
Albert tiba di kantornya, pria itu langsung menuju ruang tempat Carolina berada.
Sangking seriusnya, Albert sampai tak menghiraukan sapaan dari para karyawan disana dan terus melangkah.
Tentu saja semua karyawan itu merasa bingung dengan sikap Albert yang begitu dingin kali ini, tak biasanya memang Albert mengacuhkan mereka.
Hal itu membuat mereka berpikir bahwa sedang terjadi masalah lagi di perusahaan tersebut.
Namun, Albert tidak perduli dengan itu. Dia lebih mencemaskan Carolina yang ingin mengundurkan diri dari sana.
Albert tak ingin semua itu terjadi, ia merasa sangat membutuhkan Carolina untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah perusahaan.
"Saya bersumpah, siapapun yang sudah memengaruhi Carolina pasti akan saya hajar dia!" batin Albert.
Sesampainya di depan ruangan sekretaris itu, Albert pun langsung menghela nafas dan berniat menarik kenop pintu untuk menemui Carolina di dalam sana.
Ceklek...
Pintu terbuka, Albert tercengang saat mengetahui Carolina sudah berdiri di depannya membawa seluruh barang-barang miliknya disana.
Tak hanya itu, Albert juga menemukan Keenan ikut berada di dalam ruangan tersebut.
"Lina? Kamu mau kemana? Ini masih jam kerja, kok kamu sudah beberes aja sih? Terus ngapain juga kamu pake bawa barang-barang ini? Tinggal saja semuanya disini, aman kok!" tanya Albert.
"Kebetulan bapak datang, saya ingin mengajukan pengunduran diri. Saya tidak mau lagi bekerja di kantor ini, dan saya juga sudah siapkan surat pengunduran diri saya untuk segera saya berikan ke pihak HRD." kata Carolina.
"Kamu bicara apa sih, Lina? Saya gak ngerti deh yang kamu bilang barusan itu, coba kamu jelasin ke saya secara perlahan!" ucap Albert.
"Maaf pak! Tapi, saya tidak punya waktu untuk menjelaskan itu. Saya rasa itu semua sudah jelas, dan bapak harusnya bisa paham kalau saya ingin resign dari kantor ini!" ujar Carolina.
"Kenapa kamu ingin resign?" tanya Albert dingin.
"Simpel aja pak, saya masih punya harga diri dan saya gak mau diperlakukan buruk di kantor ini!" jawab Carolina.
"Maksud kamu apa sih? Jujur deh saya gak ngerti sama ucapan kamu barusan!" ujar Albert.
"Pak, sepertinya Carolina sudah dihasut oleh Vanesa. Tadi saya tidak sengaja lihat Vanesa baru saja keluar dari kantor ini, dan dia terlihat sangat gembira. Saya yakin kalau Vanesa lah dalang dari semua ini, pak!" ucap Keenan.
"Apa? Vanesa? Bagaimana bisa dia masuk kesini lagi? Saya kan sudah minta security buat cegah wanita itu masuk kesini," ujar Albert heran.
"Itu yang saya juga heran pak, saya gak ngerti kenapa para security di bawah bisa kecolongan. Bahkan mereka sampai gak tahu kalau Vanesa datang kesini," ucap Keenan.
"Sialan! Saya akan urus mereka nanti! Untuk saat ini, kamu tidak boleh pergi kemana-mana Lina! Saya pastikan kamu tetap bekerja disini sebagai sekretaris saya!" tegas Albert.
"Gak bisa gitu dong pak, saya—"
"Saya tidak mau dengar apapun alasan kamu! Intinya kamu tetap bekerja disini sampai batas waktu yang sudah ditentukan dalam perjanjian kontrak kita, ingat Lina kamu tidak bisa resign begitu saja dari perusahaan ini! Kalau kamu tetap nekat melakukan itu, maka saya bisa saja menuntut kamu di pengadilan!" potong Albert.
Carolina terdiam, ia benar-benar dibuat bingung saat ini harus melakukan apa.
Di satu sisi, Carolina takut jika kejadian yang menimpa Vanesa ikut terjadi pada dirinya. Tapi, disisi lain Carolina juga tak mau kalau Albert sampai menuntutnya di pengadilan.
