
Abigail pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Tante, tante tunggu dong!" teriak Vanesa.
Liam dan yang lainnya dengan sigap langsung menghalangi Vanesa agar tidak masuk ke dalam.
"Maaf! Tapi, kamu tidak boleh masuk!" ucap Liam.
"Huh menyebalkan! Kenapa aku tidak boleh masuk? Anakku itu ada di dalam, dia butuh aku dan aku juga butuh dia." ucap Vanesa.
"Kami tidak perduli, kami hanya menjalankan perintah dari nyonya besar." ucap Liam.
"Dasar kalian para cecunguk murahan! Cepat kalian minggir, atau aku akan memaksa masuk ke dalam sana!" ucap Vanesa.
"Kamu tidak bisa memaksa kami, lagipun kami juga tidak takut dengan ancaman mu itu!" ucap Liam.
"Baiklah, kalian benar-benar membuat emosiku meningkat. Jangan salahkan aku jika kalian semua akan mati di tanganku!" ucap Vanesa.
Liam dan yang lainnya tampak saling pandang satu sama lain, mereka tak mengerti mengapa Vanesa mengucapkan kalimat seperti itu.
Tanpa diduga, Vanesa mengeluarkan senjata api miliknya dari dalam tas yang ia bawa dan menodongkan itu ke arah Liam.
Sontak saja Liam serta para penjaga disana langsung terkejut dengan itu.
"Hey! Apa yang kamu lakukan? Darimana kamu mendapatkan senjata itu? Tidak sembarang orang bisa memilikinya, apa kamu sudah mempunyai izin?!" ucap Liam.
"Apa perduliku? Aku tidak butuh izin itu, yang terpenting sekarang kalian semua akan mati di tanganku!" ucap Vanesa tersenyum smirk.
"Ja-jangan Vanesa!" pinta Liam ketakutan.
"Kenapa? Takut ya?" ujar Vanesa.
Liam dan yang lainnya sudah pasrah, mereka hanya bisa mengangkat kedua tangan mereka dan berharap agar Vanesa tidak menembak.
"Tunggu Vanesa!" suara teriakan itu membuat Vanesa mengurungkan niatnya untuk memantik senjata api di tangannya itu.
Sontak Vanesa menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang berteriak tersebut.
"Albert? Keenan?" ucap Vanesa lirih.
Vanesa amat terkejut mendapati dua orang pria itu sudah muncul di dekatnya.
"Kamu keterlaluan Vanesa! Kamu sudah membuat hubungan saya dengan Nadira jadi kacau! Sekarang kamu harus terima akibatnya, saya tidak akan pernah mengampuni kamu lagi!" ucap Albert.
"Hahaha, kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu itu Albert? Apa kamu gak lihat yang aku pegang ini, ha?" ucap Vanesa.
"Ya, saya tahu kamu sedang memegang senjata. Tapi, saya tidak pernah takut dengan apapun itu termasuk pistol milik mu. Saya ini Albert, kamu pikir saya tidak mempunya benda semacam itu?" ucap Albert.
"Kamu salah Vanesa, karena nyatanya saya juga memiliki itu." sambungnya.
Albert pun mengambil pistol miliknya yang tersimpan dibalik jas, ia tersenyum lebar dan menunjukkan pistol itu kepada Vanesa.
"Lihat kan Vanesa?" ucap Albert.
Vanesa terbujur kaku melihatnya, ia tak menyangka Albert juga memiliki senjata seperti miliknya. Kini ia pun merasa bingung harus melakukan apa.
"Dan kamu tahu lagi Vanesa? Seluruh anak buah saya juga telah saya bekali senjata seperti ini, bukan begitu Liam?" ucap Albert dengan tatapan mengarah pada Liam.
"Hah??" Vanesa terkejut dan menoleh ke arah Liam, ia makin syok saat Liam juga menodongkan pistol ke arah kepalanya.
"Betul tuan!" ucap Liam tersenyum tipis.
"Sial! Aku dikepung, kalau begini aku hanya bisa diam menunggu papa datang." batin Vanesa.
"Bagaimana Vanesa? Masih ingin melawan? Atau kamu sudah ketakutan melihat kepala kamu ditodong pistol seperti ini?" tanya Albert.
