangan ngarang cerita deh! Darimana lu tahu kalau Cakra meninggal gara-gara Keenan? Gue yakin, ini cuma dugaan lu doang kan? Lu jangan bikin berita bohong deh!" ucap Chelsea.


"Aku gak ngarang, emang ini semua benar terjadi kok. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya sama kakak kamu nanti." kata Vanesa.


Entah mengapa Chelsea mulai percaya dengan ucapan Vanesa, walau sejujurnya ia masih tak yakin jika Keenan telah melakukan itu semua.


"Kamu kenapa diam aja Chelsea? Ayo jalan sebelum makin larut!" ujar Vanesa.


"Iya iya, sabar napa sih! Gue mau coba telpon Keenan dulu buat pastiin kata-kata lu barusan, kalo sampe lu bohong awas aja ya!" ucap Chelsea.


"Yah elah, nanti aja telponnya. Sekarang kamu anterin aku dulu ke apartemen, kamu gak bisa dong tunda-tunda kerjaan utama kamu!" ucap Vanesa.


"Lu kenapa sih? Mau ngapain emang lu buru-buru pulang ke apartemen lu?" tanya Chelsea.

__ADS_1


"Hadeh, ya udah jelas lah aku mau istirahat. Kamu kan tau aku lagi hamil, aku butuh istirahat biar gak kecapekan. Emang kamu mau disalahin nanti sama Albert kalau terjadi sesuatu sama anak aku?" jawab Vanesa.


"Ish, ribet banget sih lu! Yaudah iya, gue jalanin nih mobilnya. Tapi, awas aja kalo lu sebarin berita bohong itu lagi!" ancam Chelsea.


"Kamu bicara apa sih? Siapa yang sebarin berita bohong? Apa yang aku bilang tadi semuanya benar, memang faktanya begitu." kata Vanesa.


"Ya ya ya, terserah apa kata lu aja!" ujar Chelsea memutar bola mata seraya melajukan mobilnya.




Albert dan Nadira telah berada di kamar, mereka berdua masih saling berpegangan tangan dan bertatapan sambil tersenyum.


Albert pun mengunci pintu, membawa Nadira ke dekat dinding dan mengungkung wanita itu disana sembari menaruh dua tangan Nadira di atas kepalanya.


"Sayang, kamu cantik banget sih! Padahal ini udah malam, tapi aura kamu gak memudar." ucap Albert sembari mengelus wajah Nadira.


"Mas, lepasin tangan aku!" pinta Nadira.


"Sssttt diem dulu! Biarin saya nikmati kecantikan wajah kamu ini, saya paling suka loh lihat wajah kamu yang cantik ini." kata Albert.


"Kamu jangan godain aku begitu deh buat nutupin kesalahan kamu!" ucap Nadira cemberut.


"Gak ada yang mau tutupi kesalahan saya, toh saya juga gak merasa punya salah. Saya kan bawa Vanesa kesini, karena dia mau minta maaf sama kamu. Apa saya salah?" ucap Albert.


"Ya iyalah, kamu salah karena kamu udah bohong sama aku. Kamu kan tadi pamitnya mau urus pekerjaan, tapi kenapa kamu malah pulang bawa Vanesa?" ucap Nadira ketus.


Cupp!


Albert berhasil mencuri satu kecupan di bibir Nadira, ia tersenyum singkat sembari mengusap bibir ranum istrinya itu.


"Masih tetap manis seperti biasa, saya suka itu. Kamu jangan marah-marah lagi ya cantik, lebih baik kita nikmati malam ini berdua!" ucap Albert dengan sensual.


Albert terus beraksi untuk menggoda istrinya, ia menjilat telinga Nadira seraya meniup-niup leher wanita itu hingga membuatnya kegelian.


"Ahh mass.." Nadira spontan mendesahh pelan saat diperlakukan seperti itu.


"Ya, itu yang saya suka sayang. Kamu nikmati ya permainan saya kali ini, karena kamu pasti akan merasakan beribu-ribu kali lipat kenikmatan yang luar biasa!" ucap Albert tersenyum smirk.


"Mas, aku gak bisa. Kamu jangan paksa aku dong!" ucap Nadira menolak ajakan Albert.


"Kamu gak bisa tolak keinginan saya, kamu harus layani saya setiap kali saya mau!" ucap Albert.


"Ta-tapi mas.."


TOK TOK TOK...


Baru saja Albert hendak menerkam istrinya, namun suara ketukan pintu membuyarkan rencananya dan membuat Albert menggeram kesal.


"Aaarrgghh!! Siapa sih itu? Ganggu aja, gak tahu apa orang lagi mau enak-enak?!" geram Albert.


"Mas, udah kamu bukain sana! Kamu lepasin tangan aku, terus ke depan dan temui orang yang datang itu!" perintah Nadira.


"Haish.."


Albert tak memiliki pilihan lain, akhirnya ia melepas tangan Nadira.


"Kamu diam disini, jangan kemana-mana!" ucap Albert dengan tegas pada Nadira.


"Iya mas iya..." ucap Nadira pasrah.


Setelahnya, Albert pun melangkah menuju pintu untuk menemui seseorang yang datang kesana.


Ceklek...


Pintu terbuka, pria itu cukup kaget melihat Chelsea sudah berada di depan kamarnya.


Chelsea langsung tersenyum renyah dan menarik tangan Albert keluar dari kamar itu.


"Ayo kak, sini sini!" ucap Chelsea.


"Eh eh eh, kamu apa-apaan sih? Kamu mau bawa kakak kemana Chelsea?" tanya Albert keheranan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2