Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Ada kecerahan


__ADS_3

Sreeettt...


Seorang lelaki dengan kaos abu-abu polos serta celana pendeknya membuka gorden di sebuah kamar, sehingga sinar matahari pagi menelusup masuk menerangi ruangan berukuran sedang itu.


Ia beralih menatap seorang wanita yang tengah terbaring pingsan di atas ranjang di sebelahnya, tanpa berpikir panjang pria itu segera mendekat lalu duduk di pinggir ranjang tersebut sembari memandangi wajah wanita cantik tersebut.


Lelaki tampan berambut cokelat itu mulai menggerakkan tangannya, mengusap mulai dari kening sampai pipi wanita itu dengan lembut dan nyaman.


"Kamu terlihat sangat cantik, sayang! Aku jadi semakin cinta sama kamu!" ucapnya.


Ia membungkukkan badan mendekat ke arah wajah si wanita, dan tentu saja ia mendaratkan sebuah kecupan di kening mulus itu.


Cupp!!


Satu kali wanita itu tak bereaksi, rupanya dia memang masih larut dalam tidurnya.


Cupp!!


Pria itu kembali mengecup kening serta pipi si wanita, kali ini ada reaksi walau hanya sekedar erangan tanda bahwa dia mulai sadar ada sesuatu yang mengganggu tidurnya.


Disaat pria itu menyentuh bibir mungil yang sedikit terbuka dan menggoda, tiba-tiba wanita itu membuka matanya dan terkejut ketika menyadari ada seorang lelaki yang hendak mencium bibirnya.


"Hah? Kamu mau apa?" wanita itu reflek bangkit dan menjauh dari si pria, ia terus mencengkram selimut menutupi tubuhnya.


"Good morning sayang! Selamat pagi!" ucap si pria dengan santai sambil tersenyum.


Perlahan pria itu mengusap puncak kepala wanitanya, membuat si wanita yang tadi terkejut mulai luluh dan tidak lagi merasa kaget akibat sentuhan lembut dari si pria.


"Sudah gak kaget lagi kan?" tanya si pria.


Wanita itu menggeleng, "Maaf! Aku tadi cuma reflek, abisnya kenapa kamu pegang-pegang bibir aku kayak gitu sih?" ujarnya heran.


"Aku yang minta maaf sayang, karena aku udah bikin kamu kaget! Harusnya aku gak kayak gitu, padahal kamu lagi sakit. Oh ya, kondisi kamu gimana Nadira? Udah membaik?" ucap si pria.


Nadira mengangguk pelan, menjawab pertanyaan si pria tanpa berkata sedikitpun.


Suasana jantungnya masih tak karuan, dirinya lupa jika semalam memang ia ditolong oleh seorang pria saat pingsan di tengah jalan.


Flashback


Nadira yang sebelumnya pingsan, kini tersadar dan kembali membuka matanya. Ia merasa heran ketika menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam mobil, padahal seingatnya tadi ia sedang berjalan di bawah guyuran hujan.


Matanya mengarah ke seseorang di sampingnya yang tengah fokus menyetir, sambil memegangi dahinya Nadira pun berusaha mengenali siapa sosok orang yang sudah menolongnya itu.


"Ma-maaf! Kamu siapa ya?" tanya Nadira pelan.


Pria yang sedang menyetir itu pun kaget mendengar suara Nadira, karena ia tak tahu jika Nadira telah sadar dari pingsannya.


"Eh sayang, kamu udah sadar? Ini aku loh, masa kamu gak kenal?" ucap si pria sambil tersenyum.


Deg!


Seketika jantung Nadira seperti berhenti berdetak, ia menganga lebar begitu melihat sosok pria yang saat ini berada di sampingnya, jelas dan tak mungkin salah karena ia sangat mengenali laki-laki tampan tersebut.


"Cakra...??" ucap Nadira terkejut.


Pria itu hanya tersenyum senang ketika Nadira telah berhasil mengenalinya.


Flashback end


"Kamu mau sarapan?" tanya Cakra pada Nadira yang masih terdiam itu.


"Ah eee iya, aku mau. Tapi, kayaknya aku pengen mandi dulu deh. Semalam kan aku belum sempat mandi, karena waktu udah terlalu larut dan cuaca juga dingin banget!" ucap Nadira.


