
Helo guys! Hari ini "Dinikahi Ceo Kejam" spesial 2ribu kata, mari ramaikan dengan like, komen & vote juga kalo mau hehe😁
•
Ceklek...
Liam telah berhasil membuka pintu, ia pun mempersilahkan pada Chelsea untuk masuk ke dalam menemui Nadira.
"Silahkan masuk non! Tapi, kayaknya non Nadira lagi mandi deh non!" ucap Liam.
"Oh iya ya, gapapa deh saya tungguin aja di dalam. Makasih ya pak udah bantu saya!" ucap Chelsea.
"Sama-sama non, kalo gitu saya mau ke kamar mandi dulu ya non? Udah kebelet nih! Oh ya, ini kunci kamarnya non aja yang pegang biar gak ribet!" ucap Liam menyerahkan kunci kamar itu pada Chelsea.
"Oke pak, makasih!" ucap Chelsea tersenyum.
Setelahnya, Liam pergi tergesa-gesa menuju kamar mandi karena ia sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil.
Sementara Chelsea langsung melangkah masuk dan menutup kembali pintu kamar itu, ia berjalan pelan menuju meja rias Nadira yang terdapat banyak alat makeup serta skincare disana.
"Hahaha, untung aku masih ada persediaan bedak ini waktu di Washington kemarin!" gumamnya.
Chelsea mengambil sebuah bungkus obat berisi bedak dari kantong celananya, ia pun mengarahkan pandangan ke tempat bedak milik Nadira, lalu dengan kelicikannya gadis itu menumpahkan semua bedak di dalam sana ke atas ranjang Nadira.
Chelsea pun memasukkan bedak miliknya ke dalam tempat yang sudah kosong itu, tak lupa ia menaruh kembali tempat itu di meja dan menutupi ranjang dengan selimut tebal.
"Ya ini dia! Kalau lu pake bedak ini, gue jamin kulit lu bakal langsung gatal-gatal Nadira!" gumamnya.
Setelah semuanya selesai, gadis itu pergi dari kamar tersebut dan bergegas menuju kamarnya agar tidak ada yang sadar kalau ia sudah keluar dari kamar tersebut.
❤️
Tak lama kemudian, Nadira keluar dari dalam toilet setelah selesai mandi membersihkan tubuhnya. Ia memakai handuk yang melilit di tubuhnya, lalu berjalan menuju lemari mengambil pakaian yang akan ia kenakan nantinya.
Nadira sengaja mengambil pakaian yang paling bagus di dalam lemari itu, ya karena ia memiliki rencana untuk membawakan makan siang bagi suaminya alias Albert, walau ia masih ragu dan takut kalau nantinya Albert justru marah padanya.
Namun, Nadira tetap kekeuh ingin melakukan itu dengan tujuan membuat Albert semakin luluh dengannya dan tidak bersikap kasar lagi padanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Nah, kayaknya baju ini cocok deh! Tuan Albert pasti suka kalau aku pake baju ini!" ucapnya.
Tanpa berpikir panjang, Nadira memakai baju itu dan tak lupa ia memakai body lotion supaya kulitnya bisa lebih halus dan wangi. Setelahnya, ia juga mengambil bedak miliknya lalu mengusapkan bedak itu pada wajahnya.
"Kok tinggal sedikit ya? Perasaan tuan Albert waktu itu beliin belum lama deh, dan aku juga jarang pake bedak ini! Siapa yang abisin ya?" ujar Nadira heran.
Wanita itu tak mau ambil pusing, ia akhirnya hanya mengenakan sedikit bedak tersebut di wajahnya. Lalu, Nadira pun berjalan keluar dari kamarnya bermaksud menemui pelayan yang ada disana dan meminta bantuan mereka untuk memasak makanan kesukaan Albert alias suaminya itu.
"Mbok Widya!" teriak Nadira.
"Ah iya non, ada apa?" tanya mbok Widya heran.
"Eee begini mbok, aku niatnya mau kasih makan siang buat tuan Albert! Kira-kira mbok Widya tahu gak makanan kesukaan tuan Albert itu apa? Soalnya aku mau masakin buat dia!" ucap Nadira.
