
"Yaudah mah, aku mau temuin kak Albert aja deh sekarang. Aku pengen minta sama dia buat usir Vanesa dari sini," ucap Chelsea.
"Eh jangan sayang!" ucap Abigail menahannya.
"Kenapa sih, mah? Aku itu mau selesain semuanya, aku gak pengen ada keributan terus di rumah ini. Dan kalau mau itu semua terjadi, jalan satu-satunya ya kak Albert harus usir tuh cewek pembawa sial dari rumah ini!" ujar Chelsea.
"Iya sayang, mama ngerti. Tapi, kamu gak bisa temuin kakak kamu sekarang!" ucap Abigail.
"Emangnya kenapa?" tanya Chelsea bingung.
"Eee kakak kamu itu lagi coba merayu Nadira, biarin aja ya mereka berdua sekarang! Kalau kamu kesana, yang ada nanti malah ganggu momen romantis mereka!" jawab Abigail.
"Oh, iya deh mah aku gak kesana. Terus, gimana soal Vanesa sekarang?" ucap Chelsea.
"Biarkan Albert yang mengurus ini semua. Mama juga gak tahu lagi harus gimana, kita kan gak bisa berbuat apa-apa kalau Albert memang menginginkan Vanesa ada disini." ucap Abigail.
"Iya sih mah, tapi seenggaknya tuh kita harus bikin Vanesa gak betah tinggal disini! Aku gak mau dia enak-enakan gitu aja!" ucap Chelsea.
"Ahaha, terus apa rencana kamu sayang?" tanya Abigail terkekeh kecil.
"Umm, untuk saat ini sih belum ada mah. Ya semoga aja secepatnya aku bisa temuin cara buat bikin si pelakor itu gak betah tinggal disini! Soalnya aku males banget lihat mukanya dia, apalagi tadi pas di meja makan!" ucap Chelsea.
"Loh, Vanesa masih disana?" tanya Abigail.
"Iya mah, kita samperin dia aja yuk! Abis itu kita sindir dia habis-habisan sampai dia sadar kalau dia itu gak pantas ada disini!" usul Chelsea.
"Boleh juga usul kamu itu, yaudah yuk kita ke meja makan sekarang! Kebetulan mama lapar nih belum sarapan, masa dia malah enak-enakan makan sendirian disana? Gak sopan banget!" ujar Abigail.
"Itu dia mah, aku juga muak banget lihat kelakuan tuh cewek gak tahu diri!" ucap Chelsea.
Abigail dan Chelsea akhirnya melangkah menuju meja makan dengan bergandengan tangan, mereka ingin memberi pelajaran pada Vanesa untuk tidak mengulangi kegenitannya lagi jika ada Albert di dekatnya.
Setibanya di meja makan, mereka melihat Vanesa masih berada disana tengah menikmati sarapan sembari bermain ponsel.
"Tuh kan mah, dia santai banget makannya udah kayak gak ada beban kehidupan aja!" bisik Chelsea.
"Iya sayang, yuk kita samperin dia!" ucap Abigail.
Chelsea mengangguk pelan, kemudian mengikuti langkah mamanya itu mendekat ke arah Vanesa.
"Ehem ehem.." Abigail berdehem keras hingga membuat Vanesa sedikit kaget.
"Eh tante, ayo sini kita sarapan bareng!" ucap Vanesa coba bersikap baik.
"Oh terimakasih nyonya muda! Enak banget ya sarapan sendirian kayak gini? Udah berasa jadi tuan rumah disini, ya?" sindir Abigail.
"Hahaha, emang dasar gak tahu malu! Lu itu disini cuma numpang, gausah sok gitu deh!" sahut Chelsea.
"Eee maksudnya apa ya? Kalian bicara apa sih? Aku gak ngerti serius!" tanya Vanesa heran.
"Halah! Penggoda suami orang kayak lu mana bisa ngerti sih? Kalau lu ngerti, harusnya lu gak ada di rumah ini! Emang dasar pelakor!" umpat Chelsea.
"Sayang, kita duduk yuk! Kita makan masakan Nadira aja, pasti lebih enak daripada yang dimasak Vanesa!" ucap Abigail.
