Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Kedatangan mama


__ADS_3

Johan kembali ke ruangan bosnya menemui sosok Harrison yang tengah duduk disana, ia membawa sebuah berkas berisi laporan mengenai identitas Keenan, selaku asisten pribadi Albert.


Ceklek...


"Permisi bos! Saya sudah berhasil mendapatkan informasi lengkap tentang kepribadian Keenan, semuanya ada di berkas ini!" ucap Johan.


"Bagus, terimakasih Johan! Kali ini kamu berhasil menyelesaikan tugas kamu dengan baik, memang kamu bisa diandalkan untuk tugas seperti ini! Yasudah, kamu boleh pergi dan biarkan saya membaca isi berkas ini sendirian!" ucap Harrison tersenyum puas.


"Baik bos! Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Johan pamitan.


Harrison hanya mengangguk dan segera mengambil berkas yang diberikan Johan tadi, ia pun langsung membukanya begitu Johan telah pergi dari ruangannya.


Pria tua itu tersenyum menyeringai begitu mengetahui bahwa Keenan memiliki seorang adik perempuan yang masih bersekolah, ya kini otaknya semakin encer menemukan cara untuk bisa menyingkirkan Keenan dari kehidupan Albert.


"Hahaha ini sebuah informasi yang bagus! Saya bisa menculik Celine, dengan begitu Keenan pasti akan sangat marah dan saya bisa mudah menyingkirkan pria itu!" gumam Harrison.



Inilah Celine Leonia, sang adik dari Keenan yang masih berusia 16 tahun dan tengah duduk di bangku SMA kelas dua. Parasnya yang cantik, justru membuat Harrison terpesona dan berpikir untuk memperistrinya sekaligus membuat Keenan semakin kesal padanya.


Rencana busuk itu hinggap di kepala Harrison secara tiba-tiba, karena ia tak ingin hanya sekedar menculik dan menyekap gadis itu tanpa melakukan sesuatu padanya.


"Ya ya ya, dia lumayan cantik! Saya mungkin bisa jadikan dia istri saya nantinya! Pasti Vanesa juga setuju kok!" ujar Harrison terkekeh sendiri.


"Setuju apa?" Tiba-tiba saja Vanesa muncul dari balik pintu dan menghampiri Harrison dengan wajah penasarannya.


"Vanesa? Kenapa kamu masuk ruangan ayah gak ketuk pintu dulu, nak?" tanya Harrison masih kaget.


"Maaf yah! Abisnya aku dengar ayah sebut nama aku tadi, makanya aku penasaran dan langsung masuk aja kesini. Emang ayah lagi bicara apa sih? Kok tadi bilang kalau aku bakal setuju? Emangnya setuju soal apa?" ujar Vanesa.


"Eeee anu...." Harrison terlihat bingung tak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Vanesa, ia juga tidak yakin kalau putrinya itu mau menyetujui rencananya tadi.


Mata Vanesa terus menatap ke arah sang ayah, sampai ia menemukan sebuah dokumen berukuran sedang di atas meja itu yang sedang dipegang erat oleh ayahnya, ia pun penasaran dan coba bertanya langsung pada Harrison mengenai dokumen tersebut.


"Ayah, itu berkas apa yang ada di tangan ayah? Aku mau lihat dong, pasti itu tentang identitas pak Keenan kan yah?!" ujar Vanesa.


Vanesa yang sudah diselimuti rasa penasaran, memilih maju mendekat dan hendak meraih berkas yang ada di meja sang ayah, akan tetapi Harrison langsung menarik berkas itu dan mengangkatnya.


"Jangan!" cegah Harrison panik.


"Yah, ayah kenapa sih? Aku cuma mau lihat berkas itu doang, emang gak boleh?" tanya Vanesa heran.


"Iya jangan! Biar ayah aja yang lihat berkas ini, kamu mending keluar dan buatkan kopi untuk ayah! Kebetulan ayah haus!" ujar Harrison.


"Huft, iya deh iya."


Vanesa berbalik dan keluar dengan bibir mengerucut, ia kesal karena sang ayah tak memberinya izin untuk melihat isi dokumen itu, padahal ia sangat penasaran mengenai isi dari berkas yang dipegang ayahnya itu.


