Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Berbalik tertekan


__ADS_3

Dor!


"Aaaakkkhh!!" Albert berteriak ketika Harrison menembak bagian pahanya, seketika itu juga ia lemas dan mulai kehilangan keseimbangan.


"Cukup pah! Kita jangan bunuh Albert sekarang! Aku masih harus cari tahu dimana anak aku!" pinta Vanesa pada papanya.


"Baiklah, papa turuti kemauan kamu. Tapi, cepatlah kamu paksa dia bicara!" ucap Harrison.


"Iya pah," Vanesa mengangguk dan kembali menatap Albert yang sudah ada di hadapannya.


Vanesa langsung mencengkeram rahang Albert yang kini tengah berlutut akibat rasa sakit di tubuhnya.


"Dengar ya Albert, kamu serahkan Galen sekarang sama aku atau hidup kamu akan berakhir saat ini juga!" ancam Vanesa.


"Gak akan! Sampai kapanpun, saya tidak akan serahkan Galen sama kamu Vanesa!" ucap Albert.


Plaaakk...


Vanesa menampar wajah Albert dengan keras dan penuh emosi.


"Sekali lagi aku peringati kamu Albert, serahkan Galen sama aku atau aku akan habisi kamu saat ini juga!" bentak Vanesa.


"Mau sekeras apapun kamu paksa saya, saya akan tetap pada keputusan saya! Saya tidak mau menyerahkan Galen kepada kalian berdua!" ucap Albert.


"Kurang ajar! Kamu memang minta dihabisi ya Albert!" geram Vanesa.


Bughh...


Vanesa memukul wajah Albert menggunakan gagang pistol miliknya hingga Albert mengeluarkan darah.


Wanita itu kini menarik kepala Albert dan menjambak rambutnya, menodongkan pistol ke arah dahi pria itu.


"Dengar ya, kamu mau mati atau serahkan anakku sekarang?!" ucap Vanesa.


Tangan Albert bergerak memegang lengan Vanesa yang ada di depannya itu dan mencengkramnya, berusaha menahan Vanesa untuk tidak menembak dahinya.


"Kalaupun kamu bunuh saya sekarang, kamu gak akan bisa dapetin Galen!" ucap Albert.


"Sial! Dimana kamu sembunyiin anak aku, Albert? Dimana??!" teriak Vanesa emosi.


"Hahaha, jangan marah-marah begitu Vanesa! Kamu masih bisa bertemu dengan Galen anak kamu, tapi ada syaratnya.." ucap Albert.


"Apa?" tanya Vanesa.


"Bunuh ayah kamu sekarang juga!" jawab Albert sambil tersenyum smirk.


"Apa? Kamu jangan gila ya Albert! Gak mungkin aku ngelakuin itu, mana mungkin aku bisa bunuh ayah aku sendiri?!" ucap Vanesa.


"Terserah kamu aja! Tapi, cuma itu satu-satunya cara supaya kamu bisa ketemu anak kamu. Kamu pasti sayang banget kan sama Galen?" ucap Albert.


Vanesa terdiam sejenak, ia melirik ke arah papanya sekilas dengan perasaan bingung.


"Mana yang kamu pilih Vanesa? Anak kamu, atau ayah kamu? Kalau saya sih, jelas lebih memilih anak saya. Buat apa bersama ayah yang sudah tua dan bau tanah seperti itu?" ujar Albert.


"Bagaimana ini? Mana yang harus aku pilih??" gumam Vanesa dalam hati.


Vanesa semakin dibuat kalut, perkataan Albert amat membuatnya bingung karena ia tak bisa memilih antara ayah atau anaknya.


Sementara Harrison di belakang sana hanya bisa terdiam, ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan putrinya bersama Albert.


"Cepatlah Vanesa, kamu harus cepat mengambil keputusan!" ucap Albert meyakini Vanesa.


"Aku tidak bisa! Kamu jangan membuatku semakin bingung Albert!" bentak Vanesa.


Albert memicingkan senyum, kemudian merasakan bahwa Vanesa mulai lengah dan itu bisa menjadi kesempatannya untuk melawan Vanesa.


Dengan sigap Albert berhasil memutar tangan Vanesa sambil bangkit dari posisinya saat ini, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Akh apa yang kau—" belum selesai Vanesa bicara, Albert sudah mengambil pistol miliknya dan menodongkan itu ke belakang kepala Vanesa.


