
Nadira keluar dari rumahnya membawa satu mangkuk puding susu untuk Galen disana.
"Galen, nih makan dulu ya puding buatan mama! Ini kesukaan Galen loh, sini dulu yuk duduk sama mama!" ucap Nadira yang kini duduk di dekat putranya bermain.
"Iya mama," ucap Galen menurut dan langsung menghampiri mamanya. "Yeay asik makan puding!" sambungnya.
"Jadi, Albert dan Nadira kasih nama anakku itu Galen?"
Nadira tersenyum senang melihat putranya memakan puding buatannya itu dengan lahap, ia terus melamun hingga tanpa sengaja melihat seseorang berdiri di depan pagarnya.
"Hah? Itu siapa ya?" ujar Nadira bingung.
Vanesa masih belum sadar kalau Nadira mengamatinya, ia terus menatap Galen dari tempatnya berdiri saat ini.
Nadira pun bangkit dari duduknya, menatap intens ke arah Vanesa sehingga ia dapat menyadari siapa wanita yang disana itu.
"Vanesa...??"
"Apa mungkin itu Vanesa?"
"Tapi, Vanesa kan sudah meninggal. Gimana bisa dia muncul lagi disini?" gumam Nadira.
Nadira terus-menerus mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
Namun, hasilnya tetap saja dan tak ada perubahan dari apa yang dia lihat saat ini.
"Aku samperin aja dia deh, siapa tahu wanita itu ada perlu disini. Sekalian aku harus mastiin juga, dia Vanesa atau bukan!" ucap Nadira.
Saat Nadira hendak melangkah maju, Galen menahan tangannya dan memanggil sang mama.
"Mama! Mama mau kemana?" tanya Galen dengan nada menggemaskan.
"Eh Galen, ini mama mau ke depan sebentar. Kamu disini dulu ya sama suster Alra dan pak Gilang!" ucap Nadira.
"Iya deh mah," ucap Galen menurut.
Nadira tersenyum sembari mengusap puncak kepala Galen dengan lembut, lalu beralih menatap gerbang untuk mencari tahu siapa wanita yang berdiri disana.
Namun, Nadira tak menemukan keberadaan wanita yang tadi ia lihat disana. Suasana depan gerbang kini telah kosong, tak ada siapapun yang sedang berdiri atau memantau keadaan.
Nadira yang bingung, memilih berjalan ke arah pagar untuk mencari tahu.
Sesampainya disana, Nadira terlihat bingung lantaran wanita yang tadi ia lihat disana tak lagi nampak dan kemungkinan sudah pergi.
"Kok gak ada ya? Apa aku salah lihat?" gumam Nadira.
Disaat Nadira hendak kembali menemui Galen, tanpa sengaja ia justru menemukan sebuah pashmina berwarna biru muda yang terombang-ambing di depannya terkena angin.
"Itu kayak punya cewek tadi, berarti benar dong aku gak salah lihat. Aku coba ambil aja deh, siapa tau nanti orangnya balik." ucap Nadira.
Nadira membuka gerbang dan melangkah keluar.
Akan tetapi, Arul si penjaga gerbang memanggilnya dari belakang dan membuat Nadira menghentikan langkahnya.
"Tunggu Bu Nadira!" teriak Arul.
"Ada apa pak Arul?" tanya Nadira kesal.
"Maaf Bu! Bu Nadira mau kemana?" ucap Arul.
"Saya cuma mau kesana kok, kamu gausah khawatir ya!" ucap Nadira.
"Oh, baik Bu!" ucap Arul singkat.
Nadira pun melanjutkan langkahnya, ia mengambil pashmina tersebut dan melihat sekeliling.
"Benar-benar udah gak kelihatan cewek tadi, dia kemana ya?" gumam Nadira.
"Kok aku yakin banget ya kalau tadi yang aku lihat itu emang beneran Vanesa? Tapi, mana mungkin? Vanesa kan udah meninggal dan aku juga udah lihat sendiri kuburannya," ujar Nadira.
Tiiinnnn...
