Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Chelsea pergi


__ADS_3

Albert masuk ke kamarnya, menghampiri Nadira yang tengah mengikat tali kimono tidurnya sembari menghadap ke belakang.


Albert pun tersenyum tipis dan menutup pintu dengan rapat, suara pintu tertutup itu membuat Nadira terkejut dan reflek menoleh.


"Eh mas, kamu udah pulang?" tanya Nadira.


"Iya dong sayang, maaf ya tadi saya lembur di kantor!" jawab Albert sambil melangkah ke dekat tubuh Nadira.


"Gapapa mas, aku tahu kamu sibuk." ucap Nadira.


Albert terus mengulum senyumnya, merengkuh pinggang Nadira dan merapatkan tubuh mereka.


"Umm, kamu mau apa mas?" ucap Nadira panik.


"Kamu selalu bisa bikin saya bergairah sayang, tubuh kamu yang seksi ini gak pernah gagal untuk memuaskan saya. Boleh kan saya main sama ini lagi?" ucap Albert seraya menyentuh bagian dada Nadira dan meremass nya kecil.


"Akh! Mas, jangan dulu! Kamu kan tahu sendiri, aku baru habis melahirkan loh. Kamu harus bisa sabar sampai jahitan aku kering! Emang kamu mau aku kenapa-napa?" ucap Nadira.


"Gak sampe masuk kok, cuma main-main aja." goda Albert.


Nadira hanya bisa merem melek saat Albert menggigit telinganya dan menjilat lehernya, hembusan nafas pria itu juga membuatnya bergidik tak karuan.


"Mas, aku gak bisa sekarang. Lagian emang kamu gak capek apa mas? Kamu itu kan baru pulang banget, mending kita istirahat aja." ujar Nadira.


"Iya, nanti kita istirahat bareng setelah permainan usai ya sayang.." ucap Albert sambil tersenyum.


Nadira pun menelan saliva nya dengan susah payah akibat ucapan Albert barusan, ia kini sudah pasrah saat Albert membuka tali kimono miliknya dan terpampang lah tubuh seksinya saat ini tanpa sehelai benangpun.


Albert langsung menidurkan Nadira di ranjang, ia ikut berbaring di sebelahnya dan mulai melancarkan aksinya membuat Nadira terus mengeluarkan suara-suara kenikmatan.


"Oh ya sayang, saya lagi cari bintang iklan nih buat produk terbaru di kantor saya. Kayaknya kalau kamu yang jadi bintang iklannya cocok deh, gimana kamu setuju gak sayang?" ucap Albert.


"Hah??" Nadira terkejut mendengarnya.


"Aku mana bisa mas, aku aja gak ada pengalaman dalam hal akting. Kamu kenapa gak cari artis beneran aja?" ucap Nadira.


"Gak tahu kenapa, rasanya saya lebih sreg kalau kamu yang jadi bintangnya." kata Albert.


"Tapi mas, kalau nanti hasilnya jelek gimana? Aku ini kan bukan bintang iklan, aku takut gak ada yang mau beli produk kamu nanti kalau aku yang jadi bintang iklannya." ucap Nadira.


"Mana mungkin sayang? Kamu itu cantik, seksi, terus imut lagi. Saya yakin kamu bisa jadi bintang iklan untuk produk saya kali ini," ucap Albert.


Nadira terdiam untuk berpikir sejenak, sedangkan Albert masih terus melancarkan aksinya di bagian dada sang istri.




Keesokan harinya, Albert bersama Nadira dan juga mamanya telah tiba di bandara untuk mengantar Chelsea yang akan terbang ke London dalam rangka melanjutkan kuliahnya.


Tampak kesedihan terpampang di wajah ketiganya, apalagi mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama.


Chelsea pun mulai berpamitan pada mereka satu persatu, ia mencium tangan Nadira, Abigail dan juga Albert secara bergantian sembari memeluk mereka dengan erat.


"Kak, mah, mbak, aku pamit ya?" ucap Chelsea.


"Iya Chelsea, kamu hati-hati ya! Semoga kamu selamat sampai tujuan!" ucap Nadira tersenyum.


"Aamiin, makasih mbak!" ucap Chelsea.


