Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Kepergian Albert


__ADS_3

Nadira bersama kedua orangtuanya tiba di rumah sakit tempat Albert dirawat saat ini.


Mereka langsung menuju IGD, melihat Keenan serta Devano tengah duduk lesu di depan sana.


Sontak Nadira merasa bahwa ada sesuatu yang telah terjadi pada suaminya kini.


"Pak, Bu, ada apa ya kira-kira? Mas Albert baik-baik aja kan pak, Bu? Dia gak kenapa-napa kan?" ujar Nadira bertanya penuh keheranan.


"Kamu tenang dulu sayang! Kita samperin saja Keenan dan temannya itu sekarang, supaya kamu bisa tahu lebih jelas!" ucap Suhendra.


"Iya pak," ucap Nadira mengangguk singkat.


Mereka pun melangkah mendekati Keenan dan juga Devano yang tengah duduk itu.


"Permisi!" ucap Sulastri pelan.


Keenan dan Devano kompak berdiri menghadap ke arah mereka bertiga, kedua pria itu berusaha menghapus air mata di wajah masing-masing agar tak membuat Nadira curiga.


"Eh ada om sama tante, ada Bu Nadira juga. Ini kenapa kalian pada kesini ya?" ujar Keenan.


"Kamu gimana sih Keenan? Kita kan juga bagian keluarga nak Albert, masa kita gak boleh datang kesini buat jenguk dia?" ucap Sulastri bingung.


"Iya Keenan, kita bertiga juga mau tahu gimana kondisi Albert saat ini. Dia baik-baik saja kan Keenan?" timpal Suhendra.


"Eee..." Keenan tampak bingung harus bagaimana menjelaskan pada mereka bertiga mengenai kondisi mantan bosnya yang telah tiada itu.


"Ada apa pak Keenan? Mas Albert baik-baik aja kan?" tanya Nadira dengan wajah panik.


Keenan menggeleng disertai air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya.


"Apa maksudnya? Kenapa ini? Tolong jelaskan sama aku dengan jelas! Aku mau ketemu mas Albert, aku khawatir sama dia!" ujar Nadira.


"Maaf Bu! Tapi, Bu Nadira gak bisa bertemu dengan tuan Albert lagi saat ini." ucap Keenan.


"Hah? Kenapa aku gak bisa ketemu sama mas Albert? Apa dia marah sama aku karena aku tadi gak mau maafin dia?" tanya Nadira.


"Bukan Bu, bukan begitu." jawab Keenan.


"Lalu kenapa? Ini sebenarnya ada apa sih? Jangan bikin aku penasaran dong! Ayolah kalian cepat kasih tahu sama aku ada apa! Pak Keenan, pak Devano, aku mohon!" ucap Nadira.


"Nadira, kamu yang sabar ya! Saya tahu ini pasti berat banget buat kamu, tapi takdir tidak bisa diubah." ucap Devano.


"Maksudnya apa? Takdir apa?" tanya Nadira.


"Albert suami kamu itu udah gak ada, Nadira. Dia menghembuskan nafas terakhirnya sewaktu kami berdua bawa dia kesini," jelas Devano.


Deg!


"Apa??" Nadira langsung terkejut dan tubuhnya melemas seketika saat mendengar itu.


Sulastri dan Suhendra pun kompak memegangi tubuh Nadira agar tak terjatuh serta berusaha menenangkan wanita itu.


"Nadira, tahan Nadira!" ucap Suhendra panik begitu melihat putrinya menangis histeris.


"Ini gak benar kan pak? Ini semua cuma mimpi kan? Mas Albert gak mungkin meninggal pak, bilang sama aku ini cuma mimpi kan pak!" ucap Nadira histeris.


Suhendra hanya terdiam bingung, ia sendiri masih tak menyangka dengan semua yang terjadi saat ini.


Keenan tambah tidak kuat melihat reaksi Nadira yang seperti itu, ia kembali menangis merasakan kesedihan yang dialami Nadira.


"Lepasin aku pak, aku mau lihat mas Albert! Aku mau pastiin sendiri kalau mas Albert itu masih hidup dan dia belum meninggal!" Nadira langsung berontak dari pegangan ayahnya dan mencoba untuk menemui Albert.


