
"Heh! Serahin tas lu ke gue, atau gue gorok leher lu!" ancamnya.
Nadira yang terkejut hanya bisa diam, ia menahan nafas saat pisau kecil itu diarahkan ke lehernya dan hampir menyentuhnya.
"Pak, ini maksudnya apa ya?" ujar Nadira gugup.
"Tidak usah banyak bicara! Cepat kamu serahkan semua barang-barang kamu ke saya, atau saya tidak akan segan-segan untuk menggores pisau ini di leher kamu!" ucap supir itu.
"I-i-iya pak, saya serahin kok. Tapi, tolong bapak jauhin dulu pisaunya dari saya!" pinta Nadira.
"Kamu pikir saya bodoh? Cepat serahkan saja tas itu, dan saya baru akan jauhkan pisau ini!" bentak supir itu.
"Iya pak iya.." Nadira semakin ketakutan dan tubuhnya pun mulai gemetar.
Nadira pun mau tidak mau terpaksa memberikan tas miliknya kepada sang supir.
"Ini pak," ucap Nadira seraya menyerahkan tas ke arah supir itu.
"Bagus! Tetap disitu, jangan bergerak!" tegas supir itu sembari mengambil tas dari tangan Nadira.
Sang supir tampak gembira setelah berhasil memiliki tas tersebut, ia bahkan sampai melupakan Nadira dan menjauhkan pisaunya dari leher Nadira.
Tentu saja Nadira hendak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk lepas dari si supir dan pergi dari sana.
Bughh...
Nadira berhasil menendang bagian sensitif milik si supir itu dengan kakinya hingga terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh, wanita itu langsung keluar dari dalam taksi dan mengambil pisau yang terjatuh tadi.
Kini gantian Nadira yang mengancam supir itu dengan pisau tersebut.
"Kamu jangan macam-macam ya, balikin tas saya atau kamu akan saya tusuk pake ini!" ucap Nadira menodongkan pisau ke arah si supir.
"Tenang Bu, tenang!" ujar si supir menahan sakit.
"Cepat balikin tas saya!" bentak Nadira.
"I-i-iya Bu, ini tasnya!" ucap supir itu mengalah dan memberikan tas tersebut kepada Nadira.
Setelah mendapatkan tasnya kembali, Nadira pun merasa lega dan berniat untuk pergi dari sana.
"Dengar ya, kamu jangan kejar saya atau ikuti saya! Kalau enggak, saya bakalan tusuk pisau ini ke jantung kamu!" ucap Nadira.
"Iya Bu iya, tapi jalanan disini sepi loh Bu. Emang ibu mau pergi lewat mana?" ucap si supir.
"Aku gak tahu, tapi kemanapun aku pergi itu bukan urusan kamu! Aku bisa kok pergi dari sini, awas ya jangan kejar aku lagi!" ujar Nadira.
"Baik Bu!" ucap supir itu masih kesakitan.
Nadira melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan si supir yang masih memegangi area sensitifnya akibat tendangan Nadira tadi.
Nadira tentunya tak membuang pisau di tangannya, ia membawa itu untuk berjaga-jaga kalau nantinya ada sesuatu ancaman atau bahaya lagi mengingat saat ini ia berada di jalan yang sepi.
Jalanan itu memang sangat sepi dan gelap, hampir tak ada penerangan sama sekali. Bahkan kendaraan yang lewat juga nihil, sehingga Nadira merasa kebingungan.
"Duh, aku harus kemana ya ini? Aku gak tahu ini di jalan apa!" gumam Nadira.
Nadira terus celingak-celinguk berupaya mencari bantuan untuk bisa keluar dari sana, namun tak ada siapapun yang dapat ia mintai pertolongan.
Taksi yang tadi ia tumpangi juga sudah tak terlihat, rupanya Nadira sudah cukup jauh dari si supir taksi karena ia berjalan cepat sekali.
"Apa aku coba hubungi mas Albert aja ya?" ujarnya.
Disaat Nadira mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Albert, tiba-tiba saja seseorang muncul dan mengambil ponsel itu dari belakang hingga membuat Nadira terkejut.
