
Galen masih bermain bersama suster Alra serta para penjaga di halaman depan rumahnya.
Galen tampak sangat bahagia dan terus tertawa renyah saat memainkan mainan miliknya.
Braakkk...
Galen dengan sengaja menabrakkan mobil mainan miliknya satu sama lain secara terus-menerus, sampai salah satu mobil mainannya itu lepas ban dan membuatnya sedih.
"Yah sus, ini bannya copot. Tolong benerin dong sus!" ucap Galen dengan nada manja.
"Oalah, iya sini biar suster benerin. Tapi, abis ini den Galen mainnya pelan-pelan aja ya! Jangan ditabrakin lagi kayak tadi!" ucap suster Alra.
"Iya sus, aku gak gitu lagi kok." ucap Galen.
"Nah bagus! Ini dia mobilnya udah bener lagi nih, aden mainnya yang benar ya! Kalau ditabrakin terus, nanti bisa rusak mobilnya." ujar suster Alra.
"Iya suster, kan aku udah bilang tadi gak bakal begitu lagi." ucap Galen.
"Ahaha, iya iya.." suster Alra dibuat gemas dengan tingkah Galen.
"Om Theo, kok om gak ikut duduk sih disini sama kita? Ayo dong duduk, jangan berdiri terus om! Emang gak pegel apa?" ucap Galen pada Theo selaku penjaga disana.
"Eh den Galen, ya enggak dong den. Tugas om kan menjaga rumah ini dari marabahaya, jadi om gak mungkin ngerasa pegel den." jawab Theo.
"Tapi, gapapa kan om kalau kita main sebentar dulu? Aku mau naik kuda-kudaan kayak kemarin, boleh kan om?" tanya Galen.
"Eee gimana ya...??" Theo terlihat berpikir sejenak.
"Ayolah om, cuma sebentar kok! Lagian papa sama mama lagi di luar, mereka pasti gak bakal tau kalau om libur sebentar hari ini." bujuk Galen.
"Tapi den, om diminta sama tuan Albert buat fokus terus jagain rumah ini. Kalau om temenin den Galen main, nanti gimana dong caranya om bisa fokus kerja?" ujar Theo.
"Yah, jadi om Theo gak mau ya main sama aku?" ucap Galen kecewa.
Galen langsung cemberut dan membuang mobil mainannya begitu saja ke lantai.
Suster Alra pun menatap Theo dengan mata melotot sembari mendekati Galen.
"Den, aden jangan sedih ya! Om Theo mau kok main kuda-kudaan sama den Galen, iya kan om?" ucap suster Alra.
"Ta-tapi..." ucapan Theo tertahan saat Alra melotot tajam ke arahnya.
"Iya den, om Theo mau kok temenin aden main. Tapi, den Galen jangan sedih lagi ya!" ucap Theo.
"Yang bener om?" Galen langsung bersemangat kembali dan mau menatap wajah Theo.
"Iya dong den, masa om bohong? Udah, ayo kita main kuda-kudaan!" ucap Theo.
"Yeay asik!!" teriak Galen dengan sangat senang.
Galen langsung berdiri dan menghampiri Theo yang sudah bersiap di posisinya untuk melakukan apa yang Galen inginkan.
"Sus, aku mau naik kuda dulu ya sama om Theo?" ucap Galen.
"Iya den, sini biar suster bantu aden naik!" ucap Alra menggandeng anak majikannya itu.
Galen pun naik ke atas punggung Theo dan tertawa puas, sedangkan suster Alra tetap berada di sampingnya dan terus memegangi tangan Galen agar tak terjatuh.
"Om, ayo om lebih cepat om!" ucap Galen sembari menepuk-nepuk punggung Theo.
"Iya den, aduh berat banget tubuh aden!" ucap Theo kesakitan menahan beban badan Galen.
Disaat Galen tengah asyik bermain bersama Theo, tiba-tiba muncul Abigail yang keluar dari dalam dan nampak hendak pergi.
"Ish ish ish, ya ampun! Ini apa-apaan sih berantakan kayak gini?" ujar Abigail.
