
Albert pulang ke rumah, menemui Nadira dengan wajah paniknya.
Nadira yang tengah bersantai di kamarnya sambil memainkan ponselnya, terkejut ketika Albert tiba-tiba masuk ke kamar menghampirinya.
Ceklek..
"Nadira!" Albert berteriak cemas, lalu duduk di samping sang istri yang sedang bersandar di atas ranjang. Albert bahkan langsung merangkul Nadira, menyingkirkan ponsel milik Nadira dan menaruhnya ke sembarang tempat.
"Tuan, kenapa tuan datang-datang panik begitu sih?" tanya Nadira dengan wajah herannya.
"Iya Nadira, saya khawatir loh sama kamu! Chelsea tadi apain kamu, ha? Kamu bilang aja sama saya, biar saya tegur Chelsea supaya gak berbuat begitu lagi ke kamu!" ucap Albert.
"Ya ampun tuan! Aku pikir tuan kenapa loh, ternyata cuma gara-gara Chelsea. Udah lah tuan, masalah itu gak perlu diperpanjang lagi! Chelsea juga gak apa-apain aku kok, dia cuma nuduh aku penyebab kamu larang om Darius datang kesini. Kamu gak perlu tegur dia ya!" ucap Nadira.
"Gak bisa sayang! Saya harus jelasin semuanya ke dia, supaya dia gak seenaknya tuduh kamu gitu aja!" tegas Albert.
"Tuan tadi panggil aku apa? Sayang? Tumben banget tuan sebut aku sayang, apa emang tuan udah mulai sayang ya sama aku?" Nadira sengaja menggoda suaminya itu.
"Eee enggak kok, saya bilang begitu karena gak sadar aja. Kamu gausah kege'eran deh!" elak Albert tampak gugup dan grogi.
"Ahaha, yaudah tuan gak perlu gugup gitu lah! Aku kan cuma nanya, kirain gitu tuan udah mulai sayang sama aku. Kalau emang belum, ya gapapa deh aku bakal tetap setia nunggu sampai tuan bisa sayang sama aku!" ucap Nadira tersenyum.
"Ngapain ditunggu? Emangnya kamu sendiri udah sayang sama saya?" tanya Albert.
"Umm... menurut tuan?" ucap Nadira.
"Menurut saya, kamu itu cantik banget dan seksi. Saya suka tubuh kamu yang sintal ini, boleh saya cobain lagi kan?" ucap Albert menjurus ke arah aktivitas panas yang ingin ia lakukan.
"Duh, tuan ini baru pulang kerja yang dibahas langsung begituan. Emang tuan gak capek apa?" ucap Nadira heran.
"Hahaha... justru daritadi saya berusaha tahan keinginan saya ini loh, harusnya kamu takjub sama saya! Daripada saya lampiaskan ke wanita lain, nanti kamu kabur lagi." kata Albert.
"Ih sukanya ungkit-ungkit masa lalu!" kata Nadira sembari mencubit pinggang Albert.
"Awhh! Nakal ya kamu, main cubit-cubit aja! Sakit tau Nadira! Awas ya, saya pastikan besok kamu gak bisa jalan!" ancam Albert.
"Hah?" Nadira menganga lebar.
Albert pun mulai beraksi menindih tubuh Nadira, melepaskan satu persatu pakaian Nadira sembari menciuminya. Nadira hanya pasrah menikmati permainan Albert, biarpun ia tidak ingin melakukan itu saat ini.
"Ahh... kamu selalu bikin saya tergila-gila Nadira, tubuh kamu memang luar biasa!" ucap Albert.
"Iya tuan, terserah apa kata tuan aja!" ucap Nadira tersenyum manis.
Ya kegiatan itu pun berlanjut ke arah yang lebih serius, keduanya terus bermain sampai lupa waktu dan tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
•
•
Sementara itu, Abigail merasa bingung karena Albert dan Nadira tak kunjung keluar kamar untuk menikmati makan malam bersamanya serta Chelsea yang sudah menunggu sedari tadi.
