
Ceklek..
Albert langsung membuka pintu kamar Vanesa dan melangkah masuk ke dalamnya begitu saja.
Terlihat Vanesa tengah bersama papanya disana, mereka berdua menoleh secara bersamaan ke arah Albert dengan wajah bingung.
"Albert? Kenapa kamu datang gak pake ketuk pintu dulu?" ucap Harrison.
Praaangg...
"Gausah banyak bicara ya anda!" ucap Albert sembari membanting vas bunga ke lantai.
"Apa-apaan kamu Albert? Mau bikin putri saya dan saya jantungan, ha?!" geram Harrison.
Albert tersenyum smirk, menatap Harrison dan Vanesa secara bergantian.
"Apa yang sedang kalian rencanakan pada saya? Katakan sekarang, atau saya akan melakukan tindakan yang buruk kepada kalian berdua disini!" ucap Albert mengancam mereka.
Harrison melongok lebar sambil melirik ke arah putrinya, mereka terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Albert barusan.
"Kenapa diam ha??!!" bentak Albert.
"Kalau saya tanya, dijawab! Bukannya malah diam aja kayak gini, paham gak?!" sambungnya.
"Sabar Albert! Kamu gak perlu marah-marah begitu dong, kamu kan bisa tanya baik-baik ke kita gausah pake ngegas kayak gitu! Vanesa itu lagi sakit, kamu paham dong sama kondisinya!" ujar Harrison.
"Saya gak bisa bersikap baik-baik lagi sama kalian berdua, karena kebaikan saya justru tidak dihargai oleh kalian berdua! Saya sudah peringati kalian untuk tidak keluar dari sini, tapi kalian masih saja bandel dan gak mau dengerin saya!" ucap Albert.
"Ohh, kamu marah sama kita karena kita keluar dari rumah ini? Itu kan sudah dibahas waktu itu, gak perlu lah kamu bahas lagi!" ucap Harrison.
"Ya memang sudah, tapi kalian masih bandel aja dan gak mau nurut sama saya. Buktinya kemarin kalian pergi lagi kan dari sini, apa yang kalian lakukan sebenarnya di luar?" ucap Albert.
"Bicara apa sih kamu Albert? Kita gak ada keluar dari sini kok kemarin," elak Harrison.
"Jangan mengelak anda pak Harrison! Saya tahu kalau kalian berdua keluar dari tempat ini, jadi kalian jujur saja dan bilang ke saya apa maksud kalian bertindak seperti itu sama saya! Kenapa kalian selalu membangkang, ha?!" tegas Albert.
"Cukup ya Albert! Sudah cukup kamu bertindak seenaknya sama kami, biar gimanapun kami juga berhak mendapat kebebasan!" ucap Harrison.
"Ohh, anda mau kebebasan? Baiklah, saya akan berikan kebebasan itu untuk kalian. Tapi, kalian juga harus ingat kalau saat ini anak Vanesa ada sama saya." ucap Albert.
"Lalu apa hubungannya?" tanya Harrison.
"Saya bisa saja lakukan hal yang buruk sama dia, saya akan buka rahasia kita di depan Nadira dan dengan begitu Nadira pasti akan membenci putra Vanesa. Silahkan kalau kalian mau keluar dari sini, sekalian saja kalian bawa anak itu dan jangan minta bantuan saya lagi!" ucap Albert.
"Hahaha, dengar ya Albert, dari awal yang membuat perjanjian itu kamu, bukan kami. Jadi, yang paling menyesal jika perjanjian itu selesai ya kamu sendiri lah. Jangan harap kita bakal takut dengan ancaman kamu, Albert!" ucap Harrison.
Albert justru terdiam, kata-kata Harrison memang ada benarnya juga bahwa jika ia membatalkan perjanjian itu, maka ialah yang paling menyesal.
"Sialan orang ini! Kenapa malah jadi saya yang terpojok sekarang?" batin Albert.
•
•
Praaangg...
Akibatnya, guci tersebut pun pecah dan berserakan di lantai.
"Hah??" suster Alra terkejut hebat disertai mulut terbuka lebar.
"APA-APAAN INI...??!!" teriak Abigail dari tangga.
