Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Jaga putraku!


__ADS_3

"Mah, pak, Bu, barusan Nadira bilang sama saya kalau dia mau ketemu sama kalian." ucap Albert.


"Apa? Jadi, Nadira sudah sadar?" tanya Abigail.


"Iya mah, Nadira udah sadar kok dan dia baik-baik aja." jawab Albert.


"Oh syukurlah! Kalo gitu mama sama pak Hendra dan Bu Lastri mau masuk ya?" ucap Abigail.


"Iya mah, silahkan!" ucap Albert.


Abigail beserta Suhendra dan Sulastri pun masuk secara bersama-sama ke dalam sana untuk menemui putri mereka.


Sementara Albert tetap disana bersama Chelsea, ia tersenyum singkat lalu menitikkan air mata saat mengingat kondisi bayinya.


"Kak, kakak jangan sedih ya! Kita doakan aja supaya anak kakak gak kenapa-napa!" ucap Chelsea sembari memegang pundak abangnya.


"Iya Chelsea, itu juga yang kakak harapkan." ucap Albert menahan tangisnya.


Albert pun menyandarkan tubuhnya di tembok, ia pejamkan matanya sejenak seraya menghembuskan nafas perlahan untuk menenangkan dirinya.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia pun bergegas membuka mata dan mengecek siapa yang menelponnya.


Terdapat nama Vanesa disana, seketika ia teringat bahwa Vanesa juga sedang melahirkan putranya di rumah sakit itu.


"Vanesa ini mau apa sih?" batinnya.


Akhirnya Albert pamit pada Chelsea untuk mengangkat telpon itu sejenak.


"Chelsea, kakak ke toilet dulu ya?" ucap Albert.


"Ah iya kak," ucap Chelsea singkat.


Albert bergegas pergi sembari mengangkat telpon dari Vanesa karena penasaran.


📞"Halo Vanesa! Ada apa?" ucap Albert.


📞"Halo pak! Ini kami suster yang merawat Bu Vanesa, alias istri bapak. Kami mau mengabarkan kalau bu Vanesa telah berhasil melahirkan putranya dengan selamat," ucap seseorang di sebrang sana yang ternyata perawat Vanesa.


"Kurang ajar emang Vanesa! Bisa-bisanya dia bilang ke suster kalau saya ini suaminya!" umpat Albert dalam hati.


📞"Ya ya, lalu kenapa?" tanya Albert dengan malas.


📞"Tapi, kondisi Bu Vanesa tiba-tiba drop pak. Beliau meminta bapak untuk segera kembali kesini dan menemuinya sebentar," jawab perawat itu.


📞"Yaudah, bilang sama dia kalau saya akan kesana sekarang!" pinta Albert.


📞"Baik pak!" ucap perawat itu.


Tuuutttt tuuutttt...


Albert langsung memutus telponnya, lalu mempercepat langkahnya menuju ruang bersalin tempat Vanesa berada.


Tanpa ia sadari, rupanya Chelsea mengikutinya dari belakang karena ia tahu bahwa kakaknya itu tidak sedang ingin pergi ke toilet.


•


•


Setibanya di kamar Vanesa, Albert langsung diarahkan oleh sang perawat untuk menemui Vanesa yang tengah terbaring lemah disana.


"Silahkan pak, istri bapak ada disana!" ucap suster itu.


"Terimakasih sus!" ucap Albert singkat.


Albert pun melangkah dan berhenti tepat di samping tubuh Vanesa.


Ia tatap wanita yang terbaring lesu di hadapannya itu dengan penuh kasihan.


Kondisi Vanesa saat ini benar-benar membuat Albert tidak tega saat melihatnya.


"Vanesa.." ucap Albert lirih.


Wanita itu menoleh secara perlahan ke arahnya, memicingkan senyum saat mengetahui pria yang ia sayangi ada di dekatnya.


"A-albert? Akhirnya kamu datang," ucap Vanesa.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Albert lembut.


Vanesa menggeleng perlahan, "Tidak. Aku ini cuma pengen lihat kamu ada di sebelah aku, apa kamu gak mau gendong anak kita? Dia udah lahir loh, dia setampan kamu Albert." ucapnya.


"Oh ya? Dimana dia sekarang?" tanya Albert sambil celingak-celinguk.


"Dia tadi dibawa sama perawat, tapi aku bisa minta perawat buat bawa lagi anak kita kesini. Kamu tunggu sebentar ya!" ucap Vanesa.


Vanesa hendak bangkit dari tidurnya, namun segera dicegah oleh Albert.