"Menyerah lah Harrison! Kamu tidak mau putrimu ini mati di tanganku, bukan?" ucap Albert.


"Sial! Sudah papa bilang jangan terlalu lama, kenapa kamu tidak mau menurut dengan papa sayang?! Lihatlah akibatnya saat ini, Albert berhasil melepaskan diri dan berbalik mengancam kita!" ucap Harrison kesal.


"Maaf pah! Tapi, sekarang bukan waktunya untuk debat. Ayo papa tolong aku!" ucap Vanesa.


"Hahaha, kamu tidak bisa lepas dari saya Vanesa! Papa kamu juga tidak mungkin bisa menolong kamu, dia terlalu takut untuk itu!" ucap Albert.


"Kurang ajar kamu Albert!" umpat Vanesa.




Dor! Dor! Dor!


Keenan menghabiskan sisa pelurunya dengan menembak ke arah Javier, namun tidak berefek apapun pada pria itu.


"Apa-apaan ini??" gumam Keenan.


"Hahaha, sudah habis ya? Itu yang katanya ingin mengalahkan saya?" ledek Javier.


"Sial! Dia menggunakan pakaian anti peluru, saya salah mengira!" ucap Keenan lirih.


"Lalu, bagaimana ini tuan?" tanya Liam cemas.

__ADS_1


"Kita menyerah saja, peluru saya sudah habis! Tak ada yang bisa kita lakukan lagi saat ini, selain menyerah." jawab Keenan.


"Tapi pak—"


"Lakukan saja!" potong Keenan.


Liam dan yang lainnya menurut, mereka membuang pistol di tangan mereka lalu berjongkok sembari mengangkat dua tangan tanda mereka sudah menyerah.


"Kami menyerah, tolong ampuni kami!" ucap Keenan mewakili yang lainnya.


"Hahaha, itu bagus!" Javier tertawa puas dan merasa dirinya sudah menang.


Dor!


Bruuukkk...


Tiba-tiba saja Javier tersungkur dengan kondisi kepala bagian belakangnya berdarah akibat tembakan entah darimana itu.


"Hah??" Keenan terkejut, begitupun dengan semua orang disana.


Mereka semua melihat ke arah seseorang yang tengah berdiri memegang pistol disana.


Keenan sangat mengenal orang itu, ia pun tersenyum lebar dan merasa tenang dengan kehadirannya.


"Pak Devano??" ucapnya lirih.


"Kalian semua pergi sekarang! Bos kalian sudah tewas, apa kalian ingin menyusulnya ke neraka?" ucap Devano memperingati anak buah Javier yang masih berada disana.


Tanpa basa-basi lagi, mereka pun langsung pergi membawa tubuh Javier dari sana.


Sementara Devano memasukkan pistolnya ke saku jas miliknya, lalu melangkah menghampiri Keenan.


"Kamu tidak apa-apa Keenan?" tanya Devano.


"Saya baik pak! Hanya saja, saya tidak tahu bagaimana keadaan tuan Albert saat ini. Saya harus segera mencarinya, pak!" jawab Keenan.


"Tenanglah! Mari kita cari dia bersama-sama! Yang lain tetap disini, bantu teman kalian yang terluka itu!" ucap Devano.


"Baik pak!" ucap Liam menurut.


Devano dan Keenan bergegas pergi mengitari seisi rumah itu untuk menemukan Albert.


Keenan tampak sangat panik dan terus memikirkan kondisi tuannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya Keenan? Kenapa mereka sampai menyerbu rumah ini seperti itu?" tanya Devano pada Keenan.


"Mereka itu orang-orang suruhan pak Harrison, musuh besar tuan Albert. Mereka kesini karena ingin membalas dendam," jawab Keenan.


"Balas dendam? Memangnya apa yang sudah Albert lakukan sebelumnya?" tanya Devano.


"Biasalah pak, persaingan bisnis. Tapi, pak Harrison selalu tak menerima kekalahannya. Itu sebabnya beliau melakukan penyerangan terhadap tuan Albert," jelas Keenan.


"Ya pak, saya juga khawatir dengan tuan Albert! Saya tidak bisa menerima jika sampai terjadi sesuatu padanya!" ucap Keenan.