Mereka berdua kompak menoleh, menatap Abigail penuh ketakutan.
"Sus, gimana dong ini?" tanya Galen panik.
"Tenang ya den!" ucap suster Alra.
"Galen? Kamu itu kenapa sih bikin ulah terus? Gak bisa apa sehari aja kamu itu gak nakal? Asal kamu tahu ya, guci ini guci kesayangan saya dan saya gak suka kamu pecahin guci ini!" bentak Abigail.
"Ma-maaf nek!" ucap Galen sembari bersembunyi di pelukan suster Alra.
"Jangan panggil saya nenek! Saya ini bukan nenek kamu, dan kamu juga bukan cucu saya! Kamu itu cuma anak nakal yang selalu bikin saya kesal!" ucap Abigail penuh emosi.
"DASAR ANAK PELAKOR!!" umpat Abigail.
"Apa mah??" Abigail terkejut dengan suara Nadira yang muncul dari depannya.
Nadira langsung melangkah maju mendekati Abigail dan putranya dengan wajah bingung.
"Maksud mama bilang begitu apa?" tanya Nadira.
"Nadira? Kamu sudah pulang sayang? Gimana kuliahnya, lancar kan?" ucap Abigail berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mama jangan alihin topik ya! Jawab pertanyaan aku tadi mah, apa maksud mama bilang kalau Galen ini anak pelakor?! Aku ini kan bukan pelakor mah, kenapa mama bilang gitu?" ujar Nadira.
__ADS_1
Abigail terdiam bingung, ia tak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada Nadira.
Abigail benar-benar menyesal telah mengatakan itu kepada Galen, ia memegangi mulutnya sendiri dengan tubuh gemetar.
"Mah, jawab pertanyaan aku mah!" pinta Nadira.
"Iya iya sayang, tapi kita jangan bicara disini ya! Kamu ikut mama ke taman samping sekarang, kita bicara disana!" ucap Abigail.
Nadira melirik sekilas ke arah putranya, lalu mengangguk pelan menyetujui perkataan Abigail.
Abigail dan Nadira pun langsung pergi dari sana, mereka hendak berbicara di taman samping.
Sementara Galen tetap terdiam disana bersama suster Alra, Galen tampak ketakutan dan masih bingung mengapa neneknya bicara seperti tadi.
"Sus, nenek kenapa ya bilang gitu sama aku? Emangnya aku ini anak pelakor? Terus, pelakor itu apa sih sus?" tanya Galen kebingungan.
"Umm, bukan sayang. Kamu gausah mikir yang enggak-enggak dulu! Mungkin tadi nenek kamu itu lagi emosi, makanya lain kali den Galen dengerin kata suster ya! Kalau suster bilang udahan, ya udahan jangan diterusin!" ucap suster Alra.
"Iya sus, aku minta maaf! Aku nyesel banget udah bikin nenek marah, semoga aja nenek gak marah juga sama mama! Kasihan mama kalau kita omel nenek gara-gara aku!" ucap Galen.
"Iya, semoga enggak terjadi ya!" ucap suster Alra.
•
•
Nadira dan Abigail kini telah berada di taman samping rumah itu, Abigail langsung duduk di bangku yang tersedia untuk berpikir sejenak.
Sementara Nadira hanya berdiri di sebelah Abigail, menatap terus ke arah mama mertuanya itu sembari melipat kedua tangan di depan.
"Mah, mama coba jelasin ke aku apa maksud mama bicara seperti tadi sama Galen! Mama mau sebut aku pelakor? Atau ada maksud lain?" tanya Nadira penasaran.
"Nadira sayang, kamu duduk dulu sini! Kita bicara baik-baik ya cantik!" ucap Abigail.
Nadira menghela nafas sejenak, kemudian duduk di samping Abigail dan menaruh tasnya di atas paha.
"Udah kan mah?" ucap Nadira singkat.
"Iya Nadira, sekarang mama akan jelaskan semuanya ke kamu." kata Abigail.
"Oke! Aku gak sabar pengen dengar penjelasan mama, apa maksud mama bilang begitu ke Galen? Dan kenapa juga mama selalu kasar sama Galen?" tanya Nadira penasaran.