"Sudah, kamu masuk ke dalam! Saya akan jelaskan semua yang terjadi pada Vanesa, dan kamu tidak perlu takut tentang itu!" ujar Albert.
"Iya Carol, kamu dengarkan dulu semuanya! Jangan langsung ambil keputusan hanya dengan mendengar perkataan dari satu pihak!" ucap Keenan.
"Baiklah, aku mau bicara." kata Carolina.
Albert tersenyum lega, mereka bertiga pun melangkah masuk dan berbincang di dalam ruangan tersebut.
•
•
"Nadira sayang..." Abigail duduk di samping Nadira dan menaruh kepala wanita itu pada pundaknya sembari mengusapnya lembut.
"Eh mama, ada apa?" tanya Nadira sedikit kaget dan menatap wajah mama mertuanya itu.
"Kamu lagi ngapain sayang? Kok ngelamun terus daritadi mama lihat? Pasti ada yang lagi kamu pikirin ya sayang, cerita dong sama mama!" ucap Abigail.
"Enggak kok mah, aku baik-baik aja." kata Nadira.
"Kamu jangan bohongi mama, sayang! Mama tahu kamu sekarang lagi mikirin sesuatu, udah cerita aja sama mama sayang!" ucap Abigail.
Nadira memalingkan wajahnya, lalu menunduk dengan kondisi cemberut.
Abigail pun menarik dagu Nadira, meminta Nadira untuk menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Sayang, ayo cerita dong sama mama! Kamu gak perlu cemas, mama pasti bakal bantu kamu kok buat selesaikan masalah kamu! Tapi, ya kamu harus cerita dulu sama mama!" ucap Abigail.
__ADS_1
"Iya mah, aku ini cuma bingung aja kenapa ya Chelsea kayaknya gak suka banget sama aku." ucap Nadira dengan suara pelan.
"Maksud kamu gimana sayang? Emangnya apa yang udah dilakuin Chelsea ke kamu?" tanya Abigail bingung.
"Tadi waktu aku baru sampai disini, aku gak sengaja ketemu sama Chelsea di depan. Terus, dia kelihatannya sengaja senggol bahu aku sampai aku hampir jatuh." jelas Nadira.
"Apa? Benar Chelsea ngelakuin itu ke kamu sayang?" ujar Abigail terkejut.
"Benar mah, aku juga gak nyangka Chelsea bisa begitu sama aku. Padahal seingat aku, aku gak pernah ada salah sama Chelsea." kata Nadira.
Abigail langsung memeluk Nadira dengan erat, mengusap kepala bagian belakang wanita itu sambil berusaha menenangkannya.
"Sabar ya sayang! Mama nanti akan coba bicara sama Chelsea tentang itu," ucap Abigail.
"Ja-jangan mah! Aku takut Chelsea malah semakin benci sama aku, nanti dia ngiranya aku udah ngadu sama mama dan minta mama buat tegur dia. Aku gak mau itu terjadi mah, aku pengennya Chelsea bisa terima aku disini!" ucap Nadira.
"Gapapa sayang, gausah cemas ya! Kalau gitu mama nanti bicara aja sama Albert, siapa tahu kalau ditegur sama abangnya, Chelsea bisa ngerti dan gak akan begitu lagi." kata Abigail.
"Tapi mah, kalau Chelsea justru marah-marah sama aku lagi gimana?" tanya Nadira cemas.
"Kamu jangan mikir begitu dulu! Kita lihat aja apa yang akan terjadi nanti, pokoknya mama bakal jagain kamu dan calon cucu mama ini sayang!" jawab Abigail sambil tersenyum.
"Makasih ya mah!" ucap Nadira.
"Sama-sama, sayang. Yaudah, kamu istirahat aja gih di kamar! Ini kan udah siang, waktunya kamu buat istirahat." kata Abigail.
"Eee kayaknya enggak deh, mah. Aku mau bantu pelayan buat siapin makan siang aja. Sekalian abis itu aku juga mau datang ke kantor mas Albert, dan antar makanan itu." ujar Nadira.
"Kamu yakin sayang? Memangnya kamu gak kecapekan?" tanya Abigail cemas.
"Enggak dong mah, aku malah senang banget kalau bisa anterin makan siang buat mas Albert di kantornya." jawab Nadira tersenyum.
