
Tliingg...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Nadira menyangka bahwa itu adalah pesan dari Albert.
"Ah itu pasti dari mas Albert!" ucapnya.
Nadira langsung mengambil ponselnya, membuka layar dan melihat siapa yang mengirim pesan ke nomornya.
Akan tetapi, raut wajahnya berubah seketika saat mengetahui pengirim pesan tersebut bukanlah Albert suaminya.
"Cakra? Kok Cakra sih?" ujarnya kesal.
"Tapi, ini Cakra kirim foto apa ya?" sambungnya.
"Buka aja ah!" Nadira pun membuka pesan tersebut dan ia langsung syok melihatnya.
"Hah??"
Nadira sangat terkejut melihat apa yang ada di layar ponselnya saat ini, sebuah foto mesra antara Albert dan Nadira benar-benar membuatnya sedih sekaligus emosi.
Air mata jatuh satu persatu membasahi daster yang ia kenakan, Nadira langsung melempar ponselnya ke sembarang tempat dan seketika menangis histeris.
"Aaaaa!!" teriaknya lalu menekuk dua lutut dan menyembunyikan wajahnya.
"Pantas aja kamu gak pulang-pulang, mas. Ternyata benar kalau kamu lagi enak-enak sama Vanessa disana. Aku kecewa banget sama kamu mas, aku kecewa! Aku pikir kamu marah sama dia, karena dia udah celakai aku. Tapi, nyatanya kamu malah mesra-mesraan sama dia!" batin Nadira.
"Aaarrgghh!!" Nadira kembali berteriak, meremass spreinya dengan kasar dan menggigit lengannya sendiri sangking histerisnya.
Praaangg...
Nadira melempar bingkai fotonya bersama Albert ke lantai hingga pecah dan berserakan disana, ia merutuki dirinya sendiri sembari menjambak rambutnya kasar.
"Kamu emang bodoh Nadira! Bisa-bisanya kamu mengharapkan cinta dari laki-laki seperti Albert, dia gak akan mungkin mencintai kamu! Dia cuma cinta sama tubuh kamu, tapi kamu malah berharap lebih dari dia!" ucap Nadira penuh emosi.
Rupanya kebisingan itu didengar oleh Abigail serta Chelsea dari luar kamarnya.
Mereka pun langsung bergerak cepat menuju kamar Nadien dan mengetuk pintu dengan keras.
TOK TOK TOK...
"Nadira, kamu kenapa Nadira? Apa itu yang pecah? Kamu baik-baik aja kan sayang?" teriak Abigail panik.
"Iya mbak, lu gapapa kan? Gue sama mama boleh ya masuk ke dalam buat cek kondisi lu?" sahut Chelsea ikut berteriak.
Nadira beralih menatap ke pintu, kemudian menyeka air matanya agar Abigail serta Chelsea tidak mengetahui bahwa ia sedang menangis sedari tadi.
"I-i-iya mah, Chelsea. Kalian masuk aja kesini, gak dikunci kok!" balas Nadira.
"Oke mbak!" ucap Chelsea dari luar.
Ceklek...
Chelsea membuka pintu, masuk ke kamar Nadira dan langsung dengan cepat menghampiri Nadira di atas ranjang untuk mengeceknya.
"Mbak, lu kenapa sih? Tadi suara pecahan apa?" tanya Chelsea cemas.
Abigail melihat bekas bingkai foto yang pecah berceceran di lantai, ia pun yakin kalau itu adalah ulah Nadira.
"Sayang, kenapa kamu banting bingkai foto kamu dengan Albert? Ada masalah lagi?" tanya Abigail yang kini sudah ada di dekat Nadira.
"Hah? Oh iya, aku baru nyadar kalau ada pecahan bingkai disini. Lu kenapa sih mbak? Ada masalah sama kak Albert?" sahut Chelsea.
"Eee enggak kok mah, Chelsea. Aku tadi gak sengaja senggol bingkai itu sampe jatuh, makanya jadi pecah deh. Maaf banget ya, aku udah bikin kaget kalian!" jawab Nadira berbohong.
"Kamu gausah bohong sayang, katakan aja yang sejujurnya sama ibu!" ucap Abigail.