"Yaudah, kamu mandi aja dulu! Aku ke depan siapin sarapan buat kita, ya? Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aja nama aku oke!" ucap Cakra.


"Iya Cak," ucap Nadira mengangguk setuju.


Cakra pun berdiri menjauh dari Nadira, sebelum pergi ia sempat memberitahu pada Nadira tentang pakaian serta handuk yang bisa dikenakan oleh wanita itu.


"Oh ya, kamu bisa pakai handuk di lemari. Itu punya aku, tapi belum pernah dipakai. Terus soal baju, kamu juga gak perlu khawatir! Aku udah siapin semuanya kok buat kamu, pokoknya selama kamu disini kamu aman!" ucap Cakra.


"Iya Cakra, makasih banyak ya kamu udah mau bantu aku!" ucap Nadira tersenyum.


"Sama-sama."


__ADS_1



Disisi lain, Albert tengah berada di ruang kerjanya seorang diri dan masih terus memikirkan Nadira yang hingga kini tak tahu ada dimana. Albert memang belum bisa menemukan Nadira, walau ia sudah berusaha keras mencari wanita itu sepanjang kota dari semalam.


Kini ia harus kembali hadir ke kantor mengurus kerjaannya, selain itu ia juga ingin bertemu dengan Vanesa dan menanyakan pada wanita itu apa alasan dia menyebarkan semua foto serta surat hamil itu kepada Nadira istrinya.


TOK TOK TOK.


"Misi pak! Ini saya Vanesa," Albert langsung berapi-api begitu mendengar suara Vanesa di depan ruangannya.


"Masuk!" perintah Albert dengan suara lantang.


Ceklek...


Vanesa membuka pintu, lalu jalan menghampiri Albert dengan gaya lenggak-lenggoknya. Memang biasanya Albert cukup tertarik ketika Vanesa melakukan itu, karena itu sangat menampilkan lekuk tubuh seksi Vanesa yang selalu membuat Albert tergoda untuk mencicipinya.


Namun, kali ini Albert tidak sama sekali tergoda karena ia sedang dilanda emosi.


"Bapak minta bertemu dengan saya?" tanya Vanesa setelah sampai di hadapan Albert.


"Ya, sayang ingin bicara dengan kamu. Duduklah!" jawab Albert meminta Vanesa duduk.


"Baik pak!" Vanesa menurut lalu duduk di kursi yang tersedia sambil menyilangkan kakinya dan kedua tangan ia taruh di atas meja kerja Albert.


"Ada apa ya pak?" tanya Vanesa lagi sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga menonjolkan buah dadanya.


"Jangan menggoda saya!" tegas Albert.


"Maaf pak! Saya gak bermaksud menggoda bapak, saya cuma penasaran." elak Vanesa.


"Sudah lah, sekarang kamu jawab pertanyaan saya dengan jujur!" ujar Albert.


"Pertanyaan soal apa, pak?"


"Kenapa kamu bocorkan hubungan kita ke istri saya, ha? Apa sebenarnya yang kamu inginkan dari saya Vanesa? Bukankah kamu sudah berjanji untuk menutupi ini semua!" ujar Albert tegas.


"Eee..." Vanesa terlihat bingung, ia belum sempat menyiapkan jawaban dari pertanyaan Albert itu.


"Asal kamu tahu Vanesa, gara-gara kelakuan kamu itu sekarang istri saya kabur dari rumah! Saya benar-benar kecewa dengan kamu Vanesa! Kamu sudah mengkhianati saya dan menghancurkan hidup saya!" ucap Albert emosi.


"Yasudah, ayo jelaskan! Jelaskan ke saya apa alasan kamu lakukan itu! Sampai kamu juga tunjukan bukti kehamilan kamu ke Nadira, padahal kamu kan sudah tidak hamil!" ucap Albert.


"Saya melakukan ini semua terpaksa, pak. Saya sudah gak tahan lagi dengan sikap bapak yang memperlakukan saya seperti seorang budak s*x! Berkali-kali bapak minta untuk dipuaskan, tapi begitu saya hamil bapak langsung meminta saya menggugurkan anak itu, saya benar-benar diperlakukan seperti jala*ng oleh bapak! Saya gak kuat lagi, pak!" ujar Vanesa mulai berakting.


