
Nadira, Albert beserta Abigail tengah menikmati makan malam bersama di sebuah restoran ternama yang tentunya cukup ramai itu, apalagi ini adalah malam Minggu dimana malamnya para orang-orang yang ingin bercengkrama dengan kekasih mereka.
Di sela-sela makan, tiba-tiba Abigail merasa ingin buang air kecil. Ia pun berbicara pada putra dan menantunya untuk pergi sejenak ke toilet.
"Albert, Nadira, mama mau ke toilet dulu sebentar ya? Udah gak tahan nih!" ucap Abigail.
"Eee iya mah, silahkan!" ucap Albert tersenyum.
Abigail langsung beranjak dari kursi dan bergegas pergi ke toilet dengan memegangi pinggangnya bermaksud menahan cairan yang ingin keluar, agar tidak mengucur begitu saja disana.
Sementara Albert terkekeh melihat cara jalan dari mamanya yang cukup lucu, Nadira menyadari itu dan langsung menegur suaminya dengan alasan tak baik menertawakan mama sendiri walau Abigail bukanlah mama kandung Albert.
"Tuan, gak baik ngetawain mama kayak gitu! Lagian apa yang lucu coba? Kamu mah ada-ada aja tuan!" tegur Nadira.
"Gapapa lah, lagian dia juga gak tahu!" ujar Albert.
"Terserah tuan aja deh! Eh ya, ngomong-ngomong mamanya tuan kelihatan masih muda banget ya? Gak kayak orang udah tua gitu, kulitnya juga masih mulus banget!" ucap Nadira.
"Ya begitulah, mama sering perawatan makanya kelihatan muda terus! Kamu gausah iri sama mama, kulit kamu juga bagus kok!" ucap Albert.
"Ah tuan bisa aja! Aku mah kalah jauh kalau dibanding sama mama tuan," ucap Nadira.
"Jangan merendah! Saya suka kok sama kamu, apalagi milik kamu yang di bawah itu selalu bikin saya ketagihan setiap malam!" ucap Albert tersenyum mesum.
"Eee..." Nadira mulai cemas dan bingung.
Albert meraih tangan wanitanya, menggenggam lalu mengusap punggung tangannya lembut sembari menatap wajah Nadira.
"Nadira, abis dari sini kita lanjutin kegiatan tadi pagi yang sempat tertunda ya?" ujar Albert.
"Eee aku ngikut apa yang tuan mau aja deh, aku kan juga gak bisa nolak!" jawab Nadira singkat.
"Bagus! Ayo habisin makanannya, supaya kita bisa cepat pulang dari sini! Saya udah gak sabar mau main sama kamu, si dia juga udah mulai tegang nih!" ucap Albert seraya menunjuk ke daerah miliknya.
Nadira terbelalak kaget saat Albert berbicara seperti itu, ia khawatir jika ada yang mendengar ucapan suaminya barusan.
"Kita tunggu mama dong, kan mama juga masih di toilet!" ucap Nadira.
"Iya, tapi gak ada salahnya kan kalau kamu abisin makanannya duluan? Jadi nanti pas mama balik, kita tinggal nunggu mama habisin makanannya deh!" ucap Albert tersenyum.
"Iya tuan," ucap Nadira singkat.
Kini Albert menarik satu tangan Nadira dan meletakkannya di atas paha, ia mengarahkan tangan Nadira ke area miliknya yang sudah menegang itu.
"Uhh baru begini aja udah enak Nadira!" lirih Albert saat merasakan sensasi nikmat di area miliknya, ya pria itu menuntun tangan Nadira untuk memegang miliknya yang masih tertutup celana panjang itu.
"Tuan, jangan begini malu! Kalau nanti ketahuan sama orang gimana?" ujar Nadira cemas.
"Gausah perduliin orang lain! Urus aja urusan kita, saya mau bikin kamu keluar disini! Jadi, ayo buka resleting rok kamu!" bisik Albert.
"Tuan!" Nadira semakin ketakutan.
Albert tersenyum mesum, lalu mengecup leher jenjang Nadira dengan lembut.