"Ish, ayah kenapa sih? Masa aku cuma mau lihat berkas itu aja gak boleh? Aku kan pengen tahu, pak Keenan itu siapa dan berasal dari keluarga mana!" gumam Vanesa dalam hati.


Setelah Vanesa keluar, barulah Harrison merasa lega dan menaruh kembali berkas itu di meja. Ia membuka berkas tersebut, melihat foto Celine sembari mengelusnya lalu tersenyum tipis, baru fotonya saja sudah membuat ia menegang saat membayangkan menyentuh tubuh gadis itu.


"Saya akan memperistri kamu, Celine!"




Sementara itu, Keenan dan Chelsea tengah menikmati semangkuk bakso bom yang ada di perempatan depan komplek tempat tinggal Keenan atau bisa disebut tempat makan langganan Keenan, karena pria itu selalu makan disana.


Chelsea memakan bakso itu dengan sangat lahap, entah karena lapar atau rasa bakso tersebut yang benar-benar enak dan membuatnya ketagihan. Sedangkan Keenan hanya tersenyum lebar menyaksikan gadisnya tampak menikmati makanan sederhana itu.


"Sayang, kamu beneran suka sama baksonya? Aku kira cewek kayak kamu gak bisa makan bakso, eh ternyata aku salah ya!" ujar Keenan terkekeh.


"Yeh masa iya aku gak bisa makan bakso? Tapi jujur deh sayang, baru kali ini aku ngerasain bakso seenak ini! Emang benar ya kata kamu, bakso disini tuh enak banget! Kak Albert harus ngerasain sih!" ucap Chelsea.


"Hahaha, boleh tuh! Kamu ajak aja tuan albert buat cobain bakso disini, sekalian sama non Nadira juga! Supaya kita bisa double date disini, ya gak sayang?" ujar Keenan tersenyum lebar.


"Hah? Uhuk uhuk..." Chelsea sontak tersedak begitu mendengar Keenan menyebut nama Nadira.


"Eh sayang, kamu kenapa? Nih diminum dulu biar enakan!" ucap Keenan langsung menyodorkan gelas minuman ke arah gadisnya.

__ADS_1


Glekk...


Chelsea meminum minumannya dengan cepat, lalu mengambil nafas panjang dan menatap Keenan.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Keenan bingung.


"Duh, kamu yang kenapa? Ngapain coba kamu pake sebut nama itu di hadapan aku?!" ujar Chelsea.


"Nama itu? Siapa? Non Nadira?" tanya Keenan.


"Ish, ya iyalah itu! Dengar ya sayang, aku tuh gak mau kamu sebut-sebut nama dia lagi!" ujar Chelsea.


"Apa salahnya? Non Nadira itu kan istri tuan Albert, bos aku. Dia juga udah jadi ipar kamu loh, Chelsea! Kenapa kamu gak suka sama dia? Apa alasannya coba?" ucap Keenan.


"Ih ya pokoknya aku gak suka aja sama dia! Karena dia cewek kampung yang gak jelas!" ujar Chelsea.


"Sayang, kamu gak boleh gitu! Biarpun non Nadira cewek kampung, tapi buktinya dia berhasil memikat hati tuan Albert kan? Itu artinya ada sesuatu yang istimewa di dalam tubuh non Nadira, dan kamu harus tau itu!" ucap Keenan.


"Ah udah lah, gausah bahas dia!" ujar Chelsea.


"Iya iya... oh ya sayang, kamu kapan mau lanjut kuliah lagi?" tanya Keenan mengalihkan pembicaraan.


"Emang kenapa? Kamu gak suka ya aku lama-lama disini? Karena kamu jadi gak bisa main cewek lagi, iya?" ujar Chelsea curiga.


"Ya ampun, gak gitu sayang! Buat apa aku main cewek coba? Aku cuma cinta kamu!" ujar Keenan.


"Alah bohong! Terus kenapa kamu tanya kayak gitu ke aku? Kamu pengen kan aku cepat-cepat balik ke luar negeri dan tinggalin kamu, supaya kamu bisa bebas main cewek disini!" cibir Chelsea.


