
"OWEEE OOWEEE..." (anggap suara bayi)
Suara tangisan bayi terdengar di ruang persalinan tempat Vanesa berada.
Vanesa pun bernafas lega karena telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat dan dapat mendengar suara tangisan bayinya itu.
"Selamat ya Bu! Bayi ibu laki-laki dan lahir dengan sehat," ucap perawat yang menggendong bayi milik Vanesa dan menunjukkannya pada Vanesa.
Sontak Vanesa tersenyum puas melihat putranya lahir dengan selamat ke dunia ini, ia bangga karena bayi yang ia lahirkan ternyata sangat tampan seperti ayahnya.
"Wah kamu tampan sekali nak!" ucap Vanesa.
"Sus, saya boleh gendong anak saya gak?" tanya Vanesa pada perawat itu.
"Oh boleh kok Bu, tapi nanti ya setelah bayi ibu dibersihkan. Sekarang ibu istirahat aja dulu dan pulihkan kondisi ibu! Kan tadi ibu habis berjuang mati-matian untuk melahirkan anak ibu ini, pasti ibu capek!" jawab si perawat.
"Gitu ya, yaudah deh gapapa. Tapi, nanti saya boleh kan gendong anak saya dan lihat wajahnya yang tampan itu lagi?" tanya Vanesa.
"Tentu saja boleh Bu, malah ibu juga bisa menyusui dia nanti." jawab perawat itu.
Vanesa pun kembali tersenyum lebar, namun seketika ia teringat pada Albert yang masih ada di luar menunggunya.
"Eee sus, suami saya mana ya? Proses lahirannya kan udah selesai, apa saya masih belum bisa ketemu suami saya?" tanya Vanesa.
"Sebentar ya Bu! Kami akan panggilkan suami ibu, tapi ibu tetap disini dulu ya!" ucap perawat itu.
"Iya, terimakasih ya sus!" ucap Vanesa.
"Sama-sama Bu, kalo gitu kami permisi dulu ya!" ucap perawat itu.
Vanesa mengangguk pelan, ia terus memandangi suster yang menggendong putranya sambil tersenyum dan sudah tidak sabar menantikan momen saat ia menggendong putranya itu bersama Albert di sampingnya.
Salah seorang perawat pun berjalan keluar ruangan untuk menemui Albert yang ia kira suami dari Vanesa dan memberitahu padanya mengenai kondisi Vanesa serta bayinya.
Namun, ia terkejut lantaran di depan sana tidak ada siapapun termasuk Albert.
"Loh, ini suaminya kemana ya? Kok gak ada? Perasaan tadi saya minta tetap disini, kenapa malah gak ada?" gumamnya heran.
Akhirnya perawat itu kembali ke dalam menemui Vanesa yang sedang beristirahat untuk mengatakan semuanya.
Saat suster itu tiba, Vanesa tampak tengah tertidur pulas akibat kelelahan setelah melahirkan putranya yang cukup berat untuknya.
"Yah Bu Vanesa lagi tidur, saya biarin aja deh." ucap suster itu.
β’
β’
Disisi lain, Suhendra dan Sulastri baru tiba di rumah sakit untuk menjenguk putri mereka yang baru saja melahirkan bayi pertamanya.
Mereka tampak sangat panik mengkhawatirkan kondisi Nadira dan juga cucu mereka sambil terus berjalan mendekati Abigail serta yang lainnya.
"Permisi Bu, nak Albert, nak Chelsea!" ucap Suhendra.
"Eh pak Hendra, Bu Lastri?" ucap Abigail.
"Pak, Bu!" ucap Albert seraya mencium tangan mertuanya itu.
"Eee gimana proses lahirannya, lancar kan Bu?" tanya Suhendra cemas.
"Iya Bu, kita daritadi khawatir sama Nadira dan calon bayinya." sahut Sulastri.
"Untuk sekarang ini belum ada kabar dari dokter, tapi kita doakan saja ya pak, Bu supaya semua prosesnya lancar!" jawab Abigail.
"Iya, aamiin!" ucap Suhendra.
"Eee pak, silahkan duduk pak, Bu!" ucap Albert.