Cupp!
"Ahh wangi kamu benar-benar bikin saya enak, Nadira! Saya udah gak tahan lagi, ayo cepat buka rok kamu dan biarkan tangan-tangan saya menjelajahi bagian tubuh kamu itu!" racau Albert.
"Enggak tuan, aku gak mau! Nanti kalau mama kembali dan ngeliat adegan kita gimana?" ujar Nadira panik seraya menyingkirkan tangan Albert.
"Gapapa Nadira!"
Albert yang sudah bergairah, tak perduli lagi dengan apa yang dikatakan Nadira. Ia menyibak rok Nadira sedikit, kemudian bermain-main disana dengan jarinya dan berhasil membuat Nadira kelimpungan tak karuan.
"Ah stop tuan, please..!!" Nadira terus memohon, namun tak didengar oleh Albert.
Ya pria itu sudah kesetanan, Albert tak mampu lagi menahan dirinya dan terus mempermainkan Nadira. Wanita itu sendiri terus berupaya menutupi mulutnya agar suara ia tak terdengar oleh orang-orang di restoran itu.
"Albert!" sebuah suara muncul dan mengagetkan pria itu, seketika Albert menghentikan gerakannya dan menatap ke depan memandang Abigail.
"Kamu lagi ngapain Albert? Kok mepet-mepet gitu sama Nadira? Ini di restoran loh, jangan berbuat mesum atau yang aneh-aneh nanti bisa diusir sama satpam!" ucap Abigail.
"I-i-iya mah, enggak kok!" ucap Albert gugup.
__ADS_1
•
•
Sesampainya di rumah, Albert langsung mengajak Nadira ke kamar dan membiarkan mamanya mengobrol di depan bersama Chelsea untuk saling melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu, ya berbeda dengan Albert tentunya Chelsea sangat menyayangi mamanya itu walaupun mereka tak ada hubungan darah.
Albert mengunci pintu, meletakkan tubuh Nadira secara perlahan di atas ranjang dan langsung menindihnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung meraup bibir Nadira dengan rakus sembari membuka pakaian yang dikenakan wanita itu.
Tak butuh waktu lama bagi Albert untuk bisa melepaskan seluruh pakaian wanitanya, hingga kini Nadira telah resmi telanjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya sehingga ia bisa merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya dari terpaan AC disana.
Tangan-tangan Albert mulai naik membelai milik atas Nadira dengan mulut mereka yang masih saling beradu, Albert lalu memegang kedua gunung itu dan memainkan titik nya.
Suara Nadira saat Albert menarik titik merah muda miliknya terus menggema, matanya terpejam merasakan sensasi tersebut.
"Gimana Nadira? Enak kan?" bisik Albert menggoda wanitanya.
Nadira hanya mengangguk pelan dengan mata terpejam, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi karena saat ini rasa nikmat tengah menghujam tubuhnya lewat permainan panas dari sang suami.
"Saya akan bikin kamu gak bisa jalan besok, Nadira!" ucap Albert yang membuat Nadira bergidik ngeri.
"Tuan, jangan begitu!" ucap Nadira ketakutan.
Albert kembali tersenyum licik, ia kembali menggerakkan jarinya semakin menurun hingga menemui inti wanita itu. Nadira yang kaget langsung bersuara, namun tak ada sedikitpun tindakan untuk mencegahnya.
"Ahh tuan.." Nadira terus bersuara kencang membuat Albert makin bersemangat.
Albert tentunya semakin liar dan berani, ia terus bermain di bawah sana dan tak membiarkan bagian atas Nadira menganggur begitu saja.
Nadira hanya bisa merem melek merasakan semua yang diberikan Albert padanya, sesekali tubuhnya terangkat saat Albert menyentuh area miliknya.
TOK TOK TOK...
"Albert, Nadira!" suara Abigail dari luar kamar membuat Albert emosi dan reflek menghentikan gerakan jarinya di bawah sana.
Nadira yang sedang enak pun tampak kecewa saat Albert berhenti, namun ia juga tak mungkin meminta Albert terus melakukannya disaat Abigail mengetuk pintu kamar mereka.
