Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Darimana saja?


__ADS_3

"Enggak pak, saya sekarang ini masih menganggur." jawab Keenan.


"Oh ya? Masa sih? Memangnya kamu gak kasih kerjaan buat Keenan, Bert? Dia itu kan asisten terbaik kamu, banyak sekali loh jasanya buat kamu." ujar Devano keheranan.


"Saya sudah tawarkan kerjaan buat dia, supaya dia bisa kembali jadi asisten saya disini. Tapi, Keenan menolak dengan alasan dia gak mau bikin orang lain kehilangan pekerjaannya." jelas Albert.


"Hah? Yang benar Keenan?" ucap Devano kaget.


"Iya pak, saya emang gak mau merebut rezeki orang. Mungkin saya juga butuh kerjaan, tapi saya akan berusaha cari kerja di tempat lain yang memang masih benar-benar membutuhkan tenaga saya." ucap Keenan.


"Waduh sayang banget dong kalo Albert lepas orang sebaik kamu! Yasudah, gimana kalau kamu kerja saja di perusahaan saya?" ujar Devano.


Keenan langsung terkejut bukan main, "Beneran pak?" tanyanya pada Devano.


"Iya, saya gak pernah bercanda kalau urusan kerjaan. Jadi, gimana Keenan? Apa kamu mau terima tawaran saya ini?" ucap Devano.


"Eee sa-saya..." Keenan tampak gugup dan bingung.


"Baik, siap, mulai!" ucapan Keenan terpotong oleh suara sang sutradara yang memimpin pemotretan iklan kali ini.


Mereka bertiga pun kompak menatap ke arah Celine, entah kenapa ketiganya langsung tersenyum lebar saat melihat Celine yang begitu cantik dengan tampilannya saat ini.


"Keenan, adik kamu itu emang luar biasa! Mungkin kalau saya belum menikah, dia bisa saya jadikan istri." ucap Devano spontan.


"Hey! Kamu gak boleh bicara begitu di depan Keenan, Vano! Celine itu milik Keenan, cuma Keenan yang boleh deketin Celine dan dapetin dia. Kalau kamu sentuh dia, nanti Keenan berubah jadi mode genji." sarkas Albert.


"Hahaha, saya minta maaf Keenan! Tadi itu saya hanya bercanda, tapi kalau soal kecantikan Celine itu bukan candaan sih. Dia emang benar-benar cantik, dan saya kagum melihatnya." ucap Devano.


"Iya pak, saya paham kok!" ucap Keenan.


Cekrek... Cekrek...📸📸📸


Foto-foto Celine sudah diambil oleh fotografer, namun ketiga pria itu masih saling menganga lebar tanpa berkedip menatap Celine.


"Benar yang dikatakan Devano, Celine memang luar biasa!" batin Albert.


Tiba-tiba saja Devano menaruh tangannya di pundak Albert, sepertinya Devano sudah mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


"Bayangin apa kamu, Bert?" ujar Devano.


"Hah? Enggak, saya gak bayangin apa-apa. Saya lagi fokus lihatin proses pemotretan itu, kan saya gak mau ada kesalahan nantinya." elak Albert.


"Kamu emang suka banget ngeles ya Bert, padahal saya tau isi kepala kamu. Pasti kamu pengen jadiin Celine istri kedua kamu kan!" ujar Devano.


"Bicara apa sih kamu? Kalaupun itu terjadi, saya bisa perang besar sama Keenan nantinya dan saya gak mau begitu." ucap Albert.


"Hahaha..." Devano tertawa puas.


Sementara Keenan hanya terdiam di tempatnya, walau sebenarnya ia merasa geram lantaran kedua pria di sebelahnya itu selalu saja bercanda mengenai adiknya.


"Jelek banget ya model iklannya itu? Gak pantes banget dia jadi model disini, gak ada auranya sama sekali!" cibir seseorang.


Albert, Devano, dan Keenan sontak menoleh ke asal suara untuk memastikan siapa yang bicara.


Mata Albert langsung melotot lebar menyaksikan wanita yang berdiri di hadapannya kini.


"Nasya? Kamu ini bicara apa sih? Kenapa kamu ngomong kayak gitu di depan kami? Dan yang paling penting, ngapain kamu ada disini ha?!" geram Albert.


