Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Berbaikan


__ADS_3

Sebelum mulai, kita lihat dulu yuk visual cowok yang satu ini...!!😋😋


...•...


...Cakra Herdiana...



Cakra, merupakan mantan teman Nadira sewaktu sekolah dulu. Bukan hanya teman biasa, karena Nadira juga sempat memendam rasa kepada pria yang satu ini. Begitupun dengan Cakra sendiri, dirinya sangat mencintai Nadira dan masih terus berniat memilikinya hingga saat ini biarpun dia tahu bahwa Nadira sudah dinikahi oleh Albert.


Memang sejak kemunculan Albert, pasangan yang saling mencintai ini sudah jarang sekali bertemu apalagi jalan bareng. Nadira lebih sering berada di rumah bersama Albert, yang sudah menjadi suaminya.


Cakra merupakan anak dari seorang komandan polisi, itu sebabnya dia tidak mengenal rasa takut termasuk pada Albert yang dikenal kejam sekalipun. Cakra juga tak mudah menyerah untuk bisa merebut Nadira dari Albert apapun caranya.


...•...


Bonus foto-foto Cakra 😍





Ganteng ga?😍



Gantengan mana sama Albert?🤔


...•...


...•...


Albert tiba di rumahnya, pria itu langsung disambut oleh Abigail yang nampaknya sudah menanti kehadiran Albert sedari tadi.


"Akhirnya kamu pulang juga Albert!" ucap Abigail.


"Loh mah, emangnya kenapa? Mama nungguin aku pulang dari kantor? Kalau mama pengen dibeliin sesuatu, kenapa mama gak telpon atau chat aku dulu tadi?" tanya Albert bingung.


"Bukan gitu, mama nungguin kamu karena mama pengen bicara sama kamu." jawab Abigail.


"Bicara? Soal apa, mah?" tanya Albert penasaran.


"Kita duduk dulu yuk! Sekalian minta pelayan buat bikin minum, kamu kan baru pulang pasti capek." ucap Abigail mengajak putranya ke sofa.


"Iya mah," Albert mengangguk setuju.


Keduanya pun melangkah bersama menuju sofa, duduk berdampingan disana sambil menunggu minuman datang.


"Mah, Nadira kemana? Dia ada di rumah kan?" tanya Albert penasaran.


"Hadeh kamu ini, gak bisa apa sebentar aja kamu gak ketemu sama Nadira? Kayaknya kamu selalu nanyain dia terus tiap kali pulang ke rumah," ujar Abigail geleng-geleng kepala.


"Wajar dong mah, aku kan suaminya. Aku mau tahu istri aku itu ada di rumah atau enggak, lagian kan udah dari pagi aku gak ketemu sama Nadira. Jadi, ya aku kangen sama dia!" ucap Albert tersenyum.


"Hahaha... iya dah yang udah mulai bucin sama istrinya, jadi gak ketemu sebentar aja berasa setahun. Kamu tenang Albert, istri kamu ada di kamar kok. Tadi mama minta dia buat istirahat, lagian gak mungkin juga Nadira pergi tanpa sepengetahuan kamu." kata Abigail.


"Syukurlah! Aku pikir Nadira lagi pergi kemana gitu, abisnya dia gak sambut aku kayak kemarin. Eh sekarang malah mama yang muncul," ujar Albert.


"Emang kenapa Albert? Kamu gak suka disambut sama mama, ha?" tanya Abigail.


"Suka dong mah, tapi kan aku juga mau begitu sampai di rumah langsung ngeliat wajah cantik istri aku." jawab Albert tersenyum.


"Yaudah, nanti kan kamu bisa temuin istri kamu. Sekarang mama mau bicara dulu sama kamu, dan ini juga menyangkut Nadira." kata Abigail.


"Hah? Kenapa sama Nadira, mah?" tanya Albert panik.


Abigail tersenyum melihat raut kecemasan di wajah putranya, ia yakin sekali kalau Albert memang sudah mencintai Nadira sepenuhnya.


"Mah, mama kenapa malah senyum-senyum gitu sih? Aku nanya serius tau!" ujar Albert.