"Enggak sayang, kamu disini aja! Kamu harus ikhlas, kamu harus kuat demi janin di dalam perut kamu!" ucap Suhendra menguatkan.


Akhirnya Suhendra mendekap tubuh putrinya dengan erat sembari mengusap punggungnya lembut, Nadira terus menangis terisak dan menumpahkan semua air matanya disana.


"Tuan, saya yakin tuan pasti gak akan tega lihat reaksi bu Nadira sekarang ini! Kenapa tuan harus pergi secepat ini?" batin Keenan.


Devano menaruh tangannya di pundak Keenan dan tersenyum tipis ke arahnya, "Sabar Keenan, yang kuat!" ucapnya.


Keenan membalas dengan anggukan kecil.




📞"Apa? Kamu bicara apa Keenan? Jangan main-main dengan saya!" ucap Abigail terkejut dan emosi mendengar perkataan Keenan di telpon.


📞"Sekali lagi maafkan saya Bu Abigail! Saya tidak bisa menjaga tuan Albert dengan baik, harusnya saya yang pergi, bukan tuan Albert!" ucap Keenan.


Abigail menggeleng lemas, air mata sudah membanjiri wajahnya dan ia tak kuasa lagi mendengar kata-kata Keenan.


Wanita dewasa itu pun terduduk di kursinya, ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu berusaha menguatkan dirinya setelah mendengar kabar mengenai putranya.


"Ya Tuhan! Cobaan macam apa ini?" ucap Abigail mengelus dadanya.

__ADS_1


"Nenek!!" Galen yang baru selesai mandi bersama suster Alra kini mendekati Abigail.


"Hah? Galen?" Abigail terkejut, ia berusaha menghapus air matanya dan tersenyum agar terlihat tidak sedang bersedih.


"Nenek kenapa nangis?" tanya Galen heran.


"Ya Tuhan! Seperti apa reaksi Galen nanti kalau tahu papanya sudah gak ada? Dia pasti sedih banget, aku gak bisa bayangin kalau itu semua terjadi nanti." batin Abigail.


"Ah eee nenek gak nangis kok, nenek baik-baik aja. Kamu di rumah aja ya sama suster Alra, jangan nakal! Nenek mau keluar sebentar, ada urusan penting yang harus nenek selesaikan." ucap Abigail.


"Tapi nek, nenek mau kemana? Aku ikut dong!" pinta Galen.


"Gak bisa sayang, ini urusan orang dewasa. Galen disini aja ya sama suster Alra! Sus, saya titip Galen sebentar ya!" ucap Abigail.


"Eee baik Bu!" ucap suster Alra menurut.


"Yaudah, nenek pergi dulu ya Galen sayang? Kamu jangan nakal loh selama nenek pergi!" ucap Abigail sambil mengusap wajah cucunya.


"Iya nek, aku bakal jadi anak yang baik seperti yang dibilang papa!" ucap Galen menurut.


Abigail terdiam mendengarnya, namun setelah itu ia tersenyum kembali dan memeluk Galen sangat erat sambil sesekali meneteskan air mata.


"Kira-kira ada apa ya? Kenapa Bu Abigail kelihatan sedih banget kayak gitu?" batin suster Alra.




Abigail tiba di rumah sakit tempat putranya berada, ia masih terus meneteskan air mata sepanjang perjalanan menuju kesana.


Abigail pun menemukan keberadaan Nadira serta yang lainnya disana, ia langsung menghampiri mereka dengan perasaan sedihnya.


"Nadira!" panggil Abigail dengan suara lirih.


Sontak Nadira yang tengah membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu merasa terkejut mendengar suara tersebut.


"Mama?" Nadira langsung mengangkat kepalanya, menatap Abigail dengan mata berkaca-kaca.


Abigail menangis terisak tak kuat menyaksikan kesedihan di wajah Nadira, ia pun juga masih belum bisa menerima kepergian putranya yang sangat ia sayangi itu.


"Mah, mama udah tahu?" tanya Nadira saat Abigail menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.


Abigail mengangguk singkat disertai air mata yang terus mengalir, ia tak tahan lagi dan langsung memeluk Nadira saat itu juga.


"Sabar ya mah! Ini emang berat buat kita, tapi semua ini udah takdir, kita harus bisa terima semuanya dengan ikhlas!" ucap Nadira.


