
Setelah mendapat izin dari dokter dan pihak rumah sakit, akhirnya Nadira sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah bersama putranya.
Kebetulan Albert dan Nadira juga telah memutuskan nama yang tepat untuk putra mereka ketika di rumah sakit sebelumnya.
Galen Ivander, yang artinya laki-laki terbaik pembawa ketenangan.
Ya, nama itulah yang diberikan oleh Albert dan Nadira pada putra mereka. Albert memang berharap putranya itu mampu memberikan ketenangan bagi keluarga mereka nantinya.
Saat ini mereka sudah tiba di rumah, Albert langsung menuntun Nadira turun dari mobil secara perlahan karena gadis itu sedang menggendong Galen.
Abigail, Chelsea, serta kedua orang tua Nadira turun bersamaan dari mobil yang lain. Mereka juga ikut masuk menyusul Albert dan Nadira.
"Mas, aku senang deh kita udah bisa pulang. Aku bahagia bisa kumpul bareng sama anak kita," ucap Nadira sambil tersenyum.
"Iya sayang, saya juga." ucap Albert.
"Mas, kamu lihat deh! Dia kayaknya nyaman digendong sama aku, daritadi dia gak mau jauh-jauh dari aku." ucap Nadira.
"Wajar dong sayang, kan kamu ibunya. Dia juga tahu kalau kamu bisa beri kehangatan buat dia," ucap Albert seraya mengusap rambut istrinya.
"Albert, Nadira, ibu sama bapak mau pamit dulu ya? Kita harus pulang sekarang," ucap Sulastri.
"Loh Bu, kok langsung pulang sih? Nanti dulu dong Bu, masuk dulu istirahat sebentar sambil minum!" pinta Nadira.
"Iya Bu, pak, disini aja sebentar." sahut Albert.
"Gak bisa nak Albert, kita harus urus kebun. Kan kebetulan kita sendiri yang urus kebunnya, jadi buat sekarang kita gak bisa lama-lama disini." ucap Sulastri.
"Oh gitu, yaudah gapapa deh Bu. Sayang Nadira, biarin ya ibu sama bapak kamu pulang!" ucap Albert sembari merangkul istrinya.
"Iya deh, aku gak tahan ibu sama bapak lagi." ucap Nadira tersenyum tipis.
"Yaudah, ibu sama bapak biar diantar Liam ya?" ucap Albert.
"Ah gausah nak Albert! Biar kita berdua naik taksi aja nanti di depan," ucap Sulastri menolak tawaran Albert.
"Gapapa Bu, daripada harus naik taksi kan mending diantar sama Liam." ucap Albert.
"Iya Bu, jangan ditolak ya tawaran mas Albert!" ucap Nadira sambil tersenyum.
"Iya iya, ibu sama bapak mau deh diantar sama mas Liam. Kalau gitu kita pamit dulu ya? Kamu istirahat loh sayang, jangan banyak beraktivitas dulu!" ucap Abigail mengusap punggung putrinya.
"Iya ibu, aku juga pengen istirahat bareng sama Galen kok. Ibu sama bapak hati-hati ya di jalan!" ucap Nadira.
Sulastri mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu Suhendra bergantian pamit kepada Nadira serta Albert disana.
"Sayang, bapak pamit ya?" ucap Suhendra.
"Iya pak, hati-hati!" ucap Nadira mencium tangan ayahnya itu.
Setelah berpamitan pada Nadira dan Albert, tak lupa pula Suhendra serta Sulastri pamit kepada Abigail yang turut berada disana.
Barulah kedua orang tua Nadira itu pergi bersama Liam menggunakan mobil milik Albert, sedangkan Nadira dan yang lainnya pun masuk ke dalam.
Nadira, Albert, Abigail serta Chelsea duduk bersama-sama di sofa. Tampak seorang pelayan langsung datang membawa minuman yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Silahkan Bu, non, tuan, diminum minumannya!" ucap mbok Widya.
"Terimakasih ya mbok!" ucap Abigail.
"Sama-sama nyonya. Wah! Ini ya anaknya tuan Albert sama Bu Nadira? Selamat ya Bu, tuan! Bayinya tampan sekali loh," ucap mbok Widya.