Nadira dikejutkan dengan suara klakson mobil dari belakangnya yang membuat ia spontan menoleh dan memegangi dadanya.
Rupanya itu adalah mobil milik Albert, pria itu pun turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Nadira yang masih terkejut.
"Hey sayang! Kamu ngapain sih di tengah jalan begini?" ujar Albert.
"Ish, kamu apa-apaan sih mas?! Bisa kan gak usah pake klakson kenceng banget kayak gitu? Bikin aku kaget aja tau, untung aku gak jantungan!" ujar Nadira kesal.
"Maaf sayang! Abisnya saya lihat kamu bengong aja disini, jadi saya klaksonin aja biar kamu sadar dan gak bengong lagi. Emangnya kamu lagi ngapain sih disini?" ucap Albert.
"Ini mas, tadi aku nemuin ini disini. Bagus ya mas? Bahannya lembut dan aku suka, kira-kira aku cocok gak ya pake ini?" ujar Nadira.
"Ya ampun! Masa kamu mau pake barang yang kamu temuin di jalanan sih? Itu kotor ah, gak bagus buat kamu. Biar nanti kita beli yang baru aja di toko ya," ucap Albert.
Nadira mengangguk kecil, Albert pun merangkul istrinya dan menciumi wajah sang istri disana.
"Mas, kamu mandi dulu dong baru boleh cium-cium aku! Kamu itu baru pulang tau, masih keringetan begitu lagi." protes Nadira.
"Emang kenapa sih? Kamu gak suka ya saya peluk begini?" tanya Albert.
"Bukan gitu, tapi kan—"
__ADS_1
"Yaudah, kita masuk aja yuk!" potong Albert sembari mengeratkan pelukannya.
Albert dan Nadira pun melangkah secara bersamaan ke dalam rumah itu, tak lupa Albert meminta pada Arul untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
•
•
Setelah selesai mandi, Albert kembali menghampiri Nadira yang tengah membuat kopi di dapur.
Tanpa aba-aba, Albert langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang dan membuat wanita itu terkejut.
"Akh mas! Kamu ngapain sih?" pekik Nadira saat Albert mencium lehernya.
"Saya kangen sama kamu! Selama di kantor tadi, saya selalu mikirin kamu tau. Akhirnya saya bisa juga peluk kamu kayak gini, jangan bergerak ya sayang!" ucap Albert.
"Tapi mas, aku lagi buatin kopi buat kamu. Nanti aja ya peluk-peluk nya, biar aku selesaiin kopinya dulu." ucap Nadira.
"Gapapa, kan bisa sambil bikin kopi." ujar Albert.
"Iya deh iya.." ucap Nadira pasrah.
Tak lama kemudian, Abigail datang kesana dan menggeleng pelan melihat kelakuan sepasang suami-istri itu di dapur.
"Albert, Nadira!" ucap Abigail.
"Eh mama?" Nadira terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Mas, lepas dulu!" pinta Nadira.
"Udah gapapa, biarin aja sih." ujar Albert.
"Kalian ini ngapain pelukan di dapur begini? Kayak gak ada tempat lain aja, itu loh Galen daritadi nyariin kalian terus." ucap Abigail.
"Oh ya mah? Yaudah, mama tolong temenin Galen dulu ya di depan! Aku lagi mau dekat sama Nadira, aku kangen banget sama dia!" ucap Albert.
"Hadeh, kamu itu udah kayak bertahun-tahun aja gak ketemu sama Nadira." ujar Abigail heran.
"Hehe, abisnya Nadira ini ngangenin banget mah." ucap Albert sambil tersenyum.
"Mama gak bisa temenin Galen, mama mau pergi keluar ketemu teman mama." ucap Abigail.
"Mas, udah ya! Kasihan Galen nyariin kita, ayo dong kamu jangan mentingin diri sendiri! Galen kan mau main sama kita juga," ucap Nadira.
"Iya iya, yaudah mama boleh pergi kok sama teman mama. Biar Galen nanti aku sama Nadira aja yang temenin," ucap Albert.
"Nah gitu dong," ucap Abigail.