"Bert, kamu kenal dia?" tanya Devano.


"Iya Van, dia teman lama saya." jawab Albert.


"Ohh, kalo gitu kamu harus urus dia supaya dia gak bikin masalah disini! Saya gak mau ada kerusakan atau kegagalan pada proyek kita!" ujar Devano.


Albert mengangguk kecil, kemudian melangkah mendekati Nasya dan langsung menarik lengan gadis itu begitu saja.


"Ikut saya!" tegas Albert.


"Ih kamu mau bawa aku kemana Albert?!" protes Nasya.


•


•


Segerombolan orang berpakaian serba hitam disertai kacamata hitam tengah berdiri di tepi laut dengan seorang pria berada di depan mereka.


Mereka tampak menunggu sesuatu, suasana disana sangat sepi walau bisa dibilang saat ini mereka berada di sebuah pelabuhan.


Tak lama kemudian, kapal yang cukup besar berhenti di hadapan mereka dan seorang pria berpakaian kaos pergi menemui mereka.


Setelah mendapat kode mata dari orang itu, si pria yang tadi berdiri bersama pasukannya pun berbalik lalu pergi begitu saja tanpa berbicara.


DOORR!!


Tiba-tiba saja pria itu berbalik dan menembak seseorang yang berada di kapal hingga tewas dan tercebur ke laut.


"Bos, kenap—"


Mulut orang itu dibungkam dengan jari telunjuk si pria pemegang pistol, dia memberi kode untuk diam dan lanjut berjalan.


Mereka semua pun pergi dari pelabuhan itu dengan beberapa mobil beserta satu buah truk besar di tengah-tengahnya.


Lalu, tampak si pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang di dalam mobil.


📞"Halo! Tugas beres bos!" ucapnya.

__ADS_1


•


•


Harrison menemui putrinya yang tengah terbaring di atas ranjang dengan kondisi lemah.


Pria tua itu nampak prihatin melihat kondisi Vanesa saat ini.


Ia pun duduk di pinggir ranjang, menyentuh kening Vanesa dan mengusapnya lembut.


"Vanesa.." ucapnya lirih.


Wanita itu membuka matanya, menoleh ke arah sang ayah dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu sakit?" tanya Harrison.


Vanesa menggeleng pelan, terlihat kalau dia sedang memeluk sebuah bingkai foto di dadanya dan membuat Harrison penasaran.


"Kamu peluk foto siapa itu?" tanya Harrison.


"My baby, hanya ini yang aku punya untuk melepas kerinduan aku sama dia." jawab Vanesa pelan.


"Kamu jangan sedih lagi! Anak kamu pasti baik-baik aja sama Albert dan Nadira, mereka pasti jaga dia dengan sebaik mungkin! Papa yakin saat ini putra kamu sudah tumbuh menjadi anak yang hebat!" ucap Harrison.


"Aku emang percaya kalau Albert dan Nadira bisa jaga anak aku dengan baik! Tapi, tetap aja aku pengen ketemu langsung sama anak aku. Aku ini ibunya, aku mau peluk dia!" ucap Vanesa.


"Yeah, papa ngerti keinginan kamu. Tapi, untuk sekarang semua itu sulit dilakukan sayang. Kamu harus bisa sabar dan ikuti saja semua kemauan Albert dulu!" pinta Harrison.


"Sampai kapan pah?" tanya Vanesa.


"Papa tidak tahu, tapi kamu tenang aja karena papa sudah siapkan semuanya untuk melakukan pembalasan kepada Albert!" jawab Harrison.


"Maksud papa? Pembalasan apa, pah?" tanya Vanesa tak mengerti.


"Nanti juga kamu tau sendiri, sekarang kamu sabar dan ikuti semua alurnya dengan baik ya! Papa mau kamu sembuh sayang!" ucap Harrison.


"Iya pah, makasih ya karena papa selalu ada untuk aku dan selalu bikin aku tenang!" ucap Vanesa.


"Itu tugas seorang ayah," ucap Harrison.


Harrison mendekatkan dirinya ke tubuh Vanesa, memeluk Vanesa sambil tersenyum lebar.