"Hah? Balikin hp aku!" teriak Nadira berusaha mengambil ponselnya kembali.
Pria itu hanya tersenyum, Nadira yang melihatnya amat terkejut dan mulai terbelalak disertai mulut menganga.
"Kamu...??"
•
•
Keenan dan Rio kembali menemui Albert setelah mereka berusaha mencari barang yang dicuri itu di dalam gudang milik Darius.
"Gimana? Ketemu gak?" tanya Albert.
"Ketemu kok tuan, barangnya ternyata disembunyikan dibalik kain abu-abu itu." jawab Keenan sembari menunjuk ke arah kotak milik Albert di depan sana.
"Sudah saya duga, benar ternyata kalau barang itu memang ada disini." kata Albert.
"Iya tuan, lalu apa yang kita lakukan selanjutnya?" tanya Keenan pada tuannya.
"Kamu dan anak buah kamu pindahkan barang itu ke mobil pickup di luar! Biar saya dan Rio tetap disini jaga mereka," jawab Albert.
"Baik tuan! Ayo semua!" ucap Keenan mengajak anak buahnya.
__ADS_1
"Siap bos!" ucap orang-orang itu serentak.
Keenan dan anak buahnya pun mulai bergerak memindahkan barang tersebut dari dalam gudang menuju mobil pickup yang terparkir di luar.
Sementara Albert terlihat berjongkok mendekati Darius yang sudah ia ikat di bawah sana bersama pada anak buahnya.
"Hahaha, gimana paman? Paman menyesal tidak sudah melakukan ini semua?" ujar Albert.
"Albert, lepaskan saya! Tolong jangan seperti ini, saya ini paman kamu loh Albert! Kamu tidak seharusnya bersikap begini terhadap paman kamu sendiri, itu tidak baik!" rengek Darius.
"Oh gitu ya paman? Kenapa giliran sekarang paman baru anggap aku keluarga paman? Tadi kemana aja paman?" tanya Albert menyindir halus.
"Albert, saya mohon sama kamu ampuni saya!" ucap Darius terus merengek.
"Itu tidak akan terjadi paman, karena paman sendiri yang meminta saya melakukan ini. Jadi, paman terima saja resikonya!" ucap Albert tersenyum smirk.
"Apa yang mau kamu lakukan Albert?" tanya Darius.
Albert berdiri tegak kembali, tersenyum sembari menatap wajah pamannya dan membuat Darius semakin ketakutan.
"Apa saja bisa saya lakukan paman, apalagi paman sudah membuat saya kesal." kata Albert.
Rio yang sedari tadi berdiam diri di samping Albert, kini melangkah lebih dekat dan berbisik kepada Albert.
"Bert, memangnya mau kamu apakan paman kamu ini? Kamu tidak berpikir untuk menyiksa mereka bukan?" bisik Rio.
"Kalau itu bisa saya lakukan, kenapa tidak Rio? Saya kan sudah bilang, saya akan berikan sesuatu yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh paman Darius dalam waktu yang singkat." balas Albert.
Albert sengaja mengeraskan suaranya agar Darius bisa mendengar dan semakin merasa cemas.
Tak lama kemudian, Keenan kembali setelah selesai memindahkan barang itu.
"Tuan, kami sudah selesai memindahkan barang itu ke dalam mobil. Apa kami bisa membawa barang itu sekarang?" ucap Keenan.
"Ya, perintahkan dua orang anak buahmu untuk membawa barang itu ke tempat saya! Lalu, kamu bersama yang lainnya ikut dengan saya!" titah Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan.
Keenan pun memerintahkan dua orang anak buahnya untuk membawa barang milik Albert ke tempat yang sudah diberitahukan.
Setelahnya, Albert meminta pada Keenan untuk membantunya membawa Darius beserta para anak buahnya dari sana.
"Keenan, ayo kita bawa orang-orang ini dari sini!" ucap Albert.
"Baik tuan! Tapi, kemana kita akan bawa mereka tuan?" tanya Keenan penasaran.
Sontak Darius melongok lebar dibuatnya, ia sangat ketakutan dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
•
•
Sementara itu, Chelsea merasa bingung dan cemas memikirkan nasib Nadira saat ini.
