Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Bertemu lagi dengan ayah & ibu


__ADS_3

Albert dan Nadira kini sudah berada dalam perjalanan, mereka akan menuju rumah Suhendra selaku ayah dari wanita itu. Ya Albert memang menuruti satu permintaan Nadira yang ingin menemui ayah dan ibunya.


Nadira sangat bahagia karena hari ini Albert benar-benar berhasil membuatnya gembira, ia akhirnya bisa bertemu dengan kedua orangtuanya yang sudah lama ia rindukan.


Bahkan Albert juga menawarkan pada Nadira untuk membelikan sesuatu kepada orangtuanya nanti, Nadira pun membeli baju serta keperluan lainnya yang akan ia berikan pada ayah dan ibunya di rumah nanti.


"Tuan, makasih banyak ya udah mau turutin kemauan aku!" ucap Nadira menatap wajah Albert dari samping dan tersenyum manis.


"Sama-sama Dira, anggap aja ini hadiah buat kamu karena kamu mau nurut sama saya!" ujar Albert.


"Iya tuan, aku bakal berusaha buat terima keadaan dan nurut sama tuan kok! Asalkan tuan gak kasar sama aku lagi, jujur aku takut banget kalo tuan galak sama aku!" ucap Nadira menunduk.


Albert tersenyum mendengar ucapan istrinya, entah mengapa miliknya kembali mengeras saat melihat ekspresi wajah yang menggemaskan dari dari Nadira, sepertinya juniornya sudah mulai tergila-gila pada lubang milik Nadira.


"Hey, jangan pasang wajah begitu di depan saya saat saya sedang menyetir! Apa kamu mau mengganggu fokus saya?" tegur Albert.


"Maaf tuan, saya gak bermaksud begitu! Aku cuma mau bilang apa yang ada di hati aku aja, karena aku emang gak suka kalau tuan terus kasar dan galak sama aku!" ucap Nadira.


"Yasudah, jangan bicara lagi!" bentak Albert.


"I-i-iya tuan..." ucap Nadira menurut.


Keduanya terdiam, namun Albert masih seringkali melirik ke arah wanitanya. Pria itu pun kembali berbicara dan menarik dagu Nadira dengan kasar.


"Buka baju kamu! Saya gak tahan mau pegang dada kamu yang indah itu!" pinta Albert.


"Tapi tuan, ini kan—"


"Sudah jangan banyak bantah! Lakukan saja apa yang saya perintahkan, kalau kamu tidak ingin saya menghukum kamu Nadira!" potong Albert dengan suara yang lantang.


Seketika Nadira ciut, ia paling anti dengan bentakan apalagi dari suaminya sendiri. Wanita itu pun menuruti kemauan Albert, ia mulai melepas kancing baju yang ia kenakan satu persatu sesuai dengan yang dikatakan pria itu.


Albert tersenyum seringai, ia mulai merabaa-rabaa bagian dada Nadira dengan telapak tangannya, membuat wanita itu melenguh pelan dan memejamkan mata.


"Eenngghh..."


Suara yang keluar dari mulut Nadira itu membuat Albert semakin gila, ia terus meremass gundukan Nadira yang masih terbungkus dengan dalaman itu.


"Uhh Nadira, kenyal sekali saya suka!" ucap Albert menikmati sensasi yang ia rasakan. "Sekarang buka celana kamu, supaya saya bisa menyentuhnya lagi!" sambungnya memberi perintah pada Nadira.


"Iya tuan,"


Nadira menurut saja pada Albert, ia mulai melepas kain segitiga yang menutupi bagian sensitifnya dan membiarkan Albert menikmati lubangnya dengan memasukkan dua jari sekaligus.


Ya mereka terus begitu sepanjang perjalanan, Albert memang memiliki skill mengendara yang baik, sehingga ia tak takut akan menabrak atau mengalami kecelakaan.




Tiga puluh menit berlalu, mereka kini telah sampai di depan halaman rumah Suhendra. Nadira tersenyum senang saat ia dapat kembali ke rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya itu, terlebih ia sangat merindukan sosok ayah dan juga ibunya yang telah lama tak ia jumpai.


