
Ceklek...
"Nadira?" ucap Sulastri dari balik pintu.
"Assalamualaikum, ibu. Apa kabar?" ucap Nadira mengucap salam sambil mengulum senyum dan terus menatap ke arah ibunya tanpa berkedip, rasanya ia ingin sekali meneteskan air mata mengingat sudah cukup lama dirinya tak bertemu dengan sang ibu.
Sementara Sulastri sendiri masih bengong tak menyangka dengan apa yang dilihatnya, ya sosok Nadira putrinya itu ada di hadapannya saat ini bersama seorang wanita yang tak ia kenali.
"Waalaikumsallam, ibu baik nak! Kamu kok bisa kesini sayang? Dia siapa?" ucap Sulastri terheran-heran.
"Ah iya Bu, kenalin ini mama mertua ku, mamanya tuan Albert!" jawab Nadira mengenalkan Abigail kepada sang ibu.
"Halo bu! Salam kenal ya, saya Abigail!" ujar Abigail mengenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
"I-i-iya, sa-saya Sulastri, ibunya Nadira. Silahkan masuk sayang, bu! Kita lanjut bicara di dalam saja, kebetulan ibu juga sangat rindu sama kamu sayang!" ucap Sulastri melangkah maju dan mengajak Nadira serta Abigail masuk ke dalam.
"Iya Bu, aku juga. Ayo mah kita sama-sama masuk dan bicara di dalam, mama juga harus ketemu sama ayah aku! Bu, ayah ada di rumah kan?" ucap Nadira.
"Ada kok sayang, ayah kamu baru pulang!" jawab Sulastri.
Ketiganya kompak tersenyum, lalu berjalan bersamaan memasuki rumah yang tidak terlalu besar maupun kecil itu.
"Aku senang banget bisa ketemu ibu!" ucap Nadira.
"Iya sayang, ibu juga sama kok kayak kamu. Ibu ini selalu berharap kamu bisa tinggal lagi disini sama ibu dan ayah, walau itu hanya sebuah khayalan semata. Tapi ibu juga berdoa, supaya kamu bisa mendapat kebahagiaan disana bersama suami kamu itu! Sekarang ibu bahagia sekali, karena bisa bertemu dengan kamu lagi!" ucap Sulastri.
Kesedihan ibu dan anak itu turut dirasakan oleh Abigail, biar bagaimanapun ia juga seorang ibu yang pastinya bisa mengerti seperti apa perasaan Abigail dan Nadira saat ini yang dipisahkan secara paksa oleh putranya sendiri, yakni Albert.
"Kasihan mereka, harus berpisah karena kelakuan Albert!" batin Abigail merasa sedih.
Kini mereka tiba di ruang tamu, Sulastri mempersilahkan Abigail duduk disana sembari menanti minuman yang akan ia buatkan di dapur nanti.
"Bu, silahkan duduk dulu! Maaf ya Bu, rumah saya keadaannya memang begini! Kalau ibu berkenan, saya akan buatkan minuman di dapur untuk ibu!" ucap Sulastri.
"Boleh Bu, disini juga nyaman kok. Ibu gak perlu bersikap seperti sama saya, karena dulunya saya ini juga sama kayak ibu kok!" ucap Abigail.
"Oh ya?" ujar Sulastri sedikit kaget.
"Iya, saya ini berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak kecil saya dibesarkan di rumah yang sederhana seperti ini, jadi saya sudah terbiasa kok dengan keadaan begini. Ibu gak perlu malu tentang itu, karena harta semewah apapun itu hanya titipan semata dan tidak bisa dibawa mati!" ucap Abigail.
"Ibu memang benar! Tapi, jika kita tidak memiliki harta dan kekuasaan maka kita akan dianggap sebelah mata, itu seringkali terjadi di dunia ini Bu! Termasuk kepada keluarga saya!" ucap Sulastri.
Abigail terdiam menunduk, dirinya tahu betul kalau saat ini Sulastri sedang membicarakan kelakuan Albert yang menindas keluarganya karena hutang yang tak terbayarkan, ia kini duduk di sofa bersama Sulastri serta Nadira di sampingnya.
"Sebentar ya Bu, Nadira, saya mau buatkan minum dulu di dapur!" ucap Sulastri.