Entah mengapa Chelsea tiba-tiba merasa bersalah karena sudah menjebak Nadira dan bekerjasama dengan Vanesa untuk mencelakai Nadira, kakak iparnya sendiri.
Akibatnya, Chelsea pun terus mondar-mandir di depan salon sembari menggaruk kepalanya dan memegangi ponsel di tangannya.
"Duh, kira-kira Nadira udah ditangkap belum ya sama papanya Vanesa? Haish, kok gue malah jadi gak tenang gini ya? Kenapa tiba-tiba gue jadi kepikiran sama Nadira coba? Ngapain juga gue perduli sama dia?" gumam Chelsea.
"Aaarrgghh!! Gue takut banget kalau sampai Nadira kenapa-napa, terus kak Albert tahu dia pasti bakal nyalahin gue! Malah lebih gawat lagi, kak Albert bisa aja hukum gue!" ujarnya.
Gadis itu tidak bisa diam, ia bahkan sampai menggigit ujung ponselnya karena panik.
"Apa gue coba hubungin kak Albert aja ya terus kasih tahu kalau Nadira pergi? Jadi, dengan begitu kan kak Albert gak bakal nyalahin gue. Dan gue bisa aman dari hukuman," ucapnya.
"Tapi, kalau kak Albert tanya Nadira pergi kemana gimana ya? Apalagi kalau dia tahu bahwa Nadira itu gue yang ajak ke salon," sambungnya.
"Haish, pusing banget gue!" geram Chelsea.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya dan seorang pria turun dari sana.
Mata Chelsea menangkap sosok pria tua berambut putih itu tengah melangkah ke arahnya bersama seorang wanita di sampingnya, yang tentu saja ia kenali sebagai Vanesa.
"Pah, ini dia Chelsea alias adik Albert yang sempat aku ceritakan waktu itu. Pak Darius juga yang ajak dia bekerjasama dengan kita," ucap Vanesa.
Sontak Harrison mengarahkan pandangannya ke arah Chelsea dengan tatapan tajam.
"Maaf, anda siapa ya? Lalu, mau apa anda dengan saya? Vanesa, ada apa ini? Siapa dia?" tanya Chelsea kebingungan.
"Kamu tidak perlu takut, Chelsea! Ini papa aku, papa Harrison." jawab Vanesa.
"Ohh aku kira siapa, maaf maaf!" ucap Chelsea.
"Tidak apa-apa, kenalkan saya Harrison!" ucap Harrison mengenalkan diri.
"Iya om, aku Chelsea." kata Chelsea.
__ADS_1
Mereka saling berjabat tangan, Harrison tampak memicingkan senyum di wajahnya dan diikuti pula oleh Chelsea.
"Nah Chelsea, papa aku ini mau bicara sama kamu terkait rencana kita malam ini yang gagal." kata Vanesa.
"Gagal? Maksud kamu apa?" tanya Chelsea tak mengerti.
"Nadira berhasil kabur dari taksi yang dia tumpangi, begitu saya tiba di lokasi sesuai perjanjian saya dengan supir taksi itu, ternyata Nadira sudah tidak ada disana. Bahkan, orang saya itu terluka dan tidak tahu kemana Nadira pergi." jelas Harrison.
"Hah? Kok bisa sih? Padahal Nadira itu cuma sendiri loh, dia juga lagi hamil. Jadi, harusnya dia gak bisa pergi jauh apalagi sampai bisa melukai supir suruhan om!" ujar Chelsea.
"Iya itu dia yang aku pikirkan juga, tapi nyatanya Nadira memang sudah kabur." kata Vanesa.
"Aduh! Kemana ya Nadira..??" gumam Chelsea.
"Saya yakin, ada seseorang yang membantu dia untuk meloloskan diri dari kejaran saya! Karena di jalan itu sangat sepi, dan tidak mungkin Nadira bisa menghilang begitu saja tanpa bantuan orang." kata Harrison.
"Tapi, kira-kira siapa yang bantu Nadira ya om?" tanya Chelsea heran.
Harrison menggeleng tanda bahwa ia juga tidak tahu siapa yang sudah menolong Nadira dan membawa gadis itu pergi darinya.