"Makasih mbok! Iya ini anak kita, namanya Galen." jawab Nadira sambil tersenyum.
"Oalah, selamat datang den Galen! Semoga kamu bisa tumbuh jadi anak yang berbakti ya!" ucap mbok Widya.
"Aamiin!" ucap Nadira sangat bersemangat.
Berbeda dengan Albert, pria itu masih tampak murung karena memikirkan bayi yang sedang digendong Nadira bukanlah anak mereka.
"Nadira kelihatan bahagia banget, semoga rahasia ini bisa terus terjaga selamanya! Saya gak bisa bayangin, seperti apa reaksi Nadira jika tahu semuanya nanti." batin Albert.
•
•
Albert dan Nadira kini telah berada di kamar mereka, tampak keduanya tengah asyik menidurkan putra mereka disana.
Albert terus memandangi wajah Nadira, namun wanita itu nampak fokus dengan Galen sehingga tak menyadari tatapan Albert ke arahnya.
"Eee sayang, saya boleh keluar dulu gak? Lagian Galen juga udah mau tidur tuh, saya takut ganggu." tanya Albert pada Nadira.
"Umm, kamu mau ngapain sih mas? Udah disini aja sama kita, Galen pengen tidur bareng papanya juga tau mas." ucap Nadira dengan nada manja.
"Iya sayang, saya ngerti. Tapi, kan nanti malam juga kita bisa tidur bareng lagi sama Galen. Untuk sekarang saya harus keluar dulu, jangan bete ya cantik!" ucap Albert seraya mencubit pipi Nadira.
__ADS_1
"Huh yaudah deh, kamu boleh keluar mas." ucap Nadira tanpa menatap wajah Albert.
Cupp!
Albert mengecup kening Nadira seraya berkata, "Makasih ya sayang!"
"Hm." Nadira berdehem pelan dengan wajah kesalnya.
Albert pun beranjak dari kasur, namun tertahan karena Nadira memanggilnya.
"Mas!" panggil Nadira.
"Ya, kenapa sayang?" tanya Albert bingung.
"Kamu kok main pergi gitu aja sih, mas? Gak mau cium atau elus Galen dulu?" ujar Nadira cemberut.
"Eee bukannya gak mau sayang, tapi kan Galen lagi tidur tuh. Kalau saya cium dia, nanti dia kebangun loh." ucap Albert.
"Iya sih, yaudah deh kamu gausah cium dia. Udah sana kamu keluar aja!" ujar Nadira ketus.
"Jangan cemberut dong sayang! Kamu senyum dulu, baru saya bisa tenang keluarnya!" pinta Albert.
"Biar apa sih mas?" ucap Nadira dengan malas.
"Udah senyum aja, gak boleh loh nolak permintaan suami!" ucap Albert.
"Iya iya.." ucap Nadira pasrah.
Akhirnya Nadira tersenyum renyah ke arah Albert sesuai permintaan suaminya itu.
Albert pun merasa senang melihatnya, ia lalu melangkah keluar dengan perlahan meninggalkan istri serta putranya disana.
Entah mengapa perasaan Albert masih belum tenang saat keluar dari kamarnya, ia khawatir jika Nadira akan mengetahui semuanya.
"Duh, saya kok gak bisa tenang gini ya?" batin Albert.
"Kak!" tiba-tiba saja ada yang memanggilnya dan membuatnya terkejut lalu menoleh ke asal suara.
"Chelsea? Kenapa?" tanya Albert penasaran.
"Aku mau bicara deh sama kakak, boleh kan?" ucap Chelsea.
"Soal apa?" Albert semakin dibuat penasaran.
"Jangan bicara disini kalau tentang Galen! Kakak gak mau Nadira dengar dan tahu semuanya, itu bisa berabe!" ucap Albert tegas.
Chelsea mengangguk tanda mengerti, barulah Albert melepaskan tangannya dari mulut Chelsea.
"Hah! Hah! Hah!" Chelsea mengambil nafas dalam-dalam setelah cukup lama tadi tangan kakaknya membekap mulutnya.