"Enggak sayang, serius deh! Aku nanya ya karena bingung mau bicara apa selain itu, tapi kalau kamu gak suka ya udah kita bicara soal lain aja! Kamu ada ide gak?" ucap Keenan garuk-garuk kepala.


"Umm, eh ya aku lupa bilang sama kamu. Kata kak Albert tadi, malam nanti mama mau kesini loh!" ucap Chelsea.


"Hah? Kesini? Maksudnya ke rumah kamu gitu?" tanya Keenan terkejut.


"Iya, kenapa sih? Kok kayak kaget gitu?" ujar Chelsea heran.


"Eee gapapa." Keenan menggelengkan kepala, namun sebenarnya ia kepikiran dengan nasib tuannya, bagaimana jika sang mama tahu bahwa Albert sudah menikah nantinya?




Albert juga telah menyuruh Nadira memakai pakaian paling bagus dan berdandan secantik mungkin, tentu agar mamanya nanti tidak kecewa ketika melihat penampilannya, ya Albert tak mau jika mamanya menentang pernikahan ia dan Nadira seperti yang dilakukan Chelsea sebelumnya.


"Tuan, apa mamanya tuan itu bakal bisa terima saya di keluarga tuan? Aku ini kan cuma anak seorang petani desa, aku gak sebanding sama tuan yang kaya raya dan terkenal!" ucap Nadira pelan.


"Kamu gak perlu bilang seperti itu, Nadira! Saya pastikan mama akan terpesona begitu melihat kamu malam ini!" ucap Albert.


"Mengapa begitu?" tanya Nadira heran.


"Ya karena kamu sangat luar biasa Nadira! Saya akui kamu cantik sekali, mama pasti gak akan kecewa punya menantu seperti kamu! Justru mama patutnya bangga memiliki menantu yang cantik dan mempesona ini!" jawab Albert.


Pria itu terus berusaha meyakinkan Nadira, ia mengelus wajah Nadira pelan dan sesekali mengecupnya.


Cup!


Cup!


cup!


Bertubi-tubi Albert mengecup pipi Nadira, wanita itu hanya bisa pasrah sekaligus menahan malu saat dilihat oleh banyak orang yang tengah berlalu lalang di dekat mereka.


Nadira pun berusaha mendorong tubuh Albert agar menjauh, namun nyatanya Albert justru semakin memeluk erat Nadira dan berakhir dengan melumatt bibir wanita itu secara ganas di tempat yang cukup ramai orang itu.


"Mmppphhh tuan hentikan!" ujar Nadira yang masih berusaha menghentikan tindakan tuannya.


Albert akhirnya melepas bibirnya setelah seseorang menyebut namanya dari arah depan, membuat ia terkejut dan reflek menoleh.


"Albert!"


"Mama?"

__ADS_1


Ya itu adalah Abigail, mamanya yang baru datang dari negeri seberang. Bisa dibilang Albert sama sekali tak menginginkan mamanya itu kembali, bukan karena apa hanya saja Albert memang tak pernah suka pada istri baru papanya itu.


"Halo Albert! How are you?" ucap Abigail yang berhenti tepat di hadapan Albert.


"I'm fine, mah. Mama kesini sendiri? Papa mana?" tanya Albert celingak-celinguk mencari papanya.


"Papa kamu gak bisa ikut sayang, masih banyak urusan yang harus dia urus! Tapi tenang, gak lama lagi papa kamu juga bakal nyusul mama kok kesini!" jawab Abigail sambil tersenyum.


Albert sebenarnya lebih mengharapkan kehadiran papanya disana, karena sejak ibu kandung serta kakeknya meninggal tak ada siapapun lagi yang bisa menggantikan mereka kecuali papanya. Tapi apa daya, ia harus bisa menerima juga mama tirinya itu walau hatinya tidak suka.


Pandangan Abigail tertuju pada sosok wanita yang sedang dipeluk Albert, ia heran karena sebelumnya ia belum pernah melihat wanita itu.