"Eee..." Abigail terlihat bingung dan masih belum tahu apa yang akan ia jelaskan pada Nadira.
Melihat mamanya hanya diam, Nadira pun dibuat penasaran dan coba menebak apa sebenarnya yang disembunyikan Abigail darinya.
"Mah, mama kenapa diam aja? Katanya mama mau jelasin semuanya sama aku, tapi kok mama malah diam? Ini ada apa sih sebenarnya? Mama sembunyiin apa dari aku?" tanya Nadira bingung.
"Gak ada kok sayang, mama gak sembunyiin apa-apa dari kamu." elak Abigail.
"Ayolah mah! Kenapa sih mama selalu ngelak? Jelasin aja semuanya ke aku!" pinta Nadira.
"Mama gak ngelak sayang, emang mama gak sembunyiin apa-apa kok dari kamu. Tadi itu mama cuma kebawa emosi sama Galen, abisnya dia pecahin guci kesayangan mama. Mama gak ada maksud buat sebut kamu sebagai pelakor, dan juga gak ada maksud lain." jelas Abigail.
"Mama bohong! Kalau emang mama cuma marah sama Galen, seharusnya mama gak perlu pake sebut dia anak pelakor! Itu kan sama aja mama bilang aku pelakor, padahal nyatanya bukan. Aku ini istri sahnya mas Albert, mah." ucap Nadira.
"Iya, mama tahu. Mama kan juga gak bilang kamu pelakor sayang, yang pelakor itu bukan kamu, tapi si Vanesa sekretaris Albert." ucap Abigail.
"Terus, maksud mama bilang Galen anak pelakor itu apa? Galen itu kan anak aku mah, bukan anaknya Vanesa. Atau mungkin ada sesuatu yang aku gak tahu?" tanya Nadira.
"Gak ada kok, ya memang Galen itu anak kamu, bukan Vanesa." jawab Abigail.
Nadira memalingkan wajahnya seraya menghela nafas singkat, ia merasa kalau mamanya memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Yaudah, aku mau ke kamar dulu. Aku masih bingung apa maksud mama sebenarnya, tapi gak ada gunanya juga aku tetap disini. Mama juga gak bisa beri aku kejelasan," ucap Nadira kesal.
Akhirnya Nadira bangkit dari duduknya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Abigail.
"Duh, Nadira kelihatannya marah." batin Abigail.
•
•
Malam harinya, Keenan membawakan segelas susu putih hangat ke kamar adiknya seperti biasa.
Tampak Celine masih mengerjakan tugas disana, ia menguap menahan kantuk yang mulai menyerang.
"Hai sayang!" ucap Keenan tersenyum lebar.
Celine terkejut dan menoleh ke arah kakaknya, ia membalas senyum sang kakak dengan senyuman manisnya.
"Eh kakak? Ngapain?" tanya Celine bingung.
"Iya sayang, ini kakak bawain susu buat kamu. Kamu minum dulu ya susunya, supaya kamu bisa lebih segar dan gak ngantuk lagi. Tadi aja kakak lihat kamu ngantuk begitu," jawab Keenan.
__ADS_1
"Ohh, makasih ya kakakku yang ganteng! Iya nih, aku emang agak ngantuk. Aku pengen tidur, tapi tugasnya belum selesai. Soalnya besok harus presentasi di depan kelas, jadi kalau gak kelar sekarang bisa gawat deh." ucap Celine.
"Iya cantik, yaudah kamu minum aja nih! Siapa tahu setelahnya kamu bisa lebih segar dan gak ngantuk lagi, yuk minum!" ucap Keenan.
"Iya kak," ucap Celine tersenyum dan mengangguk singkat.
Celine segera meminum susu hangat tersebut sampai tersisa setengah, sedangkan Keenan tampak menarik kursi dan duduk di sebelah Celine sambil terus memandangi adiknya tersebut.
"Ah enak kak!" ucap Celine.
"Kamu itu kebiasaan deh, kalo minum susu pasti suka tumpah-tumpah begitu. Sini biar kakak bantu bersihin!" ucap Keenan.
Celine terkejut saat Keenan mengusap air susu yang menempel di bibirnya menggunakan lidahnya.