"Yaudah deh, nanti mama bantu kamu juga ya." kata Abigail.
"Iya mah.." Nadira mengangguk pelan, lalu kembali membenamkan wajahnya di bahu Abigail.
Mereka terus berpelukan disana, dengan Abigail yang masih tak menyangka kalau putrinya alias Chelsea bisa berbuat seperti itu kepada Nadira.
•
•
Sontak Darius menoleh dan tersenyum ke arah Chelsea sembari beranjak dari kursinya.
"Hai sayang! Datang juga kamu." kata Darius menyambut kehadiran ponakannya itu.
"Iya paman, maaf ya aku lama! Soalnya tadi ada masalah dulu di rumah, biasalah si cewek kampung itu belagu banget dan udah mulai sok berkuasa di rumah sekarang." ucap Chelsea.
"Gapapa, yuk duduk! Kamu pesan aja apa yang kamu suka, hari ini paman yang traktir!" ucap Darius mengajak Chelsea duduk.
"Yang bener om?" tanya Chelsea.
"Iya sayang.." jawab Darius sambil tersenyum.
"Asik! Makasih ya om!" ucap Chelsea.
"Sama-sama. Udah yuk duduk!" ujar Darius.
Chelsea mengangguk cepat, lalu duduk di kursi kosong yang tersedia bersama Darius.
Gadis itu memesan minum serta cemilan untuk menemani obrolan mereka kali ini.
"Om, ada apa sih om minta aku buat datang kesini?" tanya Chelsea penasaran.
"Nanti aja om kasih tahu, sekalian kalau orang yang kita tunggu datang." kata Darius.
"Loh, emang om lagi nunggu siapa?" tanya Chelsea keheranan.
"Morning semua!" Darius dan Chelsea terkejut mendengar suara tersebut, mereka kompak menoleh ke asal suara untuk mencari tahu siapa yang menyapa mereka.
"Itu dia sudah datang..." ucap Darius.
"Kamu? Kamu kan sekretarisnya kak Albert, ngapain paman ajak dia buat ngobrol sama kita?" ujar Chelsea bingung.
"Iya, halo Chelsea! Salam kenal ya, namaku Vanesa. Dan satu lagi, aku ini udah enggak kerja di perusahaan kakak kamu karena aku dipecat." kata Vanesa mengenalkan diri.
"Benar Chelsea, Vanesa ini sudah dipecat dari kerjaannya oleh kakak kamu itu. Dan sebabnya tidak lain tidak bukan adalah karena pengaruh dari Nadira, ipar kamu." sahut Darius.
Chelsea masih tak mengerti dengan semua penjelasan pamannya, ia hanya bengong dan sedikit menganga coba mencerna semua itu.
__ADS_1
"Sudah lah, ayo kita lanjut duduk! Vanesa, bicaranya sambil duduk yuk!" pinta Darius.
"Iya paman," ucap Chelsea dan Vanesa bersamaan.
Lalu, mereka pun kembali duduk disana.
Tak lama pesanan mereka tiba, Darius langsung memulai obrolan mereka kali ini dalam rangka untuk menyingkirkan Nadira dari kehidupan Albert.
"Nah Chelsea, Vanesa ini sedang butuh sekali bantuan kita. Oleh karena itu, kamu bersedia kan membantu dia untuk mendapatkan kembali pekerjaan dia di kantor Albert?" ucap Darius.
"Ya aku mau-mau aja sih, tapi masalahnya kak Albert bakal nurut sama aku atau enggak. Kan paman tahu sendiri, sekarang itu kak Albert udah banyak berubah sejak kedatangan Nadira." kata Chelsea.
"Itu dia sayang, kamu harus pintar-pintar merayu Nadira agar mau membujuk Albert kembali menerima Vanesa di kantornya." kata Darius.
"Hah? Masa aku harus pura-pura baik sama Nadira sih paman? Aku gak mau ah!" ujar Chelsea.
"Chelsea..." Darius tersenyum menggenggam dua tangan ponakannya sembari sedikit memajukan tubuhnya lebih dekat.
•
•
Sore harinya, Albert pulang bersama Keenan setelah mereka berhasil menyelesaikan masalah mengenai Carolina.
