Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Berita baik dan buruk


__ADS_3

Nadira terus cemas dan panik ketika Juan tak henti-hentinya berusaha membuka pintu kamar yang terkunci itu, ia hanya bisa duduk di atas ranjang sembari berdoa agar dapat selamat dan keluar dari sana.


"Hey Nadira cantik! Kamu lagi ngapain sih di dalam, ha? Aku butuh kamu cantik, buka dong pintunya jangan sembunyi kayak gini!" teriak Juan dari luar sambil terus menggedor-gedor pintu.


"Diam kamu! Jangan harap kamu bisa sentuh saya!" balas Nadira dengan penuh emosi.


Wanita itu menutup dua telinganya berusaha untuk tidak mendengar teriakan dari Juan, ia juga berharap Cakra bisa segera datang dan menyelamatkannya, Nadira sangat takut karena Juan terlihat benar-benar menginginkan tubuhnya yang indah itu.


Nadira semakin takut ketika Juan berusaha membuka pintu dengan cara didobrak, pria itu berulang kali menabrak pintu dengan lengannya agar pintu bisa segera terbuka, sontak saja Nadira panik dan menoleh kesana-kemari mencari sesuatu untuk bisa menahan pintu.


"Duh gawat! Aku gak boleh biarin dia bisa buka pintu itu! Tapi, aku ganjal pake apa ya pintunya?" ujar Nadira kebingungan.


"Nah itu dia ada kursi!" Nadira melihat sebuah kursi kayu yang berukuran sedang dan dirasa cukup untuk bisa menahan pintu, ia pun segera mengambil kursi tersebut lalu menaruhnya di belakang pintu sebagai ganjalan.


"Dengar ya Juan, aku gak akan pernah biarin kamu bisa buka pintu ini!" teriak Nadira.


"Alright baby! Kita lihat aja, sebentar lagi pasti aku bisa buka pintu ini dan aku bakal ngerasain tubuh kamu yang seksi itu! Tunggu aja cantik, aku pasti bisa masuk ke dalam temuin kamu!" ujar Juan.


"Jangan mimpi kamu!" ucap Nadira.


"Aku tidak sedang bermimpi, bidadari ada di depan mataku sekarang, jadi tidak ada cara lain selain kita menikmati waktu berdua cantik!" ucap Juan.


"Dasar gila! Kamu gak pantas jadi kakaknya Cakra!" ucap Nadira kesal.


"Oh ya? Kamu memang betul cantik, bahkan aku juga tidak sudi mempunyai adik seperti Cakra! Dia itu terlalu lemah dan suka cari muka di depan bokap sama nyokap, makanya gue benci banget sama dia! Tapi gue heran deh, gimana bisa tuh anak kenal sama wanita secantik kamu Nadira? Andai saja aku yang kenal lebih dulu dengan kamu, pasti aku sudah bisa merasakan tubuh indah kamu cantik!" ucap Nadira.


Nadira dibuat bergidik oleh ucapan Juan, pria itu benar-benar membuatnya merasa ngeri dan takut jika nantinya dia akan berhasil membuka pintu maka keselamatannya pun akan terancam.


"Kalaupun itu terjadi dan aku kenal sama kamu, maka aku juga gak akan mau dekat-dekat dengan orang seperti kamu!" ujar Nadira.


Perlahan Nadira memundurkan langkahnya sembari menggigit jarinya menahan rasa takut dan cemas yang sedang ia rasakan saat ini, Nadira terus menyebut nama Albert meminta pertolongan pada suaminya itu walau kemungkinannya cukup sulit.


"Tuan Albert, aku butuh kamu sekarang! Aku takut banget dia bakal apa-apakan aku, tuan!" batin Nadira.


Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Juan berhasil mendobrak pintu kamar itu.


Braakkk...


Nadira pun terkejut dibuatnya, ia membulatkan mata dan menganga lebar ketika sadar bahwa Juan sudah berada di depan matanya. Pria itu sendiri tampak menyunggingkan senyum ke arah Nadira dan perlahan mendekati wanita itu.


"Bagaimana cantik? Aku bisa kan buka pintu ini, seperti yang aku bilang tadi. Sekarang kamu gak bisa kemana-mana lagi cantik, kamu milik aku saat ini dan kamu harus memuaskan aku!" ujar Juan.


"Gak! Jangan mendekat! Aku gak mau disentuh sama laki-laki kayak kamu!" ucap Nadira.