"Tuan, itu suara mama. Kita keluar dulu temuin mama supaya mama gak curiga!" ucap Nadira.
"Sabar tuan! Gak boleh gitu!" ucap Nadira.
"Ya ya, sudah kamu disini aja dan gak perlu pakai baju kamu lagi! Supaya saya bisa langsung terkam kamu nanti sesudah temui mama, jangan membantah oke!" ucap Albert.
"I-i-iya tuan..." Nadira menurut dan berbaring saja di ranjangnya sesuai perintah dari Albert.
Sementara pria yang masih berpakaian lengkap itu berjalan keluar membukakan pintu dan menemui mamanya yang sudah ada di luar sana.
Ceklek...
"Mah, ada apa sih mah?" tanya Albert dengan raut kesalnya.
"Kok lama sih sayang?" Abigail justru balik bertanya disertai senyum di wajahnya.
Melihat putranya yang kesal dan tampak berkeringat itu membuat Abigail tahu kalau Albert sedang melakukan kegiatan panas di dalam sana bersama Nadira.
"Oh mama tau, maaf ya sayang kalau mama ganggu kamu! Mama cuma mau tanya sesuatu ke kamu, soal Nadira!" ucap Abigail.
"Apa itu mah?" Albert penasaran.
"Barusan Chelsea bilang ke mama, katanya kamu menikahi Nadira secara paksa. Apa benar kamu udah culik Nadira dan bawa dia kesini untuk dinikahi? Kalau memang iya, kenapa kamu setega itu sayang? Kasihan loh Nadira dan keluarganya, apa yang kamu lakukan itu tidak benar!" ucap Abigail menegur putranya.
Albert terdiam bingung, dirinya sangat merutuki Chelsea karena sudah berani-beraninya berbicara pada sang mama mengenai hal itu dan membuat Abigail kini sangat marah padanya.
"Eee iya mah, itu betul! Tapi, mama gak perlu khawatir karena Nadira juga sayang kok sama aku! Kita menikah atas dasar cinta bukan paksaan, ya emang sih awalnya aku bawa dia kabur dari rumah supaya aku bisa milikin Nadira!" jawab Albert.
"Ya ampun Albert! Tindakan kamu itu sama sekali gak benar sayang!" ujar Abigail kecewa.
"Iya mah, aku tahu kok! Udah lah mah, gak perlu dibahas lagi yang udah berlalu! Sekarang kan Albert sama Nadira udah saling mencintai, mama gak perlu bahas itu lagi!" ucap Albert.
"Kamu yakin kalau Nadira sudah benar-benar mencintai kamu dan gak dendam sama kamu?" tanya Abigail.
"Yakin kok mah, tenang aja!" jawab Albert mantap.
"Baguslah! Mama harap memang benar begitu, jangan sampai ada masalah di lain hari karena kelakuan buruk kamu itu! Tapi, kalau Nadira masih ingin kembali ke rumahnya sebaiknya kamu lepaskan saja dia jangan ditahan! Mama gak mau kamu memaksa orang begitu!" ucap Abigail.
__ADS_1
"Ya gak mungkin lah aku lepasin Nadira gitu aja, mah! Nadira kan sekarang lagi hamil anak aku, masa iya aku biarin dia pergi? Terus siapa yang bisa jaga dia nanti?" ucap Albert.
"Maksud mama kan kalau Nadira yang minta, bukan kamu sendiri yang lepasin dia! Yasudah, mama mau istirahat dulu ke kamar. Kamu lanjut aja gih aktivitas kamu itu, tapi jangan lama-lama kasihan Nadira lagi hamil!" ucap Abigail.
"Iya mah, selamat istirahat ya mamaku sayang!" ucap Albert tersenyum lebar.
Setelahnya, Abigail pun pergi menuju kamar dan Albert kembali ke dalam tak lupa menutup serta mengunci pintu sebelum melanjutkan aktivitas yang tertunda tadi.