Albert menatap wajah Nadira dari samping, ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu saat ini, ya sebuah kesenangan karena akan bertemu kembali dengan sosok ibu dan ayah. Tentunya Albert tahu betul kalau Nadira sangat merindukan kedua orangtuanya.


"Hey, ingat ya kita cuma mampir bukan tinggal selamanya disini! Jadi, kamu harus tahu waktu! Dan kalau saya sudah ajak kamu pulang, kamu harus mau gak boleh ada bantahan! Paham?" ujar Albert mendekati wajah Nadira.


"Paham tuan! Tapi, boleh kan aku main disini sampai nanti malam?" tanya Nadira.


"Ya, oke saya kasih izin! Batasnya sampai pukul delapan malam, setelah itu kita pulang karena kamu harus kembali ke rumah saya!" ucap Albert.


"Iya tuan, makasih!" ucap Nadira tersenyum.


"Yasudah, yuk turun! Jangan lupa rapihkan dulu rambut kamu, supaya ayah dan ibu kamu gak curiga sama apa yang baru saja kita lakukan di mobil tadi!" pinta Albert.


"Baik tuan!" ucap Nadira mengangguk sembari merapihkan rambutnya sesuai perintah Albert.


Lalu, Albert turun dari mobil bersamaan dengan Nadira. Wanita itu terlihat membawa beberapa plastik berisi barang belanjaan untuk ayah dan ibunya yang dibelikan oleh Albert, mereka melangkah sambil saling merangkul menuju ke depan pintu rumah.


"Ketuk pintunya!" perintah Albert pada Nadira.


Nadira mengangguk, ia menaruh sejenak kantong plastik yang ia bawa ke bawah dan mulai mengetuk pintu memanggil nama ibunya.


TOK TOK TOK...


"Ibu, ayah!" teriak Nadira.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah dalam.

__ADS_1


Ceklek...


"Nadira!"


Ya itu adalah Suhendra dan Sulastri alias kedua orang tua dari Nadira, mereka amat terkejut melihat kehadiran putri mereka satu-satunya disana yang telah lama tak dapat ditemui.


"Ya ampun sayang, akhirnya kamu pulang nak!" ucap Sulastri diiringi isak tangis.


Sulastri maju dan memeluk tubuh Nadira dengan erat sambil menangis sesenggukan, sedangkan Suhendra melirik ke arah Albert dengan sinis karena pria itulah yang sudah membuat hubungan dirinya dan putrinya menjadi renggang.


"Pak, apa kabar?" tanya Albert basa-basi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Seharusnya kamu sudah tahu, karena sejak Nadira diambil sama kamu hidup kita jadi berantakan!" jawab Suhendra penuh emosi.


"Oh gitu, bukannya bapak senang karena terbebas dari hutan dan dapat uang banyak?" ujar Albert.


"Kurang ajar kamu!" geram Suhendra.


"Tenang pak! Saya datang kesini sebagai seorang menantu yang baik hati, bukan rentenir apalagi orang jahat kok!" ucap Albert tersenyum.


Suhendra memalingkan wajahnya ke arah Nadira, ia bergantian memeluk putrinya itu setelah sang istri, sedangkan Albert tetap pada tempatnya dan hanya melihat pemandangan tersebut.


"Nadira sayang, kamu baik-baik aja kan? Gak ada yang luka atau kenapa-napa kan?" ujar Suhendra.


"Aku gapapa kok ayah, aku sehat dan aku baik-baik aja seperti yang ayah lihat! Ayah sendiri gimana? Sehat-sehat aja kan selama aku gak ada?" ucap Nadira.


"Alhamdulillah! Iya, ayah sehat nak!" ucap Suhendra.


"Yasudah Nadira, yuk masuk!" ucap Sulastri.


"Iya Bu," ucap Nadira sambil tersenyum. "Ayo tuan kita masuk!" sambung Nadira beralih menatap suaminya.


"Boleh?" tanya Albert.


"Ya boleh dong tuan! Bu, ayah, gapapa kan tuan Albert ikut ke dalam?" ucap Nadira.


"Sayang, udah yuk kita masuk aja!" ucap Sulastri.


Sulastri dan Suhendra merangkul putri mereka itu, ketiganya melangkahkan kaki secara bersamaan masuk ke dalam rumah diikuti Albert yang berjalan dari belakang dengan perlahan.