Abigail pun terus melirik ke arah kamar Albert dengan wajah keheranan, ia tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh putranya di dalam sana karena sudah berjam-jam tidak keluar kamar.
"Sayang, kakak kamu sama istrinya itu kemana ya? Kok sampai sekarang mereka belum keluar kamar ya?" ujar Abigail terheran-heran.
"Aku juga gak tahu, mah. Udah lah gak perlu dicariin mereka mah! Kita makan aja duluan, nanti juga kalo udah lapar mereka bakal keluar sendiri. Kan udah pada gede ini, mama gak perlu cemas begitu!" ucap Chelsea.
"Iya sih sayang, tapi mama heran aja sama Albert. Dari dia pulang kerja sore tadi, sampai sekarang udah jam sembilan masih belum keluar kamar juga. Mereka lagi apa sih disana?" ujar Abigail.
"Mungkin mereka lagi enak-enak. Mama kayak gak tahu kak Albert aja, dia kan suka banget begituan. Sampai-sampai kak Albert bisa culik Nadira dan nikahin dia, itu kan karena dia gak bisa tahan dirinya pas lihat tubuh Nadira." kata Chelsea.
"Hus sayang, kamu gak boleh bilang gitu sama kakak kamu sendiri!" ucap Abigail.
"Iya mah iya... tapi itu kan fakta, kak Albert tuh emang begitu!" ucap Chelsea.
"Iya, tapi tetap kamu gak boleh begitu!" ujar Abigail.
"Huft, terserah mama aja deh! Aku capek debat sama mama! Mama itu selalu aja belain kak Albert sama ceweknya itu," ujar Chelsea.
"Bukan begitu sayang, yang mama bilang kan benar. Yaudah, mama mau panggil kakak kamu dulu ya ke kamarnya? Kamu lanjut aja makan sampai habis!" ucap Abigail.
__ADS_1
Chelsea mengangguk saja tanpa perduli dengan perkataan mamanya.
Sementara Abigail beranjak dari meja makan, lalu melangkah menuju kamar putranya untuk mengajak Albert serta Nadira makan malam.
"Gue heran deh sama mama, segitunya penasaran sama urusan kak Albert. Padahal kan udah jelas, pasti kak Albert sama tuh cewek lagi enak-enak di kamar! Ngapain coba pake disamperin segala? Toh kalau mereka lapar bakal keluar sendiri," gumam Chelsea dalam hati.
Tliingg...
Tiba-tiba ponselnya berdering singkat, Chelsea pun menghentikan aktivitasnya sejenak untuk mengecek pesan yang masuk tersebut.
"Om Darius?" gumamnya.
Om Darius
Chelsea, besok kita ketemuan ya jam 7 pagi di taman buni! Ada yang mau om sampaikan sama kamu.
Begitu membaca pesan dari pamannya, Chelsea pun langsung bingung dan penasaran mengapa Darius mengajaknya ketemuan di luar seperti itu, tak seperti biasanya memang Darius melakukan itu.
"Kira-kira om Darius mau bahas soal apa ya..??" batin Chelsea kebingungan.
•
•
Albert dan Nadira masih berbaring di atas ranjang dengan kondisi tak berbusana, mereka saling memeluk menikmati sisa-sisa pelepasan yang mereka raih dalam permainan tadi.
Tampak tubuh keduanya telah dipenuhi keringat akibat permainan ganas Albert yang tak berujung, untunglah Nadira bisa menahan gempuran Albert walau dirinya pun sangat lelah.
"Nadira, thanks ya untuk malam ini! Saya benar-benar terpuaskan oleh kamu, walau setiap kali saya main sama kamu memang saya selalu merasa puas sih. Tapi, saya ingin mengucap terima kasih aja sama kamu karena kamu udah mau layani saya malam ini!" ucap Albert tersenyum.
"Sama-sama, tuan. Kalaupun aku gak mau layani tuan, sudah pasti tuan bakal maksa juga kan." kata Nadira menatap wajah suaminya.
"Hahaha... ya benar juga sih ucapan kamu!" ucap Albert tertawa sembari mengusap punggung Nadira dan menciumi wajahnya.