"Albert, siapa dia?" tanya Abigail.


"Oh, kenalin mah ini Nadira, istri Albert!" jawab Albert dengan senyum melingkar di bibirnya.


"Apa? Istri? Seriously?" Abigail cukup terkejut mendengar jawaban putranya itu.


"Yes mom, ini istri Albert! Kami sudah menikah sekitar satu bulan yang lalu, bahkan sekarang Nadira juga sedang mengandung anak Albert!" ucap Albert menjelaskan pada mamanya.


"Hah? Mengandung?" ujar Abigail.


Nadira berupaya menyapa ibu mertuanya itu, walau ia tampak ragu dan khawatir kalau Abigail ternyata tidak menyukai dirinya.


"Iya, halo mah! Aku Nadira, istri tuan Albert dan memang benar aku lagi mengandung sekarang, mah!" ucap Nadira sambil tersenyum mengulurkan tangannya ke arah Abigail.


Abigail tersenyum lalu meraih tangan Nadira, mereka berjabat tangan sejenak disana.


"Ternyata kamu wanita yang lembut ya, pantas saja Albert suka sama kamu! Tapi, kenapa kamu gak kasih tahu mama kalau kamu mau nikah, Albert? Bahkan kabarin mama aja enggak, gimana sih kamu ini?" ujar Abigail.


"Maaf mah! Aku cuma gak mau ganggu waktu mama, kan mama pasti sibuk disana ngurus kerjaan mama!" jawab Albert.


"Yasudah gapapa, tapi papa kamu udah tau tentang semua ini?" tanya Abigail.


Albert menggeleng tanda kalau ia juga belum memberitahu papanya mengenai Nadira.


"Ya ampun Albert! Nadira, bisa-bisanya kamu mau diajak nikah sama Albert padahal dia gak kenalin kamu ke orangtuanya! Kalau mama jadi kamu, pasti mama gak bakal mau!" ucap Abigail.


"Eee karena aku cinta sama tuan Albert, mah! Dan lagipun, tuan Albert udah janji kalau dia akan kenalin aku ke mama sama papanya!" ucap Nadira.


"Hey, kenapa kamu panggil Albert pakai tuan? Emangnya dia tuan kamu?" tanya Abigail curiga.


Sontak Nadira terdiam menatap wajah Albert, mereka berdua tampak bingung harus menjawab apa pada mamanya.




Singkat cerita, ketiganya telah berada di dalam mobil dengan Abigail duduk di depan sedangkan Albert serta Nadira memilih di belakang untuk bisa berduaan sambil peluk-peluk.


"Ohh jadi alasan Nadira panggil kamu tuan, itu karena biar beda aja dari yang lain gitu?" ujar Abigail sembari menoleh ke belakang.


"Iya mah, jadi kesannya kan kayak di novel-novel gitu loh mah! Kalau manggil mas itu kan udah biasa, aku maunya yang beda supaya seru!" jawab Albert sambil tersenyum dan mempererat pelukannya dengan Nadira.


"Ya bagus deh! Tadinya mama kira Nadira panggil kamu tuan, karena kamu emang gak mau dianggap sebagai suaminya! Tapi, ternyata dugaan mama itu salah!" ucap Abigail.


"Ahaha ya gak mungkin lah, mah! Masa aku nikahin Nadira tapi aku gak mau dianggap suaminya? Lagian aku sayang kok sama Nadira!" ucap Albert menatap wajah wanitanya.


Cupp!


Sebuah kecupan mendarat di kening Nadira, wanita itu sangat senang dengan apa yang dikatakan Albert barusan. Namun, ia tak yakin bahwa Albert benar-benar menyayanginya dan saat ini pria itu hanya berakting di hadapan mamanya.


"Huft, seandainya tuan Albert bilang begitu serius bukan cuma akting!" batin Nadira.


"Sayang, kita mampir dulu yuk ke restoran dekat sini! Mama lapar nih daritadi belum makan, kalian pasti juga sama kan?" ucap Abigail.


"Boleh mah, sayang kamu mau kan?" ucap Albert.


"Iya tuan," Nadira mengangguk setuju.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2