"Ah tidak usah Albert, biar kami berdiri saja. Kami ingin tahu bagaimana kondisi Nadira dan bayi yang dia lahirkan itu, kami tidak bisa tenang sebelum ada kabar dari dokter." ucap Suhendra.
"Ohh, yasudah gapapa pak. Semoga aja Nadira sama bayinya baik-baik aja!" ucap Albert.
"Aamiin aamiin!" ucap Hendra dan Lastri.
Mereka pun sama-sama berdoa untuk keselamatan Nadira dan juga anaknya.
Namun, entah mengapa Albert masih merasa cemas dengan kondisi istrinya itu.
"Kok belum ada kabar juga ya? Daritadi juga saya gak dengar suara tangisan anak saya, ada apa ini ya Tuhan?" batin Albert.
Drrttt..
Drrttt...
Tiba-tiba ponsel milik Albert berbunyi, ia pun langsung mengecek ponselnya untuk mencari tahu siapa yang menelponnya.
"Mah, pak, Bu, saya mau angkat telpon dulu ya?" ucap Albert.
"Iya Albert,"
Albert pun melangkah menjauh dari mereka agar tidak mengganggu orangtuanya disana.
"Ada apa ya Keenan telpon saya?" batinnya.
π"Halo Keenan! Kenapa kamu telpon saya? Kalau kamu mau kasih kabar soal Nadira, saya sudah tahu. Ini saya juga sudah tiba di rumah sakit tempat Nadira lahiran," ucap Albert.
π"Eee halo tuan! Memang tadinya saya mau kasih kabar soal itu, tapi karena tuan sudah tahu jadinya sekarang saya mau kasih kabar yang lainnya tuan." ucap Keenan terdengar panik.
π"Loh, kabar apa lagi memangnya? Katakan saja!" tanya Albert penasaran.
__ADS_1
π"Begini tuan, sa-saya..." ucap Keenan tertahan karena ia masih belum siap mengatakannya.
π"Kenapa? Kamu kenapa? Ayo cepat katakan, saya gak bisa lama-lama telponan sama kamu karena saya lagi sibuk!" ujar Albert.
π"I-i-iya tuan, jadi saya sekarang lagi di kantor polisi dan saya diminta buat beri keterangan terkait kecelakaan Cakra waktu itu." jelas Keenan.
π"Apa??!!" Albert terkejut bukan main.
Suara berat Albert itu terdengar sampai di telinga Chelsea dan Abigail, mereka pun penasaran mengapa Albert sampai begitu.
"Itu Albert kenapa ya?" ujar Abigail.
"Gak tahu mah, aku bingung." kata Chelsea.
β’
β’
Dokter Fadila menghampiri dua orang perawat di ruang inkubator setelah selesai memeriksa kondisi Nadira.
Ia nampak khawatir dengan kondisi bayi yang baru dilahirkan oleh Nadira itu, karena hingga kini bayi tersebut tak kunjung bersuara.
"Suster, ada apa ini?" tanya dokter Fadila pada dua perawat yang berwajah panik itu.
"Eh dok, ini gawat dok!" jawab suster itu.
"Apanya yang gawat? Bayi Bu Nadira belum bisa bersuara?" tanya dokter Fadila.
"Selain itu, barusan kami juga periksa bahwa detak jantung bayi ini sangat lemah dok. Kami khawatir dia tidak bisa diselamatkan," jawab suster itu.
"Apa? Kalo gitu cepat ambilkan peralatan saya di depan! Saya harus segera periksa bayi Bu Nadira!" ucap dokter Fadila.
"Baik dok!" ucap suster itu.
Salah seorang perawat itu pun pergi mengambilkan peralatan milik dokter Fadila di depan sana.
Sementara dokter Fadila tetap disana memeriksa kondisi bayi yang baru dilahirkan Nadira, ia sangat cemas dan panik.
"Ya Tuhan, kasihan sekali kamu nak! Kamu harus kuat ya, kamu pasti bisa!" ucap dokter Fadila.
"Eee dok, apa kita harus kasih tahu perihal ini ke keluarga pasien?" tanya perawat yang masih ada disana.
"Tentu saja sus, seberat apapun kondisinya kita harus beritahu mereka!" jawab dokter Fadila.
"Baik dok! Kalau begitu saya akan keluar menemui keluarga pasien," ucap perawat itu.
