
Harrison, Zayn serta beberapa anak buahnya yang lain hendak pergi keluar dari rumah untuk memulai rencana mereka kali ini.
"Ayo Zayn, kita harus cepat pergi dan tangkap Nadira dengan segera!" ujar Harrison.
"Siap bos! Saya yakin kali ini rencana kita tidak mungkin gagal bos, Nadira pasti bisa kita tangkap!" ucap Zayn menurut.
"Bagus!" ucap Harrison tersenyum.
Disaat mereka membuka pintu dan hendak melangkahkan kaki keluar rumah, mereka dibuat terkejut ketika adanya Albert beserta Keenan di depan sana yang sudah berdiri memandang ke arah mereka.
Sontak saja Harrison dibuat tak berkutik saat mengetahui Albert ada disana, pria itu seakan tidak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya karena cemas akibat kedatangan Albert.
"Halo, selamat siang pak Harrison! Pada mau kemana nih ramai-ramai begini?" ucap Albert.
"Biasalah tuan, pasti mereka ini pada mau melakukan kejahatan yang lainnya. Kan mereka ini rombongan penjahat tuan," ucap Keenan.
"Mau apa kalian berdua kesini? Tahu darimana tempat ini, ha?" tanya Harrison ketakutan.
"Anda tidak perlu gemetar begitu, pak Harrison. Saya dan asisten saya hanya ingin melihat-lihat kok, kami gak punya niat jahat seperti yang selalu anda lakukan terhadap saya." jawab Albert santai.
Harrison terdiam memalingkan wajahnya.
"Kurang ajar! Darimana Albert dan Keenan tahu lokasi keberadaan saya? Ini gawat, semua rencana yang udah saya susun bisa gagal!" batinnya.
"Bos, sepertinya mereka memang sengaja ingin menekan kita. Kita harus tetap tenang bos supaya mereka gak merasa menang!" bisik Zayn di telinga bosnya.
"Ya, saya tahu itu." ucap Harrison pelan.
"Hahaha, kenapa anda terlihat ketakutan begitu sih pak Harrison? Seharusnya anda tidak perlu takut melihat kami ada disini, toh kami juga belum berniat untuk menangkap anda saat ini. Tapi, gak tahu kalau besok atau lusa." ujar Albert.
"Jangan sembarangan kamu! Memangnya saya salah apa sampai kamu mau menangkap saya?" ucap Harrison tegang.
"Gausah tegang begitu pak, santai aja rileks gitu! Kayak ngobrol sama yang lain aja," ucap Albert.
"Tidak usah banyak basa-basi kamu! Cepat saja katakan apa mau kalian! Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian berdua!" ujar Harrison.
"Baiklah, kami ingin bertemu Vanesa sekarang. Bisa tolong panggilkan anak bapak yang manis itu?" ucap Albert sambil tersenyum.
"Mau apa kamu bertemu dengan Vanesa lagi, Albert? Apa kamu tidak puas sudah membuat dia menderita? Kamu menghamilinya, tapi kamu tidak mau bertanggung jawab!" ujar Harrison.
"Justru itu pak, saya kesini ingin bertanggung jawab sama Vanesa. Makanya anda cepatlah panggilkan Vanesa kemari!" ucap Albert.
"Iya pak, tolong jangan lama-lama!" sahut Keenan.
"Anda pikir semudah itu saya percaya dengan omongan anda? Saya tidak akan mudah untuk dibodohi Albert, tak mungkin kamu mau bertanggung jawab dengan Vanesa!" ujar Harrison.
"Loh, anda ini kenapa? Tadi bilang saya gak mau bertanggung jawab, terus giliran saya mau coba tanggung jawab dan temui Vanesa malah dilarang. Sebenarnya mau anda itu apa sih pak?" ucap Albert terheran-heran.
"Jelas saja saya larang, karena kalian berdua ini hanya ingin membodohi saya!" ucap Harrison.
"Membodohi bagaimana sih pak? Saya mau bertanggung jawab atas perbuatan saya kepada Vanesa, itu aja kok!" ujar Albert.
"Sudahlah, sebaiknya kalian pergi dari sini! Saya tidak akan biarkan kalian temui putri saya lagi!" geram Harrison langsung mengusir Albert.