•
•
Keesokan harinya, Celine sang adik dari Keenan baru pulang sekolah dan tengah berdiri di dekat halte bersiap menunggu angkutan umum untuk mengantarnya pulang ke rumah, seperti biasa ia ditemani oleh teman-temannya disana.
"Eh Celine, lu gak mau tuh pulang bareng sama kak Frendi? Kan lumayan tau bisa irit ongkos, daripada lu harus naik angkot!" ujar Lilis.
"Apaan sih lu? Gue gak mau ya dijadiin bahan gosip satu sekolah cuma gara-gara gue pulang bareng kak Frendi, kan kalian tahu sendiri kalo kak Frendi tuh disukain banyak cewek disini!" ucap Celine.
"Iya sih, tapi kan lumayan tau Cel! Gue aja berharap banget bisa ditawarin kayak gitu sama kak Frendi, lah lu yang udah ditawarin malah nolak!" ujar Lilis.
"Tau ih gak bersyukur banget lu!" sahut Rani.
"Bukan begitu Rani, kan tadi gue udah kasih tau alasannya apa!" ucap Celine.
"Iya iya..."
Tak lama kemudian, angkot yang ingin dinaiki oleh ketiga gadis itu tiba. Mereka pun bergegas masuk kesana dan duduk berdampingan tanpa rasa curiga saat mengetahui disana hanya berisi pada lelaki.
Ketiganya asyik mengobrol, berbincang dan saling bermain ponsel tanpa perduli dengan pria-pria yang ada di dalam angkot itu. Namun, lama kelamaan mereka merasa risih lantaran pria-pria itu terus saja memandang ke arah Celine dengan tatapan menyeramkan.
"Eh Cel, lu lihat deh tuh! Mereka ngapain sih ngeliatin kita terus daritadi?" bisik Lilis.
Sontak Celine menatap lima orang pria yang duduk di seberangnya itu untuk memastikan perkataan Lilis barusan, tentu saja pria-pria itu membuang muka berpura-pura tak terjadi sesuatu sehingga Celine hanya menganggap Lilis terlalu lebay.
"Ah enggak kok, lebay lu!" ucap Celine.
"Yeh serius tau! Lu perhatiin aja terus mereka, nanti lu juga tau kalo mereka tuh ngeliatin kita terutama lu Celine!" ucap Lilis.
"Bener yang dibilang Lilis, Cel. Mending kita turun disini aja yuk, gue takut deh mereka punya niatan gak baik ke kita!" ucap Rania yang juga merasakan hal yang sama.
"Haish, udah kalian gausah takut tenang aja! Gak mungkin mereka begitu kok!" ucap Celine.
Tiba-tiba saja tangan seorang pria itu mendarat di paha Celine yang masih tertutup rok abu-abu, sontak saja Celine terkejut dan menatap ke arah pria itu dengan penuh emosi.
"Heh, jangan kurang ajar ya!" bentak Celine.
"Lu ikut kita, ayo!" ujar pria itu.
"Hah?"
Sopir menghentikan angkotnya di jalanan yang sepi, lalu tiga orang pria itu bangkit dan memaksa Celine turun dari angkot. Sementara dua orang lainnya memegangi Lilis serta Rani agar tak ikut campur urusan mereka.
"Ish lepasin gue sialan! Gue gak mau ikut sama kalian!" ujar Celine berusaha berontak.
"Diem lu!" bentak pria itu.
"Celine, woi lepasin Celine! Jangan bawa dia!" teriak Lilis histeris.
"Udah lu gausah ikut campur!" pria itu membekap mulut Lilis dan memegangi tubuhnya.
"Mmppphhh.."
Sementara Celine sudah berhasil dibawa keluar oleh tiga orang pria yang memeganginya, mereka berjalan menuju sebuah mobil hitam yang sudah tersedia disana.
"Lepasin gue! Kalian ini siapa dan mau apa?" ujar Celine terus berusaha melepaskan diri walau sulit.
"Udah lu diem aja! Ikut sama kita kalo lu mau selamat, atau kita bakal habisin lu disini!" ucap si pria mengancam Celine.
"Bang Ken tolongin gue bang!" batin Celine.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1