
"Non Chelsea, tunggu!" teriak orang itu.
Sontak Chelsea dan Cakra kompak berhenti disana, mereka menoleh secara bersamaan ke arah belakang.
"Pak Liam?" Chelsea menganga tipis saat melihat bodyguard di rumahnya itu.
"Ngapain sih dia pake muncul segala? Ganggu aja!" geram Cakra.
Liam terlihat mendekat ke arah Chelsea serta Cakra, menatap mereka secara bergantian dengan wajah keheranan.
Sementara Chelsea sendiri tampak bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Liam, pasalnya ia juga belum tahu siapa lelaki di sampingnya itu.
"Non, non Chelsea mau kemana? Dia siapa non?" tanya Liam penasaran.
"Eee aku juga gak tahu dia siapa, pak. Tapi, tadi dia bilang katanya mau bicara sama aku." jawab Chelsea.
"Waduh non, sebaiknya non hati-hati dan jangan mau bicara sama orang yang gak dikenal! Itu bahaya loh non, nanti non bisa-bisa diculik sama dia atau malah disakitin!" ucap Liam.
"Kenapa bapak mikir gitu?" tanya Chelsea.
"Saya emang gak tahu niat dia yang sebenarnya apa non, tapi sebagai bodyguard disini jelas aja saya harus waspada dan jagain non dari orang-orang yang mencurigakan seperti dia. Ayo non, kita masuk lagi ke dalam!" jawab Liam.
"Tapi pak, dia gak kelihatan mau culik aku kok. Udah lah pak, tenang aja!" ucap Chelsea.
"Gak bisa non, saya harus pastikan non baik-baik saja dan tidak terluka! Sebaiknya non menurut saja dengan saya, ini demi kebaikan diri non sendiri!" ucap Liam.
Cakra yang sedari tadi diam, kini mulai mendekat ke arah Liam untuk meyakinkan pria itu bahwa ia bukanlah orang jahat.
"Pak, anda ini salah kira. Saya bukan penculik atau orang jahat kok, saya hanya ingin bicara dengan Chelsea disana. Kalau anda gak mau pergi juga, saya terpaksa bawa Chelsea secara paksa!" ucap Cakra mulai tampak emosi.
"Oh anda kira saya bisa percaya begitu saja dengan anda? Kalau anda ingin bicara dengan non Chelsea, mengapa tidak disini saja atau di dalam rumah? Lalu, tadi anda bilang akan membawa non Chelsea secara paksa? Itu sama saja pemaksaan, dan saya tidak akan membiarkan anda melakukan itu terhadap non Chelsea!" tegas Liam.
"Pak, udah lah jangan pada ribut disini! Malu tau dilihatin sama orang!" pinta Chelsea.
"Saya gak akan ribut non, kalau pria ini mau menunjukkan identitasnya di depan saya." kata Liam.
"Oh iya, kamu emang sebenarnya siapa sih? Ayo dong buka masker kamu itu, supaya kita bisa tau siapa kamu!" ucap Chelsea pada Cakra.
Cakra terlihat bingung dan berusaha terus menghindar bertatapan langsung dengan Chelsea.
"Aduh! Kalau gue buka masker sekarang, bisa-bisa gue bakal diusir sama nih penjaga. Secara mereka kan udah kenal siapa gue, nanti gue gak bisa bujuk si Chelsea deh." batin Cakra.
Akhirnya tanpa menjawab perkataan dari Chelsea dan Liam, Cakra langsung berbalik kemudian melarikan diri begitu saja.
"Hey, mau kemana kamu?!" teriak Chelsea.
Cakra menghiraukan itu, ia hanya menoleh sekilas sebelum masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
"Aneh banget! Siapa sih dia?" ujar Chelsea.
"Benar kan non, dia bukan orang baik. Buktinya dia malah kabur disaat kita minta dia buat tunjukin identitas aslinya, untung tadi non gak jadi ikut sama dia." kata Liam.
"Iya pak, makasih ya tadi bapak udah muncul dan tahan saya!" ucap Chelsea tersenyum.
"Sama-sama non, udah tugas saya untuk menjaga non selaku adik dari tuan Albert." kata Liam.