"Pergi? Tidak pak, kita tidak akan pergi sebelum kita berhasil temui Vanesa!" tegas Albert.
"Lancang sekali kamu!" Harrison dibuat emosi dan hendak memukul Albert mengenakan tongkat miliknya.
Namun, tindakannya itu dicegah oleh Zayn.
"Tahan bos! Kita tidak boleh memakai kekerasan disini, atau mereka bisa memiliki celah untuk menangkap kita!" ucap Zayn.
Albert hanya memicingkan senyum ke arah Harrison dan sesekali menaikkan kedua alisnya hingga membuat Harrison semakin kesal.
•
•
"Nadira, tunggu Nadira! Aku mohon sama kamu, tolong jangan jauhi aku!" Cakra masih terus mencoba mendekati Nadira dan berbicara dengan wanita itu.
Cakra pun mendekat Nadira dari depan, ia menghalangi langkah wanita itu dan menahan Nadira untuk tetap disana.
"Kamu mau apa lagi sih Cakra? Apa kata-kata aku tadi kurang jelas di telinga kamu? Aku sekarang udah punya suami, aku gak bisa seenaknya berduaan sama kamu kayak gini. Aku harus jaga jarak dengan laki-laki lain!" ucap Nadira.
"Aku tahu Dira, aku juga gak akan maksa buat kita balikan lagi kayak dulu. Aku cuma mau hubungan kita tetap dekat dan gak renggang, karena aku gak bisa jauh dari kamu! Please Nadira, tetap ada di dekat aku ya sayang!" ucap Cakra memohon.
__ADS_1
"Cukup ya Cakra, kamu itu udah kelewatan! Aku kan udah bilang juga tadi, stop panggil aku sayang! Aku gak terima kamu panggil aku begitu, karena kamu bukan siapa-siapa aku!" tegas Nadira.
"Aku bisa jadi sahabat kamu Nadira, aku akan bantu buat lindungin kamu!" ucap Cakra.
"Maaf Cakra! Aku gak bisa bersahabat dengan lelaki lain untuk saat ini, karena aku gak mau bikin suami aku salah paham!" ucap Nadira.
"Tapi Nadira, aku—"
"Udah ya Cakra, jangan diterusin lagi! Aku harus pulang sekarang, dan kamu sebaiknya pergi dari sini! Tolong kamu jangan ganggu aku lagi, kalau kamu gak mau kena akibatnya!" potong Nadira.
"Aku gak perduli apapun resikonya, aku tetap akan berusaha buat dekat sama kamu!" paksa Cakra.
"Kamu itu susah banget sih dikasih taunya, harus berapa kali aku tegaskan ke kamu buat jangan dekati aku lagi?! Aku capek loh Cakra, aku capek selalu aja begini!" ucap Nadira.
"Ya kalau gitu kamu jangan menjauh dari aku, Nadira! Kita tetap menjalin hubungan sebagai teman, gak salah kan?" pinta Cakra.
Nadira memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangan di depan, sedangkan Cakra berupaya meraih tangan Nadira untuk digenggam.
Namun, dengan cepat seseorang menepis tangan Cakra itu sehingga Cakra terkejut dan reflek menoleh ke depan.
"Jangan sentuh Bu Nadira!" bentak Liam.
Ya Liam sudah datang bersama Chelsea disana, mereka menatap tajam ke arah Cakra yang masih tidak gentar untuk mendekati Nadira itu.
"Anda tidak usah ikut campur ya, ini urusan saya sama Nadira!" ujar Cakra.
"Oh jelas saya harus ikut campur, Bu Nadira ini majikan saya dan saya ditugaskan untuk menjaga Bu Nadira dari orang-orang yang ingin menyakitinya seperti anda!" balas Liam.
"Saya gak mau sakitin Nadira kok, justru saya mau melindungi Nadira dari orang-orang jahat seperti tuan anda yang kejam itu!" ucap Cakra.
"Jaga mulut kamu ya Cakra! Jangan bicara yang enggak-enggak tentang kakak aku!" bentak Chelsea emosi.
"Sabar Chelsea, jangan emosi!" ucap Nadira.