"Tenang sayang! Nadira gak kenapa-napa kok, tadi pagi cuma dia ada clash sedikit sama adik kamu. Hampir aja Nadira jatuh karena disenggol sama Chelsea, untungnya Nadira baik-baik aja." ucap Abigail menjelaskan.


"Apa? Chelsea nyenggol Nadira sampai hampir jatuh? Yang bener aja mah, masa Chelsea bisa ngelakuin itu sih ke Nadira?" ujar Albert kaget.


"Iya Albert, itu semua memang benar. Kalau kamu gak percaya, coba aja tanya ke Liam atau penjaga lainnya di depan! Mereka lihat kok kelakuan adik kamu itu," ucap Abigail.


"Duh, kok Chelsea makin menjadi-jadi ya mah? Nadira salah apa sampai Chelsea kayak gitu?" ujar Albert terheran-heran.


"Entahlah, mama juga heran kenapa Chelsea sejahat itu sampai mau mencelakai Nadira. Coba deh nanti kamu tegur dia ya! Siapa tahu kalau kamu yang bicara, Chelsea mau dengerin kamu." kata Abigail.


"Chelsea sekarang ada dimana, mah?" tanya Albert mulai kesal.


"Mama juga gak tahu, dari pagi dia pergi belum pulang-pulang." jawab Abigail.


"Ah sial! Padahal aku langsung mau tegur dia sekarang, supaya dia bisa hormat sama Nadira!" geram Albert.


"Tenang Albert, jangan emosi begitu! Kamu harus bisa kasih tahu Chelsea secara baik-baik dulu, jangan langsung pakai kekerasan!" ucap Abigail.

__ADS_1


"Iya mah, nanti aku coba." kata Albert.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan minuman untuk Albert serta Abigail.


Setelah pelayan itu pergi, Abigail pun meminta Albert segera meminum minumannya untuk bisa menenangkan diri.


"Yasudah, kamu minum dulu itu kopinya!" pinta Abigail pada putranya.


"Iya mah, mama juga minum dulu biar kita sama-sama tenang!" ucap Albert.


Abigail mengangguk, lalu mereka meminum sejenak minuman yang sudah dibuatkan oleh pelayan itu sebelum kembali melanjutkan perbincangan mengenai Chelsea.




Malam harinya, Chelsea baru kembali ke rumah setelah puas seharian bermain bersama teman-temannya di sebuah club.


Chelsea terkejut saat mengetahui abangnya masih terjaga di ruang tamu dan terduduk meliriknya tajam seperti hendak emosi.


"Hey! Duduk sini!" ucap Albert dingin.


Chelsea pun tampak ketakutan, tubuhnya gemetar bahkan ia juga kesulitan untuk berbicara karena tatapan abangnya benar-benar mengerikan.


"Ta-tapi kak, aku..." Chelsea menahan ucapannya, seketika ia berubah pikiran setelah Albert memajukan tubuhnya dan duduk tegak tanpa berhenti menatapnya.


"I-i-iya kak, aku duduk kok." gadis itu menurut, lalu melangkah dan duduk di samping Albert.


Chelsea hanya bisa menunduk diam, ia terus memainkan kedua tangannya dan tak bisa menahan rasa gugupnya saat ini.


"Darimana aja kamu?" tanya Albert.


"Eee a-aku abis main, kak." jawab Chelsea gugup tanpa melihat ke arah Albert.


"Main kemana sampai selama ini? Mama tadi bilang kamu pergi dari pagi, pergi sama siapa aja kamu?" kata Albert dengan tegas.


"Sa-sama teman, kak." jawab Chelsea singkat.


Albert memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Chelsea, satu tangannya ia gunakan untuk merangkul pundak Chelsea dan satunya lagi mencengkeram rahang gadis itu.


"Hey! Kamu kalau bicara sama kakak, itu harus lihat muka kakak dong!" ucap Albert.


"Ma-maaf kak! Abisnya muka kakak serem, aku gak berani lihatnya." kata Chelsea memejamkan mata.


"Dengar ya Chelsea, sekali lagi kakak peringati kamu supaya gak mengulangi perbuatan kamu ini! Ayo buka mata kamu atau kakak akan kasih hukuman buat kamu!" perintah Albert.


"I-i-iya kak..." Chelsea akhirnya menurut dan membuka matanya sesuai perintah dari Albert.