Chelsea terus tersenyum sembari memandang wajah Liam yang cukup tampan untuk ukuran seorang pengawal.
Namun, Chelsea juga masih bingung dengan siapa pria yang tadi menemuinya itu. Terlebih ia juga belum tahu apa maksud pria tadi datang kesana.
"Cowok tadi siapa sih? Gue kok malah jadi penasaran gini ya sama dia?" batin Chelsea.
•
•
Dor!
Satu tembakan dilesakkan tepat mengenai punggung Harrison, dan pria tua itu spontan terjatuh ke aspal dengan posisi tengkurap.
"Papa!" Vanesa berteriak keras dari balik mobil, ia hendak turun menghampiri papanya namun ditahan oleh Keenan.
"Jangan keluar Vanesa! Sekarang anda sudah tahu kan siapa tuan Albert? Beliau bisa saja melakukan hal yang sama dengan anda, jika anda tidak mau menuruti perkataannya!" ucap Keenan.
Vanesa tampak bingung harus melakukan apa saat ini, sebenarnya ia ingin sekali turun dan menolong papanya itu, namun perkataan Keenan membuat Vanesa mengurungkan niatnya karena takut.
"Bagus! Anda disini saja dan jangan kemana-mana! Anda tidak mau kan bernasib sama dengan ayah anda itu?" ucap Keenan tersenyum smirk.
"Kenapa sejahat ini Albert? Aku gak nyangka kalau kamu begitu kejam!" batin Vanesa.
Tampak bukan hanya Vanesa yang terkejut, Darius pun merasakan hal yang sama ketika melihat keponakannya itu melayangkan tembakan ke arah Harrison hingga pria tua itu tak berdaya.
__ADS_1
Darius langsung menghampiri Albert dan terus menatapnya dengan raut bingung, tentunya ia juga merasa takut jika sewaktu-waktu Albert melakukan hal yang sama pada dirinya.
"Albert, paman tidak menyangka kamu bisa berbuat sekejam ini." kata Darius.
"Kenapa paman? Dia memang pantas mendapat itu, bahkan ini belum seberapa." ucap Albert.
"Kalau begini, bagaimana kamu bisa menghukum Harrison? Dia kan sudah tidak berdaya saat ini, mungkin saja dia juga tewas." ucap Darius.
"Kata siapa paman? Saya hanya memberi obat bius pada pak Harrison, dia tidak mungkin tewas. Saya juga tidak mau Harrison tewas secepat ini, paman. Dia masih harus mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan selama ini!" ucap Albert.
"Baguslah, paman kira kau tadi menembak mati Harrison. Syukurlah kau masih memiliki perasaan terhadap Harrison dan tidak membunuh dia saat ini juga!" ucap Darius tersenyum lega.
"Sudahlah paman, lebih baik sekarang paman bawa tubuh Harrison pergi dari sini!" titah Albert.
"Ya Albert, lalu bagaimana dengan Vanesa? Dimana dia sekarang?" tanya Darius.
"Vanesa aman bersamaku, paman. Kau tidak perlu mencemaskan dia, karena dia biar aku saja yang mengurusnya!" jawab Albert.
"Baiklah!" ucap Darius menurut.
"Yasudah paman, urus si Harrison ini dengan benar! Jangan sampai dia dapat melarikan diri!" pinta Albert pada pamannya.
"Tentu saja, paman akan jaga Harrison untukmu Albert!" ucap Darius.
"Kalau begitu saya permisi paman! Terus kabari saya bila terjadi sesuatu pada Harrison!" ucap Albert.
"Iya Albert, kau pergilah dan tenangkan diri lebih dulu bersama Nadira!" usul Darius.
Albert mengangguk pelan, kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Darius memerintahkan anak buahnya membawa tubuh Harrison yang tengah tergeletak di jalanan itu.
Saat di dalam mobil, Albert langsung dihadapkan pada pertanyaan Vanesa yang mencemaskan kondisi papanya.
"Albert, kenapa kamu melakukan itu ke papaku?!" ucap Vanesa bertanya dengan panik.