❤️


"Ayah, ibu, ini sofa nya baru ya? Kayaknya dulu gak kayak gini deh?" tanya Nadira bingung.


"Eee iya sayang, itu ayah baru ganti beberapa hari yang lalu! Gimana sayang? Lebih nyaman kan sofa nya?" jawab Suhendra sambil tersenyum.


"Iya ayah, enak buat didudukin!" ucap Nadira.


"Sayang, itu kamu bawa apa aja? Kok banyak banget sih plastiknya?" tanya Sulastri.


"Ini hadiah buat ayah sama ibu, tadi dibeliin tuan Albert di mall! Coba deh ibu lihat, ini bagus-bagus semua loh!" ucap Nadira menunjukkan barang yang baru ia beli di mall.


"Apa? Dari tuan Albert? Maaf sayang, tapi ibu gak mau terima apapun yang berkaitan dengan tuan Albert! Kamu bawa aja barang itu balik ya!" ucap Sulastri ketus.


"Loh kenapa Bu? Tuan Albert udah beliin ini mahal-mahal tau buat ibu sama ayah, masa ditolak sih?" tanya Nadira bingung.


"Sayang, asal kamu tahu aja ya, di dunia ini orang yang paling ibu benci dan sangat ibu gak mau temui, yaitu tuan Albert! Malah kalau bisa, ibu maunya dia di penjara karena udah melakukan penculikan terhadap kamu sayang! Ibu gak terima dengan itu!" jelas Sulastri.


"Bu, sudah lah jangan diperpanjang!" ujar Suhendra.


"Iya Bu, itu kan masa lalu! Lagian sekarang aku juga udah jadi istrinya tuan Albert, berarti tuan Albert tuh menantu ibu juga! Ibu gak boleh kayak gitu sama suami aku!" ucap Nadira.


"Sayang, kamu ini udah diracuni apa gimana sih sama tuan Albert? Bisa-bisanya kamu malah belain orang jahat itu!" ujar Sulastri heran.


"Ya enggak lah Bu!" ucap Nadira.


Albert hanya terdiam sembari mengusap dagunya, ia membiarkan saja istrinya berbincang dengan kedua orangtuanya disana, sekaligus ia juga ingin tahu sejauh mana Nadira akan membelanya.


"Yaudah, sebaiknya ibu bikinin minuman buat Nadira dan tuan Albert!" ucap Suhendra.


"Iya pak, sebentar ya sayang!" ucap Sulastri.


Sulastri beranjak dari sofa, ia berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minum. Namun, matanya sempat melirik sinis ke arah Albert saat ia melewatinya, rasa kebencian yang amat sangat itu terus menguasai hatinya.


Sementara Suhendra berusaha mencairkan suasana, ia menghibur putrinya yang cemberut itu dengan cara menanyakan mengenai barang-barang yang dibelinya di mall tadi.


"Sayang, kamu beli apa aja di mall tadi? Ada yang buat ayah enggak?" tanya Suhendra.

__ADS_1


"Eh ayah, ada dong! Tadi aku pilihin sendiri buat ayah, eee tapi emang ayah mau terima barang dari tuan Albert?" jawab Nadira.


"Gapapa sayang, asal yang ngasih kamu pasti ayah terima!" ucap Suhendra.


"Makasih ayah!" ucap Nadira tersenyum.


"Loh kebalik dong, harusnya ayah yang bilang makasih sama kamu!" ucap Suhendra.


Tiba-tiba saja, ponsel milik Albert berdering membuat pria itu harus izin sejenak pada Nadira untuk mengangkat telpon.


"Nadira, pak, saya izin angkat telpon sebentar ya?" ucap Albert.


"Iya tuan," ucap Nadira dan Suhendra bersamaan.


Albert pun mengangkat telponnya disana.


📞"Halo Ken! Ada apa kamu telpon saya? Gak tahu apa kalau saya lagi di rumah mertua?" tanya Albert sedikit kesal.


📞"Maaf tuan kalau saya mengganggu anda! Tapi, ada masalah besar di kantor yang perlu anda tangani tuan, ini menyangkut keuangan perusahaan yang menghambat biaya produksi kita tuan!" ucap Keenan.


