
Setibanya mereka di mall, Albert langsung membantu Nadira turun dari mobil karena dilihatnya wanita itu sudah mulai melemas setelah mendapatkan pelepasan pertamanya akibat alat vibrator yang terpasang di miliknya itu.
Albert merangkul pundak istrinya, berjalan bersama memasuki kawasan mall. Ya saat ini Albert memang menghentikan sejenak siksaan untuk Nadira, karena ia ingin membuat kejutan begitu mereka berasa di dalam mall nanti.
"Gimana Nadira? Kamu suka kan saya bawa ke mall ini?" tanya Albert.
Nadira hanya mengangguk pelan.
"Bagus! Yaudah, yuk masuk! Disana kamu bebas mau beli apapun yang kamu mau, asalkan kamu harus menuruti semua kemauan saya!" ucap Albert.
"Iya tuan, saya mengerti!" ucap Nadira pelan.
Nadira sangat tahu kalau ia belum aman sampai disini saja, selagi alat itu belum dilepas dari miliknya maka ia yakin bahwa dirinya belum aman sama sekali dan masih harus selalu waspada jika sewaktu-waktu nanti Albert menyalakan alat itu dengan tiba-tiba.
"Aku gak ngerti lagi sama jalan pikiran ini orang! Dia benar-benar gila sama berhubungan badan!" batin Nadira.
Sesampainya di dalam mall, Albert bertanya pada Nadira hendak kemana mereka saat ini.
"Kamu mau beli apa dulu Nadira? Tas? Sepatu? Baju? Atau apapun itu suka-suka kamu, saya akan ikuti kamu kemanapun kamu mau!" tanya Albert.
"Umm, aku mau lihat-lihat tas sama sepatu deh!" jawab Nadira tersenyum.
"Oke, yuk kita kesana!" ucap Albert.
Keduanya pun berjalan ke arah toko sepatu yang ada di mall tersebut, suasananya cukup ramai hingga membuat Albert menyeringai dan mengambil remote dari saku jaketnya secara diam-diam.
Albert menekan tombol mulai dan mengatur intensitas getaran kencang, yang pastinya langsung membuat Nadira terkejut saat merasakan sesuatu bergetar di area miliknya, bahkan tangan wanita itu mencengkeram erat lengan Albert.
"Ahh tuan, kenapaahh tuan nyalain itu lagi?" ujar Nadira berusaha keras menahan suaranya.
"Gapapa, saya mau tes kamu aja! Saya suka lihat ekspresi kamu kalau lagi keenakan, makanya saya tekan tombol ini!" jawab Albert santai.
"Tapi tuan, disini banyak orang! Kalau mereka curiga dan tahu gimana? Aku malu!" ujar Nadira.
"Tenang aja! Gak akan ada yang berani tegur kita, bisa mampus mereka nanti! Kamu nikmati aja Nadira, bersuara semau kamu!" ucap Albert.
"Hah??"
Nadira benar-benar dibuat gila oleh Albert, ia terus bergerak-gerak berupaya menahan sensasi yang ia rasakan saat ini, dilihatnya lirikan mata orang-orang di sekitarnya yang sepertinya menyadari tingkah aneh Nadira saat ini.
"Pilih aja tas dan sepatu yang kamu mau, Nadira! Biar saya yang bayar nanti!" ucap Albert.
"Umm, iyahh tuanhh.."
Albert kembali tersenyum melihat ekspresi Nadira yang berhasil membuat miliknya mengeras, ia yakin sekali milik Nadira pasti sudah basah sekali akibat alat getar yang ia pasang disana.
Tak lama, Nadira mulai merasa ia akan mencapai puncak untuk yang kedua kalinya. Wanita itu pun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan sekuat mungkin, sampai terlihat mengeluarkan darah.
"Keluar lagi ya Nadira? Berarti alat itu emang canggih ya? Kamu bisa keluar dua kali dalam waktu singkat, kalah saya sama alat itu!" goda Albert.
"Tuan, saya udah gak tahan lagi! Aku mohon hentikan ini, tuan! Aku takut banget ada orang yang curiga dan laporin kita, tolong tuan lebih baik kita pulang daripada ke mall tapi tuan lakuin ini ke aku!" ucap Nadira memohon.
