
Bruuukkk...
"Aaaakkkhh!!!" Johan memekik keras merasakan sakit yang amat sangat pada bagian lengannya saat Keenan dengan santainya memelintir dan hampir mematahkan tangannya itu.
"Anda masih mau macam-macam dengan saya? Beritahu saya siapa yang menyuruh anda, atau saya tidak akan segan-segan untuk mematahkan tangan anda sekarang juga!" ucap Keenan mengancam Johan dengan keras dan tegas.
Namun, Johan yang posisinya sudah terancam itu tetap saja kekeuh untuk tidak mau memberitahu siapa yang menyuruhnya pada Keenan.
"Sampai kapanpun, gue gak akan pernah kasih tahu ke lu!" teriak Johan.
"Oke! Rasakan ini!" ucap Keenan yang kemudian langsung saja memutar lengan Johan hingga hampir putus dan membuatnya meringis kesakitan.
"Aaaakkkhh!!!"
Teriakan Johan itu sampai membuat si gembul serta dua temannya ikut merasa ngilu, mereka menutup telinga dan mengalihkan pandangan saat Keenan akan mematahkan tangan Johan di hadapan mereka, sungguh tak tega namun mereka lebih takut jika ikut campur dan nantinya malah mereka yang kena imbasnya.
Tak hanya mereka, Celine pun merasakan hal yang sama. Ia terus menutup telinga dan merunduk karena tak berani menyaksikan momen itu, jujur ia juga kasihan pada preman itu, namun ia juga tak bisa menahan abangnya.
Kreekkk...
Bunyi patahan itu terdengar cukup jelas, Johan semakin memekik keras saat tangan kirinya sudah resmi dipatahkan oleh Keenan, sedangkan Keenan sendiri hanya tersenyum puas.
"Anda masih tidak mau memberitahukan itu pada saya?" tanya Keenan sekali.
"Aaaakkkhh!! Gue gak akan pernah kasih tahu lu!" ujar Johan masih kekeuh pada pendiriannya.
"Oh oke!" Keenan meraih tangan kanan Johan dan bersiap melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya pada tangan kiri pria itu.
"Kak cukup!"
Namun, disaat ia hendak mematahkan tangan kanan Johan tiba-tiba saja Celine berteriak dari belakangnya menahan Keenan melakukan hal keji itu karena Celine sudah tak tahan lagi.
"Cukup kak, stop! Lu jangan terusin itu! Gue gak mau punya abang seorang penjahat!" ucap Celine.
"Tapi, gue cuma...."
"Kak, udah ya! Kita tinggalin tempat ini, jangan siksa mereka terus kayak gitu! Gue kan juga udah gak kenapa-napa, biarin aja mereka!" potong Keenan.
Keenan melirik sejenak ke arah Johan, memang tampak pria itu sudah sangat terluka parah dan tangan kirinya pun parah.
"Oke! Gue nurut sama lu!" ucap Keenan.
Akhirnya Keenan mengurungkan niatnya dan tidak jadi mematahkan tangan kanan Johan, ia pun melepaskan Johan lalu pergi bersama Celine dari tempat tersebut.
•
•
Kini Keenan dan Celine sudah berada di mobil, mereka akan pulang ke rumah setelah gagal mendapat informasi mengenai siapa dalang dari rencana penculikan terhadap Celine, tampak kalau Keenan memang masih belum puas.
Namun, Celine terus berusaha menenangkan abangnya agar tak terbawa emosi dan bisa kembali tenang karena ia pun juga tidak jadi diculik oleh para preman-preman tersebut, ya Celine memang tak mau jika abangnya itu berubah menjadi jahat.
"Kak, udah lah lu jangan emosi terus kayak gitu! Tenang aja, kan gue baik-baik aja!" ucap Celine.
"Lu sekarang emang masih bisa selamat dan gak kenapa-napa, tapi tetap aja gue khawatir dek! Bisa aja mereka berbuat itu lagi dan berusaha buat culik lu seperti tadi!" ujar Keenan emosi.
"Lu tenang aja kak! Kalaupun mereka mau coba culik gue kayak tadi, paling juga mereka bakal frustasi karena gak segampang itu buat culik gue kak!" ucap Celine tersenyum.