Sontak mereka bertiga langsung menoleh ke asal suara, Galen tampak panik melihat neneknya ada disana dengan wajah marah.
"Galen, ini pasti ulah kamu kan? Berapa kali sih nenek bilang sama kamu? Jangan suka berantakin mainan kalo gak mau beresin! Apalagi ini kamu main di teras rumah, bahaya tau berantakan kayak gini. Gimana kalau nenek gak sengaja injak mainan kamu terus jatuh?" ucap Abigail.
"Maaf nek, Galen gak sengaja! Tadi Galen pengen main kuda-kudaan dulu sama om Theo, jadinya Galen tinggalin deh mainannya disitu." ucap Galen sembari menundukkan kepala.
"Hadeh, kamu juga kenapa mau-mau aja sih disuruh kayak gitu Theo?! Udah, sekarang kamu turun Galen dan beresin semuanya! Nenek gak mau ya lihat mainan berantakan kayak gini, cepat turun!" ucap Abigail.
"Iya nek," ucap Galen pelan.
Galen pun turun dengan bantuan suster Alra, ia menghampiri neneknya berharap bisa mendapat maaf dari sang nenek.
"Nek, maafin Galen ya!" ucap Galen.
Namun, Abigail tampak acuh pada Galen dan pergi begitu saja dari sana.
"Pak Cecep, tolong antar saya pergi!" ujar Abigail pada supir disana.
"Siap Bu!"
Abigail pun pergi bersama Cecep alias supir pribadinya.
Galen masih tampak sedih, ia terus berdiri disana memandang ke arah mobil neneknya yang sudah menjauh.
__ADS_1
"Den, udah ya jangan sedih lagi! Sekarang mending kita lanjut main yuk!" ucap suster Alra.
"Enggak ah sus, aku mau udahan aja mainnya. Aku takut nenek nanti marah lagi pas pulang, nenek serem tau kalo marah-marah kayak gitu!" ucap Galen.
"Oh gitu, yaudah sini suster bantu beresin mainannya ya?" ucap Alra.
"Iya sus," ucap Galen.
Mereka pun membereskan mainan-mainan yang tergeletak disana, tapi Galen masih berpikir keras di dalam hatinya mengenai sikap Abigail.
"Nenek kenapa ya sering banget marahin aku sewaktu gak ada papa sama mama? Padahal nenek selalu bersikap baik sama aku kalo ada papa mama disini," batin Galen.
•
•
Keenan keluar dari rutan tempatnya selama ini ditahan dengan perasaan senang dan lega.
Ia langsung menghirup udara segar yang sudah lama sekali tak dapat ia rasakan selama di penjara.
"Huh akhirnya saya bisa bebas juga! Setelah bertahun-tahun menanti, sekarang tibalah saatnya saya keluar dari tempat ini!" ucap Keenan.
"Kakak!"
Keenan langsung menoleh ke asal suara, ia tersenyum saat melihat adiknya disana.
"Celine?" ucapnya pelan.
Celine langsung berlari menghampirinya, memeluk pria yang sudah lama ia rindukan itu dengan sangat erat.
"Aku kangen kakak!" ucap Celine.
"Sama, aku juga kangen kamu!" balas Keenan.
Keenan melepas pelukannya, menangkup wajah Celine dan memandangi tubuh adiknya itu dari atas sampai bawah.
"Kamu benar-benar berubah sayang, kamu lebih cantik dari sebelumnya." ucap Keenan.
"Iya kak, aku emang sengaja begini supaya kakak makin sayang sama aku. Selain itu, aku juga pengen tampil cantik saat aku jemput kakak disini." ucap Celine sambil tersenyum.
"Terimakasih sayang! Makasih karena kamu udah mau setia sama aku, lima tahun itu bukan waktu yang sebentar loh." ucap Keenan.
"Aku tau itu, tapi aku akan selalu menunggu kakak pulang walau selama apapun itu." ucap Celine.
Keenan tersenyum senang, ia kembali memeluk Celine dengan erat sembari menghirup aroma tubuh gadis itu.
"Kakak baik-baik aja kan selama di penjara?" tanya Celine.