"Chelsea, kamu jangan lupa langsung kabarin kakak ya begitu kamu sampai di London!" ucap Albert mengusap wajah adiknya.


"Pasti kak, kakak tenang aja!" ucap Chelsea.


Mereka saling berbalas senyum, sampai akhirnya Albert tidak tahan dan kembali memeluk Chelsea seraya menumpahkan air matanya di pundak sang adik yang sedari tadi ia tahan.


"Kakak pasti bakal kangen banget sama kamu, Chelsea!" ucap Albert.


"Iya kak, aku juga. Tapi, kakak gak perlu khawatir! Kan kita masih bisa calling-an." ucap Chelsea.


"Tetap aja rasanya beda, lebih seru kalau kita ketemu secara langsung kayak gini." ujar Albert.


"Udah, kakak gausah nangis! Nanti kan setelah kuliah aku selesai, aku juga bakal balik kesini." ucap Chelsea menyeka air mata di wajah kakaknya.


"Ya, kakak pegang ucapan kamu." ucap Albert.


Setelah puas berpelukan dengan kakaknya, kini Chelsea beralih menatap sang mama yang sedari tadi juga nampak menahan kesedihannya.


"Mama, aku pamit ya? Mama jangan sedih, kan masih ada kak Albert sama mbak Dira yang temenin mama di rumah!" ucap Chelsea.


"Iya Chelsea, kamu jaga diri baik-baik ya disana! Mama titip salam buat papa kamu!" ucap Abigail.


"Iya mah, pasti aku sampein kok salam mama. Aku yakin deh papa juga kangen banget sama mama," ucap Chelsea.


"Kalo gitu mama boleh kan peluk kamu?" tanya Abigail.


"Buat apa mama pake tanya begitu? Kalau mama pengen peluk aku, ya tinggal peluk aja. Aku juga senang kok kalau dipeluk sama mama aku yang cantik ini," ucap Chelsea.


"Ah kamu selalu bisa deh sayang!" ujar Abigail.

__ADS_1


"Ahaha.."


Chelsea pun memeluk mamanya lebih dulu, mengusap punggung sang mama bermaksud menenangkan wanita itu agar tak bersedih lagi.


Albert yang menyaksikannya semakin bertambah sedih, ia memang paling benci momen perpisahan seperti ini.


Nadira langsung mendekati Albert, menyelipkan tangannya di sela-sela lengan suaminya sembari mengusapnya perlahan.


"Mas, yang sabar ya!" ucap Nadira.


"Iya baby," balas Albert dengan senyuman tipis dan kecupan manis di kening sang istri.


Setelahnya, Chelsea pun melepas pelukannya dengan sang mama karena waktu penerbangan akan segera tiba.


"Yaudah ya mah, kak, mbak. Aku harus pergi sekarang, takut terlambat!" ucap Chelsea.


"Iya sayang, safe flight ya Chelsea!" ucap Abigail.


Chelsea mengangguk disertai senyum manisnya, ia juga melambaikan tangan ke arah Albert dan yang lain sebelum berbalik lalu pergi dari sana.


Albert merangkul mama dan juga istrinya secara bersamaan, sembari berharap bahwa kepergian Chelsea kali ini bukanlah akhir dari pertemuan mereka.




Sepulang dari mengantar Chelsea, Albert kini berada di kamar bersama Nadira dan juga Galen yang sedang tertidur.


Albert pun mengambil jaketnya dari dalam lemari, membuat Nadira terheran-heran dan beranjak dari kasur untuk menghampiri suaminya.


"Mas, kamu mau kemana lagi?" tanya Nadira.


"Eh ini sayang, saya ada urusan penting sebentar. Saya rencananya mau temui Keenan, abis itu kalau ada waktu baru deh saya cari-cari artis buat bintang iklan produk perusahaan." jawab Albert.


"Eee emang kamu mau cari artis yang kayak gimana? Cowok atau cewek?" tanya Nadira.


"Dua-duanya sih, kan perusahaan butuh paling enggak dua artis untuk iklan nanti." jawab Albert.