"Dengar ya Vanesa, itu sudah konsekuensi kamu bekerja disini sebagai sekretaris saya. Lagipun, dari awal juga saya sudah mewanti-wanti kamu dan kamu bilang kamu setuju! Lalu, mengapa sekarang kamu begini Vanesa?!" ujar Albert.


"Albert Albert..." tiba-tiba saja Darius muncul dari luar dan masuk ke ruangan tersebut.


Sontak Albert serta Vanesa kompak berdiri menatap ke arah Darius dengan bingung, sedangkan Darius hanya tersenyum santai sambil berjalan menghampiri keduanya.


"Seharusnya kamu introspeksi diri dulu sebelum berbicara seperti itu pada Vanesa, Albert!" ucap Darius sambil menatap tajam wajah ponakannya.


"Wah wah... udah mulai ada yang terang-terangan nih bela Vanesa, akhirnya ketahuan juga kalau kalian berdua emang bekerjasama untuk menghancurkan saya. Luar biasa ya, saya masih gak nyangka loh paman dan sekretaris saya sendiri ternyata dua orang pengkhianat!" ujar Albert.


"Jangan sembarangan bicara Albert! Kamu tidak punya bukti yang menyatakan saya bekerjasama dengan Vanesa, tadi itu saya hanya ingin mengingatkan kamu bahwa Vanesa tidak sepenuhnya salah dalam masalah ini!" ujar Darius.


"Oh begitu ya paman? Baiklah, saya terima alasan konyol paman itu!" ucap Albert tersenyum.


Darius terdiam berpikir sejenak, ia tidak boleh salah berbicara jika tidak ingin membuat Albert semakin mencurigai dirinya.




Nadira dan Cakra baru menyelesaikan sarapan mereka, keduanya pun tampak berbincang sejenak di meja makan sebelum lanjut beraktivitas di hari yang cerah ini.


Tentu Cakra amat senang karena berhasil kembali bersama wanita yang ia cintai itu, meski begitu tetap saja ia penasaran mengapa bisa Nadira ada di tengah jalan semalam.


"Eee Nadira, aku boleh tanya sesuatu gak ke kamu?" ucap Cakra dengan perlahan.


"Boleh, soal apa?" ucap Nadira penasaran.


"Kamu kenapa semalam bisa ada di tengah jalan kayak gitu? Hujan-hujanan lagi, emang suami kamu yang galak itu kemana?" tanya Cakra.


Nadira terdiam merunduk, mendengar pertanyaan Cakra seketika membuat Nadira teringat akan foto-foto mesra suaminya bersama sang sekretaris dan juga surat keterangan hamil itu.


"Tuan Albert, kenapa kamu tega lakuin ini ke aku?" gumam Nadira dalam hati.

__ADS_1


Perlahan air mata muncul membasahi pipi Nadira, membuat Cakra yang melihatnya pun terkejut dan reflek mengusap air mata tersebut dengan jarinya.


"Sayang, kenapa kamu nangis? Pertanyaan aku salah ya?" tanya Cakra cemas.


"Eh enggak kok, bukan apa-apa. Aku semalam ada di tengah jalan itu karena aku mau ke rumah ayah dan ibu, kamu kan tahu sendiri suami aku gak kasih izin aku buat pergi kemanapun termasuk ketemu ayah sama ibu. Jadi, aku mutusin buat pergi sendiri tanpa seizin dia karena aku udah kangen banget sama ayah ibu!" jawab Nadira.


"Oh begitu, berarti antara kamu dan suami kamu gak ada masalah dong? Kamu kabur bukan karena kamu gak betah tinggal disana?" tanya Cakra.


"Soal betah atau gak betah itu aku juga bingung, Cak. Jujur aja waktu pertama kali aku dibawa kesana, rasanya aku asing banget dan pengen langsung keluar gitu. Tapi, lambat laun aku juga ngerasa nyaman disana," jawab Nadira.


"Apa kamu sudah mulai mencintai suami kamu itu Nadira? Kalau iya, apa sudah tidak ada kesempatan lagi buat aku untuk bisa masuk ke dalam hati kamu sayang?" ucap Cakra penuh harap.