"Sure, aku baik-baik aja. Kamu gak perlu khawatir sayang! Penjara emang tempat yang buruk, tapi selama disana aku ngerasa nyaman kok. Kalau aja ada kamu, pasti aku bakalan betah banget disana." jawab Keenan.
"Ahaha, kakak bisa aja.." ujar Celine.
"Yaudah, kita langsung pulang yuk! Aku lapar nih sayang, aku juga kangen sama masakan kamu. Boleh dong kamu masakin makanan buat aku di rumah nanti?" ucap Keenan.
"Ya jelas boleh lah kak, bahkan tanpa kakak minta pun aku juga udah masakin makanan kesukaan kakak kok di rumah. Kakak tinggal cobain aja nanti," ucap Celine.
"Oh ya? Wah pasti enak nih! Aku jadi makin gak sabar buat cobain masakan kamu," ucap Keenan.
"Iya dong kak, makanya ayo kita pulang sekarang! Itu aku juga udah pesan taksi buat kita," ucap Celine.
"Iya sayang.." ucap Keenan tersenyum.
Keenan merangkul pundak adiknya dan mulai melangkah bersama-sama menuju mobil.
Saat di dalam mobil, Keenan masih terus mendekap tubuh Celine seakan tak mau jauh-jauh dari gadis itu.
"Sayang, kamu selama aku di penjara ngapain aja? Kamu gak ada yang jahatin kan?" tanya Keenan.
"Enggak kok kak, kebetulan kak Albert perintahin dua orang anak buahnya buat kawal aku di rumah maupun sekolah. Bahkan, kak Albert juga kasih kerjaan buat aku loh." jawab Celine.
"Hah? Kerja apa? Bukannya kamu baru lulus SMA ya, kok udah bisa kerja aja?" tanya Keenan terkejut.
"Iya kak, kak Albert minta aku buat jadi model produknya. Awalnya sih aku ragu, karena aku gak punya pengalaman jadi model. Tapi, Alhamdulillah ternyata setelah iklannya jadi banyak yang suka sama produk kak Albert dan bikin keuangan perusahaan meningkat." jawab Celine.
"Akhirnya sampai sekarang kak Albert jadiin aku ini brand ambassador di kantornya, aku punya uang sendiri deh kak." sambungnya.
"Oalah, syukurlah kalo gitu! Berarti emang rezeki kamu tuh ada disitu sayang, aku ikut senang dengarnya. Tapi, kamu masih kuliah kan?" ucap Keenan.
"Masih kok kak, kan bisa diatur waktu kuliah sama waktu buat pemotretan." jawab Celine.
"Bagus deh! Sepenting apapun kerjaan itu, kamu harus tetap lanjutin pendidikan kamu!" ucap Keenan.
"Iya kak," ucap Celine sembari membenamkan wajahnya di bahu sang kakak.
•
•
Keesokan harinya, Vanesa memberanikan diri datang ke depan rumah Albert untuk melihat seperti apa putranya saat ini.
__ADS_1
Kerinduan Vanesa terhadap anaknya memang sudah tak dapat dibendung lagi, ia sangat merindukan sosok putranya itu.
"Pak, tunggu sebentar ya!" pinta Vanesa.
"Baik Bu!" ucap supir taksi yang ia naiki.
Vanesa pun turun dari mobil, ia perlahan melangkah menuju gerbang rumah Albert dan mulai mengintip ke dalam.
"Dimana kamu nak?" batinnya.
Tak lama kemudian, hal yang sedari tadi ia inginkan akhirnya muncul. Galen bersama suster Alra serta salah seorang penjaga disana keluar dari dalam dan bermain bersama-sama di halaman rumah.
"Ah itu pasti putraku, dia sudah besar dan semakin tampan ternyata.." ucap Vanesa merasa senang.
"Aku benar-benar bahagia melihatnya dapat tumbuh dengan sehat dan ceria seperti ini, keputusanku memang tidak salah untuk menyerahkan kamu pada ayahmu sayang." sambungnya.
"Biarpun aku harus berjauhan dengannya dan tidak bisa memeluknya, tapi tak apa. Itu lebih baik dibanding dia menderita nantinya jika hidup bersamaku," ucap Vanesa.
