Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Bercanda atau serius?


__ADS_3

"Tapi mbak, dia—"


"Udah ya Chelsea! Kamu gausah perpanjang masalah ini! Dia emang berusaha buat pengaruhi pikiran aku, tapi kamu tau kan kalo aku ini gak mudah dipengaruhi." potong Nadira.


"Iya deh mbak.." Chelsea akhirnya menurut dan mau pergi bersama kakak iparnya.


Akan tetapi, ketika mereka hendak pergi tiba-tiba saja Vanesa berlagak kepeleset dan menarik tubuh Nadira dengan sengaja.


"Eh eh Nadira!" teriak Vanesa.


Nadira terkejut ketika bahunya tiba-tiba ditarik dari belakang oleh Vanesa, ia kehilangan keseimbangan dan tidak sempat berpegangan pada Chelsea karena sudah terlanjur terpeleset lantai pinggir kolam.


Byuurr...


Akibatnya, Nadira pun tercebur ke kolam dan membuat Chelsea serta Vanesa melongok lebar.


"MBAK NADIRA!" teriak Chelsea cukup keras.


"TOLONG! TOLONG AKU!!" Nadira terus berteriak meminta tolong, karena ia memang tidak bisa berenang sejak kecil.


"Duh, ya ampun gimana ini?!" ujar Chelsea panik.


Vanesa justru tersenyum smirk sembari menggigit jari telunjuknya agar terlihat panik.


"Heh! Ini semua gara-gara lu tahu gak?! Lu cari cara apapun itu buat selamatin mbak Dira, cepet! Lagian ngapain sih lu pake tarik-tarik mbak Dira segala? Oh atau lu sengaja ya pengen celakai dia?" ucap Chelsea marah-marah ke Vanesa.


Vanesa hanya terdiam tak menggubris ucapan Chelsea.


"Kenapa lu diam aja? Benar kan yang gue bilang barusan?" tegas Chelsea.


"Chelsea, Chelsea tolong aku Chelsea! Aku gak bisa berenang, aku takut tenggelam!" teriak Nadira dari arah kolam.


Chelsea langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nadira dengan cemas.


"I-i-iya mbak, sebentar ya aku ke depan dulu panggil penjaga. Aku gak bisa kalau harus gendong mbak ke atas," ucap Chelsea.


"Iya iya, cepetan Chelsea!" ujar Nadira.


"Tahan sebentar mbak! Heh Vanesa, awas ya lu!" ucap Chelsea langsung berlari cepat untuk memanggil penjaga-penjaga di rumah itu.


Sementara Vanesa tetap disana, ia menatap Nadira dari pinggir kolam sambil terus tersenyum.


Nadira berbalik menatap Vanesa, ia sangat yakin bahwa Vanesa memang sengaja ingin mencelakainya.


"Vanesa, kenapa kamu diam aja? Kamu kok gak coba bantu aku? Tolong aku dong Vanesa!" ucap Nadira yang semakin kesulitan.


"Hahaha, buat apa? Ada untungnya gak? Anggap aja itu karma buat kamu, karena kamu selalu bikin aku menderita. Yaudah ya Nadira, aku pergi dulu. Semoga kamu gak tenggelam deh ya!" ucap Vanesa terkekeh kecil.


"Hey, Vanesa! Jangan pergi kamu! Tolong aku Vanesa!" teriak Nadira.


Namun, Vanesa seakan tak mendengar ucapan Nadira dan pergi begitu saja dari sana.


Tak lama kemudian, Chelsea kembali bersama dua orang penjaga di depan rumahnya yakni Liam dan juga Arthur.


"Pak, ayo cepet tolong mbak Nadira!" perintah Chelsea.


"Baik non!" Liam langsung bergerak cepat melepas jasnya dan meloncat ke dalam kolam untuk menolong Nadira.


Sementara Chelsea dan Arthur menunggu di pinggir kolam, Chelsea terus menutup mulutnya melihat Nadira sudah lemah bahkan hampir pingsan.


"Bu, ibu baik-baik aja?" tanya Liam pada Nadira.


"Sa-saya baik kok, cepat bantu saya ke daratan!" ucap Nadira dengan nada lemah.


"Baik Bu! Maaf ya Bu kalau saya lancang!" ucap Liam berusaha menggendong Nadira.


"Gapapa," ucap Nadira singkat.