"Eh eh eh, jangan maksa dong! Kamu itu lagi sakit, jadi istirahat aja ya! Biar nanti aku sendiri yang bilang sama perawatnya, kamu disini aja jangan kemana-mana!" pinta Albert.


"Ka-kamu serius?" tanya Vanesa tak percaya.


"Iya, sangat serius!" jawab Albert.


Vanesa pun tersenyum lebar mendengar jawaban Albert, sedangkan pria itu mencolek pipi Vanesa sekilas lalu berbalik menemui perawat disana.


"Uhuk uhuk...awhh sakit!" rintih Vanesa sembari memegangi perut bawahnya.


•


•


"OWEEE OOWEEE..."


Albert menghampiri seorang perawat yang tengah menggendong bayi di depannya, ia mengira bahwa bayi itu adalah putranya.


"Eee permisi sus!" ucap Albert.


"Eh iya pak, kenapa?" tanya perawat itu.


"Saya mau tanya, anak saya dimana ya? Kata Vanesa tadi anak saya dibawa suster," ujar Albert.


"Oh iya pak, ini anak bapak." ucap perawat itu.


"Hah?" Albert cukup terkejut mendengarnya.


Albert pun terpukau dengan ketampanan putranya, benar-benar sangat tampan pikirnya.

__ADS_1


"Sus, boleh gak saya gendong anak saya?" tanya Albert sambil tersenyum penuh harap.


"Silahkan pak!" jawab perawat itu.


Dengan perlahan dan hati-hati sekali, Albert mengambil putranya dari sang suster lalu menggendongnya.


"Ututu jangan nangis lagi ya sayang! Ini papa, kamu tenang ya!" ucap Albert.


Seketika bayi itu terdiam, seakan menurut dan mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya.


"Wah pak, anaknya langsung diem!" ujar suster itu.


"Iya sus, saya juga gak nyangka." kata Albert.


"Selamat ya pak! Anak bapak lahir dengan sehat dan dalam keadaan normal," ucap suster itu.


"Ah iya, terimakasih!" ucap Albert singkat.


"Putraku memang sehat, tapi tidak dengan putriku. Bagaimana kondisi dia sekarang? Semoga saja dia juga gak kenapa-napa!" batin Albert.


"Eee sus, kalo gitu saya boleh kan bawa putra saya ini ketemu mamanya disana?" tanya Albert.


"Boleh kok pak, silahkan!" jawab suster itu.


"Makasih sus! Ayo sayang, kita temuin mama kamu ya!" ucap Albert.


Albert berbalik dan pergi menghampiri Vanesa.


Suster itu tiba-tiba menitikkan air mata tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Albert.


"Kasihan sekali!"


•


•


Albert kembali menemui Vanesa sembari membawa putranya di dalam gendongannya.


"Ututu lucu banget anak papa!" ujarnya.


Vanesa pun tersenyum bahagia menyaksikan Albert tengah menggendong putranya dan tertawa ria di depan matanya.


Seketika rasa sakit yang ia rasakan hilang begitu saja berganti menjadi sebuah kebahagiaan yang cukup mendalam.


"Vanesa, anak kita tampan ya?" ucap Albert.


"Iya Albert, dia memang tampan sama seperti kamu." ucap Vanesa.


"Ahaha, bisa aja kamu. Oh ya, saya minta maaf ya karena tadi saya tinggalin kamu! Tadi itu saya harus temani Nadira di atas, dia kebetulan hari ini juga melahirkan." ucap Albert.


"Serius? Selamat ya Albert, berarti sekarang kamu udah punya dua anak sekaligus deh!" ucap Vanesa.


"Terimakasih! Tapi, kondisi putri saya dan Nadira tidak baik-baik saja. Dia lahir tanpa menangis, lalu detak jantungnya juga lemah sekali." ucap Albert.


Vanesa turut merasa iba melihat Albert bersedih.


"Jangan sedih ya Albert! Aku yakin putri kamu pasti baik-baik aja!" ucap Vanesa.


"Aamiin aamiin!" ucap Albert tersenyum tipis.


"Eh ya, kamu udah kasih dia nama belum?" tanya Albert pada Vanesa.


"Loh kenapa?" tanya Albert heran.


"Aku maunya kamu aja yang kasih nama," jawab Vanesa sambil tersenyum.


"Kok gitu? Saya aja belum mikirin nama apa-apa, jadi saya bingung." ujar Albert.


"Gapapa, kamu bisa kasih dia nama nanti-nanti." kata Vanesa.


"Iya deh, saya mau pikir-pikir dulu." ucap Albert.


Vanesa mengangguk pelan disertai senyuman yang terus terpampang di bibirnya.