"Hahaha, kenapa marah-marah begitu? Semua yang saya bilang benar kok, Albert yang sudah merenggut kebahagiaan Nadira dan merusak masa depannya. Dia menikahi Nadira secara paksa, lalu menanamkan luka di dalam hatinya. Apa itu bukan suatu kejahatan, Chelsea?" ucap Cakra.
Chelsea semakin emosi dibuatnya, nafasnya sudah memburu dan tangannya pun terkepal seperti bersiap menghajar lelaki itu.
Namun, Nadira terus berusaha menenangkan adik iparnya itu agar tidak terpancing emosi.
•
•
Vanesa pun mencoba untuk keluar menemui papanya karena penasaran, ia langsung menghampiri Harrison di depan sana.
"Pah, ada ap—" ucapan Vanesa terjeda saat ia melihat Albert serta Keenan di depannya.
"Hai, halo Vanesa! Apa kabar kamu? Baik-baik aja kan? Anak kita gimana? Udah kamu cek ke dokter kandungan belum? Kalau belum, mau aku antar sekarang enggak?" ucap Albert tersenyum.
"Albert, maksud kamu apa? Kenapa kamu tiba-tiba baik begini sama aku? Sedangkan biasanya kamu selalu usir aku setiap kali aku deketin kamu," tanya Vanesa keheranan.
"Saya gak bermaksud apa-apa kok, saya cuma mau temenin kamu ke rumah sakit sekarang. Biar gimanapun, anak itu kan anak saya juga. Jadi, saya pengen tahu gimana kondisinya." kata Albert.
"Aku gak percaya sama kamu!" ujar Vanesa.
"Itu sih terserah kamu, tapi kamu kan sering bilang kalau kamu mau saya tanggung jawab. Jadi, ayo dong ikut sama saya!" ucap Albert.
"Jangan Vanesa, kamu jangan mau termakan dengan omongan dia!" ujar Harrison.
"Iya pah, aku juga gak semudah itu ikut sama Albert. Mau sekeras apapun dia paksa aku, tetap aku gak akan ikut sama dia!" ucap Vanesa.
"Baiklah Vanesa, saya terima kemauan kamu. Tapi, tolong izinkan saya kali ini saja melihat kondisi anak saya di dalam rahim kamu! Setelah itu saya janji, saya tidak akan mengganggu kamu lagi!" ucap Albert.
"Sebenarnya aku izinin kamu kok Albert, malahan aku senang banget kalau kamu mau perduli sama anak kita ini. Ya tapi tentu aja, syaratnya kamu harus benar-benar perduli bukan cuma alasan atau strategi kamu aja buat tangkap aku!" ujar Vanesa.
"Ini bukan strategi saya Vanesa, ini murni kemauan saya untuk membantu kamu. Jujur saya merasa bersalah karena saya telah menelantarkan kamu dan calon anak saya di perut kamu!" ujar Albert.
"Apa kamu yakin Albert?" tanya Vanesa ragu.
"Tentu saja, saya bisa buktikan itu ke kamu sekarang! Kalau kamu gak percaya, ayo kita ke rumah sakit dan cek kandungan kamu! Bukannya saat ini sudah masuk waktu buat kontrol kandungan kamu itu kan?" ucap Albert.
"Iya benar, seharusnya sudah dari kemarin-kemarin. Tapi, aku agak malas buat kontrol karena gak ada orang yang bisa temenin aku. Kalau emang kamu mau antar aku kesana sekarang, aku mau kok." ucap Vanesa.
"Vanesa! Kamu ini apa-apaan?! Papa kan sudah bilang, jangan terperdaya sama kata-kata dia!" tegur Harrison.
__ADS_1
"Pah, ini demi kebaikan anak aku! Aku gak mungkin biarin dia lahir tanpa ayah!" ucap Vanesa.
"Itu benar Vanesa, ayo ikutlah dengan saya ke rumah sakit sekarang! Saya janji akan bertanggung jawab dan melakukan tugas sebagaimana seorang ayah pada umumnya!" ucap Albert.
"Iya Albert, aku mau ikut sama kamu." kata Vanesa.
"Tidak Vanesa, papa gak kasih izin kamu buat pergi sama dia!" tegas Harrison.
"Papa ini kenapa sih? Papa gak mau ya lihat putri papa bahagia?" tanya Vanesa heran.
