Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Sampai sarjana


__ADS_3

Melihat kehadiran asistennya disana, membuat Albert sedikit kebingungan karena yang ia tahu Keenan seharusnya sedang mencari adiknya yang diculik kemarin, memang Albert belum mendapat kabar bahwa Keenan telah berhasil menyelamatkan Celine sehingga ia masih tampak bingung dengan munculnya Keenan.


"Loh Keenan, kamu ngapain disini? Bukannya kamu harus cari adik kamu yang diculik?" tanya Albert terheran-heran.


"Eee urusan itu sudah selesai, tuan. Adik saya itu sudah berhasil saya temukan dalam keadaan selamat, dan dia sekarang aman bersama saya!" jawab Keenan.


"Ohh ya syukur deh kalau emang adik kamu sudah ketemu! Tapi, kenapa kamu gak kabarin saya sih soal itu? Jadinya saya kan gak perlu kaget gini dan kasih kamu izin buat cuti semalam!" ujar Albert.


"Maaf tuan! Sebenarnya saya sudah ingin memberitahu tuan semalam, tapi saya diajak nonton film sama adik saya itu, ya jadinya saya lupa deh tuan buat kabarin tuan kalau saya udah berhasil temuin Celine, adik saya!" ucap Keenan.


"Yasudah, tidak apa. Kalo gitu sekarang kamu kenapa datang kesini? Kan semalam saya kasih izin kamu buat cuti, jadi harusnya hari ini kamu libur seharian!" tanya Albert heran.


"Enggak tuan, saya gak mau cuti. Kan adik saya udah ditemukan kemarin, sedangkan tuan kasih saya cuti buat cari adik saya itu!" ucap Keenan.


"Iya juga sih, lalu kamu maunya gimana sekarang? Tetap masuk kerja dan antar saya ke kantor atau pengen disini ngapelin adik saya?" tanya Albert seraya menggoda asistennya itu.


"Eee haha tuan bisa aja, gak mungkin lah saya pacaran di jam kerja. Pasti saya pilih antar tuan ke kantor sekarang, mari tuan pakai mobil saya saja!" ucap Keenan memilih pilihan yang aman.


"Bagus! Kalo gitu ayo kita berangkat sekarang!" ucap Albert tersenyum lebar.


Albert pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil Keenan yang ada di depannya, namun ia menatap Nadira sekilas lalu melambaikan tangan ke arah wanita itu sambil tersenyum sebelum melangkah pergi.


Sontak Nadira ikut melambai dan mengulum senyum untuk suaminya itu, ya memang sedari tadi Nadira masih berdiri disana menunggu Albert berangkat ke kantor dan mobilnya tak terlihat lagi di pandangannya.


Melihat tuannya melambaikan tangan ke arah Nadira, sang asisten pun turut memberi hormat dengan cara membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tersenyum sebelum melangkah lebih dulu dan membukakan pintu mobil bagi Albert.


"Silahkan tuan!" ucap Keenan singkat.


"Terimakasih!" jawab Albert.


Setelahnya, kedua pria itu sama-sama masuk ke dalam mobil dan Keenan segera menancap gas membawa mobilnya pergi dari halaman rumah tuannya itu dengan kecepatan sedang.


Di dalam perjalanan, Keenan menyempatkan diri menoleh ke belakang menatap Albert yang sedang duduk disana sembari membetulkan dasinya, entah kenapa Keenan terpikirkan untuk bertanya pada tuannya itu terkait kemesraannya dengan Nadira di depan rumah tadi.


"Tuan, saya lihat-lihat tuan sama non Nadira makin mesra aja nih! Pasti tuan udah mulai jatuh cinta kan sama non Nadira?" ledek Keenan.


"Hah? Cinta? Kamu ini bercanda apa gimana sih, Keenan? Mana mungkin saya bisa jatuh cinta sama wanita seperti Nadira itu? Selama ini kan kamu tahu sendiri, saya menikahi Nadira itu karena saya hanya mengincar tubuhnya bukan soal cinta! Dan saya juga akan hempaskan dia nanti, begitu saya merasa puas dengan tubuhnya!" elak Albert.