Tiba-tiba saja perutnya kembali terasa sakit, membuat Vanesa memejamkan mata dan berusaha sekuat mungkin menahannya.


"Umm, Albert! Aku mau bicara serius sama kamu," ucap Vanesa.


"Bicara apa sih? Daritadi kita juga udah bicara, gausah pake izin segala kali!" ujar Albert.


"Aku mau minta tolong sama kamu, buat jaga anak kita ini! Aku mohon, cintai dan rawat dia sebaik mungkin!" pinta Vanesa sambil menangis.


Albert langsung terheran-heran mendengarnya, ia menatap bingung terlebih saat sadar bahwa Vanesa sudah mengeluarkan air mata.


"Kamu kenapa bicara begitu? Kayak seakan-akan kamu gak bisa jaga dia. Hey dengar ya, dia ini anak kamu loh! Jadi, kamu lah yang harus jaga dia Vanesa!" ujar Albert.


"Ya, aku ngerti. Tapi, jikalau sewaktu-waktu aku gak bisa jaga dia, tolong kamu gantiin posisi aku ya buat jaga dan rawat dia! Aku gak mau anak aku merasakan penderitaan yang sama seperti aku, dia harus bahagia Albert!" ucap Vanesa.


"Vanesa ini bicara apa sih? Saya heran banget," batin Albert.


"Albert, aku mohon ya sama kamu!" ucap Vanesa.


"Eee iya Vanesa, saya akan jaga dia sebaik mungkin dan saya tidak akan mungkin kecewakan kamu!" ucap Albert tersenyum tipis.


"Syukurlah!" ucap Vanesa merasa lega.


Wanita itu mengarahkan pandangan ke wajah putranya, lalu perlahan mengusapnya lembut.


"Aku mau cium dia dong Albert," pinta Vanesa.


"Okay!" ucap Albert.


Tanpa rasa heran, Albert mendekatkan bayi itu ke arah Vanesa dan Vanesa langsung mengecup kening putranya dengan lembut.


Cupp!


"Jadi anak yang sholeh ya nak, jangan susahkan papa kamu!" ucap Vanesa.


Albert melirik mata Vanesa, kini ia tahu wanita itu tengah menahan rasa sakit yang amat sangat.


"Kamu kenapa Vanesa?" tanya Albert heran.


Vanesa menoleh ke arah Albert sambil tersenyum dan bertingkah seolah-olah ia baik-baik saja.


"I'm fine, thanks for your time! Maaf karena aku sering bikin masalah di kehidupan kamu, Albert!" ucap Vanesa.


"No problem, itu cuma masa lalu." ucap Albert.


Vanesa pun meraih tangan Albert dan menggenggamnya, lalu perlahan-lahan memejamkan matanya.

__ADS_1


Albert masih fokus pada putranya sampai tak sadar bahwa Vanesa sudah tak sadarkan diri.


Sampai saat tangan wanita itu meregang dari genggamannya, Albert pun bingung dan langsung menatap wajah Vanesa.


"Hah? Vanesa? Kamu kenapa?"


•


•


Dokter Fadila beserta dua orang perawat di belakangnya menghampiri Abigail dan kedua orang tua Nadira di kamar rawat itu.


Mereka hendak menyampaikan kabar duka mengenai kondisi bayi Nadira kepada orang-orang itu.


Walau sulit dan masih belum bisa menerima semuanya, namun dokter Fadila tetap harus mengatakan itu dengan jujur pada mereka.


"Permisi Bu, pak!" ucap dokter Fadila.


"Eh iya dok, ada apa?" tanya Abigail penasaran.


"Bisa kita bicara sebentar?" ucap dokter Fadila.


"I-i-iya, bisa kok." ucap Abigail.


"Mari Bu, kita bicara!" ucap dokter dokter Fadila.


"Ah iya," ucap Abigail.


Abigail pun pamitan sejenak pada Nadira dan kedua orangtuanya, lalu pergi mengikuti dokter Fadila yang sudah melangkah lebih dulu.


"Eee ada apa ya dok?" tanya Abigail pada dokter Fadila.


"Begini Bu, sebelumnya saya mau minta maaf sama ibu karena saya dan seluruh pihak medis yang bertugas telah gagal menyelamatkan nyawa cucu pertama ibu!" jawab dokter Fadila dengan rahang bergetar.


"Hah? Apa?? Maksud dokter?" ujar Abigail terkejut bukan main.


Dokter Fadila tampak ragu menjelaskan semuanya, ia menoleh sejenak ke arah dua perawat di belakangnya sebelum kembali menunduk.