"Hah? Kakak barusan ngapain sih?" tanya Celine keheranan.
"Gak kok, anggap aja kakak juga minum susu. Tapi, yang barusan tuh rasanya lebih enak daripada susu di gelas." jawab Keenan tersenyum smirk.
"Haish, kakak mah ada-ada aja!" ujar Celine.
"Oh ya, besok pulang kuliah kamu ikut sama kakak ya!" pinta Keenan.
"Kemana?" tanya Celine penasaran.
"Kakak mau daftarin nama kita di KUA, karena sebentar lagi kan kita bakal nikah. Kakak udah gak sabar buat bersanding berdua sama kamu di pelaminan," jawab Keenan.
"Apa? Kakak serius? Beneran kakak mau nikahin aku?" tanya Celine terkejut bukan main.
"Ya iyalah, masa iya kakak bohong? Kakak kan udah sampe putusin Chelsea loh, apa itu masih kurang serius?" jawab Keenan.
"Aku kan cuma tanya," ucap Celine cemberut.
"Iya sayang, gapapa kok. Maaf ya tadi kakak ngegas!" ucap Keenan seraya mencubit pipi adiknya.
"Iya kak, aku maklumin kok. Tapi, ini benar besok kakak mau ajak aku ke KUA?" ujar Celine.
"Kamu masih meragukan ucapan kakak? Kakak ini cinta banget sama kamu, makanya kakak mau kita berdua segera menikah!" ucap Keenan serius.
"Apa gak kecepatan kak? Aku kan masih kuliah, kenapa gak nunggu aku selesai kuliah dulu?" tanya Celine.
"Gak perlu, kan kamu bisa lanjut kuliah setelah kita nikah nanti. Yang penting kakak sudah nikahin kamu, jadi kamu resmi jadi milik kakak dan gak ada yang bisa rebut kamu dari kakak." jawab Keenan.
"Umm, yaudah deh terserah kakak. Aku sebagai adik yang baik ngikut aja kemauan kakak," ucap Celine.
"Gadis pintar!" puji Keenan.
Celine pun membenamkan wajahnya di bahu sang kakak, ia merasa senang bisa merasakan kehangatan pelukan dari kakaknya lagi, walau ia masih belum mengerti mengapa Keenan tetap kekeuh ingin menikahinya.
•
•
Albert keluar dari kamar mandi, melihat Nadira yang masih merengut di atas ranjang dengan mengenakan baju tidurnya.
Albert pun langsung bergerak menghampiri istrinya itu, ia sudah mendengar semua cerita dari mamanya mengenai alasan mengapa Nadira ngambek seperti ini.
"Sayang.." ucap Albert lirih seraya duduk di pinggir ranjang mendekati Nadira.
"Kamu jangan ngambek terus dong! Saya bisa jelasin semuanya ke kamu, apa yang dibilang sama mama tadi siang itu gak bener kok. Galen bukan anak pelakor, dia itu anak kandung kamu. Galen darah daging kita, sayang!" ucap Albert.
"Bohong! Kamu bohong mas! Kenapa sih kamu selalu bohongin aku? Apa aku ini emang gak ada artinya ya di mata kamu? Asalkan kamu tahu mas, aku udah capek terus-terusan dibohongin sama kamu kayak gini!" bentak Nadira.
"Enggak sayang, saya gak bohong. Semua yang saya katakan itu benar adanya, tolong kamu percaya dong sama saya!" ucap Albert.
"Percaya? Gimana bisa aku percaya sama pembohong besar seperti kamu?" ujar Nadira.
Albert terdiam bingung, ia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Nadira yang sedang emosi itu.
Sementara Nadira kini bangkit dari tidurnya, beranjak turun ke lantai dan membuat Albert kebingungan.
"Kamu mau kemana?" tanya Albert pada istrinya.
"Kamu gak perlu tau! Buat apa kamu tau? Toh kamu juga selalu bohongin aku!" ucap Nadira.
"Ta-tapi sayang..."
Nadira tak menghiraukan perkataan suaminya itu, ia pergi begitu saja keluar kamar meninggalkan Albert yang masih terdiam membisu disana.
Ceklek..
"Galen?" Nadira terkejut saat melihat Galen tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1