Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Hamil?


__ADS_3



Dua Minggu kemudian...


Di ruang kerja Albert


TOK TOK TOK...


"Masuk!"


Albert langsung mempersilahkan seseorang di luar ruangannya itu untuk masuk ke dalam.


Ceklek...


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik dengan pakaian ketatnya serta heels yang indah masuk ke dalam ruangan Albert.


Ya wanita itu tak lain ialah Vanesa, sang sekretaris cantik milik Albert.


Tentu saja kehadiran Vanesa disambut dengan senyuman oleh Albert, pria itu bahkan bangkit dari duduknya dan menyapa sekretarisnya sambil meraih satu tangan wanita itu.


"Hey kamu! Ayo duduk di pangkuan saya!" ucap Albert sambil memeluk Vanesa dari samping.


Vanesa hanya mengangguk pelan tanpa berbicara sepatah katapun, ia menuruti kemauan Albert dan duduk di pangkuan pria itu sambil terus menatap ke arah Albert yang membuat sang CEO kejam itu penasaran.


"Ada apa sih?" tanya Albert bingung.


"Pak, ada kabar buruk yang mau saya sampaikan ke bapak sekarang! Ini terkait hubungan kita, selama ini kan bapak selalu menyetubuhi saya hampir setiap hari!" ucap Vanesa.


"Ya itu kan sudah kamu setujui sendiri di perjanjian kontrak kerja kita, kenapa sekarang kamu mempermasalahkan itu?" ujar Albert.


Pria itu tak henti-hentinya membelai rambut Vanesa dan mengendus leher wanita itu sambil sesekali mengecupnya lembut, membuat Vanesa merasa geli dan gak tahan untuk mengeluarkan suara enak.


"Bukan soal itu yang saya permasalahkan pak, tapi soal lain!" ucap Vanesa.


"Apa itu Vanessa?" tanya Albert penasaran.


"Eee belakangan ini kan bapak selalu mengeluarkan di dalam, saya juga sudah berusaha mencegah kehamilan dengan cara meminum pil yang saya beli di apotik. Tapi, nyatanya itu tidak berhasil pak! Karena saya dinyatakan hamil oleh dokter, saat kemarin saya periksa di rumah sakit!" jelas Vanesa.


"Apa??'


Albert terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya, sehingga Vanesa pun ikut berdiri di hadapan bosnya itu.

__ADS_1


"Kamu gak lagi bercanda atau bohongin saya kan? Mana mungkin kamu hamil? Ingat ya Vanesa, jangan pernah coba-coba kamu bermain-main dengan saya atau saya akan siksa kamu!" ujar Albert panik.


"Benar pak! Saya tidak sedang main-main, buat apa juga saya bohongin bapak?!" ujar Vanesa.


"Ah saya gak percaya dengan kata-kata kamu! Itu semua hanya bualan semata, karena kamu ingin saya bertanggung jawab dan nikahi kamu, iya kan?! Basi tahu gak niat kamu itu, mending kamu keluar deh sana dan jangan ganggu saya!" bentak Albert.


"Saya tahu bapak akan bicara seperti ini, itu sebabnya saya juga membawa surat ini supaya bapak bisa percaya dengan perkataan saya!" ucap Vanesa mengeluarkan sebuah surat dari sakunya.


"Surat apa itu?" tanya Albert penasaran.


"Ini surat dari dokter yang menyatakan kalau saya benar-benar hamil, pak! Usia kehamilan saya sudah memasuki tiga minggu, silahkan aja bapak baca sendiri semisal bapak tidak percaya dengan apa yang saya katakan barusan!" jawab Vanesa.


Albert mengambil surat itu dan membacanya, lagi-lagi ia dibuat tercengang sesudah membaca isi surat tersebut karena memang benar apa yang dikatakan Vanesa tadi.


Braakkk...


"KURANG AJAR...!!" bentak Albert emosi.


Pria itu seperti kesetanan, ia mengobrak-abrik seluruh barang miliknya yang ada di ruangan itu sambil memukul serta menendang meja.


"Ini gak mungkin terjadi! Pasti surat ini palsu kan? Iya kan Vanesa?!" teriak Albert.


"Enggak pak, itu asli! Sekarang saya cuma minta satu permintaan dari bapak, tolong bapak kasih solusi untuk saya supaya saya bisa mengambil keputusan untuk bayi saya ini!" ucap Vanesa.


"Apa pak? Digugurkan? Pak, saya gak mau ya berbuat seperti itu! Itu namanya dosa pak, sama aja kita membunuh bayi yang tidak bersalah ini! Itu dosa besar pak!" tolak Vanesa.