Liam pun menggendong tubuh Nadira ala bridal style, lalu membawanya ke pinggir kolam dan meletakkannya di kursi santai dekat sana.


Tanpa diduga, rupanya Nadira sudah pingsan akibat kehabisan tenaga setelah berjuang menahan diri agar tidak tenggelam di kolam tadi.


"Mbak Dira, mbak bangun mbak!" ucap Chelsea panik sambil terus memukul-mukul pipi Nadira.


"Aduh! Mbak Nadira pingsan lagi. Hey kalian, kok malah diam aja sih?! Ayo dong bantu aku buat bangunin mbak Dira!" ujar Chelsea.


"I-i-iya non.." ucap Liam gugup.


"Sayang? Ini ada apa? Mama tadi dengar keributan dari sini, kenapa sih?" tanya Abigail yang baru muncul dan kaget melihat kondisi Nadira.


"Mama?" ucap Chelsea ikut syok plus bingung.




Celine dan Keenan tengah menonton televisi bersama di ruang keluarga, keduanya masih tampak canggung setelah apa yang sempat terjadi diantara mereka berdua.


Terutama Celine, gadis itu bingung dan terus memikirkan perkataan Keenan di mobil tadi. Ya Celine tak mengerti apa maksud Keenan berkata ingin menikahinya.

__ADS_1


Melihat adiknya terus terdiam, Keenan berupaya mencairkan suasana dengan cara menawarkan snack di tangannya kepada Celine. Setahu Keenan, adiknya itu doyan sekali ngemil.


"Cel, lu kok diem aja sih? Nih sambil makan deh biar seru," ucap Keenan.


"Apa sih bang? Gue lagi fokus nonton. Jangan diganggu dong!" ucap Celine.


"Hahaha, gak biasanya lu suka sama film yang gue tonton. Katanya lu gak demen sama film action? Kok sekarang tiba-tiba suka sih?" ujar Keenan.


"Emangnya kenapa? Gue itu suka action, tapi tergantung alurnya." ucap Celine.


"Oh gitu, yaudah bagus deh. Tapi, jangan diam-diam gitu juga kali! Gak enak lah kalo kita nonton berdua tapi gak sambil ngobrol, minimal lu juga makan nih snack. Gue tahu lu pasti lapar lagi kan?" ucap Keenan.


"Boleh deh," ucap Celine tersenyum tipis.


Akhirnya Celine mau memakan snack di tangan abangnya itu dan tidak terdiam terus seperti sebelumnya.


"Eh ya, ngomong-ngomong tadi lu mikirin apa sih sampe bengong gitu terus?" tanya Keenan penasaran.


"Hah? Gue gak mikirin apa-apa, kan gue udah bilang tadi kalo gue fokus nonton." jawab Celine.


"Yah bohong mulu, jujur aja kali sama gue! Gue tahu kok kalo lu lagi mikirin sesuatu, tapi gue belum tahu sesuatu itu apa. Ayolah cerita dong sama gue, Celine!" ucap Keenan.


"Gue tuh masih bingung sama kata-kata lu di mobil tadi siang," ucap Celine.


"Hah? Kata-kata yang mana?" tanya Keenan.


"Itu loh, yang lu bilang mau nikahin gue. Itu maksudnya apa coba? Lu beneran pengen nikah sama gue?" ucap Celine terheran-heran.


"Hahaha, ternyata soal itu. Ngapain dipikirin sih Cel? Kurang kerjaan banget lu mikirin kata-kata gituan, mending fokus nonton aja!" ucap Keenan sembari menggenggam tangan adiknya.


"Yeh tadi lu yang nanya, giliran gue jawab malah lu alihin pembicaraan." ujar Celine.


"Bukan alihin pembicaraan, tapi gue rasa gak penting aja gitu kita bahas itu." kata Keenan.


"Kenapa? Apa karena lu cuma bercanda bilang begitu ke gue? Syukur deh, gue pikir lu beneran mau nikahin gue." kata Celine.


"Emangnya kalo beneran, lu mau?" goda Keenan.


"Ya enggak lah. Kita itu kan saudara, adik-kakak. Masa iya kita nikah? Mana bisa?" ucap Celine.


"Bisa kok, yang penting kita nya mau dan saling mencintai." ujar Keenan.


