
Albert pulang ke rumah bersama Keenan setelah selesai mengurus Vanesa, ia langsung masuk ke dalam begitu saja dan meninggalkan asistennya disana tanpa berbicara sepatah katapun.
Albert nampak sangat emosi mengingat Vanesa hamil karena ulahnya, apalagi ia tak dapat menemukan dukun yang bisa menggugurkan kandungan dari Vanesa.
Pria itu duduk di sofa nya dan belum menyadari kalau Nadira tidak ada disana, ia mengerutkan keningnya sembari menaruh satu kaki di atas kaki lainnya dan bersandar untuk coba menenangkan pikirannya saat ini.
"Aaarrgghh!! Gimana cara saya bisa gugurin kandungan Vanesa? Kalau sampai bayi itu lahir, bisa berabe urusannya!" geram Albert.
Pria itu terus berpikir keras bagaimana caranya untuk dapat menggugurkan kandungan Vanesa, sampai pada akhirnya ia memiliki ide yang cukup brilian dan ia berpikir itu akan berhasil untuk bisa menyingkirkan bayi dalam kandungan Vanesa.
"Ya ya saya tahu caranya! Saya harus kasih Vanesa obat penggugur kandungan!" ucapnya.
"Ini mana sih si Keenan?"
Pria itu kebingungan mencari-cari keberadaan asistennya, ia pun terpaksa menghubungi Keenan dan memintanya masuk ke dalam.
📞"Heh! Kamu dimana?" tanya Albert kesal.
📞"Eee saya di luar tuan, ada apa ya?" ucap Keenan gugup.
📞"Cepat masuk! Ada yang ingin saya perintahkan buat kamu!" tegas Albert.
📞"Siap tuan!" ucap Keenan.
Setelahnya, Albert menyimpan ponselnya begitu saja di atas meja dan menanti kehadiran Keenan untuk membicarakan rencananya.
Tak lama kemudian, Keenan pun muncul menemui tuannya di ruang tamu. Ia merunduk sambil menyatukan dua telapak tangannya di depan dan menghadap Albert.
"Permisi tuan, saya hadir!" ucap Keenan.
"Duduk!" perintah Albert.
Keenan langsung duduk sesuai perintah dari Albert, dan kembali berbicara pada tuannya itu.
"Ada apa ya tuan?" tanya Keenan.
"Saya punya kerjaan untuk kamu! Tolong kamu carikan obat penggugur kandungan yang paling baik dari yang paling baik! Lalu, kamu berikan obat itu ke saya dalam waktu satu kali dua puluh empat jam! Kalau lewat, kamu tanggung sendiri akibatnya!" jelas Albert.
"Hah? Obat penggugur kandungan tuan? Memangnya untuk apa tuan membeli obat itu?" ujar Keenan terkejut.
"Sudah, tidak usah banyak tanya dan ingin tahu! Lakukan saja apa yang saya perintahkan!" tegas Albert.
"Ba-baik tuan, akan saya laksanakan! Tapi, dimana saya harus mencari obat itu tuan?" ucap Keenan.
"Kenapa kamu malah tanya saya? Ya saya tidak tahu, kamu cari sendiri sana dimana kek! Kamu kan juga bisa minta bantuan anak buah kamu, jangan terlalu bodoh deh jadi orang!" ujar Albert kesal.
"I-i-iya, siap tuan!" ucap Keenan gugup.
Sang asisten itu pun langsung berbalik badan, kemudian pergi dari sana dan segera mencari obat penggugur kandungan yang diminta oleh Albert. Namun, ia masih bingung memikirkan untuk apa Albert menyuruhnya membeli obat itu.
__ADS_1
"Kira-kira tuan nyuruh saya beli obat itu buat siapa ya? Tadi disuruh nyari dukun aborsi, sekarang beli obat penggugur! Siapa sih emang yang hamil? Apa nona Nadira?" gumam Keenan dalam hati.
Sementara Albert tetap pada tempatnya, ia merasa haus dan berteriak-teriak memanggil Nadira.
"NADIRA, NADIRA...!!"
Namun, bukan Nadira yang muncul melainkan sosok pelayan disana yang bernama Mega.
"Ada apa ya tuan?" tanya Mega.
"Heh! Saya panggil Nadira istri saya, kenapa malah kamu yang dateng? Ohh sekarang nama kamu udah berubah jadi Nadira, ha?" tegur Albert.
"Maaf tuan! Tapi, non Nadira nya sedang tidak ada do rumah!" ucap Mega.
"Apa??"
Albert terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, terlihat raut emosi terpampang jelas di wajahnya.
"Kurang ajar! Kemana dia pergi?" tanya Albert.
"Eee tadi sih nona Nadira pergi bersama mbok Widya dan beberapa penjaga tuan, mereka ingin ke minimarket terdekat untuk membeli beberapa bahan masakan yang habis, tuan!" jelas Mega.