"Aduh! Tuan ini masih aja ya suka ngelak, dari dulu sampai sekarang belum juga mau ngaku kalau tuan udah jatuh cinta sama non Dira! Padahal saya lihat sendiri kok, dari cara tuan tatap non Nadira di depan tadi itu beda banget!" ujar Keenan.


"Beda apanya? Orang sama aja kok, saya tatap semua orang juga kayak gitu!" ucap Albert.


"Ah enggak tuan! Yang tadi itu beda banget, kayak ada rasa cinta yang teramat dalam dan besar sekali sama non Nadira! Lagian emang kenapa sih tuan kalau tuan jatuh cinta sama non Dira, kan gak salah?! Harusnya tuan itu ngaku aja kalau tuan emang udah mulai cinta sama non Nadira, supaya non Dira juga makin senang tuan!" ucap Keenan.


"Sudahlah Keenan, kamu jangan bahas soal cinta lagi atau saya akan potong gaji kamu! Lebih baik kamu fokus nyetir dan jangan banyak bicara, saya tidak suka!" ujar Albert kesal.


"Baik tuan, maaf!" ucap Keenan menunduk.


Akhirnya Keenan tak lagi berbicara pada Albert, pria itu memilih fokus menyetir daripada harus menerima pemotongan gaji nantinya.


"Saya masih ragu kalau yang saya rasakan saat ini ke Nadira itu cinta!" batin Albert.



__ADS_1


Sementara Nadira ditemui oleh Abigail saat hendak masuk kembali ke dalam rumah, Nadira pun terkejut dan reflek tersenyum ketika berbalik badan lalu terdapat sosok mama mertuanya tengah berdiri disana menghadap ke arahnya.


Nadira memang terlalu asyik melamun disana sehingga tak sadar jika didekatnya sudah ada Abigail yang memperhatikannya, Abigail tampak tersenyum senang melihat menantunya itu melamun sembari memandangi Albert yang sudah menjauh dari area rumah itu.


"Sayang, Albert nya udah jauh loh. Kamu mau sampai kapan terus berdiri disini dan melamun kayak gitu? Sangking cintanya ya kamu sama Albert, makanya kamu susah buat jauh dari dia!" ucap Abigail menggoda Nadira.


"Eee bukan gitu mah, ini aku juga mau masuk kok, tapi ternyata ada mama disini!" ucap Nadira gugup.


"Ohh, kalau emang karena kamu cinta banget sama Albert juga gapapa kok sayang. Wajar aja kan seorang istri kayak gitu? Apalagi sekarang kamu lagi hamil sayang!" ujar Abigail.


"Iya mah, mungkin bawaan bayi!" ucap Nadira.


"Hahaha, yaudah yuk masuk dulu kita lanjut bicara di dalam biar tambah asyik! Sekalian kamu juga makan lagi yang banyak!" ucap Abigail.


Nadira mengangguk setuju, Abigail mendekatinya dan merangkul pundak sang menantu sembari mengelus punggung Nadira dengan lembut, barulah mereka jalan bersamaan ke dalam rumah menuju meja makan dan duduk berdampingan disana sambil menikmati makanan.


"Nah sayang, sekarang mama mau tanya deh sama kamu. Sebenarnya kamu ini udah lulus sekolah atau belum sih? Umur kamu juga berapa sayang? Mama lupa belum tanya soal itu ke kamu, jadi mama tanya sekarang deh!" ucap Abigail.


"Eee aku udah delapan belas tahun, mah. Tapi, kalau lulus sekolah itu belum. Ya seharusnya sih tahun ini aku lulus, tapi karena aku nikah sama tuan Albert jadinya aku gak bisa terusin sekolah aku dan berhenti di tengah jalan!" jelas Nadira.


"Apa? Jadi, kamu putus sekolah gara-gara Albert sayang?" tanya Abigail terkejut.


