Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Aku lapar tau


__ADS_3

Albert masih berusaha bernego dengan mamanya terkait keputusan sang mama yang melarangnya untuk bertemu dengan Nadira.


Albert ingin mamanya itu merubah keputusannya dan memberi izin baginya untuk menemui Nadira, karena ia tak mau masalahnya jadi berlarut-larut.


"Mah, ayolah izinin aku buat ketemu Nadira! Aku pengen semua masalah ini segera selesai, aku gak mau Nadira salah paham sama aku terus. Emangnya mama mau hubungan aku sama Nadira retak kayak gini? Mama gak kasihan apa sama aku?" ucap Albert membujuk mamanya.


"Apa? Kasihan sama kamu? Gak salah kamu bicara begitu? Yang ada mama itu kasihan sama Nadira, karena dia terus-terusan disakiti sama kamu. Buat apa mama harus kasihan ke kamu? Sedangkan kamu aja enak-enakan di luar sana dengan Vanesa, apa itu namanya suami yang baik?" ujar Abigail.


"Mah, aku kan udah jelasin kalau itu semua salah paham. Aku sama sekali gak berniat ngelakuin itu ke Vanesa, tapi dia yang paksa aku buat cium perutnya." ucap Albert coba menjelaskan.


"Apapun alasannya, tetap aja gak logis kalau seorang suami mencium perut wanita lain disaat dia sudah memiliki istri yang sedang mengandung. Kamu tahu kan perasaan ibu hamil kayak gimana? Kasihan Nadira!" ucap Abigail.


"Iya mah, aku tahu. Makanya sekarang aku mau minta maaf sama Nadira, tolong dong mama jangan halangi aku!" ucap Albert memohon.


"Mama gak bisa biarin kamu ketemu Nadira, mama khawatir dia akan semakin marah." kata Abigail.


"Tapi mah, kalau masalah ini gak segera diselesaikan bisa-bisa hubungan aku sama Nadira bakal semakin buruk. Ayo dong mah, bolehin aku ketemu sama Nadira!" ucap Albert.


Abigail terdiam sejenak, ia berpikir apakah ia harus memberi izin pada Albert untuk menemui Nadira atau tidak.


"Umm, kamu yakin bisa bujuk Nadira dan gak bikin dia nangis lagi seperti sekarang?" tanya Abigail.


"Iya mah, aku yakin. Aku bakal bujuk Nadira perlahan-lahan, sampai dia bisa tenang dan mau bicara sama aku. Mama jangan khawatir, aku pasti gak akan paksa Nadira kok! Aku cuma mau ketemu sama Nadira dulu," jawab Albert.


"Huh baiklah, mama kasih izin kamu ketemu sama Nadira. Tapi, awas ya kalau mama dengar Nadira nangis lagi dan malah semakin emosi karena ketemu sama kamu!" ucap Abigail.


"I-i-iya mah.." ucap Albert gugup.


"Yasudah, sana kamu temui istri kamu di kamarnya! Bicara baik-baik sama dia, jaga perasaan dia karena dia lagi hamil!" ujar Abigail.


"Iya mah, aku tahu kok." ucap Albert tersenyum.


Albert merasa lega karena akhirnya ia diperbolehkan untuk menemui Nadira.


Albert pun pamit pada mamanya, ia langsung menuju ke kamar Nadira.


Namun, saat dalam perjalanan tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Drrttt drrttt...


Albert memeriksa sejenak ponselnya, ia temukan nama Keenan di layar dan coba mengangkatnya.


📞"Halo Ken! Gimana?" tanya Albert penasaran.


📞"Halo tuan! Ini gawat banget tuan, pada saat saya melakukan pengejaran terhadap Cakra, tanpa diduga mobil Cakra justru menabrak pembatas dan terpental ke sungai tuan. Sekarang saya sudah hubungi polisi, mereka sedang berupaya mencari sosok Cakra yang hanyut tuan." jawab Keenan.


📞"Apa? Cakra kecelakaan dan mobilnya hanyut di sungai? Duh, semoga dia gak kenapa-napa! Saya masih ingin bicara dengan dia, dia gak bisa mati gitu aja sebelum mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan!" ucap Albert.