"Diamlah kau Vanesa! Saya tahu yang harus saya lakukan dan kau tidak berhak bertanya padaku! Ayo Keenan, kita lanjut pergi dari sini!" ucap Albert ketus.
"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.
Keenan menancap gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai perintah Albert, lalu pergi dari tempat itu.
"Albert, sebenarnya apa yang mau kamu lakuin ke aku sekarang? Kamu mau bawa aku kemana, ha?" tanya Vanesa cemas.
•
•
Singkat cerita, Albert dan Vanesa telah sampai pada tujuan mereka.
Mereka pun turun dari mobil, Vanesa cukup heran dan tak mengerti mengapa Albert membawanya ke rumahnya.
Sementara Keenan pamit pada tuannya untuk menjemput Celine di sekolah.
"Tuan, kalau begitu saya mohon izin pamit ya! Saya harus jemput Celine pulang!" ucap Keenan.
"Baiklah, terimakasih atas bantuannya!" ucap Albert.
"Sama-sama tuan, saya permisi!" ucap Keenan.
"Silahkan!" ucap Albert memberi jalan.
Setelah Keenan pergi, Albert mulai melangkah lebih dekat menuju rumahnya. Sedangkan Vanesa masih terdiam di tempatnya karena bingung.
"Ada apa Vanesa? Kenapa kamu diam saja?" tanya Albert heran.
"Aku bingung, buat apa kamu bawa aku ke rumah kamu? Apa kamu mau bikin aku malu di hadapan keluarga kamu? Atau malah kamu emang sengaja pengen mempermalukan aku?" ucap Vanesa.
"Kamu tidak perlu overthinking begitu! Saya hanya ingin mengajak kamu kesini, tidak ada maksud buruk kok." kata Albert.
"Oh ya? Kamu pikir aku percaya gitu aja sama kata-kata kamu? Enggak dong, aku gak mau masuk ke dalam sebelum kamu jelasin apa maksud kamu ajak aku kesini?!" ucap Vanesa tegas.
"Baiklah, saya ajak kamu karena saya mau kenalin kamu ke Nadira dan mama saya. Gimana? Puas kan?" jawab Albert.
"Untuk apa kamu mau kenalin aku ke Nadira dan mama kamu?" tanya Vanesa.
"Karena mulai hari ini, kamu bakal tinggal disini. Jadi, udah yuk kita masuk buruan dan jangan terlalu lama disini!" ucap Albert.
"Tinggal disini?" ucap Vanesa terkejut.
"Iya, kenapa? Kamu gak mau? Saya masih baik loh sama kamu, saya mau ajak kamu buat tinggal di rumah ini bersama istri dan keluarga saya lainnya. Daripada kamu harus ikut dengan papa kamu, ya kan?" ucap Albert tersenyum tipis.
__ADS_1
"Lebih baik aku ikut sama papa, aku gak mau ada disini sama kamu!" ucap Vanesa menolak.
"Kenapa begitu? Bukannya kamu pengen anak kamu itu lahir dengan ayah? Ini kesempatan loh buat kamu Vanesa, apa kamu mau menyia-nyiakan kesempatan ini?" tanya Albert dingin.
Vanesa terdiam bingung, jujur ia tak tahu harus bagaimana saat ini. Pasalnya, ia khawatir jika tetap tinggal disana maka akan terjadi keributan.
"Kalau aku tinggal disini, gimana semisal Nadira atau mama kamu gak setuju? Belum lagi adik kamu yang cerewet itu, yang ada nanti ada keributan disini." ucap Vanesa.
"Yang kamu duga itu emang masuk akal sih, tapi kamu gausah cemas! Saya akan jelaskan semua ke mereka nantinya, kamu cukup setuju saja dengan perkataan saya!" ucap Albert.
"Oke, aku setuju!" ucap Vanesa singkat.
"Yasudah, tidak usah berlama-lama lagi! Ayo kita langsung masuk saja ke dalam! Saya sudah tidak sabar ingin temui kamu dengan keluarga saya di dalam sana!" pinta Albert.
Vanesa mengangguk pelan, kemudian melangkah bersama Albert menuju ke dalam rumah itu.