"Jelas lah mah! Cewek ini mah cuma ahli menggoda suami orang doang, dia gak punya skill masak. Beda kayak mbak Nadira yang udah jelas-jelas tipe istri idaman!" cibir Chelsea.
Abigail dan Chelsea pun duduk di depan Vanesa, mereka mengambil makanan yang sudah disiapkan disana sebelumnya.
Sementara Vanesa tampak bingung dengan sikap kedua wanita itu, namun ia berusaha tetap tenang dan tidak ingin terpancing oleh mereka.
•
•
Albert masih berusaha membujuk Nadira agar mau masuk ke dalam dan sarapan bersamanya, entah mengapa Nadira merasa malas bertemu dengan Vanesa dan lebih memilih tetap disana.
Ya Nadira memang mengizinkan Vanesa tinggal di rumah itu, tetapi ia tak menyangka kalau Vanesa dapat bertindak seperti tadi dan merayu Albert dengan jelas di depan matanya.
"Sayang, ayolah kita masuk! Mama sama Chelsea pasti udah nungguin tuh di meja makan," ujar Albert coba membujuk istrinya.
"Gak mau ah mas! Aku males tau ketemu Vanesa! Dia tuh nyebelin banget mas, di depan aku aja dia berani begitu sama kamu. Gimana coba kalau pas gak ada aku dan kalian cuma berduaan? Pasti dia bakal lebih berani!" ujar Nadira.
"Tenang aja! Mau sekeras apapun dia menggoda saya, saya gak akan tergoda kok sama dia. Karena sekarang yang ada di hati saya itu cuma kamu, Nadira Aneisha Putri! Jadi, kamu gak perlu cemas lagi ya istriku!" ucap Albert meyakinkan Nadira.
Albert kembali mendekap Nadira cukup erat, ia usap tengkuk Nadira dengan lembut sembari mengecup keningnya.
__ADS_1
Nadira merasa sangat nyaman dengan posisi ini, ia senang sekali ketika Albert memberikan kehangatan untuknya seperti saat ini.
"Benar ya mas, kamu gak akan kegoda sama Vanesa?" tanya Nadira.
"Iya sayang, kamu bisa percaya sama kata-kata saya! Kalaupun saya tergoda, itu ya cuma sama kamu." jawab Albert seraya mengusap wajah cantik Nadira dengan jari-jarinya.
"Mas, geli ih!" protes Nadira.
"Hahaha, masa diusap-usap aja geli? Kecuali kalau saya gelitikin kamu kayak gini nih.." ucap Albert langsung mempraktekkan kata-katanya.
Nadira dibuat kegelian hebat akibat Albert yang terus menggelitiki pinggangnya, pria itu terus melakukannya hingga nafas Nadira hampir habis dibuatnya.
"Mas, udah ah mas! Geli tau, kamu jahat banget sih!" ucap Nadira.
"Ahaha, gapapa dong sayang. Biar kamu tau kalau saya benar-benar sayang sama kamu, saya ini gak akan mungkin khianati kamu!" ucap Albert tegas.
"Iya mas iya, aku percaya. Sekarang udahan ya!" pinta Nadira.
"Nah gitu dong! Oke, aku gak akan kelitikin kamu lagi. Tapi sebagai syaratnya, kamu harus mau sarapan sama aku sekarang! Ini udah mau siang loh sayang, kamu harus makan!" ucap Albert.
"Kamu gak boleh gak makan, nanti anak kita bisa sakit loh! Dan kalau sampai itu terjadi, kamu tahu dong resiko apa yang harus kamu terima dari saya? Ya, pasti saya akan menghukum kamu Nadira!" sambungnya.
"Jangan dong mas! Iya iya, aku mau makan nih. Aku minta maaf ya sama kamu mas, tadi sikap aku emang kayak anak kecil!" ucap Nadira.
"Gak perlu minta maaf! Justru saya suka sama sikap kamu tadi, itu menunjukkan kalau kamu emang benar-benar cinta sama saya dan gak mau kehilangan saya." kata Albert.
