Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Demo dimulai


__ADS_3

Albert dan Nadira keluar dari kamar dengan saling merangkul, keduanya tersenyum renyah berjalan menuju depan rumah dengan tangan yang terus berada di pundak dan pinggang masing-masing pasangan.


Sesekali Albert juga mengendus leher Nadira, mengecup serta menggigit meninggalkan bekas merah disana. Nadira hanya tersenyum menikmati, karena kalau melarang justru ia akan berada dalam bahaya.


"Sayang, kita ke rumah sakit dulu ya? Saya mau cek kehamilan kamu, karena semalam kan kita main lumayan lama dan kasar! Abisnya kamu sih, pake acara gak kasih tau kehamilan kamu ke saya! Jadinya saya bikin kamu capek deh semalam, maaf ya Nadira!" ucap Albert sembari mengelus rambut serta wajah Nadira dengan lembut dan tersenyum manis.


Nadira benar-benar dibuat bingung dengan sikap Albert yang sangat manis itu, apalagi ini kali kedua pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang, tentu saja Nadira langsung ketar-ketir dibuatnya.


"Iya tuan, tuan gak perlu minta maaf sama aku! Karena kan yang salah aku, bukan tuan! Justru harusnya aku yang minta maaf sama tuan, aku malah rahasiakan kehamilan aku dari tuan! Tapi, aku cuma takut kalau tuan marah dan gak suka sama kehamilan aku!" ucap Nadira tertunduk.


"Oh jadi itu alasan kamu? Lagian kamu ada-ada aja deh Nadira, masa iya saya marah gara-gara kamu mengandung anak saya? Kecuali kalau anak yang ada di kandungan kamu itu, bukan anak saya. Baru deh saya akan marah sama kamu dan bahkan mengusir kamu dari rumah ini!" ucap Albert.


Nadira menelan saliva nya susah payah saat Albert mengatakan itu, ia merasakan raut wajah pembunuh pada Albert saat ini.


"Tapi, gak mungkin kan itu terjadi? Karena selama ini yang cobain tubuh kamu cuma saya, iya kan? Kamu belum pernah main sama lelaki lain di belakang saya kan, Nadira?" ujar Albert.


"Iya tuan, mana mungkin aku berani begitu? Aku ini kan istri tuan, jadi cuma tuan yang boleh sentuh tubuh aku! Tuan gak perlu khawatir, sudah pasti anak yang aku kandung ini anak tuan kok! Ya tapi aku belum tahu jelasnya, karena aku baru cek lewat testpack!" ucap Nadira.


"Ya, itu sebabnya saya ajak kamu ke dokter kandungan sekarang!" ucap Albert.


"Eenngghh..." Nadira mendesahh saat Albert menggigit daun telinganya dan meremass bagian dadanya dengan satu telapak tangan.


"Nikmat sayang?" goda Albert.


Nadira mengangguk penuh kenikmatan, ia tak bisa memungkiri bahwa apa yang dilakukan Albert benar-benar membuat dirinya keenakan dan tidak dapat mengontrol tubuhnya sendiri.


Cupp!


"Sudah, nanti kita terlambat sampai di rumah sakit!" ucap Albert sembari membelai bibir basah Nadira setelah mengecupnya lembut.


Lagi-lagi Nadira hanya mengangguk pelan, ia tak mengeluarkan suara karena tubuhnya seakan masih ingin mendapat sentuhan dari Albert. Namun, tak mungkin jika Nadira mengatakan itu pada Albert karena pastinya pria itu akan langsung membawanya ke ranjang nanti.


Disaat mereka hendak keluar rumah, mereka berpapasan dengan Chelsea yang baru selesai olahraga pagi bersama Keenan. Gadis itu memakai pakaian olahraganya dan terlihat berkeringat, nafasnya pun masih tak karuan saat ia hendak berbicara pada abangnya.


"Kak? Kakak mau kemana? Kok udah rapih aja pagi-pagi begini?" tanya Chelsea penasaran.


"Kakak mau ke rumah sakit, Nadira hamil jadi kita perlu cek kehamilannya disana! Kamu jaga rumah ya, ingat loh jangan berbuat macam-macam sama Keenan walau gak ada kakak disini!" ucap Albert mengingatkan adiknya.


