
Nadira keluar di kamar mandi, matanya menatap nanar sosok mbok Widya yang sudah menunggu sedari tadi di depan pintu, dan di tangannya masih tersimpan sebuah alat tes kehamilan yang sebelumnya diberikan oleh mbok Widya.
Gadis itu menghela nafasnya, membuat mbok Widya penasaran apa kiranya hasil dari testpack tersebut. Nadira pun memberikan benda kecil itu kepada mbok Widya, dilihatnya tanda dua garis biru yang menandakan bahwa Nadira benar-benar hamil kali ini.
"Wah non! Non Dira hamil? Ini sih kabar yang bakal bikin tuan Albert gembira banget, non!" ujar mbok Widya tampak senang.
Berbeda dengan reaksi dari mbok Widya, Nadira justru merasa sedih dan terus merunduk tanpa berbicara apapun, wanita itu hanya melangkah menjauhi mbok Widya lalu terduduk pada sebuah sofa di kamarnya.
"Non, non Dira kenapa? Kok murung begitu? Apa hasil testpack ini gak bikin non senang? Sebentar lagi non bakal jadi seorang ibu loh, bukannya itu yang dinanti-nantikan oleh non Dira?" tanya Widya.
Nadira menggeleng dengan wajah cemberut.
"Loh kenapa non? Apa yang bikin non gak suka dengan kehamilan non sendiri?" tanya Widya lagi.
"Bukan saya gak suka, mbok! Tapi, saya cuma takut aja!" jawab Nadira.
"Hah? Takut kenapa non?" tanya Widya bingung.
"Iya mbok, saya takut tuan Albert tidak suka dengan kehamilan saya! Gimana kalau dia malah minta saya buat gugurin kandungan ini? Karena kan tuan Albert itu gak beneran cinta sama saya mbok, dia cuma mau saya jadi pemuas nafsunya gak lebih! Kalau dia tahu saya hamil, bisa-bisa dia malah marah sama saya dan kasih hukuman buat saya!" jelas Nadira.
Mbok Widya terdiam bingung, ia tak tahu harus melakukan apa untuk menghibur istri majikannya tersebut.
"Eee non, maaf nih ya bukannya saya mau ngajarin atau apa! Tapi, sebaiknya non Dira gak boleh negatif thinking dulu sama tuan Albert! Bisa aja yang non khawatirkan itu gak terjadi, justru malah tuan Albert itu senang banget punya anak dari non Dira! Ya kan?" ucap mbok Widya.
"Gak mungkin mbok! Tuan Albert kan gak cinta sama saya, dia cuma suka sama tubuh saya doang mbok gak lebih! Mana bisa dia senang kalau tahu saya hamil?" ucap Nadira.
"Duh, saya juga jadi bingung deh non..." ujar mbok Widya sambil garuk-garuk kepala.
"Yaudah, gapapa mbok. Sekarang mbok boleh keluar kok! Saya juga udah mendingan nih gak mual-mual lagi," ucap Nadira.
"Oh gitu, iya deh non. Saya permisi dulu ya? Tapi, kalau non butuh apa-apa, tinggal di pencet aja itu bel nya ya non gausah sungkan!" ucap mbok Widya.
"Iya mbok, tenang aja!" ucap Nadira tersenyum.
Setelah dirasa aman, mbok Widya pun melangkah keluar meninggalkan Nadira di kamar sendirian. Nadira sepetinya masih ragu akan kehamilan dirinya, ia khawatir kehadiran janin di dalam rahimnya itu justru membuat hubungan antara ia dan Albert semakin retak.
Nadira pun mengambil testpack tersebut dari atas meja dan memandanginya.
"Hey, kenapa hasilnya malah positif sih? Coba aja tadi negatif, pasti aku sekarang gak gelisah kayak gini! Gimana nanti kalau tuan Albert tau? Apa aku bakal dihukum lagi sama dia? Aaarrgghh, menderita banget sih hidup aku!" gumamnya.
•
•
Sementara itu, Albert pulang bersama Keenan setelah menjalani hari yang cukup berat. Albert bahkan terus mengerutkan keningnya, merasa pusing karena semua masalah yang terjadi di perusahaan miliknya itu.