"Kenapa? Apa kurangnya aku, cantik? Kenapa kamu gak mau bersentuhan sama aku? Padahal aku ganteng loh," ujar Juan.


"Mau seganteng apapun kamu, aku gak akan mungkin tertarik sama kamu! Aku ini sudah punya suami, aku cuma mau sama suami aku! Tolong kamu pergi sekarang, jangan ganggu aku! Emang kamu gak tahu suami aku itu siapa? Kalau sampai dia tahu ada orang yang berani deketin aku, dia pasti bakalan habisin kamu!" ucap Nadira.


"Hahaha, kamu kira aku bakal takut dengan ucapan kamu yang gak ada buktinya itu? Aku udah terlanjur ada disini, jadi lebih baik kalau aku cicipi dulu tubuh kamu itu cantik!" ujar Juan.


Nadira menggeleng dan terus mundur, Juan melangkah maju mendekatinya disertai senyum smirk yang membuat Nadira makin takut.


"Ja-jangan mendekat!" teriak Nadira ketakutan.


"Sudahlah cantik, pasrah saja dan nikmati permainan ku! Aku yakin kamu bakal keenakan, suami kamu gak mungkin bisa kasih itu ke kamu kan cantik!" ucap Juan.


Nadira hanya bisa terus menggelengkan kepala meminta Juan untuk pergi dari sana sembari berusaha menjauh darinya, namun langkahnya terhenti ketika kakinya menyentuh ranjang dan tak bisa mundur kemana-mana lagi.


"Hah? Gimana ini...??" batinnya.




Sementara itu, Cakra baru sampai di apartemennya. Ia langsung bergegas masuk ke dalam selepas membayar ojek, ia tak perduli dengan banyaknya orang yang melihat ke arahnya karena ia nampak sangat cemas dan terus berlari diantara kerumunan orang-orang.


Cakra tidak bisa tenang memikirkan Nadira, ia cemas jika kakaknya telah berhasil menyentuh Nadira dan tentu saja itu akan membuatnya sangat emosi, bagaimanapun Cakra mencintai Nadira dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu, biarpun ia tahu cintanya tak terbalaskan.


"Nadira, kamu harus selamat sayang! Aku gak akan biarin kamu kenapa-napa!" gumamnya dalam hati.


Pria itu terus berlari dan menambah kecepatannya agar bisa lebih cepat sampai di tempat Nadira dan menyelamatkan wanita itu, akibatnya ia sampai berkali-kali menabrak orang di sekitarnya secara tak sengaja tentu.

__ADS_1


Setibanya di depan pintu, Cakra langsung berusaha masuk ke dalam. Akan tetapi, usahanya gagal lantaran pintu tersebut telah dikunci oleh Juan.


"Aaarrgghh sial! Kenapa dikunci sih?" geram Cakra sembari memukul kenop pintu itu.


Namun, Cakra tak menyerah sampai disitu. Untungnya ia membawa kunci cadangan yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk keadaan darurat seperti sekarang.


"Huh syukurlah gue bawa ini!" ujarnya.


Ceklek...


"WOI JUAN!" Cakra berteriak cukup lantang dan masuk ke dalam ruangan itu, ia mencari keberadaan Juan serta Nadira di sekitar sana.


"JUAN KELUAR LU SETAN!" teriaknya sekali lagi sambil terus celingak-celinguk.


"Cakra tolong aku disini!"


Mendengar suara tersebut, Cakra pun langsung yakin bahwa itu adalah suara milik Nadira. Ia mendapati suara itu berasal dari kamar di sebelahnya, tentu saja Cakra bergegas menuju kesana dengan penuh emosi.


"Nadiraaa...!!" Cakra berlari sekuat tenaga, menendang pintu sambil terbang layaknya seorang ahli kungfu.


Braakkk...


Pintu rusak dan berhasil terbuka, memperlihatkan Nadira yang sedang dipeluk dari belakang oleh Juan dengan kedua tangannya melingkar di leher Nadira seraya mengancamnya.


"Hahaha, waw lihat siapa yang datang! Jadi, kamu sudah menelpon Cakra ya cantik? Kenapa kamu justru meminta bantuan dia, bukan suami kamu? Kamu bilang kamu sudah memiliki suami, kenapa gak hubungi suami kamu itu?" ujar Juan.


"Heh Juan! Lu berhenti bicara dan lepasin Nadira!" ucap Cakra menunjuk ke arah Juan.