Albert merasa lega saat ini karena Carolina tidak jadi mengundurkan diri setelah mendengar semua penjelasan darinya di kantor tadi.
"Tuan, Alhamdulillah ya Carol tidak jadi resign dari kantor! Saya tadi sudah bingung banget harus gimana lagi buat tahan Carolina, untung aja tuan bisa cepat datang!" ucap Keenan tersenyum.
"Iya Keenan, saya juga takut kehilangan Lina. Bukan apa-apa, tapi disaat sekarang ini mencari sosok sekretaris yang bisa dipercaya itu sangat sulit. Makanya saya lebih memilih mempertahankan Carolina di kantor saya, daripada harus melepaskan dia." kata Albert.
"Itu dia tuan, semoga aja Carolina bisa terus bekerja dengan damai ya tuan!" ucap Keenan.
"Kalau kita ingin itu terjadi, kita harus perketat penjagaan di kantor! Tidak boleh sampai kecolongan lagi seperti tadi, karena Vanesa itu benar-benar licik dan jago menghasut orang untuk masuk dalam perangkapnya!" ucap Albert.
"Seperti tuan ya waktu itu?" ujar Keenan terkekeh.
"Maksud kamu apa? Memangnya saya kenapa?" tanya Albert langsung berubah sinis.
"Eee gapapa tuan, abaikan aja! Anggap aja yang tadi saya omongin itu gak penting, lebih baik sekarang kita fokus cari keberadaan Vanesa deh tuan!" ucap Keenan.
"Pandai sekali kamu mengalihkan pembicaraan! Yasudah, coba sekarang kamu hubungi asisten pak Rio dan atur jadwal pertemuan saya dengan beliau!" perintah Albert.
"Baik tuan! Jadi, tuan akan meminta bantuan pak Rio dalam mencari Vanesa saat ini?" tanya Keenan melirik ke arah bosnya.
"Tentu saja. Biar gimanapun, Rio itu detektif yang handal dalam menyelidiki sesuatu. Saya yakin dia bisa menemukan lokasi Vanesa berada saat ini!" jawab Albert penuh keyakinan.
"Ya, tuan memang benar! Buktinya waktu itu pak Rio berhasil melacak keberadaan Bu Nadira, ya kan tuan?" ucap Keenan.
"Iya," ucap Albert singkat.
Albert langsung mengalihkan pandangan menatap keluar kaca mobil, entah mengapa pikirannya saat ini jadi teralihkan pada sosok Nadira.
"Kenapa tiba-tiba saya jadi kepikiran sama Nadira ya? Ahh otak saya memang sudah diracuni oleh wajah wanita itu, memang luar biasa pesonanya!" gumam Albert dalam hati.
Melihat Albert senyum-senyum sendiri begitu, Keenan pun merasa heran dan langsung menegurnya.
"Tuan! Tuan sadar tuan!" ujar Keenan dengan nada tinggi.
"Haish, kamu itu kenapa sih Keenan? Ada masalah apa sampai kamu harus berteriak begitu?" ujar Albert kesal.
"Maaf tuan! Abisnya tadi tuan senyum-senyum sendiri sambil lihat keluar kayak orang gila, makanya langsung saya tegur biar gak kebiasaan." kata Keenan.
"Kurang ajar kamu! Kamu samain saya sama orang gila? Memangnya ada orang gila yang sekaya dan setampan saya, ha?" ucap Albert.
"Tidak ada tuan," ucap Keenan pelan.
"Yasudah, lanjut saja nyetirnya!" pinta Albert.
"Baik tuan! Eh tapi, itu di depan ada klinik kejiwaan loh tuan. Tuan yakin gak mau mampir dulu buat diperiksa? Siapa tahu kan tuan ada masalah sama kejiwaannya," ucap Keenan.
"Sekali lagi kamu bicara begitu, saya tidak akan merestui hubungan kamu dengan Chelsea!" ancam Albert dengan mata melotot.
"A-ampun tuan! Saya cuma bercanda, jangan begitu lah tuan!" ucap Keenan ketakutan.
Albert terdiam dan melipat kedua tangannya, sedangkan Keenan tampak cemas sembari menggaruk-garuk kepalanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1