Keenan melirik melalui spion tengah, menatap kondisi tuannya yang tampak gusar itu. Ia sendiri merasa kasihan pada Albert karena harus dihadapi dengan cobaan yang begitu berat, apalagi ia tahu kalau biang dari semua masalah itu adalah Vanesa, sekretaris Albert sendiri.
Ya walau Keenan belum mempunyai cukup bukti, namun ia yakin sekali kalau tuduhannya kali ini benar dan Vanesa memang berkhianat pada Albert karena sesuatu hal.
"Bagaimana caranya saya beritahu pada tuan Albert tentang kelicikan Vanesa? Ah tidak tidak, saya harus tahan diri untuk mengatakan itu! Saya tidak mau tuan salah sangka dan mengira kalau saya ini hanya ingin mengadu domba, ya saya harus cari bukti yang kuat untuk bisa menyatakan kalau Vanesa adalah dalang dibalik semua ini!" gumam Keenan dalam hati.
"Keenan!" tegur Albert yang sepertinya menyadari lirikan dari Keenan kepadanya.
"I-i-iya tuan, ada apa?" tanya Keenan gugup.
"Harusnya saya yang tanya sama kamu! Ngapain kamu lirik-lirik ke arah saya terus kayak gitu? Ada masalah sama saya, ha?" ujar Albert heran.
"Eee gak ada kok tuan, saya cuma kasihan aja sama tuan! Karena kelihatannya tuan itu pusing banget, yang sabar ya tuan! Saya janji akan selalu bantu tuan!" ucap Keenan.
"Ya, terimakasih Ken! Yasudah, sekarang kamu bawa mobil ini ke toko donat terdekat! Saya ingin beri hadiah untuk Nadira, karena belakangan ini saya selalu tinggalkan dia sendiri di rumah!" ucap Albert memerintahkan asistennya itu.
"Cie cie ada yang mulai bucin nih ye..." ledek Keenan menggoda tuannya.
"Hey, apa kamu bilang barusan? Bucin? Sorry ya Ken, saya gak level dengan kata itu! Pantang bagi saya untuk bucin, walau dengan wanita secantik Nadira sekalipun!" ucap Albert.
"Iya deh tuan, iya! Ngakunya gak bisa bucin, padahal mah dalam hati udah bucin banget tuh sama non Dira! Hahaha..." cibir Keenan.
__ADS_1
"Cukup Keenan! Sekali lagi kamu bicara begitu, saya akan larang Chelsea untuk bertemu dengan kamu!" ancam Albert.
"Eh eh eh, jangan dong tuan! Iya iya, saya gak begitu lagi deh! Jahat nih tuan mainnya ngancem kayak gitu, saya kan cuma bercanda! Kalau emang tuan udah bucin sama non Dira, gapapa kok tuan gausah malu!" ucap Keenan.
"Keenan!" bentak Albert kesal.
"Iya tuan, maaf saya khilaf!" ucap Keenan.
Keenan pun tidak lagi meledek Albert, ia fokus menyetir mobil mencari toko donat terdekat sesuai perintah Albert tadi. Sedangkan Albert sendiri mengusap dagunya, ia memikirkan perkataan Keenan barusan mengenai dirinya yang sudah mulai jatuh cinta pada Nadira.
"Apa benar yang Keenan bilang barusan? Saya udah mulai cinta sama Nadira? Ah masa sih? Gak mungkin saya begitu! Saya ini cuma kangen sama tubuh Nadira, bukan cinta!" batin Albert.
❤️
Sesampainya di toko donat terdekat, Albert langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam toko tersebut seorang diri, ya ia memang ingin memesan sendiri donat yang hendak dibeli olehnya untuk Nadira dan meminta Keenan tetap di mobil menunggunya sampai kembali.
Begitu Albert memasuki toko tersebut, ia langsung disambut oleh seorang wanita cantik berambut panjang yang sepertinya adalah pemilik dari toko donat itu, ya Albert mengenalinya karena dia adalah teman semasa sekolahnya dulu.
"Wohoo lihatlah siapa yang datang! Albert, akhirnya kamu datang lagi kesini! Udah lama banget loh kamu gak beli donat disini lagi!" ujarnya.
