
Braakkk...
Albert emosi dan membanting pintu dengan kasar saat memasuki ruang kerjanya, ia mengacak-acak semua barang yang ada disana lalu menjambak rambutnya sendiri seraya merutuki dirinya setelah kejadian yang baru-baru ini menimpanya dan perusahaan yang ia kelola itu.
Albert merasa sangat bodoh karena telah gagal mengelola perusahaan miliknya sendiri, padahal ia telah sempat dinobatkan sebagai salah satu pengusaha sukses di usia muda, namun semua itu lenyap dalam seketika setelah dirinya mengalami berbagai macam masalah.
Bahkan pemberitaan mengenai masalah yang terjadi di kantornya itu telah tersebar dimana-mana, apalagi aksi demo para karyawan menuntut gajinya juga ikut ramai diperbincangkan oleh khalayak ramai, mereka seakan tak percaya bahwa sosok Albert ternyata dapat terkena masalah sebesar ini dan terancam bangkrut.
Akhirnya pria itu memilih duduk dan masih terus memegangi kepalanya dengan kedua tangan, ia merunduk sesekali berteriak membuat seisi ruangannya bergetar akibat teriakan tersebut.
"Aaarrgghh!! Dasar bodoh! Kenapa kamu bisa sebodoh ini Albert? Kenapa??!!" teriaknya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya, Albert pun mengangkat kepala menghadap ke arah pintu dengan sorot tajam dan coba mengatur nafasnya, kondisinya saat ini sudah sangat buruk dan berantakan.
"Masuk!" ucap Albert singkat.
Ceklek...
"Kak Albert!" Albert dibuat terkejut begitu mendengar suara tersebut memanggil namanya, ia menoleh melihat sosok Chelsea adiknya yang datang kesana.
"Kak Albert gapapa?" Chelsea kembali menanyakan tentang kondisi abangnya itu, ia menghampiri Albert dan berdiri di sebelahnya seraya memegang dua pundak pria tersebut.
"Kalau kak Albert lagi emosi, sebaiknya jangan menyendiri kayak gini! Nanti kakak jadi makin susah buat kendalikan emosi di dalam diri kakak sendiri, makanya aku samperin kak Albert kesini supaya kakak bisa lebih tenang!" ucap Chelsea pelan sembari mengusap pundak abangnya.
"Makasih! Mana Keenan? Kenapa dia gak ikut sama kamu kesini?" ucap Albert bertanya tentang asistennya yang tidak ada disana.
"Eee Keenan lagi urus sisa-sisa demo tadi, kan kakak tahu sendiri sempat ada kerusuhan sebelum kak Albert datang kesini! Aku juga heran sama mereka, kok bisa ya mereka sampai semarah itu? Padahal rata-rata mereka itu bekerja disini pakai hati, ya kan kak? Harusnya mereka bisa terima masalah seperti ini, namanya juga usaha kadang di atas kadang di bawah!" ucap Chelsea.
"Ya wajarlah Chelsea! Mereka juga kan manusia biasa, pasti mereka butuh uang buat biaya hidup mereka! Disini yang salah itu pak Burhan, karena dia udah mengkorupsi dana perusahaan cukup besar! Sehingga kita gak bisa bayar gaji-gaji para karyawan itu, dan wajar aja mereka menuntut kita supaya bisa bayar gaji mereka!" ucap Albert.
"Iya sih kak, aku juga masih gak habis pikir! Kenapa ya pak Burhan tega ngelakuin itu? Dia sama aja udah khianati kakak loh, tapi kenapa ya masalah ini baru ketahuan sekarang? Emang kakak atau Vanesa gak ada ngerasa curiga apa?" ujar Chelsea.
"Enggak, dia benar-benar licik! Semuanya dia lakukan dengan bersih, tanpa meninggalkan jejak sama sekali! Kakak juga bingung kenapa dia tega ngelakuin itu, padahal kakak selama ini udah percaya sama dia! Ternyata benar kata orang, gak ada yang bisa tulus dipercaya!" ucap Albert.
"Itu dia kak, masih untung tadi Vanesa bisa temuin sumber permasalahan kita! Jadi, karyawan yang demo juga bisa tenang! Tapi, gimana cara kakak buat bayar gaji mereka nanti?" ucap Chelsea.