"Dok, apa yang dokter bilang barusan? Maksudnya apa?" tanya Abigail kebingungan.


"Dok, jawab dok! Tolong jangan diam saja! Apa maksud dokter bicara begitu tadi?" sambungnya.


"I-i-iya Bu, kami tidak bisa menahan nyawa cucu ibu lebih lama lagi. Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Tuhan berkehendak lain Bu. Maafkan kami, cucu ibu telah meninggal dunia!" jelas dokter Fadila.


"Enggak dok, dokter bercanda doang kan?! Ini semua gak benar kan dok? Cucu saya gak mungkin meninggal dok, gak mungkin!" ujar Abigail.


Abigail tampak tak percaya dengan ucapan sang dokter, ia pun terus menggeleng sembari meneteskan air mata dan menutup mulutnya sendiri.


"Dok, tolong bilang sama saya kalau ini semua cuma bercanda! Cucu saya masih hidup kan dok? Dia gak meninggal kan dok?" ucap Abigail.


"Maaf Bu! Tapi, memang itulah yang terjadi. Sekali lagi kami mohon maaf!" jawab dokter Fadila.


Abigail terus menggelengkan kepalanya, air mata juga sudah mengalir deras membasahi wajahnya dan tak mampu dibendung lagi.


•


•


Sementara itu, Nadira masih bersama kedua orangtuanya di kamar rawat dan tengah berbaring seperti sebelumnya untuk beristirahat.


Namun, pikiran Nadira mendadak cemas tak karuan memikirkan putrinya. Entah mengapa ia merasa khawatir pada putrinya saat ini.


"Bu, pak, mas Albert kemana ya?" tanya Nadira.


"Sayang, kamu emangnya mau ketemu sama suami kamu? Kalau iya, biar ayah ke depan temui dia dan bilang supaya dia bisa masuk kesini." ucap Suhendra.


"Iya pak, aku mau ketemu mas Albert. Aku pengen tanya soal kondisi putri aku," ucap Nadira.


"Yaudah, kamu sabar ya sayang! Bapak cek ke depan dulu, kamu tunggu disini aja sama ibu kamu!" ucap Suhendra.


"Iya pak," ucap Nadira mengangguk pelan.


"Bu, bapak keluar sebentar ya? Titip Nadira!" ucap Suhendra pada istrinya.


"Gak perlu bilang begitu, ibu juga pasti akan jagain putri ibu tercinta ini pak!" ucap Sulastri.


"Iya Bu iya, bapak percaya." kata Suhendra.


Suhendra pun berjalan keluar dari kamar itu, sedangkan Nadira serta Sulastri tetap disana menunggu kabar dari Suhendra.


"Sayang, kamu tenang ya! Insyaallah putri kamu akan baik-baik aja!" ucap Sulastri.


"Iya Bu, aamiin! Tapi, gak tahu kenapa aku masih ngerasa cemas aja. Aku pengen lihat langsung wujud putri aku, supaya aku bisa tahu kalau dia baik-baik aja!" ucap Nadira.


"Sabar ya sayang! Mungkin nanti Albert akan kembali bersama putri kamu," ucap Sulastri.


"Iya deh Bu, semoga!" ucap Nadira lesu.


Sulastri berusaha menenangkan Nadira dengan cara memeluk dan mengusap lengan putrinya itu dari samping.


•


•


Ceklek...


Suhendra yang baru keluar dari kamar, terkejut saat melihat Abigail menangis histeris dan terus meneriakkan cucunya di depan dokter serta para perawat.


Suhendra pun kebingungan, ia berusaha mencerna apa maksud Abigail mengatakan itu.


"Dok, ini semua gak benar kan? Dokter cuma lagi bercanda sama saya kan? Cucu saya masih hidup kan dok? Iya kan?" ucap Abigail histeris.


"Bu, tenang ya! Ibu harus ikhlas!" ucap suster disana.


Deg!


Mendengar itu, Suhendra langsung syok berat dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Apa ini? Kenapa Bu Abigail bilang seperti itu? Ada apa sebenarnya dengan cucuku?" batin Suhendra.


Karena rasa penasarannya, Suhendra pun bergerak menghampiri mereka disana dengan raut wajah kebingungan.


"Eee maaf dok, Bu Abigail, kalau saya lancang! Tapi, saya cuma mau tanya aja maksud perkataan ibu tadi apa ya? Memangnya kenapa dengan cucu kita, Bu?" tanya Suhendra penasaran.


Abigail terbengong saja menatap wajah Suhendra dengan air mata yang sudah menggenang.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2