"Ohh non Nadira mau bikin kejutan ya buat tuan Albert? Cie cie non, tenang aja non saya tahu kok makanan yang paling disukai sama tuan Albert! Tapi, lebih baik non Dira jangan ikut masak ya non! Saya takut dimarahin sama tuan Albert!" ucap Widya.
"Gapapa mbok, aku pengen masak buat suami aku! Apa salah?" ucap Nadira.
"Ya iya enggak salah non, tapi kan non tahu sendiri kalau tuan Albert itu orangnya gak suka dibantah! Sekali dia bilang ini, ya kita harus ngikutin non!" ucap mbok Widya.
"Iya sih mbok, tapi kalo sekali-kali mah gapapa kali ya mbok? Lagian tuan Albert juga gak tahu, please mbok boleh ya!" ucap Nadira memohon.
"Duh, gimana ya non? Saya bingung!" ujar Widya.
"Udah mbok gapapa, nanti kalau terjadi sesuatu aku yang nanggung deh!" paksa Nadira.
"Waduh, i-i-iya deh non!" ucap mbok Widya gugup.
"Nah gitu dong, mbok! Jadi, makanan kesukaan tuan Albert itu apa mbok?" ucap Nadira senang.
"Eee tuan Albert tuh suka banget makan kepiting saus tiram non, terus sama ini juga sih dendeng non!" jawab mbok Widya.
"Hah? Yah kalo itu sih aku gak bisa masaknya mbok, aku gak tahu caranya!" ucap Nadira cemberut.
"Tenang aja non! Kan ada saya, saya bisa kok bantu non Dira buat masak! Nanti saya ajarin deh caranya, supaya non Dira bisa masak makanan kesukaan tuan Albert itu!" ucap mbok Widya.
"Oh iya ya, yaudah mbok kita langsung masak sekarang aja biar bisa buat makan siang tuan Albert nanti!" ucap Nadira.
"Iya non, tapi emangnya non Dira mau masak pake baju kayak gini? Gak takut nanti kotor atau bau asap gitu non? Saran saya mah mending ganti baju dulu non, biar lebih enak juga masaknya non!" ucap mbok Widya memberi usul.
__ADS_1
"Eh iya ya, aku kok bodoh banget ya mbok? Masa aku langsung pake baju ini? Padahal berangkat ke kantor tuan Albert juga masih lama, yaudah sebentar ya mbok aku ganti baju dulu!" ucap Nadira.
"Ahaha oke non! Saya tunggu di tempat masak ya non?" ucap mbok Widya.
"Siap mbok!"
Nadira pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan mbok Widya bergegas menuju dapur menyiapkan bahan-bahan masak nanti.
•
•
Saat berada di kamar, Nadira merasakan ada yang tidak beres pada wajahnya. Ya wanita itu mulai merasa jika wajahnya memanas dan agak gatal, ia pun bingung mengapa itu bisa terjadi.
Karena tidak tahan dengan rasa gatalnya, Nadira menggaruk wajahnya cukup kuat, ia tak tahu jika itu justru memperburuk keadaan dan terlihat kini di wajahnya tumbuh bintik-bintik merah.
"Ya ampun, kok gatal banget ya? Ini kenapa sih sama muka aku?" ujar Nadira ketakutan.
Nadira yang penasaran coba melihat kondisi wajahnya di depan cermin, ia sangat syok begitu mengetahui mukanya kini telah dipenuhi bintik merah yang sangat gatal dan panas itu.
Praaangg...
Bahkan sangking terkejutnya, Nadira sampai memecahkan cermin kecil yang ia ambil dan terus memegangi wajahnya, ia masih tak percaya jika kondisi wajahnya seburuk itu.
"Gak, gak mungkin! Ini kenapa muka ku bisa jadi kayak gini sih?" cemas Nadira.
TOK TOK TOK...
"Non, non Dira! Non gapapa kan?" teriak Liam sang penjaga dari arah luar.
Sepertinya Liam khawatir ketika mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Nadira.
Nadira yang sedang kalut, tak perduli dengan pertanyaan Liam. Ia terus saja berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini untuk menghilangkan bintik-bintik serta rasa gatal di wajahnya itu.