"Tenang aja! Kakak udah pikirin semua itu, masih ada keuntungan lainnya yang bisa kakak peroleh untuk bayar gaji karyawan-karyawan itu!" ucap Albert sambil menghela nafasnya.
"Darimana?" tanya Chelsea penasaran.
"Bisnis pinjam uang yang kakak jalanin, masih banyak orang yang belum bayar hutang ke kakak sepenuhnya! Kakak pastikan setelah ini mereka semua bakal langsung bayar hutang mereka, jadi kakak bisa deh bayar gaji karyawan kakak!" jawab Albert tersenyum licik.
"Ish, maksudnya selama ini tuh kakak juga jadi rentenir?" ujar Chelsea terkejut.
Albert pun terdiam, ia baru sadar kalau Chelsea memang belum mengetahui apa-apa tentang bisnis yang ia jalani di luar perusahaan itu.
"Mampus saya!" umpatnya dalam hati.
"Kak, coba jelasin ke aku sekarang! Kenapa kakak jalanin bisnis peminjaman uang kayak gitu? Pasti kakak suka tekan-tekan orang kan buat bayar hutang mereka dan kasih bunga sembarangan? Itu dosa loh kak, gak boleh!" ujar Chelsea.
"I-i-iya sayang, emang benar begitu! Kakak akui semua itu kakak lakukan, bahkan Nadira jadi istri kakak juga karena hutang ayahnya yang gak bisa terbayarkan! Tapi, bisnis ini tuh sangat menguntungkan sayang! Bahkan lebih untung dibanding perusahaan yang kakak kelola ini, jauh malah!" ucap Albert menjelaskan.
"Apa? Ya ampun kak, tuh kan benar kalau kakak nikahin Nadira bukan karena cinta! Kak Albert ini kenapa sih? Gimana kalau nanti tiba-tiba Nadira berubah dan ternyata dia punya niat buat balas dendam ke kakak?" ucap Chelsea.
"Ya gak mungkin lah! Dia itu gadis lugu yang lemah, mana mungkin dia kayak gitu?" ujar Albert.
"Kak, jangan salah! Bisa aja dia cuma pura-pura begitu di depan kakak, di belakangnya lain lagi! Emang kakak selalu perhatiin gerak-gerik dia selama kakak lagi juga dari dia? Enggak kan?" ucap Chelsea.
Lagi-lagi Albert terdiam dan dibuat berpikir oleh perkataan adiknya, menurutnya benar juga apa yang dikatakan oleh Chelsea barusan, apalagi Nadira juga sudah dua kali berbincang dengan pamannya dan mereka terlihat sedang merencanakan sesuatu.
"Benar juga apa yang dibilang Chelsea, saya harus hati-hati dengan Nadira!" batin Albert.
__ADS_1
•
•
Ceklek...
"Ada apa ya, mbok?" tanya Nadira yang baru keluar dari kamarnya membuka pintu setelah mendengar suara ketukan seraya memanggil namanya.
Itu adalah mbok Widya, yang datang ke kamar Nadira dengan wajah panik seperti ada sesuatu terjadi di depan rumah. Membuat Nadira pun ikut penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
"Mbok, kenapa sih? Ngapain mbok ketuk ketuk pintu kayak gitu? Saya lagi tidur tau!" ujar Nadira.
"Eee maaf ya non! Itu loh di depan ada tuan Darius mau ketemu lagi sama non Dira, baiknya gimana ya non? Non mau temuin atau enggak? Kalau emang non gak mau dan masih pengen istirahat, gapapa biar saya bilangin nanti!" jelas mbok Widya.
Nadira terdiam sejenak memikirkan itu, ia merasa Darius sudah semakin membuatnya bingung karena terus-terusan datang kesana menemuinya.
"Yaudah gapapa mbok, biar saya temuin aja om Darius! Tapi, saya mau cuci muka dulu biar gak ngantuk! Tolong mbok bilangin ke om Darius, saya mau cuci muka dulu gitu!" ucap Nadira.
"Oh baik non, siap!" ucap mbok Widya.