"Yasudah, terimakasih infonya! Kamu bisa kembali kerja!" ucap Albert.
"Baik tuan!" ucap Mega.
📞"Halo! Kamu lagi sama Nadira kan?" ujar Albert.
📞"I-i-iya tuan, ini non Nadira ada sama saya!"
📞"Bagus! Cepat kasih tahu saya, dimana kalian berada sekarang?!" tegas Albert.
📞"Di Moonlight cafe, tuan!"
Tuuutttt....
Albert langsung memutus telponnya, dan bergegas pergi menyusul Nadira dengan perasaan emosi. Ia sangat marah pada Nadira karena sudah pergi tanpa seizin darinya.
"Kurang ajar! Main seenaknya pergi tanpa izin dari saya, dasar gak menghargai suami! Istri macam apa itu?" geram Albert dalam hati.
•
•
Sementara itu, Nadira memang diajak berbincang sejenak di cafe bersama Cakra. Pria itu katanya ingin berbicara mengenai sesuatu yang penting, sehingga Nadira pun tak dapat menolaknya.
Liam, Frets serta mbok Widya sudah berkali-kali memperingatkan Nadira untuk segera pulang sebelum Albert pulang. Namun, wanita itu sungguh keras kepala dan tak mau mendengarkan perkataan mereka sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cakra, apa yang kamu mau omongin? Sampai kamu paksa aku dan usir teman-teman aku tadi?" tanya Nadira penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya aku udah lama pengen bicara soal ini sama kamu, Nadira! Tapi, selalu aja aku gak punya kesempatan untuk bicara sama kamu! Untungnya sekarang kita ketemu lagi Dira, aku bisa deh ungkapin perasaan aku ke kamu yang sesungguhnya!" jawab Cakra sambil tersenyum.
"Perasaan? Maksud kamu?" ujar Nadira kaget.
Cakra menarik tangan Nadira dan menggenggamnya erat, membuat Nadira reflek membulatkan matanya karena ia tak siap untuk menghindar dari tangan Cakra yang bergerak cepat itu.
"Iya Nadira, sebenarnya aku ini cinta sama kamu! Aku mau kamu jadi pacarku, apa kamu bersedia?" ucap Cakra.
Nadira kembali dibuat syok dengan pernyataan Cakra, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar semua itu. Ia dibuat kebingungan tak tahu harus bagaimana saat ini setelah Cakra mengungkapkan perasaannya kepada ia.
"Hah? Ka-kamu serius? Ini gak lagi ngeprank atau apa kan?" tanya Nadira gugup.
"Enggak kok, aku serius Dira! Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu! Dan aku pengen kita bersama menjalin hubungan!" jawab Cakra tegas.
"Apa??"
Tak hanya Nadira yang terkejut, bahkan mbok Irma serta kedua pengawal Nadira pun ikut kaget mendengar apa yang dilontarkan oleh Cakra terkait perasaannya pada Nadira.
"Waduh, itu laki-laki kok berani bilang begitu sama non Nadira ya? Sampe pegang-pegang tangan segala, kalau sampai tuan Albert lihat bisa bahaya ini! Eh kamu Liam, lakukan sesuatu dong buat bawa non Dira pergi dari sini!" ucap mbok Widya.
"Mau gimana mbok? Non Nadira kan gak mau diajak pulang, kita tunggu tuan Albert aja!" ucap Liam.
"Kamu gimana sih? Kalau tuan Albert keburu dateng, yang ada non Nadira bakal kena omel! Emang kalian mau lihat non Nadira dimarahin?" ujar mbok Widya.
"Ya abis harus gimana lagi mbok?" ucap Liam.
Nadira masih tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi, ia pun merasa bingung harus melakukan apa selanjutnya untuk menjawab pertanyaan dari Cakra.
"Cak, sebelumnya aku minta maaf ya! Tapi, tolong jangan pegang-pegang tangan aku kayak gini!" ucap Nadira berusaha melepaskan genggaman tangan Cakra.
"Kenapa Dira? Bukannya dulu waktu di sekolah, kamu biasa-biasa aja?" tanya Cakra heran.
"Sekarang beda Cakra, kamu tolong maklumin ya!" jawab Nadira.
"Iya iya..."
Akhirnya Cakra melepaskan tangan Nadira dari genggamannya, lalu kembali bertanya mengenai jawaban Nadira.
"Jadi, gimana jawaban kamu?" tanya Cakra.
"Eee aku...."
"HEY!"
Tiba-tiba saja suara teriakan keras muncul dari belakang, sontak Nadira serta yang lainnya menoleh ke asal suara itu. Mereka semua terkejut dan membuka mulutnya lebar melihat kehadiran Albert yang diselimuti emosi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1