"Mas, mama kayaknya jadi sering banget pergi sama teman-temannya ya setelah Chelsea gak ada? Apa mungkin mama itu kesepian ya?" ucap Nadira.
"Maybe, biarin ajalah sayang. Mama kan juga pengen senang-senang kali," ucap Albert.
Nadira mengangguk, lalu mereka pun pergi bersama-sama menghampiri Galen yang sedang berada di depan.
Nadira menaruh cangkir kopi di atas meja, ia duduk bersama suaminya di sofa itu sembari mengamati Galen dari sana.
"Mama, papa!" teriak Galen kegirangan.
"Iya Galen, udah kamu lanjut main aja tuh sama suster Alra!" ucap Albert.
"Gak, aku maunya disini sama papa!" ujar Galen.
"Oh gitu, iya iya deh kamu boleh disini kok sama papa mama." ucap Albert.
Galen pun merasa senang, ia langsung naik ke sofa dan duduk di pangkuan papanya saat itu juga.
Nadira yang berada di sampingnya hanya tersenyum saja menyaksikan itu, namun lagi-lagi ia kembali terpikirkan mengenai sosok wanita mirip Vanesa yang tadi ia lihat.
"Aku masih bingung, yang tadi itu benar Vanesa atau cuma halusinasi aku aja ya? Aku pengen tanya sama mas Albert, tapi sekarang dia lagi main sama Galen. Nanti aja deh aku tanya pas udah di kamar, biar bebas juga." batin Nadira.
Albert sama sekali tidak sadar jika Nadira terus memandanginya sedari tadi, ia hanya fokus bermain dengan Galen putranya disana.
•
•
Disisi lain, Vanesa dan papanya tengah menikmati makan malam bersama di meja makan.
Namun, tampaknya Vanesa masih terus memikirkan tentang putranya sehingga ia tidak fokus dengan makanannya.
"Vanesa, kamu itu kenapa sih? Mikirin apa kamu sampai bengong terus kayak gitu?" tanya Harrison.
"Eh papa, enggak kok gapapa. Aku cuma kangen aja sama anak aku, udah lima tahun lebih aku gak bisa ketemu sama dia. Bahkan untuk sekedar lihat fotonya aja, aku gak bisa. Aku bingung deh pah, kenapa ya Albert gak izinin aku buat lihat foto anak aku sendiri?" ucap Vanesa.
"Entahlah Vanesa, tapi sebaiknya kamu ikuti saja kata-kata Albert itu! Daripada nantinya terjadi sesuatu yang gak diinginkan, lebih baik kita mencegah sebelum terjadi." ucap Harrison.
"Iya pah, aku ngerti. Tapi, aku kan juga kangen dan pengen lihat gimana anak aku sekarang ini. Papa tahu sendiri lah gimana perasaan seorang ibu sama anaknya, apalagi aku gak pernah bisa ketemu sama dia dari kecil." ucap Vanesa.
"Eee terus sekarang kamu mau apa? Mau protes ke Albert soal ini?" tanya Harrison.
"Ya enggak juga sih pah, aku mana berani? Yang ada aku bisa dipindahin dari tempat ini dan gak sama papa lagi, papa kan tahu sendiri sikap Albert itu kayak gimana." jawab Vanesa.
"Hahaha, yasudah kamu terima aja semuanya!" ucap Harrison tertawa kecil.
__ADS_1
"Iya pah," ucap Vanesa singkat.
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam itu dengan cepat.
"Ingat loh Vanesa, kamu jangan lupa minum obat kamu nanti abis makan! Kesehatan kamu itu belum membaik, jadi kamu gak boleh telat minum obat!" ucap Harrison.
"Aku tahu pah, abis ini aku minum obat kok. Lagian biasanya juga aku selalu minum obat tepat waktu," ucap Vanesa.
"Ya baguslah!" ucap Harrison tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, Darius muncul disana menghampiri keduanya sambil senyum-senyum sendiri.
"Heh Vanesa! Kamu tadi siang itu pergi kemana, ha?" ujar Darius pada Vanesa.