"Iya mbak, lu kasih tahu aja ke kita apa yang bikin lu emosi begitu! Soalnya kita yakin kok, gak mungkin kalau cuma kesenggol bisa jadi pecah banget kayak gini. Lu lagi marah ya sama kak Albert, ada apa mbak?" ucap Chelsea.
"Eee aku sebenarnya emang lagi kesal sih sama mas Albert. Maafin aku ya mah, Chelsea! Tadi aku banting bingkai itu dan bikin kalian kaget. Abisnya aku emosi sama mas Albert!" ucap Nadira.
"Nah kan, ini nih yang udah aku duga daritadi. Kak Albert itu suka banget sih bikin lu sedih terus mbak, heran gue sama dia! Udah, lu tenang aja mbak! Biar nanti gue yang tegur dia supaya gak ngulangin perbuatannya. Sekarang lu cerita dulu ya ke gue sama ibu, siapa tahu kita bisa tenangin lu!" ucap Chelsea tersenyum.
"Iya sayang, cerita yuk sama kita!" sahut Abigail.
Nadira mengangguk pelan, mengambil nafas kemudian mulai menceritakan penyebabnya sampai emosi seperti tadi.
β’
β’
Sementara itu, Cakra merasa senang dan puas setelah mengirim foto Albert tengah bermesraan dengan Vanesa kepada Nadira.
Cakra berharap dengan ini Nadira tidak akan mau lagi tinggal bersama Albert dan kesempatan ia untuk mendapatkan hati Nadira kembali terbuka.
"Hahaha, Nadira pasti sekarang lagi marah banget sama Albert. Gue yakin kali ini mereka gak bakal mungkin bisa berbaikan lagi, gue harus terus panasin Nadira!" ucap Cakra.
__ADS_1
Disaat Cakra hendak mengirim pesan untuk Nadira, tiba-tiba ponselnya berdering.
Drrttt drrttt...
"Hah? Vanesa ngapain sih telpon gue? Apa dia disuruh sama si Albert itu buat cari tau gue ada dimana?" gumam Cakra.
"Kira-kira gue angkat dulu apa enggak ya? Gue ngeri juga sih kalo ini jebakan Albert," ujarnya.
Akhirnya Cakra memutuskan mengangkat sejenak telpon dari Vanesa, walau ia merasa kurang yakin bahwa yang menelponnya adalah Vanesa sendiri.
π"Halo! Siapa nih?" ucap Cakra ketus.
π"Halo Cakra! Kamu kok malah tanya sih? Emang kamu gak save nomor aku selama ini? Jahat banget sih, padahal kita kenal udah lumayan lama loh Cakra!" ujar Vanesa.
π"Gue save kok, tapi gue khawatir aja kalo tadi yang telpon gue si Albert." ucap Cakra.
π"Ohh, pasti karena kamu takut kan sama Albert? Kamu cemas karena sekarang kamu lagi dicari-cari sama Albert? Aduh Cakra, lagian suruh siapa sih kamu pake ngikutin kita ke apartemen tadi? Mau apa kamu emang?" ucap Vanesa.
π"Dengar ya Vanesa, yang gue lakuin tadi tuh juga termasuk membantu lu supaya bisa dekat sama Albert. Gue udah ambil foto kalian sewaktu Albert cium perut lu, dan gue juga udah kirim foto itu ke Nadira. Gue yakin sebentar lagi mereka pasti bakal berpisah, dan lu harus berterimakasih sama gue untuk itu!" jelas Cakra.
π"Nah kan, aku udah tebak kalau tadi kamu berbuat yang enggak-enggak. Ternyata benar, kamu itu sangat licik ya Cakra!" ucap Vanesa.
π"Oh jelas, gue emang licik. Tapi, tetap aja lu masih lebih licik dari gue. Sekarang mending lu jangan telpon-telpon gue lagi, gue gak mau Albert sampai tau tentang itu!" ucap Cakra.
π"Ya ya ya, lanjutkan aja rencana kamu! Apapun itu, pasti aku dukung kalau menyangkut perpisahan Nadira dan Albert." kata Vanesa.
π"Okay, lu tenang aja!" ucap Cakra singkat.
Tuuutttt...
Cakra menutup telponnya, lalu tersenyum sejenak sebelum mengirim pesan untuk Nadira.