"Tuan, yaudah sekarang kita mandi yuk! Abis itu kita harus keluar! Ini udah jam sembilan malam loh, pasti mama nyariin kita karena belum keluar juga buat makan malam." ucap Nadira.
"Oh iya ya..." Albert terlihat panik.
Namun, bukannya beranjak dari kasur Albert malah semakin mempererat pelukannya dan mengendus leher Nadira, menjilati keringat yang membasahi leher wanita itu hingga membuatnya mengerang pelan sembari mencengkram tangan Albert.
"Tuan, cukup! Udah yuk kita mandi sekarang! Aku takut mama nyariin dan mikir yang enggak-enggak ke kita karena kita gak keluar-keluar," pinta Nadira.
"Iya iya..." Albert menurut dan menghentikan gerakannya.
TOK TOK TOK...
"Albert, Nadira, kalian lagi apa? Keluar yuk, kita makan malam sama-sama! Ini udah jam sembilan lewat loh sayang, kalian berdua belum makan daritadi!" Albert serta Nadira terkejut mendengar suara teriakan Abigail dari luar kamar.
Mereka pun spontan bangkit dan duduk di atas ranjang, Nadira berusaha memakai kembali pakaiannya walau semua sudah tak berbentuk akibat dirobek begitu saja oleh Albert.
"Tuan, gimana ini? Mama datang tuh, tuan sih gak mau berhenti juga!" ujar Nadira panik.
"Kok jadi nyalahin saya? Tubuh kamu tuh yang bikin saya bergairah terus, makanya saya gak bisa berhenti ciumin kamu!" ucap Albert.
"Ish, terus sekarang kita harus gimana?" tanya Nadira kebingungan.
"Udah tenang aja! Biar saya yang temui mama di depan, kamu mandi duluan ya!" jawab Albert.
"Iya tuan, tapi kalau mama nanti nanyain aku gimana?" tanya Nadira.
"Saya bisa handle semuanya kok, kamu mandi aja yang tenang dan jangan lama-lama oke! Ingat loh, ini sudah malam, jadi kamu gak boleh mandi terlalu lama!" ucap Albert.
Nadira mengangguk menuruti perkataan Albert, lalu beranjak dari ranjangnya membawa pakaian robeknya itu ke dalam kamar mandi.
Sementara Albert memakai kembali baju serta celananya sebelum pergi keluar menemui Abigail yang sudah menunggu disana.
Ceklek...
Albert membuka pintu, menatap wajah sang mama yang sedang berdiri disana sambil tersenyum.
"Eh mama," ucap Albert tersenyum renyah.
__ADS_1
"Kamu kenapa lama sekali sih buka pintunya? Mama udah ketuk-ketuk daritadi baru dibuka sekarang, abis ngapain kamu sama Nadira di dalam? Kenapa gak keluar dari sore? Ini sudah lewat waktu makan malam loh," Abigail langsung mencecar Albert dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Iya mah, aku sama Nadira itu ya biasalah mama kayak gak tahu aja suami-istri tuh sukanya ngapain! Harusnya mama paham dong, kan mama juga udah punya suami!" jawab Albert santai.
"Ya ampun Albert! Selama itu kamu minta jatah dari istri kamu? Apa kamu gak kasihan sama dia? Nadira kan lagi hamil, kalau terjadi sesuatu sama kandungannya gimana?" ucap Abigail cemas.
"Mama tenang aja! Gak mungkin terjadi apa-apa kok sama kandungan Nadira, toh aku mainnya pelan-pelan." Albert nyengir menenangkan Abigail.
"Yasudah, dimana Nadira sekarang? Ajak istri kamu itu makan malam! Dia harus cukupi nutrisinya, kan lama banget dia layanin kamu, pasti energinya terkuras banyak! Jadi, harus segera diisi dengan makanan yang sehat!" ucap Abigail.
"Iya mah, Nadira tadi lagi mandi dulu. Mama tunggu aja di meja makan ya, nanti aku sama Nadira nyusul kok!" pinta Albert.