"Ya, berhati-hatilah dalam menyampaikan semua ini! Jangan sampai mereka syok begitu mendengarnya!" ucap dokter Fadila.
"Baik dok!"
Setelah perawat itu pergi, perawat yang lainnya pun kembali membawakan peralatan milik dokter Fadila.
"Iya, terimakasih sus! Tolong bantu saya ya! Kita harus segera lakukan penanganan!" ucap Fadila.
"Siap dok!" ucap perawat itu.
β’
β’
Celine menghampiri abangnya yang baru selesai menghubungi Albert di kantor polisi.
Celine tampak khawatir pada abangnya, ia takut jika nantinya Keenan akan ditahan disana.
"Bang," ucap Celine pelan.
"Eh Cel, kenapa?" tanya Keenan.
"Abang bakalan ditahan disini gak sama polisi itu? Soalnya daritadi kayaknya abang gelisah gitu, aku kan jadi takut bang!" ucap Celine.
"Eee kamu gausah khawatir ya cantik! Aku gak bakal ditahan disini kok, semuanya pasti akan baik-baik aja!" ucap Keenan sembari mengusap rambut adiknya.
"Tapi bang, kapan kita bisa pergi dari sini? Aku penasaran tau sama kondisi Nadira, kira-kira dia udah lahiran apa belum ya?" ujar Celine.
"Sama sayang, aku juga penasaran. Tapi, aku harus ikuti semua prosedurnya sampai selesai baru deh kita bisa pergi." kata Keenan.
"Masih lama gak bang?" tanya Celine.
"Gak tahu sayang, kamu tunggu aja ya!" jawab Keenan memegang pundak adiknya.
"Huft, iya deh." ucap Celine menurut.
"Saudara Keenan!"
Mereka terkejut saat ada suara berat memanggil nama Keenan, mereka pun sama-sama menoleh ke asal suara dan terlihat lah seorang polisi disana.
"Iya pak, ada apa?" tanya Keenan bingung.
"Anda sudah ditunggu di dalam, mari ikuti saya!" jelas polisi.
"Eee iya pak, saya siap!" ucap Keenan.
Keenan menatap Celine sambil tersenyum sebelum ia pergi mengikuti polisi itu.
"Cel, aku pergi dulu ya?" ucap Keenan.
"Jangan lama-lama ya bang!" pinta Celine.
"Tenang aja, gak lama kok!" ucap Keenan.
__ADS_1
Keenan menarik tangan Celine dan mendekap tubuh adiknya itu sejenak sembari mengusap punggungnya.
"I love you Celine..." ucap Keenan.
"Love you too," balas Celine singkat.
Setelahnya, Keenan pun melepaskan pelukannya dan mengacak-acak rambut Celine sebelum ia memutuskan pergi bersama polisi tadi.
"Tunggu disini ya, jangan kemana-mana!" ucap Keenan mengingatkan adiknya.
"Iya bang, santai aja!" ucap Celine tersenyum.
Keenan pun pergi dengan polisi itu, sedangkan Celine kembali duduk disana dan terus memikirkan abangnya dengan raut cemas.
"Sebenarnya bang Ken punya masalah apa sih? Kok dia bisa dipanggil sama polisi kayak gini? Apa bang Ken itu penjahat?" batin Celine.
Sementara Keenan telah tiba di dalam ruang penyelidikan, ia melihat seseorang dengan seragam polisi tengah terduduk disana membelakanginya.
"Silahkan pak, duduk disana! Anda sudah ditunggu oleh jenderal Yohanes," ucap polisi itu.
Deg!
Keenan dibuat terkejut begitu si polisi menyebut nama Yohanes, ya nama itu sama dengan nama ayah dari Cakra.
"Apa jangan-jangan..."
Lalu, seseorang yang tengah duduk itu pun beranjak dari kursinya dan menghadap ke arah Keenan.
Ia menatap Keenan dengan tajam, membuat Keenan syok berat saat mengetahui bahwa orang itu memang lah ayah dari Cakra.
"Akhirnya kita bertemu lagi disini, Keenan." ucap Yohanes.
β’
β’
Ceklek...
Albert, Chelsea, Abigail serta dua orang tua Nadira langsung bergerak ke depan pintu dengan cepat saat mendengar pintu tersebut dibuka dari dalam.