"Ahaha iya Michelle, makanya saya sekarang kesini karena saya sudah kangen sekali sama donat buatan toko kamu ini! Soalnya rasanya itu paling enak se-Asia tenggara pokoknya!" ujar Albert.
"Ah bisa aja kamu Albert! Eh kamu kesini sendiri?" tanya wanita bernama Michelle itu.
"Enggak, ada Keenan juga di mobil. Emang kenapa? Kamu mau ketemu sama Keenan? Biar saya suruh dia masuk kesini?" jawab Albert.
"Eh enggak kok, duduk dulu yuk! Kan kita udah lama gak ngobrol, aku kangen ngobrol sama kamu kayak dulu lagi!" ucap Michele.
"Ya sama sih, saya juga! Tapi, saya kan kesini mau pesan donat bukan buat ngobrol! Kalau saya ngobrol sama kamu, gimana caranya saya bisa pesan donat dong?" ucap Albert.
"Oh iya, yaudah kamu pilih aja dulu donat kesukaan kamu!" ucap Michele.
"Nah kayak gitu baru saya setuju!" ucap Albert tersenyum.
Akhirnya mereka menuju etalase kaca yang berisi berbagai macam jenis donat itu, Albert mulai memilih donat yang akan ia beli untuknya dan juga Nadira tentunya.
"Iya dong, biar makin keren!" ucap Michele.
"Hahaha bagus deh! Eh ya, yang paling laris disini yang mana?" tanya Albert meminta saran.
"Yang paling laris? Umm, orang-orang sih biasanya suka mesan yang heaven berry sama snow white sih!" jawab Michelle.
"Nah boleh dah tuh, kelihatannya enak! Bungkus dah dua kotak semua rasa!" ucap Albert.
"Yeh kalo mau semua rasa, ngapain lu nanya yang paling laris tadi?!" cibir Michelle.
"Hahaha ya iseng aja, emang gak boleh apa saya nanya begitu? Kan tadi kamu yang ajak saya buat ngobrol, giliran diajak ngobrol malah marah gimana sih?!" ujar Albert menahan tawanya.
"Hadeh iya deh suka-suka kamu aja Albert! Yaudah, kalian tolong ya siapin tuh pesanan cowok ini tadi!" ucap Michelle meminta anak buahnya segera menyiapkan pesanan Albert.
Lalu, Michelle pun membawa Albert duduk di tempat duduk yang tersedia untuk berbincang sejenak sembari menunggu pesanannya tiba.
"Albert, aku mau tanya deh sama kamu! Tadi aku sempat lihat berita online gitu, katanya perusahaan kamu lagi diterpa masalah ya? Itu kenapa sih bisa terjadi? Bukannya kamu udah pernah dapat penghargaan bisnisman termuda, kok bisa kejadian kayak begini?" tanya Michelle heran.
Albert terkejut mendengar pertanyaan Michelle, ia tak menyangka berita mengenai perusahaan miliknya itu sudah tersebar dimana-mana bahkan sampai Michelle saja tahu tentang itu.
"Eee saya juga kurang tahu apa penyebabnya, ini saya sedang menyelidiki terkait masalah itu! Kamu tolong bantu doa ya, supaya saya bisa segera memecahkan masalah ini dan tidak terjadi masalah yang lebih besar!" ucap Albert.
"Iya Albert, kamu tenang aja! Kita kan udah temenan dari SMA, aku pasti doain kamu kok!" ucap Michelle sambil menepuk bahu Albert.
"Terimakasih!" ucap Albert tersenyum.
•
•
Singkat cerita, Albert sudah sampai di rumahnya dengan membawa dua kotak donat yang akan ia berikan pada Nadira sang istri, terlihat ia terus tersenyum karena sudah tidak sabar ingin melihat reaksi dari istrinya itu.
__ADS_1
Namun, Albert dicegat oleh Chelsea saat hendak masuk ke kamar Nadira. Gadis itu sepertinya curiga pada tentengan yang dibawa Albert, sampai akhirnya ia tahu kalau Albert membawa dua kotak donat yang cukup besar.
"Wah kak! Kakak bawa donat ya itu? Aku mau dong kak!" ucap Chelsea heboh sendiri.