"Iya Bu..." ucap Abigail dan Nadira bersamaan.
Setelah Sulastri pergi, Abigail kini hanya berdua dengan Nadira, menantunya. Ia menatap wajah Nadira dengan penuh kesedihan membayangkan jika Nadira adalah putri kandungnya, tentu saja ia tak akan bisa memaafkan siapapun yang sudah menculik putrinya.
"Nadira, mama boleh tanya sesuatu sama kamu sayang?" ucap Abigail.
"Iya mah, boleh kok. Mama mau nanya apa?" ucap Nadira penasaran.
"Apa kamu benar-benar sudah memaafkan dan menerima Albert seutuhnya? Kamu gak dendam sama dia sayang atas perlakuannya ke kamu? Dia sudah memisahkan kamu dari orang tua kamu loh!" tanya Abigail.
Nadira terhenyak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Abigail padanya, ia bingung harus menjawab bagaimana saat ini.
β’
β’
Sementara itu, Albert kini telah tiba di depan rumah Vanesa. Ya pria tersebut memang mengantarkan sekretarisnya pulang sampai ke rumah, tentu saja setelah mereka sama-sama terpuaskan di jalan.
Namun, Vanesa tidak betul-betul membawa Albert ke rumahnya. Wanita sangat tahu bahaya yang ditimbulkan jika Albert sampai mengetahui dimana rumahnya, itulah sebabnya ia meminta sang supir berhenti tepat di depan rumah kosong yang tak berpenghuni untuk mengelabui Albert.
"Ini rumah kamu, Vanesa?" tanya Albert dengan wajah sedikit heran.
"Iya pak, kenapa ya? Pasti bapak kaget karena rumah saya gak sebesar rumah bapak, ya? Emang betul pak, beginilah kondisi saya hanya bisa tinggal di rumah yang seadanya. Makanya saya selalu kesusahan untuk menghidupi ayah saya, tapi ya mau bagaimana lagi ini semua kan sudah takdir dari yang maha kuasa!" jawab Vanesa.
__ADS_1
"Kamu gak perlu sedih gitu! Saya janji saya akan selalu bantu kamu sebisa mungkin, supaya kamu dan ayah kamu gak kesusahan lagi!" ujar Albert.
"Terimakasih banyak, pak! Kalau begitu saya pamit dulu, saya harus segera turun dan temui ayah saya karena saya khawatir beliau butuh bantuan saya! Sekali lagi terimakasih ya pak, karena bapak udah anterin saya pulang!" ucap Vanesa.
"Sama-sama, titip salam ya buat papa kamu! Dan jangan lupa itu bubur sumsum nya kamu kasih loh ke papa kamu, bilang kalau itu bisa menaikkan imun tubuh supaya lebih sehat!" ucap Albert.
"Ah baik pak!" ucap Vanesa.
Lalu, Vanesa pun turun dari mobil bosnya. Albert membuka kaca dan melambaikan tangan ke arah Vanesa sebelum pergi, begitupun dengan Vanesa melakukan hal yang sama membalas Albert disertai senyum manisnya yang membuat pria itu semakin tergila-gila.
Setelahnya, Albert pun pergi dari sana. Kini Vanesa hanya tinggal menunggu hingga mobil Albert hilang dari pandangannya, agar ia bisa pergi ke rumahnya yang asli.
"Huh, untung aja pak Albert percaya kalau ini rumah aku!" ucap Vanesa tersenyum licik.
Vanesa berjalan pergi meninggalkan area rumah kosong tersebut, kebetulan memang daerah ini tak terlalu jauh dari rumahnya sehingga ia hanya perlu berjalan kaki untuk bisa pulang.
Albert yang tak tahu menahu mengenai kelicikan Vanesa, justru terus tersenyum membayangkan kejadian saat dirinya mendapat kepuasan dari Vanesa setelah sekian lama, ia tak bisa melupakan momen itu karena sangat memuaskan baginya.
"Vanesa itu selalu bisa bikin saya puas, dia emang wanita yang handal dalam memuaskan pria, tidak seperti Nadira!" batin Albert.