Mereka tampaknya sudah tidak sabar ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Nadira dan juga anak yang dilahirkan olehnya.
"Eee suster, gimana kondisi menantu saya? Dia baik-baik aja kan? Proses lahirannya lancar kan dok?" tanya Abigail dengan cemas.
"Iya sus, gimana keadaan anak dan cucu kami?" sahut Sulastri.
"Sus, istri saya sama anak saya baik-baik aja kan?" ucap Albert tidak mau kalah.
"Iya pak, Bu, harap tenang ya! Saya akan sampaikan semua yang terjadi, termasuk kondisi ibu Nadira dan juga putrinya yang baru saja dilahirkan." ucap perawat itu.
"Yaudah sus, cepat katakan semuanya!" pinta Albert yang sudah sangat panik.
"Jadi begini pak, Bu. Ibu Nadira sudah melahirkan putrinya dengan selamat dan lancar, tetapiβ"
"Alhamdulillah!" potong Abigail dan juga Sulastri yang merasa senang mendengar kabar itu.
"Mah, jangan dipotong dulu! Itu susternya belum selesai ngomong tau, ayo sus lanjutin ucapannya!" ucap Albert.
"Eee iya pak, tetapi bayi yang dilahirkan Bu Nadira masih dalam perawatan dokter karena dia tidak bisa menangis dan kondisi jantungnya juga sangat lemah." sambung suster itu.
"Apa??" mereka semua kompak terkejut.
"Sus, suster gak bohong kan? jangan bercanda deh sus!" ujar Albert.
"Iya pak, saya tidak bohong karena itu semua memang terjadi. Tapi, bapak dan ibu semua tidak perlu risau karena kami akan melakukan penanganan sebaik mungkin terhadap putri dari ibu Nadira itu." jawab suster itu.
"Itu memang harus dilakukan sus, saya mau anak saya selamat dan baik-baik saja! Kalau sampai dia kenapa-napa, saya akan tuntut rumah sakit ini!" geram Albert.
"Bert, kamu sabar dulu ya jangan emosi!" ucap Abigail menenangkan putranya.
"Tapi mah, anak aku gak bisa nangis. Pantas aja daritadi aku gak dengar suara tangisan dia, ternyata malah kayak gini!" ucap Albert.
"Iya, mama ngerti. Tapi, kamu gak boleh emosi kayak gitu! Ini semua bukan kesalahan pihak rumah sakit, kamu sabar aja ya mereka pasti akan berusaha yang terbaik kok!" ucap Abigail.
"Iya Albert, betul kata mama kamu. Kamu sabar dulu jangan gegabah begini!" sahut Suhendra.
Albert mengangguk saja, kemudian mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.
"Oh ya sus, lalu bagaimana dengan keadaan anak saya Nadira?" tanya Sulastri yang sudah mulai meneteskan air mata.
"Eee Bu Nadira saat ini masih pingsan, kondisinya juga sangat lemah setelah melahirkan putrinya itu." jawab suster itu.
"Ya Tuhan! Tolong selamatkan lah putri dan cucu kami!" ucap Sulastri.
"Nadira, saya yakin kamu pasti bisa selamat! Ayo sayang, kamu terus berjuang dan jangan menyerah! Saya ada disini untuk kamu, semangat ya sayang!" batin Albert.
Suster itu pun merasa tidak tega melihat reaksi dari para keluarga pasien setelah mengetahui kabar tersebut.
"Eee maaf pak, Bu! Saya harus permisi sebentar, jika nanti ada kabar lainnya mengenai bu Nadira dan putrinya pasti akan kami sampaikan dengan segera!" ucap suster itu.
"Ah iya sus, silahkan!" ucap Suhendra.
Suster itu pun pergi kembali ke dalam untuk membantu dokter Fadila memeriksa kondisi bayi milik Nadira.
Sementara Albert dan yang lainnya masih saling berpelukan disana, mereka menangis menumpahkan kesedihan masing-masing.
"Ya Tuhan! Kenapa semua ini harus terjadi pada keluargaku? Seharusnya ini hari bahagia aku dan Nadira, tapi mengapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Albert di dalam pelukan mamanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...