"Lepasin? Jangan mimpi Cakra! Nadira sekarang milik gue, lu mending pergi karena gue sama Nadira akan menikmati momen indah di atas ranjang yang empuk ini!" ucap Juan.


"Kurang ajar! Gue gak akan biarin itu terjadi, cepat lepasin Nadira atau gue bakal hajar lu disini Juan!" ucap Cakra mulai emosi.


"Ayolah Cakra, gue gak mungkin lepasin Nadira gitu aja buat lu! Yakali gue sia-siakan kesempatan emas ini? Lagian kenapa sih lu gak mau gabung aja sama gue sekarang? Ayo bro, kita sama-sama nikmati tubuh indah wanita ini! Emang lu gak tertarik apa sama dia?" ujar Juan.


"Dasar setan lu Juan! Gue bukan laki-laki model begitu, gue ini gak sekeji lu!" ujar Cakra.


"Halah gausah sok gak mau lu! Dasar munafik! Gue tahu pemikiran setiap cowok, mana mungkin lu gak tertarik sama tubuh Nadira?" ucap Juan.


"Oh wow luar biasa! Jiwa kepahlawanan lu emang patut diacungi jempol Cakra, tapi percuma karena sekarang lu gak bisa selamatin Nadira dari tangan gue! Hahaha..." ujar Juan.


"Sialan! Lu benar-benar cari mati Juan!" Cakra semakin tersulut emosi ketika melihat Juan mengendus leher Nadira di depannya.


"Cakra, tolong aku Cakra! Aku gak mau disentuh sama cowok ini!" rengek Nadira.


"Hey, buat apa kamu minta tolong sama cowok lemah itu ha? Dia itu gak akan bisa berbuat apa-apa, karena nyalinya tidak sebesar ucapannya! Mending kamu nikmati aja permainan aku, aku rasa tubuh kamu juga gak nolak kok!" ucap Juan.


"Berhenti Juan!" Cakra berteriak emosi, matanya menyorot tajam ke arah Juan dan kedua tangannya pun telah terkepal.


"Hah??" Juan kaget saat Cakra berlari ke depan mendekatinya, namun ia masih tetap berusaha santai dan mengunci tubuh Nadira dalam dekapannya.


"Eemmhh lepasin!" Nadira terus berontak berupaya melepaskan diri dari dekapan Juan.


"Kamu gak bisa kemana-mana, kamu milikku sekarang Nadira!" ujar Juan.


Bughh...


Nadira berhasil menyikut perut Juan sehingga pria itu melepaskan tangannya dari leher Nadira, sontak Nadira segera berlari menjauh dan menyelamatkan diri.


Cakra pun menghampirinya, memegang tangan wanita itu dan menanyakan kondisinya. "Kamu gapapa kan Nadira?"


"Aku baik kok!" jawab Nadira mengangguk.


"Sekarang kamu selamatkan diri! Biar aku urus laki-laki mesum ini disini!" pinta Cakra.


"Okay!" Nadira menurut, lalu pergi keluar.


Sementara Cakra beralih menatap Juan yang tengah kesakitan memegangi perutnya, Cakra yang sangat emosi itu berjalan mendekati Juan dan hendak membalas semua perbuatannya terhadap Nadira tadi.


"Lu bakal merasakan sakit yang tidak akan terlupakan dalam hidup lu, Juan!" ucap Cakra.


"Hahaha, come on Cakra! Kenapa sih lu gak mau berbagi sama gue? Lu pengen nikmati Nadira sendiri tanpa berbagi ke gue, emang dasar serakah lu!" ucap Juan.

__ADS_1


"Banyak omong lu!" Cakra langsung bergerak memukuli Juan dengan tangan serta kakinya hingga sang kakak itu tak bisa berbuat apa-apa.


Nadira yang berada di luar merasa cemas, ia khawatir jika Cakra lepas kontrol dan membuat Juan meninggal. Nadira pun masuk kembali ke dalam kamar itu untuk mencegah Cakra melakukan hal yang bisa saja membuatnya dalam bahaya dan menyesal nantinya.


"Cakra, berhenti! Stop Cakra!" pinta Nadira.


Sontak Cakra menghentikan aksinya, ia menatap Nadira di belakangnya dengan nafas memburu dan masih terbawa emosi.


"Jangan habisi dia! Biar gimanapun, dia kan tetap abang kamu! Aku gak mau kamu menyesal nanti, sudah ya lepaskan dia!" ucap Nadira memohon sembari memegang tangan Cakra.