Akan tetapi, Cakra cukup kaget saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
Pukkk...
Sontak Cakra reflek menoleh ke belakang, ia menganga lebar saat melihat sosok Keenan tengah berdiri disana menatapnya.
"Halo Cakra! Apa kabar?" ucap Keenan tersenyum smirk.
"Keenan? Ngapain lu disini? Tahu darimana kalo gue ada disini?" tanya Cakra terkejut.
"Kenapa? Anda pasti kaget ya lihat saya ada disini? Hahaha, dengar ya Cakra saya ini bisa tahu dimana anda berada walau saya tidak berdekatan dengan anda." ucap Keenan.
"Sial! Gimana caranya Keenan bisa tahu kalau gue ada disini? Gue harus berhati-hati nih, gue gak boleh sampai salah bicara!" batin Cakra.
"Cakra, saya sudah peringatkan anda untuk tidak ikut campur ke dalam urusan rumah tangga tuan Albert dan juga Bu Nadira. Tapi, anda selalu saja tak memperdulikan itu dan masih tetap ingin mendekati Bu Nadira." kata Keenan.
"Oleh karena itu, kali ini saya pastikan anda akan menyesal telah melakukan itu semua! Karena saya akan membawa anda untuk menemui tuan Albert," sambung Keenan dengan tegas.
"Hahaha, lu jangan ngancam gue Keenan! Gue gak pernah takut sama ancaman lu!" ujar Cakra.
"Ini bukan sekedar ancaman belaka, tapi ini juga sebuah tindakan nyata yang akan saya lakukan untuk menangkap anda." ucap Keenan.
"Itu gak akan pernah terjadi!" ucap Cakra.
Cakra langsung menyingkirkan tangan Keenan dari bahunya, dan berlari kencang menuju mobilnya.
"Hey tunggu!" teriak Keenan.
Keenan pun berusaha mengejarnya, tetapi gagal karena Cakra sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.
Akhirnya Keenan terpaksa harus mengejar Cakra mengenakan mobil miliknya, mereka pun terlibat aksi kejar-kejaran.
β’
β’
Albert tiba di rumahnya, ia turun dari mobil dengan cepat dan masuk ke dalam tergesa-gesa. Albert sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nadira, istrinya tersebut.
Akan tetapi, saat ia hendak masuk ke kamar tiba-tiba saja mamanya muncul dari dalam sana dan menatap tajam ke arahnya.
Albert yang tidak tahu apa yang terjadi disana, pun merasa bingung saat ditatap begitu oleh mamanya. Albert tak mengerti mengapa Abigail bisa sampai semarah itu padanya.
"Mah, mama kenapa tatap aku kayak gitu? Aku salah apa lagi?" tanya Albert heran.
"Pake nanya lagi, mama gak habis pikir sama kamu Albert!" geram Abigail.
"Kenapa sih mah? Kayaknya aku selalu salah deh di mata mama, emangnya aku ngelakuin apa coba?" tanya Albert tak mengerti.
"Kamu gausah pura-pura gak ngerti gitu! Mama, Chelsea dan Nadira sudah tahu apa yang kamu perbuat dengan Vanesa di apartemen tadi." kata Abigail murka.
"Hah? Emangnya apa yang aku lakuin? Aku gak ngerasa berbuat apa-apa kok sama Vanesa, mama jangan ngaco deh!" elak Albert.
"Benar-benar kamu ya Albert!" geram Abigail.
__ADS_1
Plaaakk...
Abigail menampar wajah Albert dengan kasar, pria itu sangat syok dan memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan itu.
"Mah, mama kenapa sih? Kok mama tega tampar pipi aku kayak gitu?" tanya Albert.
"Itu belum seberapa, tamparan mama barusan tuh memang pantas untuk kamu dapatkan Albert! Bahkan kalau bisa, mama akan lakukan yang lebih dari itu ke kamu!" ujar Abigail.
"Maksud mama apa sih?" tanya Albert heran.
"Dengar ya Albert, sekarang ini Nadira lagi sedih dan marah banget sama kamu. Sampai-sampai dia sempat membanting bingkai foto kalian berdua ke lantai hingga pecah, itu tandanya Nadira benar-benar kecewa sama kamu!" jawab Abigail.