"Cakra, kamu bicara apa sih?" ujar Nadira.


"Aku serius Nadira! Aku ini cinta sama kamu, aku sakit loh begitu tahu kamu ternyata udah dinikahi sama om-om tua yang galak itu!" ujar Cakra.


"Aku tahu kok tentang perasaan kamu itu, tapi saran aku sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa cinta kamu ke aku itu! Karena sampai kapanpun, kamu gak mungkin bisa milikin aku!" ucap Nadira.


"Kenapa Nadira? Apa karena kamu udah cinta sama om-om itu, iya?" tanya Cakra agak emosi.


"Bukan karena itu, tapi lebih karena aku sudah jadi istri orang. Kamu lihat sendiri kan cincin ini? Cincin yang melingkar di jari aku ini, pertanda kalau aku sudah menjadi istri orang. Kamu gak bisa paksain buat terus cinta sama aku, Cakra!" jelas Nadira.


Cakra terdiam lesu, rasa gembiranya saat ini seketika hilang setelah mendengar penuturan Nadira terkait hubungan antara dia dan sang suami.


"Aku mau cuci piring dulu, ya?" ucap Nadira.


Pria itu hanya terdiam tak menjawab, rupanya ia masih melamun merenungkan perkataan Nadira tadi yang sedikit membuatnya lesu tak bergairah.


Sementara Nadira memilih bangkit membawa piring kosong bekas makannya untuk dicuci.




Keenan yang sedang kalut tak tahu harus mencari adiknya kemana lagi pun lelah dan memilih beristirahat sejenak, ia meminggirkan mobilnya lalu menarik nafas dalam-dalam sembari mengusap wajahnya kasar.


Braakkk...


Braakkk...


Berkali-kali Keenan memukul setir mobilnya sendiri seperti orang tidak waras, ia merutuki dirinya karena telah gagal melindungi Celine dan hingga kini belum berhasil menemukan keberadaan sang adik tercinta itu.


"Aaarrgghh!! Seandainya waktu itu gue pastiin kalau Celine baik-baik aja, dan gue gak gampang percaya sama bodyguard gadungan itu! Mungkin sekarang lu gak akan diculik Celine, haaaa...!!" teriak Keenan frustasi. "Lu benar-benar bukan abang yang baik! Lu cuma sampah yang gak pantas jadi seorang abang!" sambungnya.


Drrttt..


Drrttt...


Ponselnya berdering, membuat Keenan berhenti meracau lalu mengambil ponsel miliknya dari dashboard dan mengecek siapa yang menelponnya.


"Nomor siapa ini?" ujar Keenan heran saat melihat nomor tak dikenal yang menelponnya.


Karena penasaran, akhirnya Keenan memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut.


📞"Halo! Ini siapa?" ujar Keenan bertanya ketus.


📞"..." suasana hening tak kunjung ada jawaban dari si penelpon itu, yang terdengar hanyalah suara jam dinding disertai bunyi cicak.


📞"Halo! Cepat jawab dan jangan permainkan saya! Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda! Kalau anda tidak mau menjawab, akan saya matikan telpon ini!" ancam Keenan.


📞"Tunggu bang!" Keenan syok saat mendengar suara seorang wanita dari telpon tersebut.


Ya tentu Keenan mengenali suara tersebut, ia sangat tahu bahwa itu adalah suara dari Celine adik tercintanya.


📞"Celine? Ini benar kamu sayang?" tanya Keenan.


📞"Iya bang, ini gue. Tolong gue bang! Lu harus cepat datang kesini dan selamatin gue! Gue gak mau diapa-apain sama mereka bang, gue takut!" ucap Celine penuh ketakutan.


📞"Lu tenang ya! Gue pasti bakal selamatin lu kok! Sekarang lu bilang ke gue, dimana lokasi lu! Biar gue bisa susul lu kesana!" pinta Keenan.


📞"Iya bang, ini gue ada di daerah Kebagusan. Tepatnya jalan silangu nomor 47, cepat lu kesini ya bang! Tolongin gue!" ucap Celine lesu.


Mendengar nada bicara adiknya yang lemas dan lesu itu, Keenan pun bertambah emosi dan ingin segera menghajar para penculik yang sudah berani menculik adik tercintanya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2