"I-i-iya mah... tapi gapapa kok, aku udah ikhlasin itu semua dan coba terima apa yang menjadi takdir kehidupan aku! Karena aku yakin ini semua rencana Tuhan, dan aku tahu rencana Tuhan gak mungkin buruk buatku mah!" jawab Nadira.


"Duh, kamu ini emang anak yang baik ya sayang! Albert benar-benar keterlaluan, seenggaknya dia bolehin lah kamu lanjut sekolah biar kamu bisa pegang ijazah SMA!" ucap Abigail.


"Gapapa kok mah, ijazah juga gak penting buat aku sekarang. Toh aku udah punya tuan Albert, jadi gak bergantung lagi sama ijazah SMA!" ucap Nadira.


"Ahaha, kamu bisa aja sayang! Tetap aja kamu kan masih belia, kamu butuh yang namanya pendidikan! Udah biar nanti mama bicara sama Albert, supaya dia bolehin kamu lanjut sekolah bahkan kuliah! Mama mau wanita sepintar kamu itu jadi sarjana sayang, supaya nanti juga kamu juga bisa jadi cerminan anak-anak kamu!" ucap Abigail mengusap rambut Nadira.


"Tapi mah, kalau tuan Albert gak setuju gimana?" tanya Nadira cemas.


"Iya mah, makasih ya mah!" ucap Nadira.


"Sama-sama sayang, yaudah dilanjut makannya supaya calon cucu mama di perut kamu itu sehat terus!" ucap Abigail.


"Iya mah..." ucap Nadira disertai anggukan kecil.


Nadira pun fokus memakan makanannya, sedangkan Abigail tampak berfikir keras untuk bisa membujuk Albert nantinya agar mau menyekolahkan Nadira sampai sarjana.


"Aku harus bicara empat mata dengan Albert, dia benar-benar keterlaluan karena sudah menghancurkan masa muda anak gadis orang!" gumam Abigail dalam hati.




"Oh ya, kamu sudah tahu siapa dan apa maksud dari orang yang ingin menculik adik kamu itu, Keenan?" tanya Albert pada asistennya.


Ya saat ini Albert masih terjebak kemacetan di jalan raya bersama asistennya, Keenan. Ia pun memutuskan untuk bertanya pada sang asisten terkait insiden penculikan Celine kemarin, Albert cukup penasaran dengan motif dari si penculik itu yang ingin menculik adik dari Keenan.


"Eee sejauh ini saya baru tahu si bos kecil pimpinan para preman yang kemarin hendak menculik adik saya itu, tapi dia masih punya satu atasan lagi dan saya belum tahu siapa itu. Yang pasti si bos kecil ini pernah terlibat perkelahian dengan saya sebelumnya tuan, saat waktu itu ada seseorang yang mengancam tuan dengan sebuah kertas dan batu!" jawab Keenan menjelaskan.


"Apa? Maksud kamu, si penculik itu adalah orang yang sama dengan peneror misterius yang waktu itu muncul di rumah saya? Kok bisa sih? Niat dia apa coba?" ujar Albert terheran-heran.


"Itu yang masih belum saya ketahui, tuan. Tapi, saya akan terus selidiki ini sampai saya berhasil menemukan siapa dalang dari semuanya dan apa maksud dia meneror tuan serta ingin menculik adik saya!" ucap Keenan.

__ADS_1


Albert terdiam dan berpikir sejenak dengan mengetuk-ngetuk jarinya pada dagu.


"Kalau dari yang saya cermati, mungkin saja orang itu ada niatan menjatuhkan saya melalui kamu. Karena terbukti dari ancaman yang waktu itu, mereka ingin saya tinggalkan bisnis saya bukan? Berarti mereka memang tidak suka dengan saya dan ingin melihat saya hancur!" ucap Albert.


"Iya sih tuan, lalu apa hubungannya dengan adik saya dan kenapa mereka mengincar adik saya yang tidak tahu apa-apa itu?" ujar Keenan bingung.