"Haish, iya gue tahu lu emang sekarang udah jago beladiri. Tapi, tetap lu gak boleh ngeremehin orang kayak gitu! Preman-preman itu licik, mereka punya seribu macam cara buat bisa culik lu dan bawa lu ke bos mereka! Makanya tadi gue paksa mereka buat ngaku siapa yang suruh mereka, supaya gue bisa abisin tuh orangnya!" ujar Keenan.
"Sabar kak! Gak perlu lah pakai begituan segala, gue gak mau punya kakak yang suka berbuat kriminal!" ucap Celine cemberut.
Keenan terdiam kemudian melirik ke arah adiknya, ia menarik wajah gadis itu dan dipandangi wajah yang cantik nan manis dari sang adik sambil tersenyum berupaya menghiburnya.
"Apaan sih kak?" ujar Celine heran.
Gadis itu menyingkirkan tangan abangnya yang menempel di wajahnya karena merasa risih.
"Hahaha, lu jangan cemberut dong! Iya deh iya, gue gak punya niat buat cari dan bunuh orang yang pengen culik lu itu. Tapi, mulai sekarang setiap hari lu harus selalu sama gue dan gak boleh pergi sendirian! Gue gak mau kejadian begini terulang lagi, karena gue takut lu benar-benar diculik dan gue gak bisa ketemu sama lu lagi!" ucap Keenan.
__ADS_1
"Ish kak Keenan lebay deh! Masa iya gue harus dua puluh empat jam sama lu? Terus kalo gue sekolah dan mau tidur gimana?" ujar Celine.
"Lah emang kenapa? Kan demi keamanan lu juga, waktu sekolah ya gue temenin lu dan jagain lu di sekolah. Terus kalau lu tidur, ya tidurnya bareng gue aja! Jadi, gue bisa jagain lu terus kapanpun dan dimanapun itu!" ucap Keenan tersenyum.
"Oh gitu, mau tidur bareng ya? Dasar kakak gak jelas!" ujar Celine seraya mencubit lengan sang kakak dengan keras.
"Awhh sshhh aduh aduh sakit! Lu kasar banget sih dek, sakit tau cubitan lu!" rintih Keenan.
"Biarin aja! Makanya kak Keenan itu gausah terlalu lebay deh, pake mau jagain gue dua puluh empat jam segala! Gue ini bukan anak kecil lagi kak, gue bisa jaga diri sendiri kok! Justru kalo lu kayak gitu, gue malah jadi risih!" ujar Celine.
"Haish, iya iya gak jadi! Gue bakal awasin lu aja kok, yang penting lu harus selalu lapor ke gue tiap kali lu mau bepergian! Ingat ya Cel, di luaran sana bahaya mengancam! Jadi, lu harus selalu hati-hati!" ucap Keenan mengingatkan adiknya.
"Iya kak," Celine tersenyum kemudian menaruh wajahnya di pundak sang kakak, Keenan pun menyentuh dan mengusap wajah Celine dengan lembut disana.
Mereka memang sangat dekat dan Keenan begitu menyayangi adiknya, karena hanya Celine lah yang dia miliki saat ini setelah kepergian ayah serta ibunya.
•
•
"DASAR PAYAH!"
Harrison yang mendapat kabar dari Johan bahwa anak buahnya gagal menculik Celine pun merasa kesal, ia mengumpat penuh emosi di dalam ruangannya sembari menggebrak meja dan melempar apa saja yang ada disana tanpa perduli benda apapun itu.
Tentu saja Harrison merasa kesal, karena kegagalan itu akan mempengaruhi rencananya dan membuat ia tidak bisa menghancurkan Albert seperti yang sudah direncanakan sebelumnya oleh ia dan juga Darius.
"Hey kamu! Bagaimana kondisi Johan saat ini? Apa yang terjadi padanya?" tanya Harrison pada salah satu anak buahnya yang bernama Zayn.
"Johan baik-baik saja, bos. Tapi, tangan kirinya tidak bisa digunakan untuk sementara waktu karena mengalami patah tulang. Itu semua terjadi akibat ulah Keenan, bos!" jawab Zayn.