📞"Iya tuan, saya dan para petugas disini juga tengah mengupayakan itu. Ya kita doakan saja semoga Cakra bisa ditemukan!" ucap Keenan.


📞"Ya ya, terimakasih Keenan atas laporannya! Kamu teruskan pencarian itu, jangan berhenti sampai kamu berhasil mendapatkan informasi mengenai Cakra!" titah Albert.


📞"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


📞"Yasudah, saya masih ada keperluan lain. Kamu hubungi saya lagi nanti, bila ada perkembangan terkait pencarian Cakra!" ujar Albert.


📞"Iya tuan, siap!" ucap Keenan.


Tuuutttt...


•


•


Ceklek...


Albert masuk ke dalam kamar, berniat menemui Nadira untuk menjelaskan semuanya.


Terlihat disana masih ada Chelsea yang tengah menemani Nadira, gadis itu pun berdiri mendekat ke arah Albert sang kakak.


"Kak Albert? Kakak udah pulang?" tanya Chelsea dengan nada yang sedikit ketus.


"Iya, kakak mau bicara sama Nadira. Tolong kamu keluar sebentar ya Chelsea, kakak harus selesaikan semuanya sekarang!" ucap Albert.

__ADS_1


"Oke deh, good luck ya kak!" ucap Chelsea.


"Makasih sayang!" ucap Albert pada adiknya.


Chelsea pun pamit sejenak kepada Nadira untuk keluar dari sana, ia juga tak mau jika rumah tangga kakaknya itu selalu bermasalah.


"Mbak, gue keluar dulu ya? Semoga masalah lu sama kak Albert bisa kelar!" ucap Chelsea.


"Iya Chelsea, makasih ya udah temenin aku daritadi!" ucap Nadira tersenyum.


"Iya mbak, sama-sama." kata Chelsea sembari memeluk Nadira sejenak sebelum pergi dari sana.


Setelah Chelsea keluar, barulah Albert menatap Nadira dan mendekat ke arah istrinya itu. Ia duduk di pinggir ranjang, tepat di sebelah Nadira yang sedang membuang muka.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Albert lembut.


"Gapapa." jawab Nadira ketus.


Nadira melipat kedua tangannya di perut, wajah cemberutnya itu membuat Albert makin gemas dan berusaha mencolek dagunya.


"Hey! Kamu jangan cemberut dong sayang, gak enak tau dilihatnya!" ucap Albert.


"Buat apa sih kamu masuk kesini, mas? Aku lagi gak mau lihat muka kamu tau, kamu keluar dong sana!" ujar Nadira kesal.


"Gak mau, saya bakal tetap disini sampai kamu bisa senyum lagi. Saya juga mau jelasin semuanya ke kamu, supaya kamu gak salah paham." kata Albert.


"Apa yang mau kamu jelasin ke aku, mas? Menurut aku, semua itu udah jelas kok. Aku lihat sendiri foto sewaktu kamu cium Vanesa," ucap Nadira.


"Ya emang benar sayang, aku akui itu benar terjadi. Tapi, itu semua bukan atas kehendak aku. Vanesa yang paksa aku buat cium perut dia, katanya dia bilang kalau itu kemauan anaknya. Aku gak bisa berbuat apa-apa dong sayang, aku kan gak mau anak Vanesa nanti kenapa-napa." ucap Albert.


"Alasan aja kamu mas, jelas-jelas di foto itu kamu mendalami banget ciuman kamu. Masih aja kamu mau ngelak, aku heran deh sama kamu. Lagian kenapa sih kamu masih ngurusin Vanesa? Dia itu udah celakai aku loh mas," ujar Nadira.


"Saya tahu Nadira, mulai sekarang kan dia juga udah gak tinggal disini lagi." kata Albert.


"Emang dia udah gak disini, tapi kamu kasih dia tempat tinggal yang mewah dan nyaman. Biar apa sih kamu kayak gitu, mas? Kamu gak tahu apa kalau aku cemburu?" ucap Nadira.