"Ya biarpun tubuh Nadira memang seksi dan bikin saya susah untuk menahan gairah, tapi tetap saja dia masih belum ahli dalam hal memuaskan saya seperti itu!" sambungnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Albert penasaran dan langsung mengecek siapa yang menelponnya.
Itu adalah Chelsea, adik tercintanya.
π"Halo sayang! Ada apa kamu telpon kakak? Kangen? Apa minta dibawain sesuatu?" ujar Albert bertanya sambil sedikit terkekeh.
π"Ish, kakak nyebelin deh! Aku bukan mau minta sesuatu kok, kak!"
π"Oh ya? Terus, apa dong?" tanya Albert.
π"Jadi gini kak, aku mau kabarin ke kakak kalau sekarang tuh Nadira lagi pergi tau dari rumah! Kira-kira kakak tahu gak soal itu?"
π"Apa? Pergi? Maksud kamu Nadira keluar rumah gitu? Kok bisa sih, sama siapa? Daritadi kakak gak dapat kabar apapun dari Nadira kalau dia pengen pergi, emangnya Nadira pergi kemana?" ujar Albert terkejut mendengarnya.
π"Nah kan, aku udah feeling kalo Nadira itu gak izin dulu ke kakak. Emang dasar dia tuh istri yang gak bener kak, harusnya kakak ceraikan aja istri kayak gitu mah!"
π"Iya iya kak, tadi tuh Nadira pergi sama mama. Katanya sih mau ke rumah orangtuanya Nadira, mama tadi sempat ngajak aku tapi aku gak mau karena malas!"
π"Oh yaudah, makasih infonya Chelsea!" ucap Albert singkat.
π"Iya kak, eh tapi akuβ"
Tuuutttt....
Albert langsung memutus telpon begitu saja, ia dalam kondisi panik mencemaskan istrinya yang sedang pergi ke rumah Suhendra bersama mamanya, ia khawatir mamanya itu memiliki rencana untuk memulangkan Nadira.
"Pak, kita ke rumah ayahnya Nadira sekarang! Saya mau susul istri saya itu!" ucap Albert.
"Baik tuan!"
β’
β’
Disisi lain, si gembul bersama dua orang preman lainnya yang sempat ingin menculik Celine kini menemui Johan alias orang yang sudah menyuruh mereka untuk melakukan itu.
Terlihat ketiganya terus menunduk dengan tangan ditaruh di depan, sedangkan Johan berdiri tepat di hadapan mereka bertiga dan tampak emosi karena preman-preman itu gagal menjalankan tugasnya.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menculik gadis itu? Kenapa kalian hanya bertiga, dimana gadis itu sekarang?" tanya Johan bingung.
Preman-preman itu tampak kebingungan harus menjawab apa, mereka takut jika Johan akan memarahi mereka kalau tahu mereka telah gagal menjalankan tugas dengan baik, itulah sebabnya mereka hanya diam tak berbicara apa-apa.
"Heh! Kenapa kalian malah diam begitu? Cepat jawab pertanyaan saya!" bentak Johan emosi.
"I-i-iya bos, kita jawab kok. Sebelumnya kita mau minta maaf sama bos, karena kita udah gagal buat culik gadis itu bos! Sebenarnya kita hampir berhasil bos, tapiβ"
"Tapi apa? Kalau kalian kesini hanya untuk berbicara tentang kegagalan, lebih baik kalian tidak usah datang kesini! Saya benar-benar kecewa dengan kalian bertiga, dasar tidak bisa diandalkan! Menculik satu gadis SMA saja kalian tidak bisa, dasar payah!" potong Johan dengan tegas.
__ADS_1
"Ma-maaf bos! Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi gadis itu ternyata jago beladiri bos jadi kita gak bisa bawa dia!" ucap si gembul.
"Ah alasan! Sejago apapun dia, tetap saja dia itu cuma seorang wanita! Seharusnya kalian bisa memanfaatkan keunggulan jumlah kalian buat tangkap dia, bukannya malah gagal seperti ini!" bentak Johan semakin emosi.
"Sudahlah! Lebih baik saya pergi dari sini, saya muak berlama-lama disini!" sambungnya.
"Tunggu bos!" ucap si gembul menahan Johan.
"Ada apa lagi? Lu berani tahan gue, ha? Mau cari mati lu sama gue?" ujar Johan kesal.