Vanesa melepas kacamatanya, ia menyeka air mata yang sudah keluar dari sana.
#Flashback
Albert menghampiri Vanesa yang telah selesai diperiksa oleh dokter, ia masih menggendong bayinya bersama Vanesa saat ini.
Albert memandangi seluruh tubuh Vanesa, ia tak menyangka wanita itu masih dapat bertahan dalam rasa sakitnya.
"Vanesa.." ucapnya lirih.
Perlahan Vanesa menggerakkan bola matanya, menatap Albert yang ada di hadapannya.
Wanita itu meneteskan air mata, ia terharu sekaligus senang karena Albert masih ada disana.
"Syukurlah kamu selamat!" ucap Albert.
Vanesa hanya dapat mengangguk kecil, tubuhnya masih sangat lemas dan infus juga masih menancap di hidungnya.
"Hanya saja, saya dapat kabar buruk mengenai putri saya dan Nadira. Dia tidak seberuntung kamu yang masih bisa selamat, dia harus meninggalkan dunia ini lebih cepat." ucap Albert.
Vanesa melotot mendengarnya, jujur ia juga sedih karena Albert harus kehilangan putri kandungnya.
"Tapi, Nadira masih belum tahu soal ini. Entah kenapa saya gak tega buat beritahu dia semuanya, saya takut dia sedih dan gak bisa terima kenyataan bahwa anaknya udah gak ada." ucap Albert menahan tangisnya.
"Ka-kamu ma-masih pu-punya anak.." ucap Vanesa terbata-bata dan dengan suara yang pelan.
"Iya, yang saya gendong ini emang anak saya. Tapi, dia bukan anak Nadira. Bagaimana bisa anak ini membuat Nadira tersenyum nantinya?" ucap Albert.
Vanesa memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kecuali satu, kamu biarkan saya yang mengurus anak ini bersama Nadira. Saya janji sama kamu, saya akan mengurus dia sebaik mungkin! Hanya saja, kamu tidak boleh muncul di hadapan dia nantinya. Kamu harus bersembunyi di tempat yang jauh, dan biarkan anak kamu hidup bahagia bersama saya dan Nadira!" ucap Albert.
Lagi-lagi Vanesa kembali dibuat melotot dengan perkataan Albert, sedangkan Albert hanya menatapnya penuh harap.
Vanesa pun tampak bingung, tentu ia tidak mau pisah dari putranya yang sudah susah payah ia lahirkan itu.
Namun, disisi lain Vanesa juga tidak bisa merawat putranya dengan baik karena kondisinya saat ini yang tak memungkinkan.
"Bagaimana? Kamu bersedia kan?" tanya Albert pada Vanesa.
Wanita itu berpikir sejenak, sampai ia memutuskan mengangguk dan memberi jawaban 'iya' pada Albert.
#Flashback end
Vanesa menangis saat mengingat momen itu, ada rasa penyesalan di dalam dirinya karena ia telah menyerahkan putranya kepada Albert saat itu.
"Maafkan ibu, nak!" ucapnya.
•
Nadira keluar dari rumahnya membawa satu mangkuk puding susu untuk Galen disana.
"Galen, nih makan dulu ya puding buatan mama! Ini kesukaan Galen loh, sini dulu yuk duduk sama mama!" ucap Nadira yang kini duduk di dekat putranya bermain.
"Iya mama," ucap Galen menurut dan langsung menghampiri mamanya. "Yeay asik makan puding!" sambungnya.
"Jadi, Albert dan Nadira kasih nama anakku itu Galen?"
Nadira tersenyum senang melihat putranya memakan puding buatannya itu dengan lahap, ia terus melamun hingga tanpa sengaja melihat seseorang berdiri di depan pagarnya.
"Hah? Itu siapa ya?" ujar Nadira bingung.
Vanesa masih belum sadar kalau Nadira mengamatinya, ia terus menatap Galen dari tempatnya berdiri saat ini.
Nadira pun bangkit dari duduknya, menatap intens ke arah Vanesa sehingga ia dapat menyadari siapa wanita yang disana itu.
"Vanesa...??"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1