"Kamu ternyata sangat setia pada Albert ya! Sepertinya Albert salah besar karena sudah mengganti kamu dengan pengkhianat seperti Javier!" ucap Devano.


"Tidak juga pak, tuan Albert melakukan itu kan karena saya berada di penjara." kata Keenan.


Devano manggut-manggut saja, kemudian tanpa sengaja mendengar suara teriakan seorang wanita dari dekat sana.


"Kurang ajar kamu Albert!"


Sontak Devano dan Keenan menghentikan langkahnya, mereka mencari asal suara tersebut untuk dapat menemukan Albert.


"Pak, sepertinya suara itu berasal dari sana!" ucap Keenan menunjuk ke depan.


"Baiklah, ayo kita kesana!" ucap Devano.




Celine sudah bersama Frendi di dalam rumahnya, mereka duduk berdampingan pada sofa ruang tamu dan tampak saling canggung.


Celine juga telah membuatkan minuman untuk Frendi, ia terpaksa menerima kehadiran Frendi disana biarpun ia merasa malas meladeninya.


"Diminum dulu jusnya, kak!" ucap Celine.


"Ah iya, makasih ya Cel!" ucap Frendi sambil tersenyum dan meminum minumannya.


"Ahh segarnya! Eh ya, kamu di rumah sendirian aja nih? Kakak kamu yang posesif itu kemana?" tanya Frendi setelah menyadari bahwa gadis di dekatnya itu sendirian di rumah.


"Kak Keenan lagi ada urusan di luar, tapi mungkin sebentar lagi pulang. Emangnya kenapa lu nyariin dia? Lu mau ketemu sama kak Keenan apa gimana?" jawab Celine dengan bingung.


"Enggak kok, justru aku berharap supaya gak ketemu dia. Jadi, aku bisa leluasa berduaan sama kamu tanpa ada yang ganggu. Abisnya dia itu posesif banget sih sama kamu, aku jadi gak bisa deketin kamu deh." ucap Frendi.


Frendi memberanikan diri meraih tangan Celine dan menggenggamnya erat, Celine berusaha menyingkir tetapi ditahan oleh Frendi.


"Kak, apa-apaan sih?! Lepasin tangan aku gak!" pinta Celine berusaha berontak.


"Sabar cantik! Jarang-jarang kan kita bisa pegangan tangan kayak gini? Ayolah, mumpung gak ada kakak kamu nih! Aku pengen elus tangan kamu sebentar aja, boleh ya?!" bujuk Frendi.


"Gak ada kak Keenan disini, bukan berarti lu bisa seenaknya aja sama gue! Gue bisa teriak yang keras supaya lu dihajar sama warga sini, karena semua orang disini itu kenal sama gue." ancam Celine.


"Kok kamu kayak gitu sih? Emang kamu gak pengen apa pegangan tangan sama aku? Kata si Lilis, kamu itu suka loh sama aku. Udah lah Celine, akui saja di depan aku sekarang!" ujar Frendi.

__ADS_1


"Hah? Idih ngarang aja tuh anak! Gue gak pernah bilang begitu ya kak!" elak Celine.


"Percuma kamu ngelak Cel, aku udah terlanjur tahu kalau kamu suka sama aku. Jadi, kamu mau kan pacaran sama aku?" ucap Frendi yang kini sudah menggenggam dua tangan Celine sekaligus dan meninggikannya.


Celine menelan saliva nya susah payah mendengar itu, lelaki paling tampan di sekolahnya dulu sedang menyatakan cinta padanya saat ini.


Siapa yang bisa tahan? Biar gimanapun, Celine adalah wanita yang juga cukup tertarik dengan pesona pria di hadapannya itu.


Namun, Celine tentu juga tidak mau menyakiti hati kakaknya yang sudah berjanji akan menikahinya dalam waktu dekat.


Saat itu juga, wajah Keenan langsung terbayang di benak Celine. Sontak Celine segera menarik tangannya lepas dari genggaman Frendi.


"Maaf kak! Gue gak bisa jadi pacar lu, gue udah punya calon suami. Tolong lu hargai keputusan gue, jangan pernah deketin gue lagi ya kak!" ucap Celine dengan tegas.


"Apa? Calon suami? Siapa?" tanya Frendi kaget.


"Lu gak perlu tahu, nanti gue bakal undang lu begitu acara nikahan gue tiba." jawab Celine.