"Tapi Dira, dia sudah bertindak keterlaluan sama kamu. Aku gak bisa tolerir itu!" ucap Cakra.


"Iya Cakra aku tahu, tapi aku rasa kamu udah cukup kasih pelajaran buat dia! Semoga dia bisa sadar dan gak berbuat seperti itu lagi!" ujar Nadira.


Cakra berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk mengikuti kemauan Nadira.


"Baiklah, aku turuti permintaan kamu Dira!" ucap Cakra tersenyum ke arah wanita itu.


"Syukurlah! Aku senang kamu bisa bersabar kayak gini! Sekarang sebaiknya kamu ambil nafas, supaya emosi kamu bisa reda!" ucap Nadira.


"Iya," ucap Cakra mengangguk singkat.




Disisi lain, Albert kembali ke rumahnya setelah ditelpon oleh Abigail bahwa Rio datang kesana membawa kabar mengenai Nadira istrinya, tentu saja Albert sangat penasaran dan ingin segera mendengar kabar tersebut.


Albert pun bergegas turun dari mobil, masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia benar-benar tidak sabaran mengingat dirinya memang sangat cemas pada sosok Nadira, apalagi sebelumnya ia sempat memiliki firasat buruk terhadap Nadira.


"Nadira, semoga saja ada kabar baik mengenai kamu my love!" batin Albert.


Setibanya di ruang tamu, tampak Rio tengah berbincang bersama Abigail disana. Albert pun tersenyum kemudian menghampiri mereka untuk bergabung dengan keduanya.


"Permisi! Mama, Rio!" Abigail serta Rio menoleh secara bersamaan ke arah Albert, mereka kompak tersenyum lalu berdiri menyambut pria itu.


"Eh Albert, akhirnya kamu sampai. Ayo langsung duduk aja dan ini teman kamu yang katanya punya kabar tentang Nadira!" ucap Abigail.


"Iya mah," ucap Albert singkat.


"Selamat pagi pak Albert! Apa kabar?" Rio menyapa temannya itu seraya mengulurkan tangan.


"Pagi! Saya sedang tidak baik-baik saja karena istri saya masih belum dapat ditemukan, anda bilang anda punya kabar tentang istri saya kan? Lalu, apa kabar itu pak Rio? Cepat katakan pada saya!" ujar Albert langsung pada intinya, bahkan ia hanya berjabat tangan dengan Rio secara singkat.


"Albert, kamu duduk dulu dong baru tanya kayak gitu! Gak sopan lah bicara sambil berdiri, udah ayo kita sama-sama duduk dan bicara santai jangan pake emosi!" pinta Abigail.


"Iya mah iya," ucap Albert menurut.


Ketiganya pun kembali duduk di sofa, barulah Albert bertanya lagi pada Rio mengenai Nadira yang hingga kini belum bisa ia temukan.


"Pak Rio, lalu apa yang ingin anda sampaikan pada saya sekarang? Ini kabar baik atau buruk ya pak?" tanya Albert penasaran.


"Baiklah pak Albert, sepertinya anda sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar ini. Ya bisa dibilang ini kabar baik, sekaligus kabar buruk. Karena saya telah berhasil menemukan lokasi bu Nadira berada saat ini," jawab Rio.


"Apa? Kalau begitu dimana dia sekarang pak Rio? Cepat beritahu saya!" ujar Albert.


"Iya pak, saat ini ibu Nadira berada di apartemen Cempaka. Beliau—"


"Apartemen Cempaka? Oke, kalo gitu saya harus langsung temui Nadira disana! Mah, aku pergi dulu ya? Permisi!" potong Albert.


Albert langsung pergi begitu saja meninggalkan Rio serta mamanya disana.


"Eh eh eh, tunggu Albert jangan terburu-buru begitu!" teriak Abigail berusaha menahan Albert, tapi tidak digubris oleh pria tersebut.


"Nak Rio, tadi kamu bilang ada kabar baik dan buruk tentang Nadira, kalau berita baiknya kamu sudah berhasil menemukan keberadaan Nadira, lalu apa berita buruknya nak Rio?" tanya Abigail pada Rio.


"Eee berita buruknya... saat ini ibu Nadira bersama seorang lelaki pemilik apartemen disana, beliau bernama Cakra, teman sekolah bu Nadira dulu yang cukup dekat dengan Bu Nadira." jelas Rio.


"Hah? Kalau begitu ini gawat dong! Albert pasti bisa emosi!" ucap Abigail panik.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2