"Enggak bos, gue cuma mau kasih tahu ke lu kalau ada seseorang yang mau ketemu sama lu. Jadi, lu tahan dulu sebentar jangan pergi dari sini bos!" ucap si gembul menjelaskan.
"Siapa?" tanya Johan penasaran.
"Saya!"
Johan pun langsung mengarahkan pandangan ke asal suara tersebut, matanya terbelalak begitu melihat Keenan yang muncul bersama Celine yang ada di sampingnya.
"Keenan?" ujar Johan gugup.
"Ya, ini gue! Keenan Pattinson, dan ini adik gue Celine Leonia, orang yang mau lu culik!" ucap Keenan dengan berani.
"Hahaha, berani banget lu dateng kesini Keenan! Apa lu mau nyerahin diri ke gue? Sekaligus mengantarkan adik lu buat gue, iya?" ujar Johan tertawa lepas.
"Silahkan aja lu tertawa sekarang, tapi selepas ini gue pastikan lu gak akan bisa ketawa lagi penculik!" ucap Keenan.
"Waw! Lu ngancam gue? Oke fine, emangnya apa sih yang bisa lu lakuin ke gue ha?" ujar Johan menantang Keenan.
"Gue bisa patahin tangan lu!" ucap Keenan.
Johan terkejut, senyum di wajahnya pun hilang seketika saat mendengar ucapan Keenan itu.
"Kenapa? Takut ya?" ledek Keenan.
Johan hanya terdiam memalingkan wajah, bayangan mengenai Keenan mematahkan tangannya sudah muncul di kepala, membuat ia merasa ketakutan.
"Kalau lu takut, udah mending sekarang lu kasih tahu ke gue deh siapa yang nyuruh lu buat culik adik gue! Atau gue bakal patahin tangan lu beneran!" ujar Keenan dengan mulut bergetar.
"Ohh hahaha... jadi, lu kesini karena lu mau tau siapa orang yang udah nyuruh gue buat culik adek lu, iya?" ucap Johan.
"Iya, kasih tahu gue sekarang juga siapa orang itu!" ucap Keenan tegas.
"Apa untungnya buat gue kalau gue kasih tahu ke lu siapa yang nyuruh gue, ha?" ujar Johan.
"Keuntungannya adalah tangan-tangan anda tidak akan mengalami patah atau hal lainnya, dengan begitu anda masih bisa menggunakan tangan anda seperti biasanya. Tetapi, jika anda menolak untuk memberitahu siapa yang menyuruh anda, maka saya pastikan besok anda tidak akan bisa menggunakan tangan-tangan itu seperti biasanya!" ucap Keenan.
Glekk...
Johan menelan saliva nya dengan susah payah, perkataan Keenan benar-benar membuatnya sulit untuk berbicara kali ini.
"Ancaman lu itu gak berarti buat gue, jadi mending lu pergi aja deh! Jangan harap gue bakal kasih tahu ke lu siapa yang nyuruh gue, karena itu gak akan pernah terjadi!" ucap Johan.
"Oke! Kalau begitu saya akan paksa anda buat buka mulut!" ucap Keenan.
Keenan perlahan maju mendekati Johan, terlihat raut ketakutan di wajah Johan begitu Keenan mendekatinya dan bersiap menyerangnya.
"Heh! Kenapa kalian diam saja? Cepat serang dan habisi dia!" ujar Johan ketakutan.
"Eee..." si gembul dan yang lainnya tampak bingung, mereka tak berani ikut campur lagi karena takut dengan kemampuan berkelahi Keenan.
"Kenapa? Anda takut ya? Sudah saya bilang, beritahu saja siapa yang menyuruh anda maka anda akan selamat dan tidak perlu ketakutan seperti ini!" ucap Keenan.
"Kurang ajar! Gue gak akan pernah buka mulut!" ujar Johan tegas.
"Baiklah, itu permintaan anda sendiri!" ujar Keenan.
Keenan pun langsung melayangkan serangan pertamanya ke arah Johan, ia memukul dan menendang Johan secara membabi buta, membuat pria itu kewalahan untuk menahannya karena gerakan Keenan begitu cepat.
Bruuukkk...
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...