"Iya, awas loh ya kalau gak nyusul! Mama laporin kamu ke papa kamu!" ancam Abigail.
"Jangan dong mah! Aku kan gak salah apa-apa, tubuh Nadira nya yang selalu menggoda aku!" ucap Albert.
"Terserah kamu aja!" ujar Abigail.
Akhirnya Abigail pergi dari sana, ia kembali ke meja makan dan melanjutkan makan malamnya yang tertunda. Sementara Albert masuk ke kamar menyusul Nadira di kamar mandi.
•
•
Keesokan paginya, Keenan seperti biasa mengantar adiknya pergi sekolah lebih dulu sebelum ia berangkat bekerja. Keenan tak mau ambil resiko dengan membiarkan Celine pergi sendiri, karena ia tahu itu sangat berbahaya.
Sesampainya di sekolah, Celine pun pamit pada sang kakak untuk segera turun dari mobil. Namun, Keenan mencekal lengannya membuat Celine mengurungkan niatnya karena harus berbicara sejenak dengan abangnya itu.
"Kak, aku turun sekarang ya?" ucap Celine.
"Eh tunggu!" Keenan menahan Celine dan memintanya tetap di mobil untuk beberapa saat.
"Ada apa lagi sih kak?" tanya Celine bingung.
"Gue cuma mau pesan satu hal sama lu, hati-hati ya dan jangan berbuat yang aneh-aneh di sekolah! Gue gak mau lu kenapa-napa, cukup sekali aja gue kecolongan waktu itu!" ucap Keenan.
"Ohh kirain mau ngomong apa, tenang aja kali bang gue pasti jaga diri kok!" ucap Celine.
"Iya gue tenang, tapi kan bisa aja tuh penculik datang kapanpun dia mau. Makanya gue pesan sama lu buat hati-hati, supaya kejadian itu gak terulang lagi!" ucap Keenan.
"Iya bang, yaudah ya gue mau turun sekarang? Bentar lagi bel bunyi tahu, kan lu dari pas di rumah juga udah ngomong begitu terus. Masa iya gak puas-puas?" ucap Celine.
Cupp!
Keenan justru mengecup pipi Celine secara tiba-tiba, Celine yang tak siap pun terkejut dan reflek memegangi pipinya itu.
"Lu kalo lagi kaget gitu lucu tau, bikin gue gak bisa lepasin lu buat pergi. Andai aja lu udah lulus sekolah, pasti gue minta lu buat diem di rumah jangan kemana-mana!" ucap Keenan.
"Hah? Terus, gue gak boleh lanjut kuliah gitu bang?" tanya Celine kaget.
"Gak. Gue khawatir lu bakal kenapa-napa, jadinya lu diem aja di rumah gak boleh kemana-mana kecuali sama gue!" jawab Keenan.
"Ish, lu lebay banget sih bang!" cibir Celine.
Keenan tersenyum dan mengusap puncak kepala adiknya, "Gue begini kan karena gue udah janji sama mama papa buat jagain lu terus, jadi gue gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama lu!" ucapnya dengan nada serius.
"Iya bang, kalo gitu gue turun sekarang boleh kan?" ucap Celine.
"Boleh, lu belajar yang rajin ya! Nanti siang gue jemput lagi disini," ucap Keenan.
Celine mengangguk lalu mencium tangan Keenan berpamitan pada abangnya itu untuk segera masuk ke sekolah, Keenan mengizinkan karena memang saat ini sudah masuk waktu sekolah.
"Bye bang!" ucap Celine melambaikan tangan.
"Bye juga sayang!" balas Keenan.
Setelah adiknya itu masuk ke sekolah dan tak terlhat lagi, Keenan pun berniat pergi dari sana karena ia harus segera menuju rumah Albert.
Namun, Keenan tak sengaja melihat sosok lelaki misterius di sebrang jalan yang tengah mengamati ke arah sekolah dengan tatapan anehnya.
"Hah? Siapa sih tuh cowok?" gumamnya bingung.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...