"Iya kak, aku ngerti. Gausah pake bekap mulut aku kayak gitu juga kali!" ucap Chelsea protes.
"Yasudah, ayo kita bicara di depan!" ujar Albert.
"Eee emangnya mbak Dira masih melek ya? Bukannya tadi katanya mau istirahat bareng sama Galen?" tanya Chelsea.
"Iya, dia masih melek. Cuma emang Galen udah tidur sih tadi," jawab Albert.
"Ohh, yaudah ayo kak kita ke depan sekarang! Aku banyak banget nih yang pengen ditanyain sama kakak," ucap Chelsea.
Albert mengangguk pelan, kemudian menarik tangan adiknya itu dan membawanya keluar.
•
•
Albert dan Chelsea kini berada di taman samping rumah mereka sambil duduk berdampingan.
Tampak Chelsea sudah tidak sabar ingin segera mengajukan pertanyaan kepada kakaknya itu.
"Kamu itu mau tanya apa lagi sih sama kakak? Soal Galen dan rencana kakak? Kan tadi kakak udah jelasin semuanya di rumah sakit, bareng mama juga loh tadi." tanya Albert penasaran.
"Justru itu kak, aku masih ngerasa kurang jelas aja gitu. Aku bingung deh sama kakak, kenapa kakak harus bilang ke mbak Dira kalau anaknya Vanesa itu anak dia? Kakak harusnya jujur aja dong, jangan bikin kebohongan kayak gini!" ujar Chelsea.
"Gak bisa sayang, kakak sulit ngeliat Nadira bersedih. Walau kakak tahu, nantinya kebohongan ini bisa jadi masalah besar bagi keluarga kakak. Tapi, kakak gak punya pilihan lain." kata Albert.
"Iya sih, aku sebenarnya juga gak tega kalau lihat mbak Dira sedih gitu. Ya tapi kan gak mesti kakak bohongin dia juga, kasihan tahu mbak Dira kalau tahu kenyataan bahwa Galen itu anaknya Vanesa dan anak kandungnya sendiri sudah meninggal dunia!" ucap Chelsea.
"Ya, makanya kamu jangan pernah sekali-sekali bilang atau keceplosan soal itu di depan Nadira! Awas ya kamu!" ujar Albert.
"Aku gak bakal begitu kak, tapi kan yang namanya kebohongan mau ditutupi sebaik apapun juga pasti akan terbongkar dengan sendirinya. Aku yakin, lambat laun mbak Dira bisa tahu semuanya, baik itu dari kakak atau orang lain!" ucap Chelsea.
"Ah sudahlah, jangan bahas soal itu lagi! Kepala kakak rasanya mau meledak tau gak?!" ujar Albert.
"Suruh siapa kakak pake bohong segala? Coba kalo kakak jujur, pasti kakak bakalan tenang dan gak akan ngerasa bersalah kayak gini." kata Chelsea.
__ADS_1
"Mau gimana lagi Chelsea? Kakak kan udah bilang tadi, kakak—"
"Iya kak, aku ngerti. Kakak gak bisa lihat mbak Dira sedih kan? Tapi, cara kakak itu salah tau! Lagipun, kalau misal kakak jujur juga pasti mbak Dira sedihnya gak akan lama. Toh dia bisa hamil lagi nantinya," potong Chelsea.
"Enggak, Nadira sudah gak bisa mengandung anak lagi. Itu sebabnya kakak bohong sama dia, karena kakak gak mau bikin dia kecewa." ucap Albert.
"Apa? Ma-maksud kakak??" tanya Chelsea terkejut.
"Ya gitu, dokter Fadila waktu itu bilang ke kakak bahwa terjadi masalah pada rahim Nadira. Dia gak akan mungkin bisa hamil lagi, kecuali ada kemajuan dari yang maha esa." jawab Albert.
Chelsea amat syok mendengar itu, ia menutupi mulutnya seakan tak percaya dengan itu.
"Te-terus, kakak udah kasih tahu mbak Dira belum soal ini?" tanya Chelsea gugup.
Albert mengangguk kecil lalu berkata, "Sudah. Kakak sudah beritahu Nadira sewaktu di rumah sakit kemarin, dan dia sempat syok berat lalu menangis di pelukan kakak."