"Gak gak, gak boleh! Kamu harus biarkan alat itu ada di punya kamu!" tegas Albert.
"Tapi tuan—"
"Gak ada tapi tapi! Atau kamu mau saya hukum dengan yang lebih kasar lagi, ha?" potong Albert mengancam Nadira.
"Ti-tidak tuan," jawab Nadira merunduk.
"Yasudah, nikmati saja itu!" perintah Albert.
Nadira pun mengangguk pelan, ia terpaksa menuruti kemauan Albert walau dirinya sudah tidak kuat lagi.
•
•
"tuan stoopphh... pleaseehh tuaan!"
Nadira terus bersuara kencang saat Albert ikut memasukkan jari tengahnya, menekan-nekan area sensitif milik Nadira di bawah sana. Membuat tubuh Nadira menggeliat hebat merasakan getaran serta gerakan dari jadi Albert secara bersamaan.
Albert yang mendengar racauan Nadira bukannya berhenti, ia justru semakin bersemangat menggerakkan milik Nadira dan menambah satu jari untuk menambah sensasi nikmatnya.
Ya kini keduanya masih berada di dalam toilet mall, Albert sengaja membawa Nadira kesana untuk memberikan kenikmatan yang luar biasa. Albert tak mau membiarkan Nadira mencapai puncaknya begitu saja hanya dengan alat tersebut, itu sebabnya ia turut memasukkan jarinya disana.
"Eh guys tadi gue lihat baju bagus banget loh!"
__ADS_1
"Oh ya? Nanti tunjukin ke gue dong!"
"Boleh boleh!"
Terdengar suara seseorang masuk ke dalam toilet tersebut, Albert langsung membekap mulut Nadira dengan telapak tangannya tanpa menghentikan gerakan jarinya di bawah sana.
"Hey, tahan suara kamu!" bisik Albert.
Nadira mengangguk dengan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya, ia tak tahan lagi dengan segala perlakuan yang ia dapatkan dari Albert padanya. Pria itu terus memperlakukan dirinya seperti seorang budak tanpa cinta sedikitpun.
"Mmppphhh..."
"Eh sssttt! Kalian denger gak tuh?"
Albert menghentikan gerakan jarinya dan mengurangi kecepatan alat di dalam milik Nadira setelah mendengar suara tersebut, ya ia pun panik kalau sampai orang-orang itu tahu tentang kelakuan dirinya disana.
"Sudah saya bilang tahan, kenapa kamu malah masih bersuara sih? Kamu sengaja ya mau bikin kita digrebek?" tegur Albert.
Nadira menggeleng cepat karena ia memang tak memiliki niatan seperti itu.
"Tuan Albert udah gila! Dia nyuruh aku berhenti bersuara, tapi dia gak hentiin jarinya disana! Gimana aku bisa tahan coba?" batin Nadira.
Perlahan terdengar suara langkah kaki mendekati pintu toilet tempat mereka berada, jantung Albert semakin dag-dig-dug tak karuan panik karena sepertinya orang-orang itu sudah mendekat.
Ya benar saja tiga wanita yang baru masuk ke dalam toilet tersebut, langsung menempelkan telinga mereka ke dekat pintu. Mereka penasaran sekali setelah mendengar suara desahann Nadira.
"Kok sepi ya? Perasaan tadi gue dengar kayak ada suara desahh gitu deh!"
"Iya ya, coba deh lu gedor-gedor!"
Braakkk... braakkk... braakkk...
Wanita-wanita itu menggedor pintu dengan keras bermaksud mengecek apakah ada orang di dalam atau tidak, namun Albert terus memerintahkan Nadira untuk diam tak bersuara sedikitpun.
"Woi ada orang gak di dalam?! Lu baik-baik aja kan, gak kenapa-napa?"
Albert pun melepas telapak tangannya dari mulut Nadira, meminta gadis itu untuk bersuara menjawab pertanyaan orang di luar.
"Cepat katakan kamu baik-baik saja!" titah Albert.