"Diam kamu Albert! Aku tidak pernah takut dengan kamu, apalagi pistol itu. Kali ini akulah yang akan menang Albert, bukan kamu!" ucap Vanesa.
"Baiklah, saya nantikan kata-kata kamu itu!" ucap Albert.
Vanesa terus melirik ke kanan dan kiri dengan tubuh gemetar, ia berharap Harrison bisa segera tiba disana untuk menyelamatkannya.
"Kamu kenapa Vanesa? Cari siapa sih? Gak bakal ada yang bantuin kamu kali ini, kamu akan saya habisi saat ini juga!" ujar Albert.
Deg!
Vanesa terkejut bukan main, ia terus mundur menjauh dari Albert dengan raut ketakutan.
"Percuma saja Vanesa, kamu mau mundur sampai mana juga kamu bakal tetap saya habisi. Saya sudah beri kamu kesempatan untuk hidup, tapi kamu malah melawan saya dan bikin saya susah. Rasakan lah ini Vanesa!" ucap Albert.
Baru saja Albert hendak menembak, namun suara keributan terdengar di telinganya.
Dor dor dor!!
"Apa itu Keenan? Darimana asal suara keributan itu?" tanya Albert.
"Sepertinya dari gerbang depan, tuan. Mungkin saja ada yang ingin menyelamatkan Vanesa dari sini," jawab Keenan.
Albert melirik ke arah Vanesa, melihat wanita itu tengah tersenyum puas merasa lega.
"Sialan kamu Vanesa!" umpat Albert.
•
__ADS_1
•
Nadira tengah duduk di atas ranjang kamarnya, ia mengingat-ingat kenangan yang dulu pernah ada saat ia belum menikah dengan Albert.
Nadira juga mengambil sebuah album foto berisi berbagai kenangan ia bersama teman sekolah maupun keluarganya.
"Indah banget jaman ini! Sekarang jarang banget aku bisa tertawa bahagia kayak gini, kehidupan aku udah hancur banget sekarang karena kebohongan mas Albert!" ucap Nadira.
Nadira terus membuka foto-foto di album tersebut, entah mengapa ia merasa nyaman saat melihatnya.
"Aku kangen kalian semua! Andai aja aku bisa ketemu lagi sama kalian, pasti aku bakalan senang banget. Tapi, kayaknya itu gak mungkin. Aku aja gak tahu kalian ada dimana sekarang," ucapnya.
Tanpa sadar, Nadira menemukan kalung yang melingkar di lehernya saat ia menatap ke cermin.
Akhirnya Nadira pun memegang kalung itu, seketika ia teringat pada sosok suaminya.
"Kalung ini kan pemberian mas Albert," ucapnya.
"Ini buat kamu," ucap Albert.
"Kalung? Kamu kasih aku kalung lagi, mas? Yang ini kan udah, terus buat apa lagi coba kamu kasih aku kalung?" tanya Nadira terheran-heran.
"Ini kalungnya beda, disini ada kamera pengawas dan gps yang udah saya pasang supaya saya bisa awasin kamu. Jadi, saya gak perlu khawatir kalau saya gak ada di dekat kamu." jelas Albert.
"Segitunya ya kamu khawatir sama aku, gak mau kehilangan aku ya?" ledek Nadira.
"Gausah kege'eran deh! Ini pake aja buru!" ucap Albert.
"Iya iya.." ucap Nadira menurut dan menundukkan kepalanya.
Nadira langsung membuang jauh-jauh pikiran mengenai suaminya itu dari kepalanya, ia sudah merasa sangat kecewa pada Albert akibat seringkali dibohongi.
"Aku lepas aja kali ya kalung ini? Supaya mas Albert juga gak tahu kalau aku ada disini," ucap Nadira.
"Iya deh, aku lepas. Lagian aku juga gak mau pakai barang-barang dari mas Albert lagi," sambungnya.
Tanpa berpikir panjang, Nadira segera melepas kalung tersebut dari lehernya. Ia menatap sekilas kalung itu dengan penuh kekecewaan.
"Aku akan buang kamu ke tempat yang jauh, aku benci sama kamu, mas!" ucap Nadira.
Saat Nadira hendak bangkit dan keluar dari kamarnya, ia terkejut lantaran Sulastri tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Nadira, kamu mau kemana?" tanya Sulastri.
"Eh ibu, enggak kok ini aku cuma mau buang sampah." jawab Nadira.