"Aku harus gimana ini? Kalau sampai tuan Albert tau, dia bisa marah banget! Dan pastinya tuan Albert bakalan kecewa sama aku!" batinnya.
"Non, non Nadira!" Liam terus berteriak dari luar.
Akhirnya Nadira sadar dan menjawab teriakan Liam, ia juga memiliki ide untuk meminta bantuan dari si penjaga itu terkait wajahnya yang memerah.
"Iya pak, sebentar!" ucap Nadira.
Ceklek...
"Non? Non Dira gapapa? Itu kok mukanya merah-merah begitu sih non?" tanya Liam cemas.
"Eee iya nih pak, saya juga bingung kenapa ini bisa terjadi!" ucap Nadira.
"Loh, emang sebelumnya non Dira abis ngapain?" tanya Liam heran.
"Sa-saya cuma pakai bedak pembelian tuan Albert, tapi saya juga gak tahu apa gara-gara itu kulit wajah saya jadi kayak gini!" jawab Nadira.
"Waduh, itu harus segera diobatin non! Sebentar ya non, saya telponin tuan Albert dulu!" ucap Liam.
"Eh pak, jangan jangan! Bapak jangan telpon tuan Albert sekarang, saya takut dia malah marah nanti sama saya karena tahu muka saya begini! Mending kita ke dokternya berdua aja, jangan kasih tau tuan Albert dulu!" ucap Nadira.
"Tapi non, saya—"
"Udah gapapa pak, saya juga gak mau ganggu tuan Albert yang lagi fokus kerja! Nanti kalau udah dapat obat dari dokter, baru deh bapak boleh kasih tau tuan Albert tentang ini!" potong Nadira.
"Eee iya deh non, mari non saya antar ke rumah sakit di dekat sini!" ucap Liam.
"Iya,"
Nadira pun mengambil tas serta masker untuk menutupi wajahnya, lalu berjalan keluar kamar bersama Liam, mereka hendak menuju rumah sakit untuk memeriksakan wajah Nadira yang terluka itu.
❤️
Disaat mereka sedang berjalan, tiba-tiba saja mereka bertemu dengan Keenan yang baru kembali dari mengantar Albert. Ya Keenan pun merasa heran melihat Nadira tengah bersama Liam di depan rumah, ia menghampiri mereka lalu bertanya.
"Non, non Dira mau kemana? Kok gak kasih kabar tuan Albert dulu?" tanya Keenan penasaran.
"Eee begini pak Keenan, saya ingin mengantar non Nadira ke rumah sakit!" ucap Liam mewakili Nadira menjawab pertanyaan Keenan.
"Rumah sakit? Memang non Dira sakit apa?" tanya Keenan agak cemas.
"A-aku gak sakit kok, cuma muka aku tiba-tiba jadi gatal dan panas banget! Terus muncul banyak banget bintik merah di area wajahku, makanya aku mau minta pak Liam buat temenin aku ke rumah sakit dan cek kondisi wajah aku! Pak Ken, tolong jangan kasih tau kabar ini ke tuan Albert ya!" ucap Nadira menjelaskan.
__ADS_1
"Loh, kenapa saya gak boleh kasih tau tuan Albert, non? Menurut saya, justru tuan Albert harus tau karena ini masalah yang penting non! Begini aja, biar saya yang antar non ke dokter ahli wajah! Kebetulan saya tahu orangnya, bagaimana non?" ujar Keenan.
"Eee enggak pak Ken, aku gak mau tuan Albert tau! Apalagi kalau diantar sama kamu, nanti yang ada kamu jadi gak bisa bantu tuan Albert dan nantinya tuan Albert malah curiga sama kondisi saya yang sekarang!" ucap Nadira.
"Gapapa non, tuan Albert sedang meeting dan beliau tidak mungkin menghubungi saya! Jadi, tak mengapa kalau saya mengantar non Dira!" ucap Keenan.
"Oke! Tapi, tolong kamu janji sama aku buat enggak kasih tau tuan Albert tentang ini!" ucap Nadira.
"Eee baik non, saya janji gak akan kasih tau ke tuan Albert!" ucap Keenan.
"Makasih pak Ken!" ucap Nadira.
"Sama-sama non, mari non saya antar ke tempat dokternya!" ucap Keenan.