"Tapi, gue gak cinta sama lu." ucap Celine.


"Oh gitu, jahat banget ya lu! Awas aja gak gue kasih makan lu selama disini!" ancam Keenan.


"Terserah!" ucap Celine mencibirkan bibirnya.


"Ish, jangan gitu ah! Katanya tadi suruh fokus nonton, gausah rangkul rangkul!" protes Celine.


"Gapapa, kayak gini malah makin enak nontonnya kok." ucap Keenan tersenyum.


Akhirnya Celine terdiam dan tidak berontak lagi, Keenan pun merasa senang lalu semakin mengeratkan pelukannya.


"Lu milik gue, Celine!"




Albert tiba di rumahnya, ia bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa dan panik.


Ia menemui Chelsea di ruang tamu, tampak gadis itu juga sudah lama menunggunya. Chelsea bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Albert dengan wajah emosi.


"Kak, akhirnya kak Albert pulang juga. Ayo kak, kakak harus kasih hukuman ke Vanesa! Dia itu udah keterlaluan, kak!" ucap Chelsea.


"Sabar Chelsea! Sekarang kakak mau ketemu dulu sama Nadira, dia ada dimana?" ucap Albert.


"Eee mbak Dira lagi di kamar, ada mama juga yang nemenin kok." jawab Chelsea.


"Oke, soal Vanesa kakak urus nanti. Sekarang kakak mau cek kondisi Nadira, kakak khawatir banget sama dia!" ucap Albert.


"Iya kak, aku tunggu disini." kata Chelsea.


Albert mengangguk singkat, lalu berlari menuju kamarnya dengan wajah cemas. Albert memang sudah mengetahui semua kejadian yang menimpa Nadira, itu sebabnya ia panik karena tahu istrinya hampir saja tenggelam.


TOK TOK TOK...


Albert mengetuk pintu kamar Nadira dengan cepat, berharap dapat segera masuk kesana.


"Nadira, ini saya. Tolong buka pintunya dong! Saya mau masuk dan lihat kondisi kamu!" ucap Albert cemas.


Abigail yang turut berada di dalam, menatap ke arah Nadira dan tersenyum ke arahnya sambil terus mengusap punggungnya.


"Sayang, itu sepertinya suami kamu. Mama bukain ya pintunya?" ucap Abigail pelan.


"Iya mah," jawab Nadira mengangguk lesu.


Abigail pun beranjak dari ranjang, ia melangkah ke dekat pintu dan meninggalkan menantunya disana. Nadira memang masih merasa syok dengan apa yang ia alami tadi, sehingga ia terus bersandar di ranjangnya berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


Ceklek...


Abigail membuka pintu, terlihat Albert sangat senang dan hendak langsung masuk ke dalam kamar jika tidak dihalangi oleh mamanya itu.


"Albert, tahan dulu! Kamu mau kemana sih buru-buru amat?" ucap Abigail menahan putranya.


"Duh mah, aku mau masuk ke dalam. Aku pengen lihat kondisinya Nadira, aku khawatir banget sama dia!" ucap Albert panik.


"Iya, mama tahu. Tapi, kamu harus tau kalau ini semua terjadi karena ulah kamu sendiri!" ucap Abigail menunjuk ke arah Albert.


"Loh, kok jadi aku sih mah?" tanya Albert heran.


"Emangnya yang bawa Vanesa kesini dan minta dia buat tinggal di rumah ini siapa? Kamu kan Albert? Artinya, sama saja kamu yang bertanggung jawab atas semua ini." jelas Abigail.


"I-i-iya sih mah, tapi kan aku ngelakuin ini semua demi kebaikan bersama." kata Albert.


"Kebaikan apanya? Buktinya sekarang Vanesa berani dorong Nadira ke kolam, apa itu yang namanya kebaikan?" ucap Abigail kesal.


"Mah, kita bahas ini nanti aja ya! Tolong mah, aku mau lihat kondisi Nadira!" ucap Albert.


"Hadeh, yaudah mama izinin kamu buat masuk. Tapi, ada syaratnya..." ucap Abigail.


"Syarat? Apa syaratnya mah?" tanya Albert.


"Kamu harus kasih hukuman setimpal buat Vanesa! Kalau bisa, kamu usir juga dia dari rumah ini!" jawab Abigail.