"Sayang, papa cuma—"
"Udah deh pah, jangan halangi aku! Aku mau pergi sama Albert sekarang! Tolong papa minggir!" potong Vanesa.
Akhirnya Harrison tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa mengizinkan putrinya itu pergi bersama Albert, walau di dalam hatinya ia sangat ragu untuk memberi izin pada Vanesa.
Vanesa pun mau pergi bersama Albert, mereka langsung melangkah menuju mobil pria itu dengan didampingi pula oleh Keenan.
•
•
Nadira dan Chelsea sudah tiba di rumah, mereka langsung duduk di sofa dengan raut emosi akibat tindakan Cakra ketika di taman tadi.
Chelsea masih belum bisa melupakan perkataan Cakra mengenai kakaknya, begitupun dengan Nadira yang bingung karena Cakra terus saja memaksanya untuk berteman dengannya.
"Ish, tuh cowok nyebelin banget sih! Dia gak tahu apa kalau kak Albert udah berubah?!" ujar Chelsea.
"Sabar Chelsea! Aku juga emosi sama perkataan dia tadi, emang Cakra itu kayaknya sengaja deh bikin kita emosi begitu!" ucap Nadira.
"Sialan emang tuh orang!" umpat Chelsea.
Nadira menaruh tangannya di pundak Chelsea untuk menenangkan gadis itu.
"Tenang ya Chelsea!" ucap Nadira tersenyum.
Chelsea manggut-manggut pelan, lalu tak lama muncullah Abigail disana yang tampak heran melihat putrinya dan menantunya itu saling cemberut di sofa.
"Loh loh, ini pada kenapa kalian? Kok merengut begitu mukanya?" tanya Abigail bingung.
"Itu loh mah, tadi ada cowok nyebelin banget yang bilang kalo kak Albert jahat! Aku kan jadi kesel tau, pengen rasanya aku tonjok dia!" jawab Chelsea.
"Hah? Siapa?" tanya Abigail terkejut.
"Dia mantan aku mah, emang dia suka bikin kesel orang. Untung aja tadi Chelsea bisa sabar, kalau enggak mungkin tuh orang bakal jadi perkedel dibikin sama Chelsea!" jawab Nadira.
"Iya tuh, masih beruntung dia!" sahut Chelsea.
"Ahaha, bisa aja kalian ini. Yaudah, kalian jangan pada emosi ya! Cantik-cantik tuh gak boleh emosian tau!" ucap Abigail.
"Ohh berarti kalau jelek tuh boleh emosian ya, mah?" tanya Chelsea.
"Eee kalau itu bisa dibicarakan, yang penting anak mama ini gak boleh emosian ya! Kamu harus bisa sabar terus!" jawab Abigail sembari mengusap rambut putrinya.
"Iya mah, aku sabar kok. Cuma tadi agak kepancing aja gara-gara ulah si Cakra, dia tuh nyebelin banget!" ucap Chelsea.
"Iya, mama ngerti. Udah ya, jangan cemberut terus nanti jadi jelek tau! Senyum dong sayang!" ucap Abigail.
Chelsea mengangguk pelan, kemudian tersenyum sesuai perintah mamanya.
Sementara Nadira ikut tersenyum melihat Chelsea sudah bisa ditenangkan oleh Abigail.
"Oh ya, kalian kok cuma berdua? Albert sama Keenan kemana? Kenapa gak ikut pulang juga bareng kalian?" tanya Abigail heran.
"Eee mas Albert bilang katanya mau samperin tempat tinggal Vanesa, terus Keenan juga ikut sama mas Albert." jawab Nadira.
"Oalah, emang mereka udah tahu dimana tempat tinggal Vanesa?" tanya Abigail.
"Aku gak tahu mah, mas Albert gak pernah cerita apa-apa soal itu ke aku. Mungkin aja mereka udah tahu, tapi belum tentu juga sih." jawab Nadira.
"Yaudah, kita doain aja semoga masalah Vanesa ini bisa segera diselesaikan sama Albert ya! Supaya gak ada keretakan lagi di rumah tangga kalian berdua!" ucap Abigail.
"Aamiin!" ucap mereka bersamaan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...