"Hah? Nadira hamil? Kakak serius?" ujar Chelsea terkaget-kaget. "Gimana bisa dia hamil, kak? Emang kakak udah sentuh dia?" sambungnya masih dengan ekspresi yang sama.


"Kamu ini apaan sih? Nadira kan istri kakak, ya wajarlah kalo kakak sentuh dia! Bahkan bukan cuma satu kali, udah seringkali kakak masukin lubangnya Nadira! Makanya dia bisa hamil, pikiran kamu gimana sih sayang?!" ucap Albert sambil terkekeh kecil.


"Ish, kakak itu benar-benar udah kehilangan diri! Bisa-bisanya kakak mau sentuh dan nikahin dia, padahal banyak cewek lain yang lebih cantik daripada dia!" ucap Chelsea.


"Ah sudahlah Chelsea! Kakak lagi malas berdebat sama kamu, mending kamu mandi sana! Itu badan kamu udah penuh keringat gitu, bau tau! Gimana Keenan mau betah ada di dekat kamu, kalau kamu nya aja bau gitu?!" ledek Albert.


"Apaan sih kak? Dasar nyebelin!" cibir Chelsea.


"Hahaha..." Albert tertawa lepas.


Chelsea langsung melangkah pergi meninggalkan Albert dan Nadira begitu saja dengan perasaan jengkel.


"Tuan, udah ya ketawanya! Kita kan mau ke rumah sakit, nanti telat loh!" ucap Nadira mengingatkan.


"Oh iya ya, makasih udah ingetin saya!" ucap Albert seraya merapatkan tubuh Nadira ke dalam dekapannya, ia lalu mengecup kening wanitanya dengan lembut dan mengusapnya.


Cupp!


"Yuk lanjut jalan!" ucap Albert tersenyum tipis.


"Iya," jawab Nadira singkat.


__ADS_1



Singkat cerita, sepasang suami-istri itu sudah berada di halaman rumah, terlihat salah satu penjaga disana sudah membukakan pintu mobil agar Nadira dan Albert bisa leluasa masuk ke dalam sana.


Ya kebetulan mobil itu sudah disiapkan oleh sang supir yang tengah memanaskan mesin mobilnya di dalam sana, Albert sengaja meminta supirnya untuk mengantarkan ia, tentu karena ia ingin mesra-mesraan bersama Nadira di kursi tengah, sesuatu hal yang tak bisa ia lakukan ketika berada di kursi kemudi.


"Tumben kamu gak nyetir sendiri, bukannya biasanya gak mau pakai supir ya?" tanya Nadira.


"Itu kalau pergi sendiri, tapi karena aku bawa kamu ya makanya aku minta antar supir! Supaya aku bisa berduaan sama kamu di mobil, kamu gak keberatan kan?" ucap Albert tersenyum singkat.


"Iya tuan..." jawab Nadira mengangguk pelan.


Keenan yang kebetulan tengah duduk disana sambil mengipas-ngipas lehernya mengenakan handuk kecil, langsung terkejut saat melihat tuan serta nona nya ada disana.


"Ehem ehem..." Albert sengaja menghentikan langkahnya di samping Keenan dan berdehem singkat menyapa asistennya itu.


"Eh tuan, mau kemana?" tanya Keenan kaget.


"Saya dan istri saya mau ke rumah sakit sebentar, cek kandungan. Kebetulan ada kabar bahagia buat saya, karena ternyata Nadira positif hamil setelah dites melalui alat tes kehamilan! Maka dari itu, saya ajak Nadira ke rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut! Kamu disini saja, jaga rumah sekaligus temani adik saya!" jelas Albert.


"Baik tuan, siap! Saya akan laksanakan perintah tuan dengan baik!" ucap Keenan bersemangat.


"Emhh ya iyalah pasti semangat banget kalau disuruh temenin Chelsea! Emang ya ada di otak kamu itu cuma pacaran aja!" ujar Albert.


"Hehe maaf tuan!" ucap Keenan malu-malu.