"Papa yakin sayang, suatu saat nanti pasti kita bisa balas dendam ke Albert atas semua penderitaan yang kita alami saat ini!" batin Harrison.


•


•


"Albert lepasin aku! Sakit tau tangan aku ditarik-tarik kayak gini!" rengek Nasya.


"Awhh!!" pekik Nasya memegangi lengannya.


"Kamu itu apa-apaan sih, Bert?! Kok kamu kasar banget sama aku?" ucap Nasya.


"Kamu masih nanya begitu? Setelah apa yang kamu perbuat tadi, dan kamu masih belum tau apa kesalahan kamu? Otak kamu dimana sih Nasya? Apa maksud kamu bicara seperti tadi di hadapan semua orang, ha?" geram Albert.


"Apa sih? Salah aku dimana? Aku cuma menyampaikan pendapat aku, lagian emang model yang kamu pilih itu gak banget tau! Dia gak cocok buat jadi model, kenapa kamu gak pilih aku aja sih? Kamu kan tau, aku itu punya bakat buat jadi model atau artis." ucap Nasya.


"Jangan mimpi kamu Nasya! Kamu gak akan bisa jadi model, tingkah kamu aja masih seperti anak kecil!" ujar Albert.


"Oh ya? Kamu tau apa tentang aku, Albert? Aku begini demi menghidupi keluarga dan saudara-saudara aku! Bahkan, aku rela merendahkan diri di hadapan kamu supaya aku bisa dapat pekerjaan!" ujar Nasya.


"Itulah kesalahan kamu Nasya. Kalau kamu berani bersikap begitu di depan saya kemarin, kenapa kamu gak sekalian aja jual diri dan jadi wanita malam?" ucap Albert tersenyum tipis.


"Udah cocok kok menurut saya, kamu ahli dalam menggoda pria." sambungnya.


Nasya terdiam dengan bibir bergetar menahan emosi, tangannya pun sudah terkepal karena ia merasa direndahkan oleh Albert.


"Cukup Albert! Kamu gak bisa merendahkan aku seperti itu!" bentak Nasya.


"Loh, saya gak rendahin kamu kok. Justru kamu yang bikin image kamu rendah, karena apa yang kamu udah lakuin ke saya kemarin." ucap Albert.


"Sekarang mending kamu pergi dari sini! Jangan pernah injakan kaki kamu di kantor saya lagi!" ucap Albert mengusir Nasya.


"Kamu bener-bener tega Bert!" ucap Nasya.


"Iya, saya memang begini." kata Albert.


Nasya menggelengkan kepalanya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Albert.


"Wanita itu udah kehilangan akal!" umpat Albert.


Setelahnya, Albert pun kembali ke dalam untuk melihat kelanjutan proses pemotretan disana.


•


•


Hari telah berganti, Keenan bahkan sudah pergi berkeliling demi mendapatkan pekerjaan baru.


Pria itu terus mengitari kota dengan mobilnya, ia berharap bisa segera mendapat pekerjaan.


"Saya cari kemana lagi ya?" gumamnya.


Tak berselang lama, Keenan menemukan plang bertuliskan lowongan kerja di depan sebuah toko material.

__ADS_1


Keenan pun tersenyum lebar, lalu bergerak menuju toko tersebut dengan harapan ia dapat bekerja disana walau kemungkinannya kecil.


Keenan langsung keluar dari mobil, membawa berkas lamarannya dan masuk ke dalam toko tersebut dengan tergesa-gesa.


"Maaf mas! Baru saja kita mendapatkan pegawai baru disini, jadi sudah tidak ada lowongan lagi. Dan soal plang di depan itu, kami lupa untuk mencabutnya." ucap manager toko.


"Oh begitu ya pak, baiklah gapapa. Kalo gitu saya permisi dulu!" ucap Keenan.


"Silahkan!"


Keenan keluar dengan perasaan murung, ia menundukkan kepala sembari mengacak-acak rambutnya karena lagi dan lagi ia gagal mendapat pekerjaan.


"Aaarrgghh!! Kenapa saya gagal terus sih?!" geramnya.


Disaat ia hendak masuk ke mobilnya, tanpa sengaja Keenan melihat sosok perempuan mirip Vanesa tengah berjalan di sampingnya.