"Hah? Kenapa gitu? Nadira tahu kalau aku anterin Vanesa ke apartemen? Duh mah, aku kan udah bilang jangan kasih tahu Nadira dulu!" ujar Albert.
"Ini bukan salah mama, tapi salah kamu sendiri. Untuk apa kamu pake peluk-peluk dan cium-cium perut Vanesa disana? Asal kamu tahu Albert, itu bikin Nadira sakit hati!" ucap Abigail.
"Apa? Nadira tahu darimana soal itu, mah?" tanya Albert bingung.
"Gak penting dia tahu darimana, yang penting kamu itu harus bisa merubah sikap kamu supaya gak selalu bikin Nadira kecewa!" ucap Abigail.
"Mah, aku bisa jelasin semuanya. Aku benar-benar gak berniat bikin Nadira kecewa, semua itu terjadi begitu saja tanpa keinginan aku." kata Albert.
"Halah, kamu itu kerjanya selalu aja ngeles! Mama udah gak percaya lagi sama kamu, untuk kali ini kamu udah kelewatan! Vanesa harusnya kamu beri hukuman, bukannya malah kamu peluk dan cium begitu!" ujar Abigail.
"I-i-iya mah, aku tahu emang aku salah udah turuti kemauan Vanesa. Tapi, itu semua aku lakuin demi anak aku yang ada di rahim Vanesa. Aku gak ada niat sama sekali buat bikin Nadira kecewa, beneran deh mah!" ucap Albert.
"Sudahlah Albert, sebaiknya sekarang kamu merenung dulu dan jangan temui Nadira! Dia masih butuh waktu untuk sendiri, kamu jangan ganggu dia saat ini!" ujar Abigail.
"Tapi mah, aku mau ketemu Nadira dan masalah ini harus segera diselesaikan!" ucap Albert.
"Gak bisa, mama gak kasih izin buat kamu lakuin itu!" tegas Abigail.
"Mah, ayolah!" bujuk Albert.
Abigail menggeleng saja, lalu menarik tangan Albert dan membawanya pergi dari sana menjauhi kamar Nadira.
β’
β’
Keenan dan Cakra masih terlibat dalam proses kejar-kejaran, mobil keduanya melaju sangat kencang di jalanan yang sudah sepi karena hari juga sudah gelap.
Cakra tampak panik dan cemas saat mobil Keenan terus-terusan mepet ke arahnya.
"Gawat! Gue gak boleh sampai ketangkap, gue masih pengen hidup bebas supaya gue bisa deketin Nadira terus!" gumamnya.
Akhirnya Cakra menginjak gas sampai penuh, ia terus menambah kecepatan mobilnya.
"Lu gak bakal bisa tangkap gue, Keenan! Lu salah udah ngejar gue, gue ini kan mantan pembalap profesional." ujar Cakra.
Drrttt.. drrttt..
Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat konsentrasi Cakra kacau balau.
"Aaarrgghh mau apa sih Vanesa telpon gue lagi?!" geram Cakra.
Cakra pun mengambil ponselnya, mengangkat telpon itu dengan cepat sambil satu tangan yang lain fokus memegang setir.
π"Halo! Ada apa lagi sih? Kan gue udah bilang, jangan telpon gue terus!" geram Cakra.
π"Iya iya, maaf banget ya Cak! Emangnya sekarang lu lagi dimana sih?" ujar Vanesa.
π"Lu gak perlu tau, udah ya jangan pernah telpon gue lagi!" ucap Cakra.
π"Ih tapiβ"
Tuuutttt tuuutttt...
Cakra langsung menutup telponnya dan melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Ganggu aja tuh cewek!" umpatnya kesal.
Tiiinnnn...
Cakra melongok lebar saat sebuah truk besar muncul dari belokan.
"Aaaaa!!" teriak Cakra dan spontan membanting setir lurus hingga menabrak pembatas jalan.
Mobil yang ia kendarai pun terguling, terlempar ke sungai di bawah sana dan terbawa arus.
Ciiitttt...
Keenan reflek menginjak rem ketika menyaksikan apa yang baru terjadi di depan matanya, nafasnya masih tidak karuan dan matanya juga terus terbelalak.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...