"Hah? Sampah? Ini kalung mahal loh sayang, kok dibilang sampah? Terus, kenapa kamu mau buang kalung ini?" tanya Sulastri keheranan.
"Karena aku udah gak butuh benda ini, aku mau buang semua barang pemberian mas Albert jauh-jauh." jawab Nadira.
"Bukan cuma marah Bu, aku juga benci dan kecewa sama mas Albert! Sekarang gini deh Bu, siapa coba yang tahan kalau dibohongi terus-terusan sama suami sendiri? Aku udah gak mau lagi balik sama mas Albert, aku mau kita pisah!" ucap Nadira.
"Hah? Duh sayang, kamu jangan buru-buru ambil keputusan dalam keadaan emosi ya! Nanti kamu bisa nyesel loh, ada baiknya kamu pikirin dulu semuanya! Kamu renungi bersama suami kamu dan selesaikan secara baik-baik!" ucap Sulastri.
"Apa lagi yang mau direnungi Bu? Keputusan aku udah bulat kok!" ucap Nadira.
"Tapi sayang, memangnya kamu udah gak cinta sama suami kamu itu? Lalu, bagaimana dengan Galen anak kalian? Apa kamu tega tinggalin dia sendirian?" ucap Sulastri.
Nadira terdiam sejenak, mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
"Buat apa aku perduli sama Galen, Bu? Galen itu bukan anak kandung aku, dia anak Vanesa. Aku nyesel banget udah urus dia dari lahir sampai sekarang! Kalau tahu dia anak Vanesa, aku gak akan mungkin mau urus dia!" ucap Nadira.
"Hus Nadira! Kamu kenapa bicaranya begitu? Biar gimanapun juga, Galen kan sudah seperti anak kandung kamu sendiri." ucap Sulastri.
"Enggak bu, aku gak sudi anggap anak dari perusak rumah tangga aku itu sebagai anak kandung aku! Galen cuma biang masalah Bu, aku nyesel udah rawat dia!" ucap Nadira penuh emosi.
Sulastri benar-benar syok mendengar ucapan Nadira, ia sampai terbengong begitu saja disana.
Sementara Nadira langsung pergi keluar dari kamarnya meninggalkan Sulastri.
"Nadira kelihatannya benar-benar marah, harusnya memang aku tidak setuju dengan rencana Albert ini!" batin Sulastri.
•
Saat tiba di luar, Nadira bertemu dengan Rojali yang hendak pergi memancing.
Tentu saja Rojali berhenti sejenak di hadapan Nadira untuk menyapa wanita itu.
"Hai Nadira! Selamat sore!" sapa Rojali.
"Iya bang, sore juga!" balas Nadira dengan senyum manis di bibirnya.
"Duh manisnya! Eh, kamu mau kemana Nadira? Perlu abang antar gak?" tanya Rojali.
"Ah enggak usah bang, aku cuma mau buang kalung ini kok." jawab Nadira seraya menunjukkan kalung miliknya kepada Rojali.
"Hah? Buset dah kalung sebagus itu masa dibuang sih neng Dira?! Daripada dibuang, mending dijual aja biar ada hasilnya." ujar Rojali.
"Umm, yaudah terserah abang aja deh! Ini kalungnya buat abang, jadi suka-suka abang mau dibuang atau dijual kek." ucap Nadira memberikan kalung itu pada Rojali.
"Kamu serius Nadira? Ini gak lagi bercanda atau ngeprank saya kan?" tanya Rojali.
"Ya enggak lah bang, buat apa aku ngeprank abang? Udah, ini ambil aja kalungnya!" jawab Nadira.
__ADS_1
"Beneran nih?" tanya Rojali memastikan.
"Iya bang Rojali..." jawab Nadira.
Rojali akhirnya mengambil kalung itu dari tangan Nadira sambil tersenyum lebar.
"Hehe, makasih ya neng! Emang rezeki mah gak kemana dah! Tapi, kalau abang jual nanti uangnya buat abang atau buat neng Nadira?" ujar Rojali.
"Ya buat abang lah, udah ya aku mau masuk lagi?" ucap Nadira.
"Ah iya iya, sekali lagi makasih ya neng Dira! Semoga sehat terus dan cantiknya nambah!" ucap Rojali.
"Ahaha, aamiin!" ucap Nadira.