"Gapapa, yang penting adik saya bahagia kalau sama kamu! Asal kamu jangan pernah punya niatan aja buat sakitin dia, karena kalau dia tersakiti sedikit aja, saya gak akan tinggal diam Keenan!" ucap Albert mengancam Keenan.


"Iya tuan, saya mengerti! Eee sebelumnya maaf tuan, kalau tuan pergi lalu bagaimana dengan demo para pekerja yang ada di kantor tuan pagi ini?" tanya Keenan bingung.


"Oh iya iya, saya baru ingat soal itu!" ucap Albert langsung kebingungan.


Albert melirik ke arah Nadira, ia bingung harus melakukan apa, di satu sisi ia ingin mengecek kandungan Nadira, tapi di sisi lain perusahaan miliknya dalam bahaya karena para karyawan akan melakukan demo secara besar-besaran.


"Tuan, udah kamu ke kantor aja! Urusan kantor lebih penting daripada rumah sakit, biar nanti aku cek sendiri aja ya!" ucap Nadira mengerti.


Nadira terdiam menatap wajah Albert, entah mengapa ia baper saat Albert terang-terangan menganggap ia sebagai keluarganya, padahal sebelum ini pria itu belum pernah mengatakan itu.


Sementara Keenan juga tersenyum, ia semakin yakin bosnya itu sudah mulai jatuh cinta pada Nadira, hanya saja Albert memang masih malu untuk mengatakan itu secara langsung.


"Benar itu tuan! Sebaiknya tuan antar non Nadira ke rumah sakit dulu, biar saya dan Chelsea yang akan cek kondisi kantor!" ucap Keenan.


"Nah saran yang bagus! Supaya Chelsea juga bisa mengurus perusahaan, karena dia kan nantinya akan menjadi pemegang salah satu cabang perusahaan papa! Dia harus tau seluk beluk mengenai perusahaannya!" ucap Albert.


"Iya tuan, itu betul!" ucap Keenan.


"Yasudah, ayo Nadira kita berangkat sekarang!" ucap Albert menggandeng tangan wanitanya.


"Umm, iya tuan!" ucap Nadira singkat.


Wanita itu masih terus memikirkan perkataan Albert tadi, jantungnya bahkan tak bisa berhenti berdetak kencang karena rasa senangnya setelah dianggap sebagai keluarga oleh Albert.


"Apa sekarang aku bukan lagi wanita pemuas? Tapi, sudah resmi jadi istri tuan Albert?" gumam Nadira dalam hati penuh kesenangan.


Mereka pun berjalan menuju mobil meninggalkan Keenan yang kembali duduk disana.




Singkat cerita, keduanya telah sampai di rumah sakit dan dokter kandungan disana juga sudah memeriksa Nadira menjelaskan semua mengenai bayi di dalam rahim wanita itu pada sepasang suami-istri tersebut.


Albert tampak sangat senang mendengar penuturan sang dokter, ia tidak sabar ingin segera menjadi ayahnya dan menggendong bayinya. Walau ini bukan kali pertama ia memiliki anak, karena sebelumnya Albert juga pernah menghamili wanita-wanita lain termasuk Vanesa, namun kali ini adalah yang pertama bagi Albert mau menerima bayi dari seorang wanita yang ia hamili.

__ADS_1


"Selamat ya pak, Bu! Ibu Nadira sekarang sedang mengandung seorang anak, usianya sudah mencapai tiga Minggu. Mohon dijaga pola makan dan tidurnya ya Bu, jangan terlalu sering begadang dan usahakan banyak memakan makanan yang sehat!" ucap dokter itu.


"Baik dok! Saya pasti akan lakukan semua itu demi anak dan istri saya! Tapi, apa saya masih boleh melakukan hubungan badan dengan istri saya, dok?" ucap Albert bertanya pada dokter itu.


"Oh tentu boleh, pak! Hanya saja agak dikurangi intensitas nya ya pak, Bu! Juga durasinya jangan terlalu lama, karena takutnya nanti ibu Nadira akan kelelahan! Ibu hamil itu sangat rawan pak, jadi bapak harus pandai-pandai menahan diri!" jawab dokter itu menjelaskan.