"Iya kak, aku tahu kok. Aku janji deh gak akan pergi keluar sampai semalam ini lagi! Tolong kak, maafin aku!" rengek Chelsea gemetar.


"Kakak akan maafin kamu, tapi dengan satu syarat yang harus kamu penuhi!" ucap Albert.


"Hah? Apa syaratnya kak?" tanya Chelsea bingung.


"Kamu harus hormat sama Nadira, dan gak boleh bersikap tidak sopan sama dia! Biar gimanapun, Nadira itu ipar kamu, jadi kamu gak boleh bersikap semena-mena sama dia!" jawab Albert.


"Apa? Kakak gak salah bicara kan? Emangnya sejak kapan aku gak sopan sama Nadira? Aku selama ini selalu hormati dia kok," protes Chelsea.


"Udah, kamu iyain aja dan nurut sama kakak kalau gak mau dihukum! Paham kan?" tegas Albert.


"Oke kak, aku paham! Aku juga mau minta maaf sama Nadira dan berdamai sama dia, kakak benar kalau aku emang harusnya gak kayak gitu ke dia!" ucap Chelsea.


"Nah, itu bagus! Kalo gitu besok kamu harus temui Nadira dan minta maaf sama dia, awas ya kalau kamu gak lakuin itu!" ujar Albert.


"Iya kak," ucap Chelsea mengangguk singkat.


Albert pun melepas cengkeramannya dari dagu Chelsea, membiarkan gadis itu pergi.


"Yasudah, kamu boleh pergi ke kamar sekarang! Istirahat yang cukup, supaya besok kamu gak ada alasan lagi buat gak temuin Nadira!" pinta Albert.


"Iya kak, santai aja!" ucap Chelsea tersenyum.


"Kalo gitu aku ke kamar dulu ya, kak?" ucap Chelsea pamit pada abangnya.


"Iya, good night sayang!" ucap Albert.


"Night too, kak." balas Chelsea.


Chelsea pun beranjak dari sofa, kemudian pergi meninggalkan abangnya.




Setelah selesai berbincang dengan Chelsea, kini Albert kembali ke kamarnya bersiap untuk tidur.


Ceklek...


Pria itu membuka pintu dengan perlahan, ia tak mau membangunkan istrinya yang sedang tertidur pulas disana.

__ADS_1


Namun, rupanya Albert salah menduga karena nyatanya Nadira masih terbangun dan bahkan wanita itu langsung menoleh lalu bersandar di atas ranjang sambil tersenyum.


"Mas, Chelsea udah pulang?" ucap Nadira bertanya dengan pelan.


"Loh loh, kamu kok masih bangun sih sayang? Padahal ini udah malam tau, bukannya tidur aja." ujar Albert agak emosi.


Albert duduk di pinggir ranjang sembari mengusap rambut Nadira.


"Iya mas, aku kan nungguin kamu. Aku pengen tahu gimana reaksi Chelsea, kamu udah kan ngomong sama dia?" ucap Nadira.


Cupp!


Albert mendaratkan kecupan singkat di bibir Nadira, lalu membelainya lembut sambil tersenyum.


"Sayang, udah kamu tidur ya! Aku udah selesai bicara sama Chelsea, jadi sekarang bisa temenin kamu deh tidur bareng. Soal Chelsea, aku kasih tahu kamu besok aja ya." kata Albert.


"Ah mas sekarang aja! Aku penasaran tau, daritadi aku nungguin kamu karena aku pengen tahu." rengek Nadira.


"Aduh kamu imut banget sih! Yaudah, aku ceritain ke kamu sambil tidur ya. Anggap aja aku lagi ngelonin kamu," ucap Albert terkekeh.


"Ahaha, boleh mas." ujar Nadira tertawa kecil.


Nadira pun menurut dan berbaring kembali di ranjang, Albert juga melakukan hal yang sama dengan merebahkan tubuhnya di samping istrinya sembari mendekapnya.


"Jadi, gimana tuh mas soal Chelsea? Dia mau dengerin kata-kata kamu?" tanya Nadira.


"Ya begitulah, awalnya dia sempat berontak dan gak mau nurut. Tapi, untung aja akhirnya dia mau ngikutin kata-kata aku." jawab Albert tersenyum.