Setelah itu, Nadira langsung kembali ke dalam rumahnya dengan perasaan lega.
"
•
Dor!
Satu tembakan mengarah tepat di bahu Albert, membuat pria itu terkejut dan senjata di tangannya terlepas.
"Awsss akh!" pekiknya sembari memegangi bahunya yang terkena tembakan.
"Tuan Albert! Tuan tidak apa-apa?" ucap Keenan tampak panik dan langsung menghampiri mantan bosnya itu.
"Ahhss, saya gapapa." jawab Albert meringis.
"Hahaha, rasakan itu Albert!"
Tiba-tiba suara berat muncul dari belakang, kedua pria itu pun langsung menoleh dan menatap segerombolan orang yang berdiri disana.
"Harrison? Sudah kuduga, ini pasti perbuatan mu!" ucap Albert.
"Hahaha, tentu saja Albert, ini memang perbuatan ku. Aku yang sudah merencanakan semua ini untuk menghabisi kamu Albert!" ucap Harrison dengan bangga.
"Kurang ajar! Dikasih hati malah tidak tahu terimakasih, kamu itu benar-benar biadab Harrison! Saya menyesal sudah memaafkan kamu sebelumnya! Seharusnya saya habisi saja nyawa kamu waktu itu!" geram Albert.
"Hahaha, yang lalu biarlah berlalu Albert! Sekarang kamu yang akan aku habisi di depan rumah kamu sendiri!" ucap Harrison.
Harrison melangkah lebih dekat menghampiri Albert yang sedang terluka itu.
"Hey kalian bodyguard bodoh! Turunkan senjata kalian dari putriku, atau aku akan bunuh bos kalian ini sekarang juga!" pinta Harrison.
Mau tidak mau, Liam pun menuruti permintaan Harrison dan menurunkan senjatanya.
"Vanesa, mari sini sayang!" ujar Harrison.
"Papa!" Vanesa langsung berlari menghampiri papanya dan memeluknya disana.
"Kamu tidak akan sedih lagi sayang! Hari ini papa pastikan, kebahagiaan itu akan menjadi milik kita!" ucap Harrison.
"Iya pah, makasih ya karena papa udah ngertiin aku!" ucap Vanesa.
"Sama-sama sayang," ucap Harrison.
Merasa sudah terkepung, Albert pun mulai panik dan tak tahu harus bagaimana lagi. Ditambah saat ini bahunya juga terus mengeluarkan darah yang terasa sakit.
"Tuan, sebaiknya tuan pergi dari sini sekarang juga! Bawa nyonya Abigail dan yang lainnya di dalam sana melalui pintu belakang!" pinta Keenan.
"Jangan konyol kamu Keenan! Lalu bagaimana dengan kamu, ha?" ucap Albert.
"Tidak apa tuan, saya bisa hadapi mereka dan tahan mereka supaya tidak mengejar tuan. Lagipun, masih ada pak Liam dan beberapa pengawal lain disini yang bisa membantu saya. Ayolah tuan, cepatlah pergi mumpung kesempatan itu masih ada!" ucap Keenan.
"Gak gak gak! Saya gak mungkin tinggalin kamu!" ucap Albert menolak permintaan Keenan.
"Tidak ada waktu lagi tuan, kalau tuan tidak pergi sekarang, maka nasib kita semua akan berakhir saat ini juga!" ucap Keenan.
"Ta-tapi Keenan..."
"Percayakan saja semuanya sama saya, tuan!" ucap Keenan meyakinkan Albert.
Albert terdiam dan memikirkan ucapan Keenan itu, ia pun mengangguk setuju walau sangat berat baginya untuk pergi meninggalkan Keenan.
"Baiklah, saya akan pergi. Kamu pegang ini supaya tambah jago!" ucap Albert menyerahkan pistol miliknya kepada Keenan.
"Terimakasih tuan!" ucap Keenan tersenyum.
Perlahan Albert melepaskan diri dari dekapan Keenan, lalu berlari cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Hey jangan lari kamu!" teriak Harrison.
Dor!
Namun, Keenan berhasil menahan Harrison yang hendak masuk dengan menembakkan pistol ke arah lengan Harrison.
"Akh! Sialan!" umpat Harrison memegangi lengannya yang berdarah.
"Pah, papa gapapa?" ucap Vanesa panik.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...