"Maksud kamu apa sih Darius? Datang-datang kok langsung tanya begitu sama Vanesa?!" ujar Harrison.
"Apa salahnya sih pak? Saya ini kan cuma tanya, soalnya tadi Vanesa itu pergi diam-diam dan gak bilang ke siapapun." ucap Darius.
Harrison beralih menatap putrinya.
"Benar begitu Vanesa? Kamu pergi gak pamit?" tanya Harrison.
"Eee..." Vanesa terlihat gugup.
"Jawab jujur Vanesa! Kamu pergi kemana tadi? Apa kamu gak ngerti peraturan di tempat ini? Tidak boleh pergi keluar sembarangan, apalagi diam-diam kayak tadi!" ucap Darius.
Vanesa menundukkan wajahnya dan bingung hendak menjawab apa.
Tiba-tiba saja Vanesa merasa pusing yang amat sangat di bagian kepalanya.
"Awhh akh!" pekik Vanesa menahan sakit.
"Hey hey! Kamu kenapa sayang? Sakit lagi ya?" ucap Harrison panik.
"I-i-iya nih pah," jawab Vanesa lemas.
"Ini gara-gara kamu Darius!" ujar Harrison.
"Lah kok jadi nyalahin saya? Vanesa kan emang sakit-sakitan, jadi wajar aja kalo sakitnya tiba-tiba kambuh kayak gini." ucap Darius.
"Ah dasar kamu!" ucap Harrison.
Akhirnya Harrison menuntun putrinya menuju ke kamar untuk beristirahat, diikuti Darius di belakangnya.
•
•
Nadira ikut duduk di sebelah suaminya yang sudah lebih dulu berada di ranjang sambil fokus memainkan ponselnya.
"Mas, kamu lagi apa sih? Kayaknya serius banget pegang hp nya," tanya Nadira penasaran.
"Eh kamu udah selesai nidurin Galen nya?" ucap Albert sedikit kaget saat menyadari Nadira sudah berada di sebelahnya.
"Ish tuh kan, kamu aja gak nyadar kalau aku masuk kesini tadi. Apa sih yang kamu lihatin di hp itu? Cewek baru kamu ya?" ujar Nadira.
"Hah? Apaan sih sayang? Saya mana punya cewek baru coba? Saya ini lagi fokus baca-baca materi buat presentasi besok, kamu jangan nuduh yang enggak-enggak gitu dong sayang!" ucap Albert.
"Halah bohong! Coba mana sini hp nya aku lihat!" ucap Nadira cemberut.
Albert menghela nafas sejenak, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Nadira.
"Nih, isinya materi kan?" ucap Albert.
"Iya sih, yaudah deh aku minta maaf ya sama kamu! Tadi aku kesal aja, abisnya kamu malah fokus ke hp sih bukan ke aku." ucap Nadira.
Albert tersenyum menatap wajah istrinya, ia menaruh ponselnya sejenak dan mendekati Nadira sembari merangkul pundak wanita itu.
"Cantik, jangan marah ya! Kamu gak perlu minta maaf juga, saya yang seharusnya minta maaf sama kamu. Saya janji deh gak akan kayak gitu lagi, senyum dong cantik!" ucap Albert.
"Iya mas, aku juga minta maaf karena aku gampang curigaan tadi." ucap Nadira tersenyum.
"Duh, manisnya senyum istriku yang cantik ini!" ucap Albert.
Nadira menunduk tersipu, sedangkan Albert terus saja mencium dan mencubit pipi Nadira dengan gemas.
"Galen udah tidur?" tanya Albert.
"Udah kok mas, dia gampang disuruh tidurnya." jawab Nadira.
"Ohh, syukur deh!" ucap Albert.
"Eee aku mau ngomong sesuatu deh sama kamu, mas." ucap Nadira.
"Ngomong apa sayang?" tanya Albert penasaran.
"Tadi siang itu aku kayak lihat Vanesa lagi ngintip di depan gerbang rumah kita deh, dan pashmina yang aku temuin itu sebenarnya juga punya dia." ucap Nadira.
Albert langsung melongok lebar mendengar apa yang diucapkan istrinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1