"Tapi Cel, ini beneran?" tanya Frendi lagi.


"Buat apa gue bohong? Sorry ya kak, gue gak bisa jadi pacar lu!" jawab Celine.


"Cel, tapi aku cinta sama kamu Cel. Aku mau kamu jadi pacar aku!" paksa Frendi.


"Lu bisa cari wanita lain kan?!" usul Celine.


Frendi terdiam saja sembari menatap wajah Celine.




Nadira keluar dari kamar mandi sembari memegangi perutnya yang terasa tidak enak.


Sulastri pun langsung bergerak menghampiri putrinya itu dengan wajah cemas.


"Dira, kamu kenapa nak?" tanya Sulastri.


"Aku gak tahu Bu, aku tiba-tiba mual banget tadi pas lagi di kamar. Mungkin gara-gara aku suka telat makan kali," jawab Nadira lemas.


"Ya ampun sayang! Mau diperiksa ke dokter atau rumah sakit? Ibu khawatir kamu kenapa-napa nak!" ucap Sulastri cemas.


"Gausah lah Bu! Aku ini baik-baik aja kok, lagian mualnya udah gak kerasa lagi. Aku mau istirahat aja di kamar, misi ya Bu?!" ucap Nadira.


"Yaudah, tapi kalau nanti kerasa mual lagi bilang ibu ya! Biar ibu langsung pinjam kendaraan pak Jamil buat bawa kamu ke rumah sakit terdekat," ucap Sulastri.


"Iya Bu, yaudah ya aku ke kamar dulu? Ibu gausah cemas, aku baik kok!" ucap Nadira.


"Iya sayang.." ucap Sulastri sambil tersenyum.


Nadira mulai melangkah menuju kamarnya, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya mulai kabur.


"Awhh!! Aku kenapa ya?" ucap Nadira lirih.


"Dira, kamu kenapa nak?" tanya Sulastri cemas melihat putrinya memegangi kepalanya.


"Eee gapapa kok Bu," jawab Nadira berbohong.


Nadira kembali melangkah perlahan sambil terus memegangi dahinya yang terasa pusing, langkahnya sudah tidak seimbang akibat rasa pusing yang dideritanya itu.


"Eh eh eh ya ampun Dira!" Sulastri langsung panik melihat Nadira hampir terjatuh.


Beruntung Sulastri berhasil menahan tubuh putrinya itu, ia langsung memegangi kedua tangan Nadira yang terasa sangat dingin dan coba membujuk Nadira untuk ke rumah sakit.


"Nadira, kamu ini sebenarnya kenapa? Tangan kamu dingin sekali, wajah kamu juga keliatan pucat gitu. Kamu sakit ya sayang?" tanya Sulastri.


"Gak tahu Bu, kepala aku pusing banget. Perutku juga mual lagi, rasanya benar-benar lemas banget tubuh aku." jawab Nadira.


"Duh, tuh kan kamu sakit! Yaudah, kita ke rumah sakit aja ya sayang?" ucap Sulastri.


"Enggak bu, aku gak bawa uang. Aku gak bisa bayar biaya rumah sakit nanti, mending aku istirahat di kamar aja ya Bu?" ucap Nadira.


"Jangan nak! Ibu khawatir sama kamu, ibu gak mau kamu kenapa-napa! Masalah biaya kamu gausah khawatir, ibu masih ada uang kok!" ucap Sulastri.


"Tapi bu—"


"Sudahlah sayang, jangan membantah!" potong Sulastri.


Suhendra yang mendengar keributan itu pun datang menghampiri mereka.


"Ada apa ini Bu?" tanya Suhendra bingung.


"Nadira sakit pak, ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" jawab Sulastri dengan cemas.


"Apa??!!" Suhendra langsung panik dan buru-buru membawa putrinya ke rumah sakit.


Setelah mendapat penanganan dari dokter, kini Nadira sudah merasa lebih baik walau tubuhnya masih sedikit lemas dan pusing.


"Dok, sebenarnya saya sakit apa? Kok saya bisa tiba-tiba pusing begini?" tanya Nadira.


"Selamat ya Bu! Ini karena ada janin di rahim ibu," jawab dokter itu sambil tersenyum.


Deg!


Nadira melotot terkejut mendengar jawaban si dokter, ia menatap tak percaya ke arah dokter itu dan mengiranya salah memeriksa.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2