•
•
Albert pulang ke rumahnya sesudah membawa Darius beserta anak buahnya itu ke tempat penyekapan.
Albert tampak tersenyum ceria saat memasuki rumahnya, bahkan ia juga menyapa para penjaga yang berjaga di depan sana.
Albert memang belum mengetahui kalau Nadira saat ini sedang tidak ada di rumah.
Saat ia tiba di ruang tamu, tanpa sengaja ia bertemu dengan Abigail alias mamanya yang sedang duduk membaca majalah.
Sontak Abigail langsung tersenyum dan bangkit begitu melihat putranya muncul disana, ia menaruh majalahnya di meja lalu mendekati Albert.
"Eh Albert, kamu sudah pulang nak?" ujar Abigail.
"Iya mah, aku capek banget nih! Banyak urusan tadi yang harus aku selesaikan, kepala aku juga sampai cenat cenut terus daritadi. Aku mau langsung istirahat aja deh mah ke kamar," ucap Albert.
"Oh gitu, yaudah kalau kamu mau langsung istirahat. Tapi, memangnya kamu sudah makan?" ucap Abigail.
"Belum sih, nanti aja deh aku makannya. Aku mau tidur dulu sebentar, pusing banget!" ujar Albert.
"Ya terserah kamu aja lah, asalkan nanti kamu bangun lagi dan jangan lupa buat makan!" ucap Abigail mengingatkan Albert.
"Iya mah, kalo gitu aku ke kamar dulu ya?" ucap Albert.
Abigail mengangguk setuju, membiarkan putranya itu pergi ke kamar.
Namun, Albert tiba-tiba kembali menoleh ke arah mamanya setelah ia mengingat mengenai Nadira.
"Oh iya mah, Nadira ada kan?" tanya Albert.
"Nadira? Eee..." Abigail terlihat bingung saat hendak menjawab pertanyaan Albert.
"Kenapa mah?" tanya Albert penasaran.
"Eh enggak kok, gak kenapa-napa. Nadira cuma lagi pergi sama Chelsea keluar, kamu gak perlu khawatir ya Albert!" ucap Abigail tersenyum.
"Hah? Pergi? Kemana mah? Kok Nadira gak ada bilang dulu sama aku? Harusnya dia paham dong, aku kan udah sering bilang ke dia soal itu!" ujar Albert emosi.
"Tenang dulu Albert! Mama tahu kamu kesel, tapi Nadira itu sengaja gak kasih tahu kamu karena dia mau kasih surprise buat kamu!" ucap Abigail.
"Surprise? Surprise apa?" tanya Albert.
"Ya kalau mama kasih tahu ke kamu sekarang, itu namanya bukan surprise dong Albert. Tunggu aja sebentar lagi, nanti juga Nadira pulang kok sama Chelsea!" ucap Abigail.
"Tapi mah, aku khawatir banget sama Nadira! Udah mama kasih tahu aja sekarang sama aku, kemana Nadira biar aku bisa susulin dia!" ujar Albert.
"Jangan Albert! Udah, kamu tenang aja ya disini! Mereka pasti baik-baik aja kok, orang Nadira pergi sama Chelsea!" ucap Abigail.
"Bukan begitu mah, aku aja belum yakin kalau Chelsea benar-benar udah terima Nadira. Sekarang mama malah biarin dia buat ajak pergi Nadira, gimana kalau Chelsea berbuat sesuatu yang enggak-enggak ke Nadira?!" geram Albert.
"Kamu jangan mikir gitu lah sama adik kamu sendiri, percaya aja sama dia!" ucap Abigail.
Albert mengusap wajahnya, ia cemas dengan kondisi istrinya yang saat ini pergi bersama Chelsea.
"Duh sayang, kamu kemana?!" cemasnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang datang di halaman rumahnya.
"Mah, itu kayaknya mobil Chelsea deh. Aku mau lihat ke depan!" ujar Albert.
"Iya iya Albert," ucap Abigail.
Albert langsung berlari begitu saja ke depan rumah untuk memastikan apakah itu Chelsea atau bukan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...