"Loh Vanesa?" ucap Keenan menegur wanita itu.


Sontak wanita itu berhenti melangkah, akan tetapi dia tidak mau menatap Keenan dan tubuhnya tampak gemetar hebat.


"Benar kan kamu Vanesa? Lagi ngapain kamu disini?" tanya Keenan.


Wanita itu tak menjawab, dia justru melanjutkan langkahnya dan pergi dengan cepat dari sana.


"Apa sih? Dia kenapa coba?" ujar Keenan heran.


Akhirnya Keenan masuk ke mobil, ia tak mau terlalu memusingkan Vanesa karena masalahnya sendiri sudah membuatnya pusing tujuh keliling.


•


•


TOK TOK TOK...


Seseorang mengetuk pintu ruangan Albert dan meminta masuk ke dalam.


"Masuk!" ucap Albert singkat.


Ceklek...


Pintu terbuka, Albert langsung mengarahkan pandangannya ke depan dan menatap sosok pria yang ada di hadapannya.


"Darimana saja kamu? Kenapa kemarin seharian kamu gak datang?" tanya Albert padanya.


"Maaf tuan! Saya kemarin sakit, saya lupa mengabari tuan. Tapi, saya sudah kirim surat kok ke pihak HRD kalau saya sakit." jelas pria yang tak lain ialah asisten baru Albert itu.


"Oh okay! Tapi, lain kali kamu jangan lupa untuk kabari saya juga jika kamu ingin izin tidak bekerja atau lagi sakit!" ucap Albert.


"Baik tuan!" ucap pria itu patuh.


"Yasudah, duduklah Vier!" ucap Albert.


Pria bernama lengkap Javier itu duduk di kursi berhadapan dengan Albert, menanti apa yang akan dibicarakan selanjutnya oleh bosnya itu.


"Karena kemarin kamu tidak hadir, saya terpaksa banyak menghandle semua kerjaan saya sendirian. Jadi, sekarang ini kamu harus urus semua yang masih belum saya urus!" ucap Albert.


"Baik tuan! Saya juga sudah diberitahu Carolina, kalau di kantor sedang banyak pekerjaan. Maafkan saya tuan, tapi kemarin itu saya benar-benar sedang sakit!" ucap Javier.


"Saya tidak mempermasalahkan itu, siapa yang bisa cegah kamu buat gak sakit?" ujar Albert.


"Terimakasih tuan!" ucap Javier merasa tenang.


"Ya, itu saja yang ingin saya sampaikan ke kamu. Sekarang kamu bisa keluar, temui Lina dan minta jadwal saya hari ini!" perintah Albert.


"Baik tuan!" ucap Javier.


Javier langsung berdiri dari kursinya, berbalik dan melangkah pergi.


"Tunggu!"


Namun, langkah Javier terhenti saat Albert memerintahkannya untuk berhenti.


Javier pun berbalik dan kembali menatap Albert dengan wajah bingung.


"Ada apa tuan?" tanya Javier keheranan.


Albert bangkit dari duduknya, menghampiri Javier sambil sesekali melirik bagian bawah pria itu.


"Jujur sama saya, kamu habis darimana dan habis berbuat apa?!" pinta Albert.


"Ma-maksud tuan?" tanya Javier tak mengerti.


"Sudahlah, tidak usah mengelak lagi! Bercak darah di sepatu dan celana kamu itu sudah membuktikan, kalau kamu habis melakukan sesuatu di luar sana." ujar Albert.


"Saya gak ngerti apa yang tuan maksud, saya tidak melakukan apa-apa. Lagipun, bercak darah apa sih maksudnya tuan?" ucap Javier.


Javier terus berusaha menyembunyikan bercak darah tersebut dari tatapan Albert.


"Kalau memang kamu gak ngerti, kenapa kamu harus sepanik ini? Justru dengan sikap kamu yang kayak gini, bikin saya makin curiga sama kamu. Apa yang baru saja kamu lakukan Javier? Katakan saja pada saya!" ucap Albert tersenyum smirk.


Javier merasa cemas dan panik, ia terdiam sesaat tak berani menjawab pertanyaan Albert barusan.


"Sial! Kenapa saya bisa seteledor ini?!" batinnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2