"Ya Tuhan! Kenapa masalah di keluarga kakak itu gak pernah selesai-selesai sih? Selalu aja ada masalah yang menerpa," ujar Chelsea.
"Entahlah, mungkin Tuhan mau kasih karma buat kakak. Dulu itu kan kakak selalu kejam sama orang-orang, termasuk Nadira. Tapi, ini jelas gak adil buat Nadira. Dia itu kan wanita yang baik, tapi kenapa dia harus mengalami semua ini juga?" ucap Albert.
"Ya karena mbak Dira itu istri kakak," celetuk Chelsea.
Albert menatap Chelsea singkat, kemudian termenung dengan wajah sedihnya.
•
•
Singkat cerita, Albert membawa Nadira menuju makam tempat Vanesa bersemayam lantaran wanita itu ingin mendoakan Vanesa.
"Ini makam Vanesa," ucap Albert pelan.
"Iya mas, aku juga lihat kok." kata Nadira.
"Yasudah, kamu jangan lama-lama ya doanya! Saya soalnya gak bisa temenin kamu terlalu lama disini, masih ada meeting penting dengan Devano sebentar lagi." ucap Albert.
"Gapapa mas, kalau kamu mau pergi silahkan aja! Nanti biar pulangnya aku naik taksi, atau minta jemput sama pak Liam." ucap Nadira.
"Ya gak mungkin lah saya tinggalin kamu! Biarin deh saya telat meeting, daripada saya harus tinggalin kamu disini." ucap Albert.
"So sweet deh kamu!" ucap Nadira tersenyum.
Albert ikut tersenyum, kemudian mereka pun sama-sama terduduk di samping makam Vanesa dan mulai menaburkan bunga disana.
"Assalamualaikum Vanesa, ini aku Nadira. Kamu apa kabar? Semoga kamu baik-baik ya disana! Aku benar-benar masih gak nyangka kamu akan pergi secepat ini, padahal tadinya aku harap kita bisa besarkan anak kita bareng-bareng. Tapi, ternyata rencana Tuhan berbeda. Tuhan sayang sama kamu, makanya kamu dan anak kamu harus pergi dari dunia ini." ucap Nadira.
"Enggak Nadira, yang pergi itu Vanesa dan anak kamu." batin Albert.
Albert hanya bisa diam mengamati apa yang dilakukan istrinya disana, ia tak menyangka memang jika Nadira mau melakukan itu di makam wanita yang selalu jahat padanya dulu.
Setelah selesai, Nadira pun beralih menatap Albert yang tengah melamun di sebelahnya.
"Mas, kamu kok ngelamun sih? Sangking sedihnya ya lihat makam Vanesa?" tegur Nadira.
"Eh eee..." Albert tampak gugup dan bingung.
"Yaudah gapapa, wajar kok. Oh ya, terus makam anaknya Vanesa dimana mas? Aku sekalian mau doain dia juga," ujar Nadira.
"Hah??" Albert terkejut dan menganga lebar.
"Loh kenapa? Emang gak boleh kalo aku doain anak Vanesa juga?" tanya Nadira heran.
"Bu-bukan gitu, tapi..." ucap Albert terjeda.
"Tapi apa mas? Makam anaknya gak ada disini? Terus, dia dimakamin dimana dong mas? Kok gak satu tempat bareng mamanya?" tanya Nadira.
"Eee dia dimakamin disini juga kok, tepatnya di sebelah sana." jawab Albert.
Nadira langsung mengarahkan matanya ke tempat yang ditunjuk oleh Albert, tampaklah sebuah makam kecil yang tidak lain adalah tempat putrinya bersemayam.
"Ohh, jadi itu makam anaknya Vanesa?" tanya Nadira pada suaminya.
"I-i-iya sayang.." jawab Albert gugup.
"Yaudah, aku mau kesana dulu ya mas?" ucap Nadira.
Albert mengangguk pelan dan terus berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
Nadira pun beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju makam yang ia duga adalah makam anak dari Vanesa.
"Enggak sayang, itu bukan makam anak Vanesa. Tapi, makam itu adalah makam anak kita sayang." batin Albert.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1