"Ah gak juga, itu kan bawaan bayi aja mas." ucap Nadira mengelak.
"Yah saya kira emang kamu sendiri yang mau, sedih deh saya.." ucap Albert.
"Ahaha, bercanda mas. Selain bawaan bayi, aku juga emang gak mau kehilangan kamu! Aku gak rela kamu disentuh atau digoda sama wanita lain selain aku!" ucap Nadira posesif.
Albert tersenyum senang, mengapit tubuh Nadira kemudian menghujani wajahnya dengan berbagai kecupan.
•
•
Kriiinggg... kriiinggg...
Berbeda dengan Celine, gadis itu saat ini masih terdiam duduk di kursinya dan terus melamun, mengingat kembali kejadian semalam ketika ia memaksa tidur di kamar abangnya.
Entah mengapa Celine masih belum percaya begitu saja dengan penjelasan Keenan, ia yakin pria itu pasti mengambil kesempatan untuk menyentuh tubuhnya semalam.
Apalagi pagi tadi, ia sadar kalau tubuhnya dalam keadaan polos tanpa tertutupi sehelai benangpun. Tentunya hal itu menambah kecurigaan Celine, ia benar-benar sangat takut saat ini.
"Kalau sampai semalam bang Ken lakuin sesuatu ke gue gimana, ya?" batin Celine.
Braakkk...
Tiba-tiba saja seseorang menggebrak mejanya dan membuat Celine kaget, lalu reflek menoleh ke samping kanannya.
Celine melihat dua temannya sudah berdiri disana dengan tatapan bingung, Celine pun tersenyum renyah dan mulai salah tingkah.
"Cel, lu kenapa sih? Daritadi di kelas lu kayaknya bengong terus, lagi ada masalah?" tanya Lilis.
"Enggak kok, gue baik-baik aja guys. Gue itu cuma kurang tidur, jadinya gue masih ngantuk deh sampe sekarang. Gak tahu kenapa, gara-gara hujan petir semalam gue jadi gak bisa tidur." jawab Celine.
"Ah boong lu! Kita yakin lu pasti ada masalah, udah cerita aja cepet ke kita!" paksa Rania.
"Iya, gausah ada yang ditutup-tutupi dari kita!" sahut Lilis.
"Kalian apaan sih? Gue gak ada masalah apa-apa, jangan sok tau deh! Udah ah, yuk kita ke kantin!" ucap Celine sambil beranjak dari kursinya.
Celine melangkah lebih dulu keluar dari kelasnya, sedangkan kedua temannya itu masih terbengong disana merasa heran dengan tingkah Celine.
"Celine!" Celine terkejut saat ada seseorang yang memanggil namanya.
Gadis itu segera menoleh untuk memastikan siapa di belakangnya, rupanya itu adalah Frendi si lelaki incaran para wanita di sekolah yang selalu berusaha mendekatinya.
"Kak Frendi? Ada apa?" tanya Celine heran.
"Kamu mau ke kantin kan? Kita bareng aja yuk! Kebetulan aku lagi ulang tahun loh, aku niat mau traktir anak-anak disana." jawab Frendi.
"Ohh, ya baguslah. Terus apa hubungannya sama aku?" ucap Celine.
__ADS_1
"Kamu gimana sih? Aku kan mau ajak kamu juga buat ikut makan di bawah, aku traktir kamu sama teman-teman kamu deh." ujar Frendi.
"Yeay asik makan gratis! Udah ayo mau aja Cel, kapan lagi kan makan gratis?!" ujar Lilis.
"Iya Cel, gausah gengsi gitu lah! Abaikan aja omongan orang mah!" sahut Rania.
"Gimana Cel? Kamu mau kan?" tanya Frendi penuh harap.
"Eee boleh deh, kebetulan aku juga lapar sih dan pengen makan. By the way, selamat ulang tahun ya kak! Makasih udah mau traktir kita bertiga!" ucap Celine sambil tersenyum.
"Thanks! Aku emang udah lama pengen ajak kamu sama teman-teman kamu makan bareng, tapi agak susah lakuin nya. Aku senang banget kalau kamu mau ikut sama aku sekarang!" ucap Frendi.