Setelahnya, Nadira pun kembali menutup pintu dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sebentar sebelum ia akan menemui Darius di depan sana. Ia berpikir sejenak menatap cermin dengan wajah yang sudah basah, ia bingung apakah harus melanjutkan keinginannya untuk pergi dari sana atau tidak.
"Kira-kira aku tetap lanjutin rencana aku dan om Darius apa enggak ya? Aku masih pengen sih pergi dari sini, tapi sekarang kan kondisi aku lagi hamil dan gak mungkin aku pergi gitu aja! Gimana nanti kalau anak aku lahir?" gumam Nadira bingung.
Sementara mbok Widya sendiri melangkah ke ruang tamu menemui Darius yang sedang duduk.
"Misi tuan!" ucap mbok Widya cukup sopan.
"Ya, gimana mbok? Nadira mau kan temui saya disini?" tanya Darius penasaran.
"Iya tuan, tapi mohon ditunggu sebentar karena non Nadira sedang cuci muka! Silahkan dinikmati saja minum serta makanannya, tuan!" jawab mbok Widya.
"Oh begitu, yasudah terimakasih ya mbok!" ucap Darius.
"Sama-sama tuan, kalo gitu saya permisi dulu ya tuan?" ucap mbok Widya.
Mbok Widya pun berbalik dan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Darius tetap duduk disana dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menaruh kedua tangan di atas paha.
"Saya harus bisa pengaruhi Nadira untuk membenci Albert, jadi dengan begitu Albert pasti akan semakin hilang fokus dan perusahaan yang dia kelola akan gulung tikar!" batin Darius.
Lalu, ponsel milik pria itu berdering dengan sebuah nomor tidak dikenal muncul di layarnya.
"Siapa ini?"
Tak mau berpikir panjang, Darius memilih mengangkat sejenak telepon itu karena Nadira juga belum sampai disana.
📞"Halo! Dengan siapa ini?" tanya Darius ketus.
📞"Halo pak! Ini saya Vanesa, sekretaris pak Albert!"
Mendengar jawaban itu, membuat Darius tersenyum tipis penuh kepuasan.
📞"Oh iya iya, ada apa?" tanya Darius memancing.
📞"Begini pak, setelah dipikir-pikir sepertinya saya memang membutuhkan bantuan anda! Karena sekarang ini, pak Keenan asisten pak Albert itu sudah sangat mencurigai saya! Bahkan tadi saja beliau sampai menuduh saya menjadi penyebab kericuhan yang terjadi di kantor, untungnya saya masih bisa mengelak dan menjadikan orang lain sebagai sasaran saya!"
📞"Hahaha, sudah saya bilang kan? Albert itu memang mudah dibodohi oleh kecantikan dan tubuh mulus kamu, tapi tidak dengan asistennya! Keenan adalah orang yang pintar, dia bisa menutupi kebodohan tuannya dengan kepintaran yang dia miliki dan dia akan selalu melakukan itu untuk melindungi tuannya!" ucap Darius.
📞"Lalu bagaimana, pak? Apa anda masih bersedia untuk bekerjasama dengan saya?"
📞"Oh, tentu saja! Saya ini sangat ingin meruntuhkan Albert dan menghancurkan karirnya itu! Dia sudah merebut hak saya, dan saya tidak akan biarkan dia semakin semena-mena terhadap saya!" jawab Darius.
📞"Baiklah pak! Saya akan diskusikan ini dengan ayah saya, supaya kita bisa tahu rencana apa yang akan kita lakukan!"
__ADS_1
📞"Oke! Oh ya satu lagi, pertemukan saya dengan ayah kamu secepatnya! Ada yang ingin saya sampaikan dengan beliau, selain itu saya juga ingin tahu siapa ayah kamu itu!" ucap Darius.
📞"Baik pak! Saya nanti kabari lebih lanjut mengenai pertemuan bapak dengan ayah saya!"
📞"Yasudah, cukup sampai disini saja obrolan kita hari ini! Sekarang saya lagi di rumah Albert, bahaya kalau terlalu lama!" ucap Darius.
📞"Iya pak..."
Tuuutttt...