"Aaarrgghh sial! Memang dasar dia saja yang tidak bisa diandalkan!" geram Harrison.
Zayn menunduk ketakutan, melihat bosnya itu sangat marah memang sangat mengerikan dan membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
"Sekarang saya perintahkan kamu Zayn, untuk menggantikan tugas Johan yang gagal itu! Saya tidak mau tau, kamu harus berhasil culik Celine dan bawa dia kemari! Kalau tidak, maka nyawa kamu taruhannya Zayn!" ucap Harrison.
"Baik bos! Saya janji saya akan usahakan untuk membawa gadis itu kemari, tapi saya juga butuh tambahan pasukan untuk bisa menculik gadis itu bos! Karena dari laporan yang saya terima, katanya gadis itu pandai beladiri bos! Jadi, untuk jaga-jaga saja maka saya butuh banyak pasukan!" ucap Zayn.
"Siap bos! Kalau begitu, saya mohon izin permisi!" ucap Zayn pamit.
"Oke! Saya tunggu sampai besok!" ucap Harrison.
"Baik bos!" Zayn mengangguk setuju menerima apa yang diminta Harrison padanya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Tak lama setelah Zayn keluar, putri Harrison alias Vanesa muncul memasuki ruangan sang ayah dengan membuka pintu dan berjalan mendekati Harrison yang sedang duduk disana.
"Hai ayah! Aku udah pulang kerja nih, lihat deh apa yang aku bawain buat ayah!" ucap Vanesa.
"Waw! Anak cantik ayah udah pulang ternyata, bawa apa itu kamu sayang?" tanya Harrison.
"Ini bubur sumsum buat ayah, ayah suka gak? Biar aku siapin dulu ya, supaya ayah bisa langsung makan!" ucap Vanesa.
"Aduh sayang! Makasih ya!" ucap Harrison.
"Sama-sama ayah, eh ya ayah lagi kenapa sih? Kok kelihatannya bete gitu, lagi ada masalah ya?" tanya Vanesa penasaran.
"Ya gitu deh sayang, ayah kesal karena Johan tidak bisa diandalkan!" jawab Harrison.
"Kenapa sama bang Johan, yah?" tanya Vanesa.
"Dia gagal menculik Celine, adik Keenan. Padahal ayah sudah merencanakan pernikahan ayah dengan gadis itu, tapi semuanya berantakan gara-gara kegagalan Johan!" jelas Harrison.
"Hah? Pernikahan?" Vanesa terkejut bukan main mendengarnya, sedangkan Harrison reflek menutup mulutnya.
•
•
Disisi lain, Albert tiba di rumah Suhendra dengan perasaan kesal. Ia turun dari mobilnya, meminta sang supir untuk tetap berada disana menunggu selagi ia masuk ke dalam menemui istrinya yang sedang berkunjung di rumah orangtuanya.
__ADS_1
Albert pun yakin bahwa Nadira memang berada disana, ketika ia melihat mobil mamanya berhenti atau parkir tepat di halaman rumah Suhendra. Ia menjadi semakin kesal, menurutnya Nadira sudah keterlaluan karena pergi tanpa mengabarinya.
"Mulai kurang ajar ya kamu Nadira! Dibaikin malah ngelunjak!" gumam Albert dalam hati.
Akhirnya pria itu melangkah ke depan pintu, mengetuknya dengan cepat berharap ada yang membukakan pintu untuknya.
TOK TOK TOK...
Ceklek...
Benar saja tak lama kemudian pintu terbuka, dan ternyata itu adalah Nadira sendiri alias istrinya yang sedang ia cari-cari. Tentu saja Albert langsung menatap sinis ke arah Nadira, membuat wanita itu terkejut saat menyadari keberadaan tuannya disana dengan keadaan marah.
"Tu-tuan Albert? Untuk apa tuan Albert datang kesini?" tanya Nadira terbata-bata.
"Harusnya saya yang tanya ke kamu! Ngapain kamu datang kesini? Dan yang terpenting, kenapa kamu tidak izin lebih dulu sama saya kalau kamu ingin pergi keluar! Mulai berani kamu sama saya, iya?" tegur Albert dengan nada tinggi.