"Iya, yaudah kita langsung aja ke kantin yuk!" ucap Celine.
"I-i-iya.." ucap Frendi terbata-bata.
Celine melangkah lebih dulu bersama dua temannya, sedangkan Frendi sempat terdiam sesaat sebelum mulai mengikuti mereka.
•
•
Keenan tiba di sekolah adiknya, saat ini sudah waktunya pulang sekolah dan Keenan ingin mengantar Celine sampai ke rumah walau ia tahu pasti gadis itu akan menolaknya.
Keenan pun turun dari mobilnya, ia agak syok ketika melihat adiknya tengah bersama seorang lelaki disana. Apalagi tampak mereka sepertinya lumayan dekat dan membuat Keenan geram.
"Sialan! Siapa tuh cowok? Berani banget deketin adik gue!" geramnya.
Tanpa sadar, dua tangan Keenan saat ini sudah terkepal dan rahangnya mulai gemetar hebat menyaksikan keakraban antara adiknya dengan lelaki yang tidak ia kenali itu.
"Kenapa ya? Gue kok rasanya gak terima, adik gue itu dideketin dan disentuh sama cowok lain? Ada apa sih sama gue?" gumamnya.
Tak lama kemudian, lelaki yang bersama Celine pun pergi dan membuat Keenan sedikit lega. Keenan langsung mendekat ke arah Celine karena penasaran siapa lelaki tadi.
"Cel, siapa cowok barusan itu?" tanya Keenan.
"Hah? Lu ngapain sih kesini bang? Gue kan gak minta dijemput sama lu," ucap Celine.
"Kalo ditanya itu jawab, bukan malah balik tanya!" tegas Keenan dengan mata melotot.
"Lu kenapa sih bang? Kok emosi gitu sama gue? Emang apa salahnya kalo gue berduaan sama cowok? Lu gak suka?" ujar Celine heran.
"Jelas lah gue gak suka! Apalagi dia berani pegang-pegang tangan lu kayak gitu, gue gak terima!" ucap Keenan.
"Kenapa?" tanya Celine.
"Udah deh Cel, kasih tahu aja ke gue siapa tuh cowok! Pacar lu atau bukan? Gue gak mau ya lu Deket sama laki-laki kayak gitu!" ucap Keenan.
"Apaan sih? Dia cuma teman gue, dia juga kakak kelas gue bang. Lagian lu gausah lebay deh, gue ini udah dewasa dan gue bisa jaga diri gue sendiri!" ucap Celine.
"Gak, lu belum dewasa! Lu itu masih lugu dan polos, gue gak mau lu terjerumus dalam pergaulan bebas!" ujar Keenan.
"Lebay lu ah!" ucap Celine kesal.
Celine bergerak pergi menjauh dari Keenan, tetapi abangnya itu langsung mencekal lengannya dan menariknya ke dalam dekapannya.
"Lu gak boleh kemana-mana! Lu itu milik gue dan lu harus nurut terus sama gue!" tegas Keenan.
Celine terdiam ketika Keenan mengatakan bahwa dirinya adalah 'miliknya', tentu saja Celine tak mengerti apa maksud dari perkataan Keenan barusan.
Keenan melepas dekapannya, kemudian menangkup wajah Celine dan menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Sekali lagi gue pertegas sama lu, siapa tuh cowok yang berani pegang-pegang lu tadi?! Jawab dengan jujur!" ucap Keenan.
"Gue udah bilang tadi bang, dia itu kakak kelas gue namanya Frendi. Apa salahnya sih emang kalo gue dekat sama dia? Kita sama-sama single kok, gak masalah dong?" ucap Celine.
"Jelas masalah buat gue! Gue gak suka lihat lu dekat sama cowok lain! Paham?" bentak Keenan.
"Kenapa?" tanya Celine bingung.
"Kan tadi gue udah bilang, lu itu milik gue dan cuma gue yang boleh sentuh lu!" jawab Keenan.
"Hah??" Celine menganga lebar karena terkejut mendengar jawaban abangnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...