📞"Apa maksud kamu? Mengapa bisa perusahaan kita mendapat masalah seperti itu?" tanya Albert.


📞"Menurut kabar yang saya dapatkan dari Vanesa, sekretaris bapak. Sepertinya masalah ini berawal dari keraguan para investor tentang projek yang sedang kita kerjakan, terbukti mereka menyetop pembiayaan produksi kita di tengah jalan tanpa bicara lebih dulu!" jawab Keenan.


📞"Sialan! Yasudah, saya akan ke kantor sekarang supaya masalah ini bisa lebih jelas! Kamu terus pantau keadaan di lapangan, jangan sampai produksi kita terhenti gitu aja!" ucap Albert.


📞"Baik tuan!" ucap Keenan patuh.


Tuuutttt...


Albert mematikan teleponnya, ia tampak kesal dan kebingungan setelah mendapat kabar dari Keenan.


"Ada apa tuan?" tanya Nadira penasaran.


"Gak kok, cuma ada masalah sedikit di kantor! Nadira, kamu gapapa kan kalau saya tinggal dulu ke kantor? Kamu disini aja, nanti saya jemput kamu lagi kalau masalahnya udah selesai!" ucap Albert.


"Oh gitu, ya gapapa kok tuan! Aku juga masih pengen sama ayah dan ibu disini, tuan hati-hati ya di jalan!" ucap Nadira.


"Iya, yaudah saya pergi ya? Pak, saya pamit dulu!" ucap Albert pamitan pada istri dan mertuanya.


"Silahkan tuan Albert!" ucap Suhendra.


Albert beranjak dari sofa, kemudian pergi keluar dengan tergesa-gesa. Sedangkan Nadira serta ayahnya masih berada disana.


"Ada masalah apa ya kira-kira?" batin Nadira.




Albert telah sampai di kantornya, ia langsung menemui Vanesa untuk bertanya mengenai kejelasan tentang masalah tersebut. Biar bagaimanapun, Albert tak terima jika produksinya kali ini terhambat karena kesalahpahaman.


Vanesa terlihat kaget saat Albert memasuki ruangannya begitu saja dan langsung mendekatinya dengan wajah emosi, ya karena ia tak merasa pernah menghubungi Albert dan meminta pria itu datang kesana.


"Pak Albert? Ada apa bapak masuk ke ruangan saya sambil emosi gitu?" tanya Vanesa bingung.


"Vanesa, kamu jelasin ke saya sekarang gimana bisa ada masalah besar seperti itu di kantor?! Keenan tadi udah lapor ke saya, katanya investor kita menghentikan pengiriman dana karena mereka ragu dengan proyek kita kali ini! Bagaimana bisa itu terjadi Vanesa?" ujar Albert.


"Maaf pak! Untuk itu saya juga kurang tahu, karena mereka tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau mereka akan menghentikan pendanaan terhadap produksi kita, pak!" ucap Vanesa.


"Aaarrgghh sial! Kamu sudah coba hubungi salah satu dari mereka dan tanya soal ini ke mereka?" tanya Albert.


"Sudah pak, tapi hingga sekarang mereka tidak bisa dihubungi!" jawab Vanesa.


"Kurang ajar! Kalau ini terus terjadi, bisa-bisa produksi kita terhenti di tengah jalan dan karyawan bisa ngamuk karena tidak digaji! Kamu tolong cari jalan keluar atas masalah ini, Vanesa! Saya andalkan kamu kali ini!" ucap Albert.


"Baik pak! Saya juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu perusahaan bapak, tapi saya tidak janji ini semua akan berhasil pak!" ucap Vanesa sedikit ragu.


"Ya, saya tau ini tidak mudah bagi kamu! Tapi gapapa, yang penting kita usaha dulu! Soal hasil itu urusan nanti, makasih ya Vanesa kamu sudah mau bantu saya!" ucap Albert.


"Sama-sama pak, itu sudah tugas saya!" ucap Vanesa tersenyum.


Cupp!


Pria itu tiba-tiba menarik tengkuk Vanesa dan mengecup bibir sekretaris cantiknya tersebut dengan sekilas.


...~Bersambung~...

__ADS_1


^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^


__ADS_2