"Sabar dulu tuan! Aku bukannya gak mau izin sama tuan, tapi tadi mama yang—"
"Halah udah cukup! Saya gak mau lagi dengar apapun keluar dari mulut kamu, Nadira! Kamu sudah berani lancang pergi keluar rumah tanpa seizin saya, sekarang ayo ikut saya dan kita pulang ke rumah!" potong Albert kesal.
Albert langsung mencengkeram lengan Nadira, berusaha menariknya untuk membawa wanita itu pulang bersamanya. Namun, Nadira enggan untuk pulang karena ia masih ingin disana.
"Tunggu tuan! Tuan jangan marah-marah kayak gini, di dalam ada mamanya tuan! Kita bisa bicarain ini baik-baik tuan, ayolah tahan amarah tuan!" ucap Nadira memohon pada suaminya itu.
"Saya gak perduli! Ayo pergi!" tegas Albert.
Akhirnya Albert menarik paksa Nadira, hingga wanita itu merasa sakit pada bagian lengannya akibat cengkraman erat yang diberikan Albert.
"Awhh sakit tuan, pelan-pelan dong jangan tarik-tarik begini!" rengek Nadira.
Albert tampak acuh tak perduli dengan rintihan Nadira, ia terus membawa paksa wanita itu menuju mobilnya dengan perasaan kesal, sampai tiba-tiba terdengar suara teriakan mamanya dari belakang.
"Albert berhenti!" teriak Abigail cukup keras.
Sontak pria itu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang tanpa melepaskan cengkeramannya dari tangan Nadira.
"Tuan, aku mohon lepasin! Sakit banget tuan!" rengek Nadira minta dilepaskan.
"Diam Nadira! Saya harus beri kamu hukuman, karena kamu sudah berani melawan saya! Bukannya saya sudah pernah bilang ke kamu, kalau kamu harus izin sama saya tiap kali ingin pergi keluar!" ujar Albert.
"Iya tuan, aku minta maaf! Tadi itu mama yang ajak aku kesini tuan, tolong tuan jangan marah-marah sama aku begini dong! Kan tuan tahu sendiri aku lagi hamil, kalau dia takut lihat papanya marah-marah gimana?" ucap Nadira.
Albert terdiam memandang perut Nadira yang masih belum mengembang itu, lalu beralih menatap mamanya yang mendekat.
"Albert! Kamu itu apa-apaan sih? Datang-datang main paksa Nadira buat pulang gitu, apa kamu gak punya etika sama sekali?!" tegur Abigail.
"Mah, maaf mah! Aku cuma kesal aja sama Nadira, karena dia gak ngabarin aku kalau mau kesini! Aku ngerasa gak dianggap mah sama Nadira ini, makanya aku marah!" ucap Albert.
"Mama yang ajak Nadira kesini, mama juga yang suruh dia buat gak izin sama kamu! Kenapa? Kamu mau marah juga sama mama, iya?" ujar Abigail.
"Mah, mama kenapa sih? Kok kayak gitu sama Albert?" tanya Albert heran.
"Kamu itu yang kenapa! Istri kamu cuma mau ketemu sama orangtuanya, apa itu salah? Kamu ini suami macam apa sih Albert? Bisa-bisanya kamu kasar begini sama istri kamu sendiri, sekarang lepasin tangan Nadira!" tegas Abigail.
"I-i-iya mah..." ucap Albert menurut.
Albert pun melepaskan tangan Nadira, sontak Abigail langsung melindungi Nadira dari kekejaman putranya sendiri.
"Sudah Nadira, ayo masuk lagi ke dalam! Biarin aja suami kamu yang kejam ini disini, supaya dia sadar kalau sikapnya tadi itu salah dan tidak bisa dibenarkan!" ucap Abigail.
"Ta-tapi mah...."
"Kamu gausah takut, mama belain kamu kok!" potong Abigail.
"Iya mah," ucap Nadira mengangguk pelan.
Lalu, Abigail pun membawa Nadira kembali ke dalam rumah Suhendra meninggalkan Albert yang masih berdiri terdiam disana.
"Sialan!" umpat Albert dalam hati.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...