Suhendra dan Sulastri saling pandang dan tersenyum, mereka merasa senang melihat putri mereka sudah berhasil mengikhlaskan kepergian suaminya saat ini.


Sementara Keenan serta Devano masih merasa tidak tega melihat kesedihan yang dialami Nadira dan juga Abigail.


"Keenan, saya pamit dulu ya? Saya gak kuat lihat suasana seperti ini terlalu lama, karena itu jadi mengingatkan saya dengan kepergian istri saya dulu." ucap Devano.


"Baik pak!" ucap Keenan singkat.


"Jenazah Albert akan diurus oleh pihak rumah sakit, dia akan diantar ke rumah nanti malam. Kamu sebaiknya persiapkan semuanya, supaya berjalan lancar!" ucap Devano.


"Iya pak, saya sudah perintahkan anak buah saya untuk mengurus tentang itu. Mulai dari pengajian sampai pemakaman untuk tuan Albert, saya ingin yang terbaik bagi tuan saya dan saya tidak mau membuatnya kecewa!" ucap Keenan.


"Kamu yang kuat ya! Kamu pasti bisa ikhlas!" ucap Devano seraya menepuk pundak Keenan.


Setelahnya, Devano pun pamit pada keluarga Nadira serta Albert, lalu pergi dari rumah sakit itu karena tidak kuat melihat kesedihan mereka.




Keesokan paginya, semua orang sudah berkumpul di lokasi pemakaman Albert.


Nadira serta Abigail masih terus menangis di sebelah papan nisan Albert.


"Mas, andai aku tahu kemarin adalah terakhir kalinya aku bisa lihat kamu, maka aku gak akan mungkin bersikap seperti itu sama kamu mas! Aku benar-benar nyesel karena disaat-saat terakhir kamu, aku malah masih benci kamu! Istri macam apa aku ini? Seharusnya aku jagain kamu, bukan malah bikin kamu makin menderita!" batin Nadira.


Di tengah kesedihan yang menimpanya saat ini, Nadira masih sempat melihat ke arah Abigail untuk memastikan mertuanya itu baik-baik saja.


"Mah, mama masih sedih ya? Mama yang sabar ya, mama harus kuat! Aku yakin mas Albert udah bahagia di atas sana, kita gak boleh terus larut dalam kesedihan kayak gini!" ucap Nadira.


"Terimakasih ya Nadira sayang! Kamu itu emang wanita yang baik, Albert beruntung bisa dapetin istri seperti kamu! Walau Albert berkali-kali bohongi kamu, tapi kamu masih tetap perduli sama dia saat ini. Kamu juga masih sempat mikirin mama, padahal mama tahu kamu pasti sedih dengan kepergian Albert ini." ucap Abigail.


"Aku emang sempat kesal sama mas Albert, mah. Tapi, sekarang aku udah maafin mas Albert kok. Aku juga berharap supaya mas Albert tenang disana dan semua dosa-dosanya diampuni!" ucap Nadira sambil mengusap punggung Abigail.


"Aamiin aamiin!" ucap Abigail mengaminkan.


Lalu, Sulastri tampak mendekat ke arah Nadira dan Abigail untuk mengajak mereka berdua segera pergi dari tempat pemakaman itu.


"Nadira, Bu Gail, kita pulang yuk! Cuaca sudah semakin panas, saya takut kalian berdua kenapa-napa!" ucap Sulastri.

__ADS_1


"Eh ibu, iya Bu ini aku sama mama Abi juga udah mau pulang kok." ucap Nadira.


"Oh ya sayang, kamu sekarang mau pulang kemana?" tanya Abigail pada Nadira.


"Eee aku.."


"Kamu pulang ke rumah mama aja ya sayang?! Kamu temani mama disana, karena mama sekarang kan cuma tinggal sama Galen setelah Albert tiada." potong Abigail.


"Eee.." Nadira terlihat sangat bingung, ia melirik ke arah ibunya bermaksud meminta saran darinya.


"Semua terserah kamu Nadira! Kalau kamu memang mau tinggal sama Bu Abigail, ibu sama bapak kasih izin kok." ucap Sulastri.