"Mereka ingin menculik adik kamu, karena dengan begitu kamu pasti akan sibuk mencari adik kamu itu, dan tentunya kamu tidak bisa membantu saya lagi mengurus semua masalah ini!" tebak Albert.


"Oh iya juga ya, tebakan tuan masuk akal juga sih!" ucap Keenan.


"Ya tapi itu baru dugaan saya semata, sebaiknya mulai sekarang kamu harus lebih perhatikan adik kamu itu, jangan sampai lengah sedikitpun karena bisa bahaya buat dia! Biar saya bantu kamu buat selidiki semuanya!" ucap Albert.


"Baik tuan! Saya juga sudah sampaikan kok ke adik saya untuk selalu waspada dan jangan mudah percaya dengan orang asing!" ucap Keenan.


"Bagus! Yasudah, cepat kamu cari jalan tikus supaya kita bisa terhindar dari kemacetan ini! Daritadi jalan cuma satu meter satu meter, kapan sampainya?" ujar Albert kesal.


"Maklumlah tuan..." ujar Keenan.




Siang hari menjelang sore, adalah waktu Celine pulang sekolah dan seperti biasa ia akan menunggu angkutan umum di halte depan sekolah bersama kedua temannya itu, yakni Lilis dan juga Rani yang memang setia menemaninya.


Ketiga gadis itu bersama-sama keluar gerbang sekolah sambil berbincang mengenai kejadian kemarin saat Celine hampir saja diculik, untungnya memang Celine pandai beladiri sehingga ia masih bisa aman dan selamat dari penculikan itu.


"Eh Cel, kapan-kapan ajarin kita beladiri dong supaya bisa aman gitu!" ucap Lilis.


"Iya bener! Kan kita berdua tuh cuma cewek lemah, gak bisa apa-apa. Gimana coba kalau nanti kita diculik kayak lu kemarin? Ya amit-amit sih, tapi kan yang namanya musibah gak ada yang tau! Makanya kita mau jaga-jaga aja Cel, ajarin kita ya beladiri!" sahut Rani.


"Gue sih mau-mau aja ajarin kalian, tapi gue juga gak bisa. Gue ini belum terlalu pintar beladiri, gue masih sering belajar sama abang gue. Mending kalian cari guru silat aja deh!" saran Celine.


"Yah daripada sama guru silat, gimana kalo kita gabung sama lu aja belajar bareng sama bang Keenan? Kan asyik tuh, kita bisa belajar beladiri sekaligus ngeliatin abang lu yang ganteng itu!" ujar Lilis tersenyum renyah.


"Idih, genit banget sih lu!" cibir Celine.


"Hahaha, bercanda Cel. Tapi soal belajar beladiri serius kok, boleh ya kita berdua ikut belajar sama lu!" ucap Lilis memohon pada Celine.


"Iya iya boleh, tapi tetap gue harus bilang ke bang Ken dulu dia mau apa enggak ngajarin kalian juga!" ucap Celine.


"Oke Cel!" ucap Lilis dan Rani bersamaan.


Disaat mereka tiba di halte depan sekolah itu, tiba-tiba saja dua orang pria bertubuh besar disertai jenggot hitam muncul di hadapan mereka dan menghampiri ketiga gadis itu.


"Permisi! Kita berdua lagi cari yang namanya Celine, nah kebetulan dari gambar yang dikirim itu mirip sama wajah kamu. Apa benar kamu namanya Celine?" ujar salah satu pria itu menunjuk ke arah Celine yang sedang berdiri.


Sontak Celine merasa ketakutan dan cemas, ia khawatir kedua pria itu adalah orang yang juga berniat menculiknya.


"Duh Cel, mereka siapa? Badannya gede-gede banget udah kayak bigfoot!" bisik Lilis.


"Gue juga gak tahu, kenal aja kagak!" jawab Celine.


Celine berusaha tenang dan menatap kedua pria di depannya itu dari atas sampai bawah, sedangkan Lilis serta Rani hanya bersembunyi dibalik tubuh Celine karena ketakutan.


"Kalian siapa?" tanya Celine penasaran.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2