"Iya,"
Akhirnya Nadira pun pergi bersama Keenan, walau sebenarnya suasana hati Nadira masih bimbang khawatir kalau Keenan akan bercerita pada Albert mengenai kondisi dirinya.
•
•
Disisi lain, Albert yang baru sampai langsung didatangi oleh Vanesa selaku sekretarisnya yang ingin membawakan berkas-berkas untuk bahan meeting mereka nanti.
"Permisi pak!" ucap Vanesa menunduk.
"Ya, masuk!" ucap Albert singkat.
Vanesa melangkah masuk dan berdiri tepat di samping Albert, ia meletakkan berkas-berkas yang dibawanya ke atas meja.
"Ini pak, berkas yang anda minta!" ucap Vanesa.
"Terimakasih! Oh ya, kamu sudah minum obat yang saya berikan itu kan?" ucap Albert bertanya.
"Eee su-sudah, pak!" jawab Vanesa gugup.
"Bagus! Lalu, bagaimana reaksinya?" tanya Albert.
Vanesa terdiam sejenak, ia berpikir dahulu sebelum menjawab karena sebenarnya Vanesa memang belum meminum obat penggugur kandungan yang diberikan Albert tempo hari.
"Untungnya saya udah tau kalau obat yang anda kasih itu obat penggugur kandungan, jadinya sekarang saya bisa jawab pertanyaan dia dengan mudah!" gumam Vanesa dalam hati.
"Eee sa-saya kemarin udah minum obat itu dua kali, dan setelahnya perut saya langsung kerasa sakit banget, pak!" jawab Vanesa.
Albert tersenyum puas, ia mengira sekretarisnya itu sudah benar-benar meminum obat pemberian darinya dan sekarang ia tak perlu khawatir lagi mengenai bayi yang berada di dalam perut Vanesa karena yang ia tahu bayi itu sudah digugurkan.
"Bagus! Sekarang saya bisa tenang, karena gak akan ada ancaman lagi dari Vanesa!" batin Albert.
"Oh gitu, yasudah kamu teruskan minum obat itu sesuai petunjuk yang saya berikan waktu itu! Ingat, kamu tidak boleh telat meminumnya atau nanti bisa terjadi masalah sama tubuh kamu!" ucap Albert.
"Baik pak! Akan saya ingat pesan bapak!" ucap Vanesa tersenyum.
"Oke! Sekarang kamu boleh pergi, saya akan periksa ulang berkas-berkas ini sebelum melakukan meeting dengan para klien nantinya! Oh ya, kamu jangan lupa persiapkan ruangan dan layar proyektor supaya semuanya berjalan dengan lancar!" ucap Albert.
"Baik pak! Kalau begitu, saya mohon izin permisi dulu!" ucap Vanesa.
"Ya silahkan!" ucap Albert.
Vanesa berbalik, lalu melangkah pergi dari ruangan bosnya itu. Namun, tiba-tiba saja Albert bangkit dan menahan Vanesa dengan cara mencekal lengan gadis itu dari belakang.
"Tunggu Vanesa!" ucap Albert.
"Eee iya pak, ada apa ya? Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Vanesa bingung.
"Eemmhh ya saya butuh bantuan kamu, untuk memuaskan junior saya!" jawab Albert sembari mengendus leher serta pundak Vanesa.
"Ma-maaf pak! Tapi, sebentar lagi waktu meeting akan tiba! Bagaimana kalau kita terlambat, pak?" ucap Vanesa gugup.
"Tidak apa, puaskan saja saya dengan mulut kamu yang indah ini!" ucap Albert sambil membelai bibir mungil sekretarisnya itu.
Vanesa menelan saliva dengan kasar, lalu perlahan Albert menarik tubuh Vanesa, pria itu duduk di atas kursinya, sedangkan Vanesa ia biarkan dalam posisi berlutut di depannya.
Albert membuka resleting celananya dan membuat pusaka miliknya terekspos dengan jelas di mata Vanesa, ia pun langsung menyodorkan itu ke dalam mulut Vanesa tanpa ampun.
"Aaahhh luar biasa! Teruskan Vanesa, itu nikmat!" ucap Albert sambil mendorong kepala Vanesa.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...