"Iya Bu, makasih ya! Untuk hari ini aku putusin buat pulang sama mama, aku mau temenin mama sampai mama benar-benar kuat dan ikhlas." ucap Nadira sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih ya Nadira sayang! Mama sangat senang dengan keputusan kamu!" ucap Abigail.


"Sama-sama, mah." ucap Nadira.


Abigail pun menarik tubuh Nadira ke dalam pelukannya seraya mengusap punggungnya.




"Mama!" Galen berteriak cukup keras dan senang saat melihat mamanya alias Nadira datang ke rumahnya bersama sang nenek.


Galen langsung turun dari sepedanya, lalu berlari menghampiri Nadira dengan bersemangat.


"Nadira, mama tahu kamu pasti kecewa setelah tahu Galen bukan anak kamu, tapi kamu tolong jangan marah sama dia ya!" pinta Abigail.


"Iya mah, aku ngerti kok." ucap Nadira pelan.


"Mama!" Nadira cukup terkejut saat tiba-tiba Galen sudah ada di dekatnya dan tengah memeluk pinggangnya. "Aku kangen banget sama mama, akhirnya mama pulang juga!" lanjutnya.


Nadira sempat terdiam sesaat mengingat semua kejadian tentang Galen yang membuatnya jadi berselisih dengan Albert sebelumnya.


"Mah, mama kenapa diam aja? Mama gak senang ya ketemu lagi sama aku?" tanya Galen.


"Eh eee gak gitu sayang, mama senang banget kok ketemu sama Galen lagi! Mana ada sih seorang mama yang gak senang ketemu sama anaknya?" jawab Nadira sambil merendahkan posisinya sejajar dengan Galen.


"Asyik! Mama jangan pergi-pergi lagi ya, aku gak bisa jauh dari mama tau!" pinta Galen.


"Iya sayang, mulai hari ini mama janji akan selalu ada di samping Galen!" ucap Nadira.


"Hore aku senang deh bisa tinggal sama mama lagi!" ucap Galen dengan riang gembira.


Nadira tersenyum lebar sembari mencolek hidung Galen, lalu ia pun memeluknya erat dan mengusap punggung pria kecil itu di hadapan Abigail.


Abigail kembali menitikkan air mata melihat Nadira berpelukan dengan Galen, ia merasa senang sekaligus terharu pada kemurahan hati Nadira.


"Andai kamu lihat ini Albert, mama yakin kamu pasti bangga sekali dengan istrimu!" batin Abigail.




Disisi lain, Keenan mengantar Suhendra serta Sulastri pulang ke rumah mereka sesuai arahan dari Nadira sebelumnya.


"Terimakasih ya mas Keenan, karena sudah mengantar kami sampai kesini!" ucap Suhendra.


"Sama-sama pak, Bu, ini sudah tugas saya." ucap Keenan sambil tersenyum.


"Oh ya, kalau boleh tahu sekarang Nadira tinggal di rumah nak Albert yang kemarin kan?" tanya Suhendra.


"Ah enggak pak, rumah itu udah dijual sekarang karena banyak terjadi tragedi kelam beberapa hari lalu. Jadi, sekarang Bu Nadira bersama nyonya Abigail dan Galen tinggal di mansion milik bos besar, papanya tuan Albert." jelas Keenan.


"Oalah, itu alamatnya dimana ya mas Keenan? Kami soalnya belum pernah datang kesana," tanya Suhendra.


"Tenang aja pak! Kalau bapak sama ibu mau ketemu sama Bu Nadira, saya siap kok mengantarkan kesana!" jawab Keenan.


"Syukur deh kalo gitu! Terimakasih ya mas Keenan!" ucap Suhendra.


"Makasih ya Keenan!" sahut Sulastri.


"Kembali kasih Bu, pak. Kalau begitu saya izin permisi dulu ya? Gapapa kan saya tinggal?" ucap Keenan.


"Oh gapapa mas Keenan, silahkan aja!" ucap Suhendra.


Setelah berpamitan, kini Keenan bergegas melajukan mobilnya menuju mansion milik Walaspati alias sang ayah dari Albert.


"Saya masih gak nyangka hari ini akan terjadi, tapi saya harus kuat dan tegar! Saya janji tuan, saya tidak akan kecewakan tuan! Saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk menjaga dan melindungi Bu Nadira, sesuai amanat tuan kala itu!" gumam Keenan dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2