"Mah, aku kan udah bilang dari kemarin, aku gak mungkin bisa usir Vanesa dari sini. Ya tapi aku bakal coba deh bicara sama Vanesa nanti, supaya dia gak mengulangi hal ini." kata Albert.


"Kamu itu benar-benar ya Albert, mama kecewa sama kamu!" ujar Abigail.


Abigail yang emosi langsung menutup pintu sekeras mungkin dan meninggalkan Albert begitu saja disana.


"Mah, mah tolong buka dong mah!" teriak Albert.


Namun, Abigail tak memperdulikan itu dan lebih memilih menghampiri Nadira di ranjang setelah mengunci pintu kamar itu.




Sementara itu, Vanesa juga sedang merasa panik dan cemas sendiri di kamarnya. Ia tidak bisa tenang setelah perbuatan yang tadi ia lakukan terhadap Nadira.


Apalagi sebelumnya Chelsea serta Abigail sudah sempat mencacinya, walau Vanesa masih tetap tak memperdulikan cacian dari mereka dan sama sekali tidak merasa bersalah.


"Duh, gimana ya kalau sampai Albert tau tentang ini dan dia marah ke gue? Bisa-bisa dia bakal usir gue dari sini!" ujarnya panik.


"Itu gak boleh terjadi, gue harus tetap disini! Kalau gue pergi, yang ada kesempatan gue buat dapat harta milik Albert bakal sirna!" ucapnya.


TOK TOK TOK...


"VANESA! KELUAR KAMU VANESA!" wanita itu cukup kaget saat tiba-tiba muncul suara ketukan pintu disertai teriakan keras dari luar kamarnya.


"Waduh gawat! Itu kayaknya suara Albert, dia kedengarannya marah besar. Apa dia udah tau ya soal Nadira kecebur kolam?" gumamnya panik.


"VANESA! CEPAT KELUAR! ATAU SAYA DOBRAK PINTUNYA!" teriakan itu semakin keras dan membuat Vanesa semakin cemas.


"I-i-iya.." akhirnya Vanesa tak memiliki pilihan lain, ia melangkah ke dekat pintu dan membukanya.


Ceklek...


Dilihatnya sosok Albert serta Chelsea tengah berdiri disana sembari menatapnya dengan tatapan tajam penuh emosi yang membuat jantung Vanesa berdetak kencang.


"Albert? Kamu mau apa? Kenapa kamu marah begitu?" tanya Vanesa pura-pura polos.


"Kamu gausah akting di depan aku, Vanesa! Jelasin ke aku sekarang, kenapa kamu dorong Nadira ke kolam?!" tegas Albert.


"Aku gak lakuin itu Albert, aku—"


"JAWAB VANESA!" bentak Albert.


Vanesa sampai menunduk gemetar setelah dibentak oleh Albert, suara pria itu benar-benar menggelegar dan membuat jantungnya seolah tak berdaya.


"I-i-iya Albert, aku itu gak sengaja tarik Nadira sewaktu aku kepeleset. Aku niatnya mau minta bantuan dia, eh tapi dia lemes banget dan akhirnya malah dia yang jatuh ke kolam." jawab Vanesa sedikit gugup.


"Kenapa kamu harus tarik Nadira? Kalau kamu mau jatuh, seharusnya kamu jangan bawa-bawa istri saya!" ujar Albert.


"Maaf Albert! Aku itu reflek tadi, beneran deh aku gak ada niat buat celakai Nadira!" ucap Vanesa.


"Dia bohong kak! Aku lihat sendiri kok, dia itu sengaja dan emang pengen bikin mbak Dira celaka. Buktinya waktu aku panik pengen bantu mbak Dira, dia malah santai-santai aja dan gak kelihatan merasa bersalah." ucap Chelsea.


"Itu fitnah, aku juga panik kok! Aku mau usaha bantu Nadira, tapi apa daya aku kan lagi hamil besar." kata Vanesa mengelak.


"Heh! Bisa-bisanya lu bicara kayak gitu di depan kak Albert, emang kurang ajar lu ya!" Chelsea yang emosi hendak maju dan menjambak rambut Vanesa, tetapi ditahan oleh Albert.


"Cukup Chelsea!" pinta Albert tegas. "Vanesa, kamu keluar dari rumah ini sekarang juga!" sambungnya sembari menatap wajah Vanesa.


"Apa??"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2