"Ohh, awas loh mas kamu jangan genit-genit pas lagi ketemu sama artis ceweknya! Ingat, kamu itu sekarang udah punya anak!" ucap Nadira.


"Hahaha, kamu gak perlu cemburu gitu sayang! Saya kan udah berubah, saya gak mungkin khianati kamu lagi." ucap Albert.


"Ya bagus deh, terus kamu mau berangkat sekarang nih?" tanya Nadira.


"Iya, mumpung masih siang lah. Kalau kesorean nanti yang ada susah buat cari artis yang cocok," jawab Albert.


"Yaudah, kamu hati-hati ya mas! Terus, kamu gak mau makan siang disini dong?" ucap Nadira.


"Gapapa mas, aku paham kok. Semangat ya cari artisnya, semoga cepat ketemu!" ucap Nadira.


"Aamiin! Tapi, sebenarnya saya lebih suka kalau kamu sih yang jadi bintangnya." ucap Albert.


"Mas, aku kan udah bilang semalam. Aku tuh gak bisa jadi bintang iklan, mending kamu cari artis yang benar-benar bisa aja!" ucap Nadira.


Albert tersenyum, mengusap bibir ranum istrinya dengan lembut dan mengecupnya.


"Oke deh, berarti kamu gak boleh cemburu ya kalau nanti saya agak dekat sama artis perempuan itu." ucap Albert sengaja memancing istrinya.


"Iya, aku gak cemburu kok. Ya asalkan kamu bisa tau diri aja, kamu gak boleh terlalu dekat sama dia!" ucap Nadira.


"Ya gak bisa dong sayang, kan saya harus pastikan dia itu cocok atau enggak. Jadi, saya mau gak mau ya harus dekat sama dia." ucap Albert.


"Ih kamu sengaja ya, mas? Yaudah, terserah kamu aja deh mau ngapain! Aku gak perduli lagi dan gak mau urusin kamu lagi!" ucap Nadira cemberut.


Nadira langsung membalikkan badannya dengan wajah cemberut dan kedua tangan dilipat.


"Hey hey, kok ngambek sih? Saya cuma bercanda kok, jangan cemberut gitu dong cantik! Jadi makin gemes deh saya," ucap Albert menggoda istrinya.


"Huh dasar nyebelin kamu, mas!" cibir Nadira.


Albert justru tersenyum renyah, lalu memeluk pinggang Nadira dari belakang seraya menaruh dagunya di pundak sang istri.


Nadira pun terkejut, ia berusaha melepaskan tangan Albert namun tidak bisa karena Albert memeluknya cukup erat.


"Kamu gak bisa lepas dari saya, baby!" bisik Albert seraya menggigit telinga Nadira.


"Akh!"




"SKAK!"


"Hahaha, saya menang. Gimana Darius, kamu masih mau tantang saya lagi? Kan saya sudah bilang tadi, saya ini rajanya catur. Buktinya kamu sudah kalah dua kali sama saya," ucap Harrison menyombongkan diri.


"Halah, itu tadi saya ngalah aja sama kamu. Kalau saya mau, saya bisa kalahin kamu dua bahkan tiga kali tadi." ujar Darius tidak mau kalah.


"Ck, kamu selalu saja mengelak Darius. Yasudah, bagaimana kalau kita tanding sekali lagi? Biar kamu puas dan mau terima kenyataan kalau saya ini lebih hebat dari kamu," ujar Harrison.

__ADS_1


"Oke, saya terima. Kali ini pasti saya akan mengalahkan kamu!" ucap Darius.


Mereka pun menyusun kembali papan catur untuk memulai permainan mereka yang ketiga kalinya hari ini.


Sluurrpp...


Harrison menyeruput kopinya sampai habis, menaruh gelasnya di atas meja lalu meminta untuk dibuatkan kopi kembali.


"Apa saya tidak bisa dapat kopi lagi? Sudah habis nih, kamu buatkan lagi dong kopi untuk saya!" ucap Harrison.


"Apa-apaan kamu? Seenaknya saja menyuruh saya, kalau kamu mau kamu ya buatlah sendiri sana di belakang! Lagian kamu kan sudah ngopi tiga gelas, masa masih kurang?" ujar Darius.