"Tahu kok, justru saya suka lihat kamu cemburu begitu. Saya merasa kamu jadi lebih gemesin sewaktu cemburu, dan selain itu saya juga senang karena kalau kamu cemburu artinya kan kamu benar-benar cinta sama saya." ucap Albert.


"Dih, dasar gak jelas!" cibir Nadira.


Cupp!


"Kamu jangan marah ya cantik! Sekarang kamu mau apa? Saya turuti deh kemauan kamu, tinggal bilang aja ke saya sekarang! Anggap aja ini sebagai permintaan maaf saya," ucap Albert.


"Gausah! Aku cuma mau kamu jauhin Vanesa dan jangan dekat-dekat dengan dia terus, biarin aja Vanesa disana!" ucap Nadira cemberut.


"Oh gitu, iya deh iya saya janji sama kamu buat gak deketin Vanesa lagi! Tapi, sekarang kamu senyum dulu dong buat saya. Saya mau lihat senyum manis di bibir kamu ini," ucap Albert sembari membelai lembut bibir ranum istrinya.


Nadira pun tersenyum tipis dan langsung disambar oleh bibir Albert dengan cepat.


Albert sengaja melakukan itu, ia ingin membuat Nadira tenang dengan sebuah ciuman panas.


•


•


Keenan kembali ke rumahnya tepat tengah malam, ia sengaja pulang karena hingga kini tim pencari belum berhasil menemukan keberadaan Cakra.


Keenan melepas jaketnya, duduk di sofa dan bersandar sejenak untuk mengambil nafas setelah aktivitas yang tadi ia lakukan.


"Huh capek banget rasanya! Si Celine udah tidur belum ya? Gue mau minta bikinin minum, tapi takut dia udah tidur dan gue malah ganggu dia." gumam Keenan sambil mengipas-ngipas tangannya.


"Apa gue coba cek dulu kali, ya? Kamarnya kan tadi gue kunci, iya deh gue cek aja." ujarnya.


Keenan beranjak dari sofa, berjalan ke kamar sang adik untuk mengecek apakah adiknya itu masih terbangun atau tidak.


Ceklek...


Keenan membuka pintu, melihat ke dalam ruangan itu dan menemukan adiknya sedang terbaring membelakanginya.


"Yah dia udah tidur!" ucap Keenan.


Namun, tanpa diduga Celine langsung berbalik dan menatap ke arah Keenan yang tengah mengintip dibalik pintu.

__ADS_1


Celine pun bangkit dari posisinya, ia terduduk di ranjang sambil menyipitkan matanya berusaha mencari tahu siapa yang datang.


"Bang Ken? Lu ngapain disitu sih? Sini masuk kalo mau!" ucap Celine.


"Ah iya, tadi gue kira lu udah tidur." ucap Keenan sembari melangkah mendekati adiknya.


Keenan pun duduk di sebelah Celine, menatap gadis itu sambil tersenyum dan perlahan menggerakkan tangannya mengusap rambut Celine dengan lembut.


"Kok lu belum tidur sih?" tanya Keenan.


"Gue nungguin lu pulang, kan lu udah janji mau bawain fuyunghai buat gue. Daritadi loh gue tunggu-tunggu, lapar banget nih." jawab Celine.


"Astaga! Bisa-bisanya gue lupa beliin makanan itu buat Celine, kasihan dia pasti kelaparan dan udah nunggu lama banget. Aaarrgghh dasar bodoh lu Keenan!" batin Keenan.


"Kenapa bang? Kok lu diem aja sih? Lu lupa ya beli fuyunghai buat gue?" tanya Celine bingung.


"Eee iya sayang, gue kelupaan tadi. Sorry banget ya, soalnya gue harus cari orang yang kecelakaan dan masuk jurang! Lu gak marah kan sama gue?" jawab Keenan agak cemas.


"Tuh kan, gue udah duga kalau lu pasti lupa. Terus sekarang gue makannya gimana bang? Dari lu pergi tadi gue belum makan loh, lapar tau. Lagian suruh siapa sih lu pake kunci kamar gue segala?!" ucap Celine kesal.