"Ada, dan saya baik-baik aja kok! Kalian gak perlu cemas gitu, saya cuma lagi buang air besar susah banget daritadi gak keluar-keluar!" teriak Nadira sesuai perintah Albert.
"Ohh yaudah deh, kirain lagi nganu nganu!"
"Hahaha..."
Para wanita di luar itu pergi sambil tertawa setelah mengetahui kebenarannya, ya walau mereka tak percaya seratus persen pada perkataan Nadira.
Setelah dirasa aman, Albert kembali menambah kecepatan alat getar di bawah sana dan turut memasukkan jarinya membuat Nadira terus bersuara penuh gairah.
•
•
Albert dan Nadira keluar dari toilet sesudah selesai menuntaskan permainan mereka, tampak wanita itu masih ngos-ngosan akibat perlakuan Albert dan kini tubuhnya dipenuhi oleh keringat yang terus mengucur membasahi wajah hingga lehernya.
Albert merangkul Nadira, ia mengecup kening wanita itu dan sesekali menjilat lehernya membuat Nadira kembali melenguh pelan, sudah tak ada tenaga lagi bagi Nadira untuk melawan sehingga ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Albert.
"Tuan, lain kali aku mau di rumah aja! Percuma pergi ke mall kayak gini, kalau aku harus tetap puasin tuan!" ucap Nadira menatap wajah Albert.
"Ohh jadi kamu gak ikhlas puasin saya? Mau saya hukum nanti di rumah?" ujar Albert emosi.
"Gak gitu tuan, aku cuma bilang lebih baik kita begituan di rumah aja! Kalau di tempat ramai kayak gini, beresiko besar tuan bakal ada yang lihat kita dan tangkap kita nanti!" ucap Nadira.
"Iya sih, tapi saya pengen sensasi yang berbeda aja gitu! Dan terimakasih Nadira, karena kamu sudah bikin saya puas hari ini!" ucap Albert tersenyum.
Cupp!
Albert mengecup bibir mungil Nadira sambil terus berjalan mengelilingi mall, wanita itu hanya diam tak melakukan apapun walau Albert menggerayangi tubuhnya dengan sangat nakal dan penuh gairah.
Semuanya baik-baik saja, sampai mereka harus berpapasan dengan seorang pria yang tak lain ialah Cakra, teman sekolah Nadira yang juga dicintai oleh wanita itu.
"Hai Nadira! Kamu disini juga ternyata, kok gak ngabarin aku sih?" ucap Cakra menyapa Nadira.
Sontak Nadira terkejut saat melihat Cakra ada disana, terlebih Albert yang langsung mengepalkan tangannya tanda emosi membuat Nadira semakin khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di mall tersebut.
"Cakra? Ka-kamu ngapain disini?" ujar Nadira.
__ADS_1
"Loh, ya aku lagi healing aja ngilangin stress setelah kamu pergi dari hidup aku!" jawab Cakra.
"Hah?" Nadira menganga terkejut.
"Heh! Anda mau ngapain lagi sih dekati Nadira? Sebaiknya anda cepat pergi dari sini, sebelum kesabaran saya habis!" tegur Albert.
"Eh ada om juga ternyata? Apa kabar om? Jangan galak-galak dong om, saya kan cuma mau ketemu Nadira teman sekolah saya! Oh ya, om juga gak berhak dong larang-larang saya buat ketemu Nadira, emang om siapa nya Nadira?" ujar Cakra.
"Anda panggil saya apa tadi? Om? Hey, anda pikir saya ini setua itu ha? Dan lagipun, jelas saya berhak melarang anda untuk menemui Nadira karena sekarang dia milik saya!" tegas Albert.
"Hahaha milik om? Darimana sejarahnya Nadira jadi milik om? Om udah gak waras ya?" ujar Cakra.
"Dasar kurang ajar!"
Albert semakin emosi karena perkataan Cakra, ia hendak maju memukul pria tersebut tapi dihalangi oleh Nadira dengan cepat.
"Tunggu tuan, jangan bikin masalah di mall! Nanti kalau ada satpam yang lihat gimana?" ucap Nadira.