"Iya dok, siap! Gapapa kok durasinya dikurangi, yang penting masih bisa main terus!" ujar Albert terkekeh kecil.


"Ahaha iya iya pak..." dokter itu sampai tertawa lepas dengan perkataan Albert.


Sementara Nadira yang masih terbaring itu hanya memalingkan wajahnya, menahan malu atas kelakuan sang suami yang dengan santainya membahas mengenai hubungan badan di hadapan dokter.


"Yasudah ya pak, Bu, saya permisi dulu! Sekali lagi selamat ya atas kehamilannya! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kok!" ucap dokter itu.


"Baik dok, terimakasih! atas bantuannya!" ucap Albert tersenyum.


"Sama-sama pak," ucap dokter itu.


Dokter itu pun melangkah pergi, sedangkan Albert kini mendekati Nadira dan mengelus wajahnya sambil tersenyum.


"Tuan, kalau tuan mau ke kantor silahkan aja! Biar saya pulang sendiri pakai taksi, gapapa kok!" ucap Nadira.


"Kamu bicara apa sih? Mana mungkin saya tega tinggalin kamu sendirian gitu aja? Kamu itu lagi hamil anak saya, saya gak akan biarin kamu pulang sendiri! Saya antar kamu pulang dulu, baru setelah itu saya susul Keenan ke kantor!" ucap Albert.


"Tapi tuan, saya—"


"Sssttt! Kamu jangan bantah omongan saya! Atau saya akan perkosa kamu disini juga, mau kamu ha?!" potong Albert mengancam Nadira dan melotot ke arah wanita itu.


Glekk...


Nadira menelan saliva nya saat ditatap secara tajam oleh Albert, apalagi tangan pria itu juga menempel di bibirnya membuat ia makin salah tingkah dan hanya bisa terdiam.


Cupp!


Akhirnya Albert mendekat dan mengecup bibir Nadira, kecupan lembut itu berubah menjadi sebuah lumatann yang ganas dan kasar sampai membuat satu ruangan itu dipenuhi oleh suara decakan bibir mereka.




"BAYARKAN GAJI KAMI! BAYARKAN GAJI KAMI!"


Suara-suara seperti itu terus terdengar di depan gedung perusahaan milik Albert, ya tentunya suara itu berasal dari para karyawan yang melakukan demo menuntut hak mereka dari perusahaan.


Satpam yang ditugaskan mengawal demo itu terus berusaha mencegah kelakuan anarkis yang hendak dilakukan oleh karyawan-karyawan tersebut, mereka boleh berdemo dan menuntut hak mereka akan tetapi tidak boleh melakukan kekerasan.


Vanesa serta para staf kantor lainnya masih berada di dalam perusahaan, mereka mengamati kejadian itu dari lobi perusahaan dengan panik.


"Nes, kira-kira bakal ada keributan gak ya? Gue ngeri banget tau, apalagi mereka pake bawa-bawa spanduk segala kayak gitu! Ini sih gak mungkin bisa selesai dalam waktu singkat!" ujar Nana.


"Entahlah, semoga aja semua bisa dikontrol supaya mereka gak anarkis!" ucap Vanesa.


"Iya aamiin!" ucap Nana mengaminkan.


Namun, apa yang diucapkan Vanesa itu berlainan dengan isi hatinya, karena sejujurnya ia menginginkan adanya aksi anarkis dari para pendemo itu agar Albert semakin dibuat pusing.


"Hahaha, mereka itu harus terus dipancing, supaya ada kerusakan di luar sana!" batin Vanesa.


Tak lama kemudian, Keenan datang bersama Chelsea kekasihnya di halaman depan perusahaan tersebut. Mereka kaget saat melihat halaman kantor sudah dipenuhi oleh para pendemo, sehingga keduanya bingung harus bagaimana cara agar dapat menenangkan orang-orang itu.


"Waduh! Mereka ternyata udah dateng sayang, ini gara-gara kamu sih dandan nya kelamaan! Jadi aja kita telat kan!" ujar Keenan.


"Ish kok kamu nyalahin aku?" protes Chelsea.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2