"Bagus deh! Semoga Chelsea gak begitu lagi sama aku!" ucap Nadira.


"Iya sayang, tenang aja ya! Yaudah, ceritanya kan udah selesai. Kamu tidur dong sayang! Udah malam loh ini, saya gak mau kamu sakit karena kurang tidur!" ucap Albert.


"Iya mas, aku tidur kok." kata Nadira.


Nadira pun memejamkan mata sembari menghadap ke arah Albert.


Albert tersenyum, mendekat dan mengecup kening Nadira dengan lembut.


Cupp!


"Good night sayang, mimpi indah ya!" ucap Albert pelan.


"Huum, night too mas.." balas Nadira dengan mata terpejam.


Albert mematikan lampu kamar, menarik selimut menutupi tubuh keduanya dan mulai tertidur.




Keesokan paginya, Albert dan Nadira keluar kamar secara bersamaan. Mereka sudah sama-sama rapih dan wangi, karena mereka baru saja selesai mandi bersama.


"Mmhhh... wangi banget kamu sayang, saya paling suka hirup aroma tubuh kamu sehabis mandi kayak gini!" ucap Albert mengendus leher serta membelai rambut wanitanya.


"Kamu juga wangi mas, aku suka nempel di badan kamu yang wangi ini." kata Nadira sembari membenamkan wajahnya di dada sang suami.


Saat mereka sedang asyik bermesraan, tiba-tiba saja Chelsea muncul di hadapan mereka dan membuat Nadira terkejut lalu reflek melepas pelukannya.


Akan tetapi, Albert menahan tangan Nadira untuk tetap bertahan di pelukannya.


"Pagi kak, pagi mbak Dira!" sapa Chelsea.


Nadira dan Albert kompak terkejut, mereka tak menyangka Chelsea akan memanggil Nadira dengan sebutan 'mbak'.


"Iya pagi, barusan kamu panggil Nadira apa? Mbak? Kakak gak salah dengar nih?" ucap Albert.


"Enggak dong kak, mbak Nadira ini kan kakak ipar aku. Jadi, gak salah dong kalau aku panggil Nadira pakai kata mbak?" ucap Chelsea tersenyum.


"Ya iya sih, cuma kan biasanya kamu selalu panggil Nadira pake namanya aja. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu sebut dia mbak?" tanya Albert.


"Gapapa, aku pengen baikan aja sama mbak Dira. Lagian bukannya semalam kakak juga minta sama aku buat minta maaf ke mbak Dira, plus jangan gak sopan lagi sama mbak Dira. Ya kan kak?" jawab Chelsea santai.


"Baguslah kalau kamu ngerti! Berarti sekarang kamu mau minta maaf kan sama Nadira?" ucap Albert.


Chelsea mengangguk, kemudian mendekati Nadira dan meraih tangan wanita itu untuk digenggam.


"Mbak, aku minta maaf ya! Aku sadar semua yang aku lakuin ke mbak sebelum ini tuh salah, harusnya aku gak ngelakuin itu sama mbak. Maafin aku ya mbak! Aku benar-benar nyesel!" ucap Chelsea.


"Iya Chelsea, kamu gak perlu minta maaf kayak gini juga kok! Aku udah maafin kamu dari sebelumnya, lagian aku wajar aja kok sama sikap kamu, kan kita belum saling kenal, ketemu aja baru. Jadi, mungkin aja kamu masih belum bisa terima aku buat jadi istri dari kakak kamu disini," ucap Nadira.


"Iya mbak, itu dia yang aku sesali. Harusnya aku kan coba untuk mengenal mbak dulu, jangan langsung ambil kesimpulan kalau mbak itu orang jahat yang cuma mau manfaatin kak Albert!" ucap Chelsea merengut.


Nadira tersenyum, melepas pelukannya dari Albert lalu menghampiri Chelsea.


Albert membiarkan istrinya melakukan apa yang dia ingin lakukan, ia tahu kalau Nadira pasti akan memeluk Chelsea dan memaafkan adiknya itu.


Benar saja, kedua wanita itu pun saling berpelukan di hadapan Albert. Chelsea bahkan sampai menangis menyesali semua perbuatannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2