"Iya, ini satu buat kamu deh! Bagi-bagi juga sama Keenan di depan, jangan rakus dimakan sendiri!" ucap Albert menyerahkan satu kotak pada Chelsea.
"Yes asik! Makasih ya kak! Tenang aja, aku pasti bagi Keenan juga kok! Malah aku pengen disuapin sama dia!" ucap Chelsea.
"Astaga bucin banget sih kamu!" ujar Albert.
"Biarin wle!" ledek Chelsea menjulurkan lidahnya.
Gadis itu langsung pergi membawa satu kotak donat ke depan rumah, sedangkan Albert hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu, lalu ia kembali melangkah menuju kamar.
Ceklek...
Albert membuka pintu dan melihat ke dalam kamarnya, tampak Nadira tengah berbaring menyamping membuat Albert mengulum senyum dan menutup pintu kembali secara perlahan agar tak mengganggu istirahat Nadira.
Namun, rupanya Nadira mendengar suara tersebut sehingga ia langsung berbalik dan bangkit menatap ke arah Albert sambil mengucek-ngucek mata menghilangkan rasa kantuknya.
"Tuan Albert? Ma-maaf, tadi saya ketiduran!" ucap Nadira gugup ketakutan.
"Kenapa harus minta maaf? Saya juga gak minta kamu bangun kan? Udah, lanjut aja tidurnya!" ucap Albert tersenyum.
"Eee enggak tuan, udah cukup kok!" ucap Nadira.
"Yakin? Kalau kamu masih ngantuk, tidur aja dulu Nadira jangan dipaksa buat temuin saya!" ujar Albert.
"Gapapa tuan, saya mau ketemu sama tuan dulu!" ucap Nadira agak gugup.
"Oh, segitu rindunya ya kamu sama saya? Sampai kamu rela gak mau lanjut tidur sekarang, bagus deh itu artinya kamu emang gak bisa jauh-jauh dari saya!" ucap Albert merasa senang.
"Eee..." Nadira membuang muka tersipu.
Albert tersenyum miring, menaruh kotak donat di meja lalu menghampiri Nadira dan duduk di samping wanita itu, ia mulai menggerakkan tangan membelai rambut hingga wajah Nadira dengan lembut sehingga wanita itu semakin dibuat merona.
"Kamu lucu kalo lagi malu-malu kayak gitu, bikin saya makin gemas sama kamu!" ucap Albert sambil mencubit pipi Nadira.
"Tuan, itu tuan bawa apa?" tanya Nadira berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ohh ya itu donat untuk kamu, saya sengaja belikan tadi di jalan sebagai hadiah sekaligus permintaan maaf saya ke kamu, karena belakangan ini saya jarang banget pulang ke rumah dan temuin kamu!" jawab Albert.
"Donat? Kok tuan bisa tau kalau saya suka sama donat?" tanya Nadira terkejut.
"Ya tadi saya sempat tanya ke ayah kamu, dan beliau jawab makanan kesukaan kamu itu donat! Jadi, langsung aja saya mampir ke toko donat dan belikan itu buat kamu!" jelas Albert.
"Oh gitu, tapi emang urusan tuan di kantor udah selesai? Kok tumben tuan pulang jam segini?" tanya Nadira Albert.
"Hey, kamu itu banyak tanya ya! Udah, sekarang kita sama-sama makan donat ini aja! Kamu pasti lapar kan belum makan malam?" ucap Albert.
"Iya tuan," ucap Nadira mengangguk pelan.
"Nah yaudah, biar saya suapin kamu ya!" ucap Albert.
Pria itu mengambil kotak donat dari meja, lalu bersiap menyuapi istrinya.
"Eee gausah tuan, saya..."
"Diam! Kamu udah berani bantah saya, ha?" ucap Albert memotong ucapan Nadira.
"Enggak tuan, maaf!" ucap Nadira menggeleng.
Albert tersenyum puas, ia pun mulai memberikan satu suapan donat ke dalam mulut Nadira, terlihat wanita itu cukup canggung namun merasa bahagia karena perlakuan manis Albert padanya.
...~Bersambung~...
^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^
__ADS_1