Glekk...
Vanesa bersusah payah menelan saliva nya begitu memasuki rumah Albert, ia sangat cemas jika Nadira tidak mau menerimanya disana.
"Gimana ya reaksi Nadira nanti begitu tahu Albert suaminya itu bawa wanita lain buat tinggal disini? Pasti dia syok banget, malah mungkin dia bakal kecewa sama Albert." batin Vanesa.
•
•
Saat tiba di dalam, Albert langsung disambut oleh Nadira yang nampaknya sudah sangat rindu padanya.
Namun, senyuman manis di bibir Nadira perlahan hilang ketika ia melihat sosok Vanesa di samping suaminya saat ini.
"Mas, kamu kok—mmpphh.." Albert dengan cepat memotong ucapan istrinya dan melumatt bibir sang istri sembari menekan tengkuk wanita itu di hadapan Vanesa.
Sontak Vanesa terbelalak lebar menyaksikan peristiwa itu, sungguh sangat menyebalkan pikirnya.
"Hah! Hah! Hah!" Nadira mengambil nafas saat Albert melepas pagutannya.
"Mas, kamu jangan alihin topik dulu deh! Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu pulang sambil bawa wanita ini?! Apa kamu sekarang mau dia tinggal disini dan gantiin aku, iya?" tegas Nadira.
"Sssttt sssttt tenang dulu sayang! Jangan marah-marah ya!" ucap Albert menenangkan Nadira dan mendekap tubuh istrinya itu.
"Ish, lepasin mas!" Nadira berontak dari dekapan Albert dan menatap wajah suaminya itu dengan raut kesal.
"Kamu itu benar-benar ngeselin ya! Aku tungguin kamu daritadi loh, eh kamu malah pulang bareng wanita pelakor ini!" umpat Nadira kesal.
"Sabar sayang, aku bisa jelasin kok ke kamu! Kita bicara sambil duduk ya sayang? Supaya kamu gak emosi kayak gini, kamu itu lagi hamil loh." pinta Albert.
"Gimana aku gak emosi, mas? Kamu sendiri yang cari gara-gara sama aku!" ucap Nadira.
"Iya, tapi kamu tenang dulu!" ucap Albert.
Nadira melirik sinis ke arah Vanesa, namun Vanesa justru membalasnya dengan lambaian tangan disertai senyuman renyah.
"Hai Nadira! Apa kabar?" ucap Vanesa.
"Gausah sok asik deh!" ucap Nadira ketus.
"Sayang, yuk kita duduk disana!" pinta Albert sembari memegang pundak Nadira.
"Jangan pegang-pegang aku!" bentak Nadira.
Nadira yang emosi langsung melangkah lebih dulu menuju sofa meninggalkan suaminya serta Vanesa yang masih terdiam disana.
"Ayo Vanesa, saya harap kamu tidak memancing emosi Nadira dan memanfaatkan situasi disini! Kalau itu sampai terjadi, saya gagalkan rencana saya kali ini!" ucap Albert pada Vanesa.
"Kamu tenang aja Albert! Aku bakal diam aja kok dan gak banyak bicara," ucap Vanesa.
"Good girl!" ucap Albert tersenyum tipis.
Lalu, mereka kembali melangkah menyusul Nadira yang sudah terduduk di sofa dengan wajah cemberut dan kedua tangan terlipat di depan.
Albert yang melihat itu tampak menggelengkan kepala, Nadira sungguh menggemaskan saat tengah merajuk seperti saat ini.
Albert pun duduk di samping Nadira, sedangkan ia meminta Vanesa duduk agak berjauhan agar Nadira tidak emosi.
"Cepet ngomong!" ujar Nadira.
"Iya sayang, ini saya mau bicara kok. Kamu udah dong jangan cemberut terus!" ucap Albert mencolek dagu istrinya.
"Aku bilang jangan sentuh, kenapa masih nyentuh sih?!" tegur Nadira.
Albert malah tersenyum dan merangkul serta mendekap erat Nadira dengan satu tangannya, terlihat Nadira hendak berontak dan memukul-mukul bahu Albert tetapi tidak berhasil.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...