Telpon dimatikan oleh Darius, pria itu nampak tersenyum licik dan menopang dagunya dengan kedua tangan seraya berkata, "Hancur kamu Albert! Terimalah nasibmu."
"Om Darius!"
Deg!
•
•
Disisi lain, Cakra mendatangi rumah orang tua Nadira sambil membawa sebungkus parsel berisi berbagai macam kebutuhan dapur yang dapat digunakan oleh seisi rumah.
Pria yang sangat mencintai Nadira itu masih berharap kalau ia dapat merebut kembali Nadira dari Albert, walau sulit ia tak mau menyerah begitu saja dan ingin terus memperjuangkan cintanya kepada Nadira dengan sekuat tenaga.
TOK TOK TOK...
Cakra mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka dari dalam menampakkan sosok Sulastri dengan kondisi lemas tak bersemangat.
Ceklek...
"Nak Cakra? Ada apa kesini?" tanya Sulastri menatap Cakra dari atas sampai bawah.
"Halo bu!" ucap Cakra mencium punggung tangan Sulastri dengan lembut. "Saya kesini cuma mau mampir aja, bu! Ini kebetulan saya juga ada sesuatu buat ibu sama bapak di rumah, diterima ya Bu!" sambungnya sembari menyerahkan parcel yang ia bawa sedari tadi itu.
"Aduh, makasih banyak ya nak Cakra! Ini berarti banget buat ibu sama bapak, kamu itu emang anak yang baik! Pasti Nadira nyesel sekali tidak jadi sama kamu Cakra!" ucap Sulastri.
"Sama-sama Bu, saya kan cuma ingin bantu ibu sama bapak sekeluarga aja! Ya walau saya gak bisa ketemu dan dekat sama Nadira, gapapa kok Bu! Yang penting saya bisa tahu kalau Nadira baik-baik saja, tapi saya rasa dia gak akan sepenuhnya bahagia bersama om-om tua itu Bu! Apa gak ada cara buat kita bisa lepasin Nadira dari jeratan orang itu Bu?" ucap Cakra.
"Nak Cakra, kita lanjut bicaranya di dalam saja ya! Ibu khawatir ada mata lainnya yang mengawasi pembicaraan kita disini!" ucap Sulastri.
"Oh baik Bu!" ucap Cakra sembari melirik ke kanan dan kiri dengan cepat.
Lalu, mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk berdua di sofa untuk melanjutkan pembicaraan mereka mengenai pembebasan Nadira dari tangan Albert, karena Cakra merasa tak mungkin Nadira bisa bahagia disana.
"Nak Cakra, memangnya kamu ini benar-benar mau bantu bebasin Nadira dari tangan tuan Albert itu?" Apa kamu gak takut sama resiko yang bakal terjadi ke hidup kamu?" tanya Sulastri.
"Buat apa saya takut Bu? Saya ini benar dan dia yang salah karena sudah menculik anak gadis orang gitu aja, saya cuma mau keadilan buat ibu bapak dan juga Nadira!" jawab Cakra tegas.
"Iya, kamu memang benar nak Cakra! Tapi, masalahnya yang kita hadapi ini tuan Albert dan dia bukan orang sembarangan! Dia bisa melakukan apapun terhadap kita, jika kita berurusan sama dia itu sama saja kita cari bahaya nak Cakra! Ibu dan bapak sudah merasakan itu, jangan sampai kamu juga seperti itu!" ucap Sulastri.
"Gapapa Bu, saya janji saya akan membawa Nadira kembali ke pelukan ibu dan bapak! Oh ya, bisa ibu beritahu saya nomor serta alamat tempat tinggal Albert?" ucap Cakra.
"Kamu yakin nak Cakra?" tanya Sulastri lagi.
"Yakin seyakin-yakinnya, Bu!" jawab Cakra mantap.
"Baiklah, sebentar ibu ambil handphone dulu di kamar ya!" ucap Sulastri.
"Iya Bu," Cakra mengangguk pelan.
Sulastri beranjak dari sofa dan menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya, sedangkan Cakra tetap disana mengusap dagu.
"Nadira, saya janji sebentar lagi kamu akan lepas dari tangan om-om tua itu!" batinnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...