"Ya sorry! Gue kunci kamar lu supaya lu gak pergi kemana-mana gitu, gue kan masih khawatir tau sama lu!" ucap Keenan.


"Huh emangnya siapa sih yang kecelakaan? Apa hubungan dia sama lu? Sampai lu harus susah-susah cari dia dan gak ingat sama gue di rumah!" tanya Celine.


"Eee dia itu Cakra, orang jahat." jawab Keenan.


"Hah? Siapa tuh?" tanya Celine bingung.


"Kan gue udah bilang, dia orang jahat yang sering ganggu keluarga tuan Albert. Sekarang dia jatuh ke jurang sebelum kesalahannya dipertanggungjawabkan, makanya gue harus terus cari dia sampai dapat." jawab Keenan.


"Ohh, yaudah ah gausah bahas dia terus! Aku lapar nih bang, aku mau makan." ucap Celine.


Cupp!


Keenan malah mengecup pipi Celine dan membuat gadis itu kebingungan sembari memegangi pipinya yang basah.


"Ish, lu ngapain cium pipi gue? Gue tuh lapar bang, bukan minta dicium." ucap Celine.


"Iya, gue ngerti kok. Kalau lu lapar, ya lu keluar sana terus masak mie atau apa kek yang bisa dimakan! Gue juga haus nih, buatin kopi dong sekalian gorengan gitu!" ucap Keenan.


"Dih nyuruh, udah bikin adiknya kelaparan terus sekarang seenak jidat nyuruh aku buat bikinin kopi. Aku gak mau ah! Abang bikin aja sendiri sana di dapur!" ucap Celine.


Celine bangkit dari ranjangnya dan hendak pergi, namun Keenan mencekal lengannya lalu menarik Celine hingga terjatuh kembali ke ranjang.


"Akh!"


Saat ini posisi Celine ada di bawah tubuh Keenan, entah apa maksud Keenan sengaja menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh sang adik.


"Bang, lu apa-apaan sih?! Bangun ah berat tau tubuh lu!" ujar Celine.


"Gue bakal bangun, asalkan lu mau nurut sama gue dan bikinin kopi buat gue. Lagian lu ada-ada aja deh, masa begitu aja nolak?" ucap Keenan.


"Ish, gue kan lapar bang. Kalo gue buatin kopi dulu buat lu, terus kapan gue makannya? Kenapa lu gak buat sendiri aja?" ujar Celine.


"Kan bisa bikin kopi sambil bikin mie, apa susahnya?" ucap Keenan.


"Ohh, ya kan lu juga bisa tuh bikin kopi sendiri tanpa ngandelin gue. Apa susahnya?" ucap Celine.


"Yeh malah balikin omongan gue!" Keenan tampak kesal dan mencubit hidung Celine. "Gue tuh mau mandi dulu bersihin badan, kan gue abis dari luar. Nah, gue pengennya abis gue mandi tuh kopi udah tersedia di meja makan." sambungnya.


"Kalau tau lu baru pulang, kenapa lu tindih gue kayak gini? Itu sama aja lu salurin virus di tubuh lu ke gue tau gak!" protes Celine.


Celine berusaha berontak dan melepaskan diri, namun cengkraman Keenan terlalu kuat hingga membuat Celine tak mampu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya.


"Hahaha, lemah banget sih lu! Segini doang kekuatan seorang Celine?" ledek Keenan.


"Dih, bukan gue yang lemah. Tapi, lu nya aja yang terlalu kuat!" ucap Celine.


"Nah, sekarang lu udah tau kan kalo gue kuat? Lu masih gak mau nurut sama gue? Gue bisa lakuin apa aja loh ke lu sekarang, ngerti kan maksud gue?" ucap Keenan tersenyum smirk.


"Iya iya, gue nurut sama lu!" ucap Celine pasrah.


"Hahaha, gitu dong adikku yang cantik!" ucap Keenan sembari menciumi seluruh wajah serta leher Celine dan meninggalkan bekas disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2