"Kamu salahkan pria itu! Berani-beraninya dia bilang saya gak waras, padahal dia sendiri yang udah stress dan gak mau terima kenyataan kalau kamu sudah menjadi milik saya!" ujar Albert.
"Om, saya tahu kalau Nadira itu gak mau sama om tapi om selalu paksa dia! Maka dari itu saya minta sekarang sama om, lepaskan Nadira dan biarkan dia memilih diantara saya atau om! Supaya Nadira bisa bebas tanpa kekangan!" ucap Cakra.
Albert terdiam melirik sejenak ke arah Nadira, terlihat wanita itu menunduk kebingungan tak tahu harus bagaimana saat ini.
"Untuk apa saya harus menuruti kemauan anda? Yang jelas sekarang Nadira sudah menjadi milik saya, cepat anda pergi atau saya akan habisi anda disini!" ucap Albert.
"Hahaha, kenapa? Om takut ya kalau Nadira ternyata lebih memilih saya daripada om? Ayolah om, sadar diri! Nadira itu gak suka sama om, dia cintanya sama saya bukan om!" ucap Cakra.
"Cakra cukup! Kamu jangan bikin masalah disini, tolong pergi dan ikhlasin aku!" bentak Nadira.
Albert tersenyum puas saat mendengar Nadira membela dirinya, sedangkan Cakra melongok tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Nadira? Kamu kok bicara begitu?" tanya Cakra.
"Iya Cakra, cepat kamu pergi dari sini! Kamu salah kalau aku gak suka sama tuan Albert, aku ini cinta sama dia! Dan aku juga udah lupain kamu Cakra, sebaiknya kamu pergi, jangan pernah datang lagi di kehidupan aku!" tegas Nadira.
Cakra terdiam tak berdaya, jika Nadira saja tak ingin ia bantu maka untuk apa ia masih disana?
"Anda dengar kan? Cepat pergi sebelum saya marah!" ucap Albert.
"Oke Nadira, aku pergi untuk kamu! Tapi, aku gak akan lepasin kamu gitu aja! Aku tahu kamu cuma terpaksa bilang begitu tadi, ayah dan ibu kamu udah ceritain semuanya ke aku! Kamu gak perlu cemas, aku akan terus berusaha untuk bebasin kamu dari cowok br*ngsek ini!" ujar Cakra.
"Hahaha, silahkan kalau anda bisa!" tantang Albert.
Kedua pria itu saling bertatapan, lalu Cakra pun melangkah pergi dari sana dengan perasaan kesal dan ingin segera menghabisi Albert.
Sementara Nadira terlihat menangis saat mengingat ayah dan ibunya, ia sungguh merindukan kedua orangtuanya yang telah lama tak bisa ia temui itu.
"Ayah, ibu, kalian apa kabar sekarang? Aku kangen banget sama ayah dan ibu!" batin Nadira.
Melihat wanitanya mengeluarkan air mata, Albert merasa heran dan langsung sigap mengusap air mata tersebut dengan dua tangannya.
"Hey, kamu kenapa nangis?" tanya Albert cemas.
Nadira terisak, ia menatap wajah Albert dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan, boleh saya minta sesuatu?" ucap Nadira.
"Apa itu?"
❤️
Cakra kembali ke tempat teman-temannya berada, ia duduk dengan perasaan kesal karena masih mengingat kejadian tadi saat ia bertemu dengan Nadira dan Albert.
Teman-temannya disana pun kebingungan, mereka tak mengerti mengapa Cakra terlihat emosi seperti itu, akhirnya salah satu dari mereka yang bernama Dean mulai bertanya pada Cakra.
"Cak, lu kenapa sih? Ada apaan di toilet sampe lu emosi gitu?" tanya Dean.
"Gapapa," jawab Cakra singkat.
Cakra tak mau menceritakan semua itu pada teman-temannya, karena ia ingin mengurus semuanya sendiri.
"Gue gak mungkin ceritain semuanya ke mereka, yang ada mereka bisa tahu kalau sekarang Nadira udah jadi wanita simpanan om-om!" gumam Cakra dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1