"Hey, jangan membantah omongan saya! Ikut saja dengan saya kalau kamu mau selamat!" ancam Albert.


Pria itu mencengkeram rahang Vanesa dan menggenggam erat dua tangan wanita itu, ia memaksa Vanesa untuk mau menggugurkan kandungan miliknya agar ia tak perlu bertanggung jawab pada Vanesa atas kejadian itu.


Akhirnya Vanesa luluh dan mau mengikuti perintah dari Albert, mereka pun segera pergi dari sana menuju ke tempat dukun yang bisa membantu mereka untuk menggugurkan kandungan Vanesa.


Saat di jalan, Albert memberi perintah pada Keenan agar dapat membantunya mencari dukun di sekitar sana. Ia juga meminta Keenan bersiap-siap mengantarnya pergi sambil terus menarik paksa tangan Vanesa.


📞"Halo Keenan! Kamu siap-siap sekarang! Saya mau pergi dengan Vanesa!" titah Albert.


📞"Baik tuan!"


Tuuutttt...


"Pak, lepasin tangan saya pak! Ini sakit banget! Lagian saya juga malu dilihatin karyawan lain pak, saya takut mereka mengira yang enggak-enggak!" ucap Vanesa minta dilepaskan.


"Diam kamu!" bentak Albert.

__ADS_1


Seketika wanita itu terdiam, ia tak mampu melawan lagi karena takut dengan Albert.


"Saya gak terima ini, saya gak terima! Bagaimana bisa Vanesa hamil anak saya?" gumam Albert.


...•••...


Disisi lain, Nadira sudah mulai terbiasa tinggal di rumah besar itu. Apalagi sekarang ini sudah dua Minggu ia menjadi seorang istri dari Albert sang CEO muda yang kaya raya itu, sehingga ia harus membiasakan diri pada hidup barunya.


Bahkan Albert juga sudah memberi izin pada Nadira untuk beraktivitas di luar kamarnya, ya pria itu tak mau membuat Nadira stress karena terus-terusan ia ikat dan kurung di dalam kamar. Sehingga Albert memutuskan untuk melepas ikatan Nadira, namun dengan syarat wanita itu harus tetap dikawal.


Kini Nadira sedang berkutat di dapur bersama para pelayan disana, termasuk mbok Widya.


"Mbok, disini itu masaknya harus rame-rame kayak gini ya? Emang bikin makanannya banyak banget apa?" tanya Nadira heran.


"Iya non memang begitu, di rumah ini kan banyak orang yang tinggal! Bukan cuma tuan Albert sama non Nadira aja, makanya kita setiap masak itu ya selalu buat semua orang yang ada disini!" jawab mbok Widya tersenyum.


"Ohh gitu ya mbok?" ujar Nadira.


"Iya non, eh non Nadira kok malah ke dapur sih? Mau ngapain non? Nanti kena kotoran loh, disini kan lagi berantakan non! Lebih baik non Nadira duduk-duduk santai aja di ruang tamu!" ucap mbok Widya.


"Ah gak mau mbok, aku bosen! Daritadi kan aku sudah duduk terus di depan tv, makanya aku mau kesini sekalian lihat-lihat proses mbok sama yang lain masak! Oh ya, kalau aku mau bantu kalian boleh apa enggak? Aku kebetulan bisa masak kok, dulu suka banget bantuin ibu masak di rumah!" ucap Nadira.


"Hah? Waduh non, jangan deh! Ini urusan si mbok sama yang lain, jadi non mending jangan ikut bantu kita! Nanti yang ada kita malah diomelin sama tuan Albert, jangan ya non!" ucap mbok Widya ketakutan.


"Yah si mbok mah gitu! Aku kan cuma mau bantu mbok, lagian tuan Albert juga gak ada disini! Jadi, dia gak bakal tahu kalau saya bantu non Nadira! Ya mbok, boleh ya?!" ucap Nadira memaksa.


"Eee tapi non...."


Belum sempat mbok Widya menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seorang pelayan yang lain datang mendekati mbok Widya.


"Mbok, ini garam sama mericanya habis lagi! Gimana ya mbok?" ujar pelayan itu.


"Duh, yaudah deh biar saya yang beli ke minimarket depan! Kalian lanjut masak yang lain dulu aja ya!" ucap mbok Widya.


"Baik mbok!" ucap pelayan itu sambil balik ke tempatnya.


"Mbok, aku boleh ikut ke minimarket gak sama mbok Widya?" ujar Nadira.


"Hah??"


Mbok Widya terkejut bukan main mendengarnya, ia sampai menganga lebar dan kebingungan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2