"Ya namanya juga biar fokus main, kalo gak ada kopinya kan beda dong." ucap Harrison.


"Ayolah Darius, kamu buatkan lagi kopi untuk saya! Sekalian juga cemilannya kalau ada, soalnya saya lapar nih." ucap Harrison.


"Haish, yasudah saya cek dulu ke belakang. Kamu jangan curang loh, posisinya gak boleh diubah-ubah!" ucap Darius.


"Tenang aja! Ini kan kita belum mulai mainnya, mana mungkin saya ubah-ubah?" ujar Harrison.


"Iya juga ya, yaudah tunggu sebentar biar saya cek kopinya masih ada apa enggak!" ucap Darius.


"Oke!" ucap Harrison mengangguk sambil tersenyum.


Darius pun bangkit dari duduknya, berjalan keluar melewati para penjaga di depan ruangan itu untuk membuat kopi.


"Tunggu!" ucap salah seorang penjaga.


"Hadeh, kenapa?!" tanya Darius kesal.


"Mau kemana?" ucap penjaga itu.


"Dapur," ucap Darius ketus.


Darius tak lagi bicara, ia melanjutkan langkahnya ke dapur meninggalkan para penjaga yang masih tampak bingung itu.


Saat tiba di dapur, Darius langsung mendekati seorang perempuan yang tengah berada disana memasak sesuatu.


"Vanesa!" Darius memanggilnya dan berdiri di sebelah wanita itu.


Wanita itu sontak menoleh saat namanya disebut dan berkata, "Ah iya paman, ada apa?"


"Tolong buatkan kopi, untuk saya dan juga papa kamu!" pinta Darius.


"Baik paman, sebentar ya!" ucap wanita itu.


"Yasudah, nanti kamu antarkan saja ya ke ruangan papa kamu!" ucap Darius.


"Iya paman,"


Setelahnya, Darius segera berbalik dan pergi dari sana kembali ke ruangan tadi.




Keenan datang ke ruang pertemuan bersama seorang polisi yang mengantarnya.


Ia terkejut lantaran disana sudah terdapat Albert yang tengah duduk menunggunya.


"Tu-tuan?" ucap Keenan terbata-bata.


Albert menoleh begitu namanya disebut, ia tersenyum dan meminta Keenan untuk segera duduk di depannya.


"Cepat duduk, saya ingin bicara sama kamu!" pinta Albert.


"I-i-iya tuan.." ucap Keenan gugup dan terpaksa duduk di tempat yang sudah tersedia.


"Kenapa kamu gak pernah bilang sama saya kalau kamu ditangkap sama polisi dan ditahan disini?" tanya Albert seraya mencondongkan tubuhnya.


"Maaf tuan! Tapi, tuan tahu darimana kalau saya ada disini?" ucap Keenan.


"Saya lebih dulu mengajukan pertanyaan untuk kamu, jadi seharusnya kamu jawab pertanyaan saya bukannya malah balik bertanya pada saya!" tegas Albert.


"Baik tuan, maafkan saya!" ucap Keenan.


"Sudahlah, kamu jangan kebanyakan minta maaf! Ayo jawab saja pertanyaan saya yang tadi! Kenapa kamu tidak beritahu saya soal ini?" ujar Albert.


"Iya tuan, jadi sebenarnya saya tidak mau merepotkan tuan dalam masalah saya ini. Apalagi tuan waktu itu pernah bilang sama saya, kalau saya tidak boleh libatkan tuan." ucap Keenan.


"Memang betul, tapi paling tidak kamu kabari saya lah kalau kamu ditangkap. Jadi, saya gak bingung cari-cari kamu. Seenggaknya kan saya juga bisa bantu kamu untuk keluar dari sini," ujar Albert.


"Hah? Benar begitu tuan? Emangnya tuan gak takut bakal ikutan terlibat dalam masalah ini juga? Papa kandungnya Cakra itu polisi loh tuan," ujar Keenan.


"Saya tidak takut, karena saya tidak salah, begitupun kamu." ucap Albert.


Keenan mengangguk kecil, ia merasa sedikit lega karena Albert akan membantunya untuk bisa keluar dari penjara.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2